<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229</id><updated>2012-01-19T20:28:45.097+07:00</updated><category term='Imron Tohari'/><category term='Puisi'/><category term='Picasso'/><category term='Catatan'/><category term='Surat'/><category term='Sutejo'/><category term='Wawan Eko Yulianto'/><category term='Fanani Rahman'/><category term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category term='Rabindranath Tagore'/><category term='Trilogi Kesadaran'/><category term='Asarpin'/><category term='Herry Lamongan'/><category term='Resensi'/><category term='Inspiring Writer'/><category term='Fahrudin Nasrulloh'/><category term='Kitab Para Malaikat'/><category term='Imamuddin SA'/><category term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category term='Raudal Tanjung Banua'/><category term='Marhalim Zaini'/><category term='Pengantar antologi puisi tunggal “Sarang Ruh”'/><category term='Dimas Arika Mihardja'/><category term='Robin Al Kautsar'/><category term='Sajak'/><category term='Mahmud Jauhari Ali'/><category term='Aguk Irawan MN'/><category term='Fikri MS'/><category term='Noval Jubbek'/><category term='Sabrank Suparno'/><category term='Chamim Kohari'/><category term='A. Qorib Hidayatullah'/><category term='Nurel Javissyarqi'/><category term='Hadi Napster'/><category term='Liza Wahyuninto'/><category term='Pengantar KPM'/><category term='Heri Listianto'/><category term='Denny Mizhar'/><category term='Catatan KPM'/><category term='Hasnan Bachtiar'/><category term='Tosa Poetra'/><category term='Esai'/><category term='Hudan Hidayat'/><category term='Muhammad Rain'/><category term='Agus B. Harianto'/><category term='Mh Zaelani Tammaka'/><category term='Ignas Kleden'/><category term='Ballads of Too Early Destiny'/><category term='Maman S. Mahayana'/><category term='Christian Zervos'/><title type='text'>Nurel Javissyarqi dan Para Apresian</title><subtitle type='html'>Sebuah kata adalah perjuangan
dan warna menjadikan nyawanya (foto ini tahun 1983-an)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-7144965634844664836</id><published>2012-01-19T20:27:00.001+07:00</published><updated>2012-01-19T20:28:45.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasnan Bachtiar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Menenun yang Baru: Suatu Upaya Produksi Teks yang Tidak Selesai</title><content type='html'>Hasnan Bachtiar *&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU mengingat Derrida, tentu tidak sukar menemukan maksud dari  judul  di atas. Bagi dekonstruksi Derridian, seluruh kehidupan,  bergantung  kepada teks. Bahkan kredo yang masyhur di belantika filsafat  adalah,  tidak ada sesuatu pun di luar teks.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8032572292181926229" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="more-21886"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kita yang menikmati “bunga mawar” yang sebenarnya, lalu  hendak  menuliskannya karena ada kesan padanya, maka kita menulisnya,  “bunga  mawar” sebagai tenunan teks. Sepintas, kita berpikir bahwa bunga  asli  telah diwakilkan kehadirannya oleh tulisan. Dunia riil yang  ditangkap  oleh pengetahuan manusia, atau dalam bahasa yang lebih ringkas  disebut  dengan dunia ide (logos), digantikan wujudnya oleh teks. Logos,  menjadi  hal yang tinggi dan asli, dibandingkan dengan tiruannya, teks,  tanda  atau simbol. Itulah salah satu proses kebenaran ditulis, menurut  satu  perspektif yang umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, tentu dengan kesadaran lain pula, akan ditemukan  bahwa,  bukankah teks “bunga mawar” hanyalah teks? Kata “bunga”  barangkali  tidak harus pengganti atau imitasi dari yang asali. Kata  “bunga” pernah  dilahirkan dan terus digunakan dari kata “bunga” yang  lain atau  sebelumnya. Jadi, “bunga” hanyalah tenunan dari huruf-huruf   “b-u-n-g-a”. Maka, jadilah “bunga” sebagai satu tenunan kata yang utuh.   Dengan demikian, kalaupun kita memiliki ide (logos) tentang apapun,  maka  teks akan setia menemani. Singkat cerita tentang perspektif lain  ini  bahwa, benda yang sesungguhnya maupun ide, bukanlah hal yang utama.   Logos tidak superior dibanding dengan teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi yang kiranya sulit dibantah adalah, pernahkah kita   menjawab, mengapa “pintu” yang kita lihat, bernama “pintu” atau tersusun   dari huruf “p-i-n-t-u”? Lucu juga misalnya kita bertanya, siapa yang   mengarang kata “pintu”? Tentu saja banyak dari pembaca agaknya   terbelalak, memanggut dan tersenyum kalau menyadari bahwa, setiap orang   Indonesia tidak pernah tahu, nama seorang penemu pintu. Hal ini tidak   berhubungan dengan “tukang kayu”, namun berhubungan dengan “nenek   moyang” penggagas dan penemu yang paling hebat, karena setiap kali   menunjuk “pintu”, kita menyebutnya atau menulisnya “pintu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari “pintu” yang hanya teks, Derrida menyarankan untuk memperlakukan   teks selayaknya teks. Maksudnya, kendati makna dari setiap teks itu   tergantung kepada penulis, pembaca dan “penulis baru”,&amp;nbsp; Ia memiliki   sifat yang tidak tunggal. Tidak ada makna yang “paling benar” di antara   siapa pun. Karena itu, hasil karya dari setiap penulis (penulis baru),   hanyalah tambahan-tambahan, kolaborasi, atau bahkan sekedar permainan   teks. Di sini, ada kesan awal bahwa, “makna” (logos) tidak terlalu   penting, karena yang pertama adalah teks, bukan ide. Tapi sebenarnya,   Derrida bukan bermaksud merendahkan “makna”. Justru sebaliknya, ada   upaya untuk membebaskan makna. Tafsiran akan teks adalah diseminasi,   atau penyebaran teks-teks lainnya. Secara sederhana, inilah yang   dimaksud dengan “Dekonstruksi Derrida”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khazanah filsafat kontemporer, mendewakan logos atau dunia ide,   disebut dengan logosentrisme. Wajar, kalau di kemudian hari, ilmu   tentang ide atau logologi, sementara, digantikan dengan ilmu tentang   tenunan teks atau gramatologi. Maksudnya jelas, bukan untuk   menyingkirkan makna, tetapi memperkaya makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkalah lebih detil memikirkan ulang Derrida, akan ditemukan bahwa   teks, tidak benar-benar menjadi teks. Tengoklah pikiran tentang   memerdekakan makna. Kendati selalu meminta bantuan teks, bukankah   “makna” adalah logos itu sendiri? Pertanyaan yang mendesak untuk problem   ini adalah, apakah makna mengabdi pada pengarangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang bisa saja menjawab bahwa, makna melayani kehendak   pengarang, pembaca dan penulis baru. Inilah temuan bahwa, teori   dekonstruksi tidak kebal kritik. Selalu tersembunyi logos, dunia ide,   atau yang metafisis di balik teks yang dimainkan. Dengan begitu, bisa   saja gramatologi ternyata terjebak pada logosentrisme. Apakah   logosentrisme adalah hal yang kurang baik dan perlu ditantang kekuatan   metodologisnya? Dalam konteks zaman Derrida, jelas perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan sementara penulis terhadap dialektika filosofis pemikiran   kontemporer tersebut bahwa, setiap pemikiran, memiliki kehendaknya   masing-masing. Dengan kata lain, filsafat adalah alat operasi   penguasaan. Menurut Nietzsche, seluruh kehidupan adalah dialektika   kehendak. Hidup ini adalah pluralitas kehendak, yang masing-masing ingin   menjadi yang paling benar di antara yang lain. Filsuf Jerman ini,   mengungkap adanya sifat dan perilaku resentimen atau perilaku balas   dendam dari setiap langkah kehidupan manusia. Menurut penulis, Nietzsche   juga tidak bisa lepas dari jerat resentimen yang dituduhkannya. Ia   adalah seorang yang kecewa. Dalam esai panjang yang ditulis oleh   Profesor Setyo Wibowo, dijelaskan bahwa tafsir yang menganggap Nietzsche   resentimen adalah tafsir yang tidak menarik (Akhmad Santosa, 2009:   190). Jelas pula bahwa tafsir Setyo Wibowo juga perilaku yang   resentimen, upaya kehendak, atau operasi penguasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resentimen sebagai sebuah istilah, memiliki makna yang merdeka.  Kendati  secara umum, resentimen mewakili suatu kehendak atau keinginan   imajiner, agar orang lain tidak bersikap seperti yang dikehendakinya.   Sifat khas yang melekat pada resentimen adalah kekecewaan. Kekecewaan   dan resentimen, terkesan negatif, namun bisa juga sangat positif.   Artinya, berawal dari resentimen manusia yang sangat alamiah, telah   membuka pintu dialog, komunikasi, atau bahkan rekonsiliasi antar   kepentingan. Dalam kasus tertentu, kadangkala tidak ada perbedaan di   antara pemikiran, hanya saja berbeda ungkapan. Tetapi siapa tahu batin   orang? Meskipun tiada orang pun yang tahu, sangat baik jika filsafat,   sastra, bahasa atau kehidupan adalah berbicara dari hati ke hati. Inilah   teori yang hendak digunakan untuk membaca setiap tafsir, dalam   pergumulan sastra Indonesia dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks analisis ini adalah kritik atas dekonstruksi Derrida. Inilah   apresiasi, akan lahirnya kembali metafisika yang kaya, merdeka dan penuh   makna. Kritik atas Derrida, sama sekali bukan meruntuhkan, tetapi   membaca ulang dan menemukan “maksud” dari upaya pembongkaran teks.   Sebetulnya secara detil, tidak ada salah paham dengan logosentrisme dan   dekonstruksi. Hanya saja, ekstrim terhadap teori tertentu bisa   menyebabkan mis-komunikasi. Menenun teks baru secara terus-menerus,   berarti memproduksi makna-makna tanpa pernah berhenti. Aktivitas   penafsiran adalah produktivitas yang sangat baik, terlebih sebagai upaya   untuk memberi terang akan geliat batin kepada orang lain. Komunikasi   dari hati ke hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teori ini, penulis secara khusus akan menguji teks kritik  sastra  yang ditulis oleh Nurel Javissyarqi. Teks tersebut adalah esai  panjang  yang berjudul, “Membaca ‘Kedangkalan’ Logika Dr. Ignas Kleden?”   (Bagian ke Tiga). Kurang lebih teks ini adalah kritik tertulis yang   dilontarkan oleh Nurel pada beberapa pendapat Ignas Kleden, kritikus dan   ahli sosiologi sastra Indonesia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca teks sastra Nurel Javissyarqi, memerlukan penjelasan yang   benar-benar terang. Kepentingannya adalah untuk mengungkapkan apa yang   sebenarnya disampaikan oleh pengarang. Kendati demikian, pembaca baru   akan mengalami kesulitan-kesulitan, termasuk kesalahan dalam   menerjemahkan maksud tersebut. Karena itu, memerlukan permakluman   kiranya upaya pembacaan ini, hanyalah tafsiran yang disesuaikan pada   kehendak penafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat jernih penjelasan tentang teks Nurel, ada dua tahapan analisis filosofis terhadapnya. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, analisis kritik sastra Nurel. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, tawaran metodologis dalam membaca karya sastra.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks Nurel sebenarnya cukup jernih untuk mengungkapkan gagasan  kritis.  Hanya saja, untuk menemukan substansi kritik, pembaca mesti  lebih detil  untuk menangkap maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, Nurel adalah seorang yang tekun dan detil dalam membaca  teks  sastra. Baginya, teks sastra mesti memiliki fundamen yang kuat  dalam  menopang kehadiran teks. Fundamen yang di maksud di sini adalah   pendasaran nalar. Semacam hal yang utama, sebelum adanya permainan teks,   intertekstualitas, beserta kehadiran estetika yang mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya obyek kritik Nurel adalah teks interpretasi Ignas Kleden   atas pelbagai karya Sutardji Calzoum Bachri. Menafsirkan karya sastra,   memang sah untuk siapa saja. Namun, hal itu harus didirikan dari   konstruksi filosofis yang kokoh dan tidak mudah runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi filosofis yang kokoh misalnya, terbangun dari beberapa unsur. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, dia lahir dari nalar yang bisa dimaklumi secara intelektual. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, nalar ini dituangkan dengan pilihan diksi yang tepat. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;,   kendati setiap penafsir memiliki kecenderungan politis tertentu,   hendaknya ia sebisa mungkin bersikap obyektif dalam mengungkapkan   komentarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah ditulis oleh Ignas Kleden sebagai tafsir atas  Sutardji,  bukan tidak memiliki syarat-syarat tersebut. Tentu saja, Ignas  Kleden  seorang yang mahir, bahkan pembaca umum akan melihat tidak ada  masalah  dalam teks sastranya. Kalau pun ada perbedaan tentang suatu hal,   mungkin tidak lebih dari persoalan kehendak pembacaan oleh setiap   penafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutardji, seperti dalam kritik yang penulis ungkapkan di bagian   sebelumnya, adalah salah satu sastrawan yang memiliki gaya dan pemikiran   pasca modern. Ciri khas dekonstruksi, selalu nampak di balik uraian   teks, lantunan (&lt;i&gt;parole&lt;/i&gt;), penafsiran dan metodologi cara   membacanya. Dalam bahasa yang popular, Sutardji kerap dikenal sebagai   sastrawan mantra. Khas dekonstruksi dalam persoalan puisi mantra, bahwa   melantunkan teks, membacanya, menafsirkan, metodologi tafsirnya, hingga   paradigma yang bisa diangkat dari sekian karya yang ia miliki,   diserahkan sepenuhnya kepada pembaca, pembaca baru dan penulis baru.   Sutardji menuturkan bahwa, “Puisi adalah alibi kata-kata…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Ignas Kleden mengambil posisi sebagai apresian yang   positif dan sangat mendukung kreativitas sastra Sutardji. Ia   mengungkapkan, “Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos   makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos   tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi   bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi   konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi Nurel, inilah persoalannya. “Puisi adalah alibi  kata-kata.”  Kata “alibi” secara natural, memang memiliki banyak arti,  misalnya:  dalih atau alasan, penjelasan, kesempatan untuk mengungkapkan  alasan,  upaya mempertahankan alasan dan nalar yang mengungkap sesuatu.  Mungkin  makna alibi yang terakhir inilah yang agaknya lebih mengarah  kepada  maksud Sutardji, yaitu nalar yang hendak mengungkap sesuatu.  Nalar,  selalu merujuk kepada kebebasan pembaca dan penulis baru. Itulah   dekonstruksi. Karena itu, Ignas Kleden memilih diksi “menerobos” untuk   mengungkapkan terobosan paradigmatik yang diajukan oleh Sutardji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel menilai bahwa hal itu sama sekali kurang tepat. Ia keberatan  jika  paradigma sastra dekonstruksi Sutardji, hanya terwakili oleh kata   “menerobos”. Dalam esainya, penulis buku &lt;i&gt;Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri &lt;/i&gt;(2011)  ini memberi pandangan tajam bahwa, “Upaya IK menyelimuti kata  ‘saya  bebaskan’ dalam kredonya SCB dengan penggantian ‘menerobos’,  begitu  kentara di keseluruahan esainya. IK sadar memakai kata ‘bebas’  akan  masuk jurang dalam kejahiliaan, dan ia tak ingin hal itu  menimpanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekonstruksi yang lebih dekat dengan “pembebasan” atau “pemerdekaan”,   tidak memiliki alasan yang cukup kuat jika diwakili dengan kata   “menerobos”. Derrida sebagai peletak dasar trend filsafat dekonstruksi   pun, tidak bermaksud untuk membongkar apapun secara utuh dan purna.   Dekonstruksi hanyalah strategi, agar tidak ada absolutisme, dogmatisme,   istilah lain sebagai doktrin filsafat yang tak tergugat. Namun di sini,   jika membebaskan makna “menerobos”, akan beda lagi implikasi nalar  yang  mengikutinya. Misalnya, menerobos hanyalah strategi, atau  menerobos  sesungguhnya memiliki makna membebaskan, seperti makna Nurel  atas teks  menerobos oleh Ignas Kleden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel menjelaskan makna terbaik dari teks menerobos bahwa, “Melalui   kata ‘menerobos’, tidak hianati asas pengetahuan, ia bayangkan kata   ‘terobos’ ibarat cahaya.” Tentu saja tafsiran Nurel bukan untuk memuji,   tetapi memberi kritik yang tajam. Seolah-olah dekonstruksi yang  dimaknai  sebagai menerobos, akan menambah kekuatannya. Karena ciri  menerobos  adalah mengabaikan, melawan, merusak, destruktif, kekuatan  yang luar  biasa dan kebal akan segala aturan linguistik dan tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teks yang lain, secara lebih tajam, Nurel berpendapat bahwa,   “Keengganan tampak menyelewengkan muatan “kredo puisi” dari ‘bebas’ ke   ‘terobos.’ Atau ini menantang tegas! Membetulkan, menempatkan sesuai   takaran semestinya.” Inilah yang penulis maksud di awal, sebagai   persoalan utama yang disajikan Nurel. Sesungguhnya “menerobos” adalah   representasi konstruksi filosofis dari teks yang mudah runtuh, karena   tidak disokong oleh fondasi nalar yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritisisme yang diajukan Nurel sangatlah baik. Inilah kritik sastra   yang benar-benar kritis, jika memperhatikan secara filosofis, ternyata   ada celah di antara pembaca, kreativitas dan teks sastra sebagai produk.   Soal kreativitas, berarti soal struktur nalar. Ini pembicaraan yang   beresiko, karena jelas akan dianggap menjauh dari substansi sastra dan   tata krama permakluman atas maksud-maksud komunikatif dari ungkapan   setiap sastrawan. Itulah ciri di mana pemikiran kritis, selalu saja   tidak berada di tempat dan waktu yang selalu belum siap dengan pemikiran   unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba menemukan substansi kritik sastra yang kritis, bisa ditinjauh   dari beberapa teks yang menungkapkan tentang sikap ketidakkritisan   setiap pembaca sastra. Sikap-sikap itu bisa berupa tata krama   permakluman, nilai kewajaran, hipnosis atau semacam gejala   ketidaksadaran (&lt;i&gt;symptom&lt;/i&gt;), keterkesimaan yang menumpulkan naluri   kritis dari nalar, ketidakcurigaan, keengganan untuk membaca secara   politis dan miskinnya paradigma genealogis yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teksnya, Nurel menganggap dalam teks Ignas Kleden, terdapat   peluang gejala kerapuhan konstruksi nalar. Ia menjelaskan, “…dapat   dikategorikan IK radak enggan, jangan-jangan malas, maka dicari kata   samar warnanya demi jiwa SCB tentram seaura menghibur.” Dalam teks lain,   ia berkomentar bahwa, “…di hadapan IK karya SCB belum sampai pada yang   diharapkan kredonya, tetapi karena Ignas Kleden cerdas, diselimutilah   kedalaman hatinya berpolesan kata menggiur nadanya, serupa Tardji   membius penonton lewat larikan suaranya. Namun penyair jua esais SCB,   tak curiga olah vokal untaian makna sang kritikus, aneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks-teks ini bermaksud menunjukkan secara terang bahwa, tata krama   permakluman atas maksud-maksud komunikatif teks sastra, atau soal uraian   umum “tentang” teks dekonstruksi, telah mengungkap adanya lemahnya   konstruksi filosofis. Maksudnya, dekonstruksi yang membebaskan,   sementara ini dibicarakan atau dikomunikasikan dengan bahan yang kurang   tepat. Kendatipun, cara komunikasi diskursif yang siarkan, sangat   berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, dapat diambil dua manfaat dari dialektika filosofis di antara para kritikus sastra tersebut. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;,   Ignas Kleden secara tidak langsung memiliki keunggulan fondasi   “komunikasi” yang bisa menyampaikan pesan-pesan politiknya, kendati   tidak didukung oleh fondasi “nalar” yang kuat. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Nurel   menunjukkan adanya peluang kerapuhan filosofis, di dalam potensi   komunikasi estetis yang mengabaikan ketepatan pilihan diksi teks sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, secara paradigmatik, dekonstruksi membebaskan segala   tenunan dan reproduksi teks yang mengikuti kebebasan makna. Namun,   pengungkapan teks sastra secara konvensional, tetaplah menggunakan   wicara tertentu sebagai alat bantu. Wicara yang selama ini dipersoalkan   Derrida, jelas “tidak benar-benar terbunuh” oleh diseminasi atau   penyebaran teks yang berlandas gramatologi. Segala bahasa, selalu   berpulang pada yang metafisis, seperti menjunjung tujuan-tujuan moral,   nilai, kepentingan, kehendak atau keinginan tertentu yang melayani   sesuatu. Betapapun dekonstruksi sebagai trend diupayakan oleh Sutardji   dan Ignas Kleden, tetaplah bahwa mereka perlu berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, Nurel melihat peluang di mana kritisisme akan lahir di  tengah  ketumpulan nalar. Ada beberapa penyebab mengapa banyak orang   mengabaikan, tidak kritis dan enggan untuk mempersoalkan pilihan diksi   yang tidak tepat, sebagai representasi kerapuhan konstruksi filosofis   nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, melihat siapa yang berbicara. Tentulah teori citra   berfungsi dalam ruang publik komunikatif. “Anda berbicara dengan siapa?   Atau, siapa yang sedang berbicara?” Secara tidak disadari, atau   disadari, hal ini menjadi pertimbangan pokok kendati tidak dibicarakan   atau sekedar berbicara di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, redupnya kritisisme karena alienasi diri (&lt;i&gt;entäusserung&lt;/i&gt;), merasa diri belumlah pantas untuk memberikan koreksi terhadap wacana tinggi yang tak sanggup digapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, secara diskursif, bahan pembicaraan yang  didengarkan,  dibaca, diapresiasi, ditimbang, maupun dikritik, termasuk  sebagai  wacana yang sulit dan memerlukan kekuatan filosofis yang mantap  untuk  menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, manusia ingin menunjukkan dirinya di hadapan trend,   bahwa kehendak diskursif dari wacana kekinian, perlu diikuti, dengan   atau tanpa kritisisme. Dengan demikian, merefleksikan diri dengan busana   sastra dekonstruksi juga mempersilahkan bagi pengunjung yang tidak   kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kelima&lt;/i&gt;, selalu ada persoalan inferioritas atau keminderan,  di  mana tata krama lebih diunggulkan dari pada memberikan catatan kritis   secara otonom terhadap teks sastra tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Keenam&lt;/i&gt;, wacana diskursif yang dianggap kuat, juga membuat &lt;i&gt;symptom&lt;/i&gt;   yang menjejalkan pengetahuan, bahwa nalar tidak mempersoalkannya.  Tentu  saja nalar yang tidak mempersoalkan bukan ujaran diskursif.  Namun,  penerimaan psikologis dalam alam bawah sadar, yang memungkinkan  suatu  wacana tertentu hadir di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Nurel memiliki ketajaman genealogis yang tidak sembarang  orang  memilikinya. Teks Ignal Kleden yang tertulis, “…percobaan  melakukan  dekonstruksi…memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi  baru yang  lebih otentik melalui puisi…” tidak sekedar dibaca secara  kritis oleh  Nurel, selayaknya kritik sastra biasa. Kritikus ini secara  tidak lazim  memberi kritik secara lebih dalam, menerobos fondasi-fondasi  moral yang  membangunnya. Jika hasil tafsiran secara umum lebih gandrung  pada  deskripsi terlebih dahulu terhadap uraian estetis dan nilai  moralnya,  Nurel secara berani menunjukkan kerapuhan-kerapuhan akar dan  sesuatu  pembentuk akar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kaca mata genealogis yang baik, Nurel membongkar bahwa, “Ungkapan ‘&lt;i&gt;konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi&lt;/i&gt;,’ pun para penyair berusaha mencapai, tak hanya Tardji. Lalu digunakannya kata ‘&lt;i&gt;kemungkinan’&lt;/i&gt;,   agar suatu masa bisa mengelak jika dikenai pertanggungjawaban. Maka   sejatinya IK tak mendukung gagasan Tardji, seolah menutupi separuh   mukanya dikala berjalan di tengah keramaian. Namun dengan lantang   hatinya berujar, ‘&lt;i&gt;bacalah tulisanku yang lain mengenai dekonstruksi atau lebih jauh&lt;/i&gt;,’ silahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel serupa dengan “Guru Penuh Curiga”, menerapkan hermeneutika   kecurigaan, untuk menunjukkan betapa teks ini terlampau politis, di   sampai aspek-aspek estetis dan moral yang menopangnya. Bolehlah memberi   catatan, komentar atau apresiasi untuk Sutardji, namun jangan sampai   komentator atau kritikus kalah popular. Kehendak “menjadi” yang terbaik   di antara yang baik, sejalur dengan kehendak untuk berkuasa. Sama  sekali  bergantung pada khalayak agar “diakui” kehadirannya.  Ketergantungan  pada publik atau orang biasa yang hendak ditaklukkan,  bukanlah sifat  eksistensial yang utuh. Ia dianggap sebagai subyek yang  tidak otonom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengkritik, Nurel selalu menggunakan paradigma kritik yang  murni.  Namun sepintas saja anggapan itu, di luar tujuan moral yang   dikehendakinya. Alasan ini sangatlah kuat, mengingat keterbatasan teks   kritik yang ditulisnya. Ada semacam ketidakutuhan, sehingga siapapun   penafsirnya, akan gagal menangkap alasan moral yang mendasarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikus yang demikian, kerap kali disebut sebagai kritikus ambang.   Kritikus ambang, hanyalah kritikus. Ia berada di tengah belantika   perdebatan moral, kendati turut dalam kontestasi, namun mengambil isu   yang lebih fundamental dan jauh dari gelombang wacana popular yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi yang demikian, secara paradigmatik, barangkali Nurel   sebagai kritikus ambang, “secara moral” hendak menantang adanya dominasi   mazhab sastra dekonstruksi. Dalam benak Nurel, kendatipun kebebasan   dijunjung dalam prinsip dekonstruksi, pandangan itu sendiri tidak lepas,   tidak bebas, tidak tahan uji oleh kebebasan yang disyaratkannya.   Artinya, kekuasaan mazhab “kebebasan” (lebih tepatnya pembebasan)   tidaklah sebebas yang dibayangkan. Seperti Derrida, Nurel adalah   “penantang” bagi keagungan filsafat kritik sastra yang sedang popular di   Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jelaslah bahwa paradigma kritik Nurel adalah kritik   yang murni, dengan tujuan moral semacam stabilisator bagi dominasi arus   kekuasaan yang sedang menonjol di permukaan. Barangkali kritikus yang   demikian sangat jarang dijumpai selama ini, karena dianggap memiliki ide   yang terlampau pinggiran. Padahal, betapapun ide itu periperal,   kritikus ambang memiliki kontribusi yang sangat baik, sebagai kontrol   dan penyeimbang interaksi kekuasaan dalam alam pluralitas kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang digunakan sepanjang teks, selalu memiliki alur   fenomenologis. Ia membiarkan teks itu terjalin, membacanya satu persatu   dengan teliti, kemudian memberi catatan kritis atasnya. Cita rasa   fenomenologis yang paling menonjol adalah intensionalitas yang   dimainkan, tidak pernah keluar dari obyek yang sudah ditentukan. Ia   membaca dengan baik sifat genetis dari makna dalam teks yang dimaksudkan   oleh pengarang. Dalam filsafat, dikenal dengan istilah intensionalitas   genetis atau positivitas yang apriori-historis. Nurel selalu menemukan   cita rasa yang dimiliki oleh teks awal, kendati ia adalah pembaca  baru.  Tanpa keluar dari maksud fenomenal pengarang, ia menemukan  celah-celah  di mana setiap tenunan kritik di selipkan di dalamnya.  Tidak jarang,  sebuah teks menjadi hancur karena memang Nurel  menunjukkan kelemahan  fondasi-fondasi filosofis teks tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan fenomenologi, Nurel menyingkap gelap estetika yang sering   diterima tanpa kontrol oleh pembaca baru. Maksud komunikasi pengarang   kepada pembaca baru melalui teks, jelas tersandung oleh bahan-bahan   kritisisme Nurel. Memang “sepertinya”, kekurangannya adalah unsur moral   yang melatarbelakangi, mengapa kritikus melontarkan kritik dan solusi   apa yang diberikan. Bagi intelektual ambang, sekali lagi, ini bukanlah   hal yang penting dan mendasar, karena tantangan pada unsur kuasa telah   menunjukkan hasil, serta barangkali telah tersingkap di mana ada sederet   kelemahan filosofis di dalam teks obyek kritikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang dilakukan Nurel adalah pendekatan linguistik dan   hermeneutika, di mana dua hal tersebut lazim digunakan sebagai aplikasi   kritik sastra. Soal hermeneutika di sini, nampaknya lebih sebagai alat   analisis dan kritik (hermeneutika kritis). Memberi tafsiran pada setiap   tenunan teks sastra, yang sekaligus menyebabkan runtuhnya kekuatan dan   makna teks tersebut secara filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara substansi kritisisme dan perangkat metodologis yang  digunakan  Nurel, ada beberapa manfaat atau nilai-nilai dan  kekurangannya.  Mula-mula akan dijelaskan manfaatnya, barulah kemudian  kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, manfaatnya adalah kritik Nurel menjadi semacam rambu-rambu yang mengontrol pelbagai arus kuasa dalam kritik sastra. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;,   menunjukkan dengan terang, kekuasaan atau kehendak dari setiap   pendasaran tenunan teks kritik sastra, baik itu teks yang mengandung   nilai, maupun moral tertentu. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, Nurel secara tidak   langsung memperkenalkan manfaat besar dari uji fenomenologis yang   dilakukannya. Dengan fenomenologi kritis, ia mengungkap adanya ruang   ketidakkritisan, semacam jeda dalam alam bawah sadar (oleh pelbagai   sebab yang sudah dijelaskan), yang mana menunjukkan adanya kerapuhan   fondasi filosofis dalam struktur nalar yang dibangun oleh teks sastra. &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;,   menunjukkan bahwa upaya produksi teks, tidak pernah selesai. Karena   itu, tidak ada makna yang paling benar di antara tenunan teks-teks yang   ada, baik itu yang lama, maupun yang baru. Kendatipun makna itu adalah   kebebasan, namun tidak akan pernah langgeng dalam posisi tertentu   kiranya kebebasan tidak menjadi pendasaran paradigmatik, namun menjadi   nilai aplikatif atau moral tertentu. Kebebasan telah bergeser fungsinya   sebagai alat penentu kekuasaan pengarang, pembaca baru dan bahkan   penulis baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kekurangan dalam kritik Nurel antara lain: &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;,   menimbulkan kecurigaan yang berlebihan, karena dianggap terlampau   melayani isu yang periperal. Kecurigaan ini akan mengakibatkan   pengabaian, menganggapnya bukan suatu upaya kritis yang penting, bahkan   perdebatan yang tidak bermakna bagi mereka yang gagal menemukan nilai   atas Nurel sebagai kritikus ambang. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, spekulasi kritik   Nurel merusak kepastian politis dari komunikasi moral kebebasan yang   dikampanyekan oleh aliran sastra tertentu. Secara pragmatis, kritik ini   dianggap telah menyingkirkan agenda besar kritik dan kebebasan, demi   pengungkapan adanya fondasi filosofis yang rapuh di dalam tenunan teks. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;,   nilai dan moral kritik Nurel belum mewarnai secara utuh, terlebih jika   dihubungkan dengan persoalan di luar teks (ekstra tekstual), relasi   sosial dan isu-isu intersubyektivitas kontemporer.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pelbagai manfaat dan kekurangan dalam kritik sastra Nurel,   kiranya penting untuk mengambil manfaat darinya. Termasuk sebagai upaya   tawaran metodologis dalam kritik sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengambil manfaat dari model metodologi Ignas Kleden, akan  nampak  kelebihannya dari segi komunikasi dan estetika teks yang  mendukungnya.  Sedangkan pada Nurel, kritisisme dan fondasi filosofis  menjadi  keunggulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua metodologi kritikus sastra tersebut, dapat disimpulkan  bahwa  sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Secara pragmatis,   keduanya membicarakan hal yang sangat konstruktif. Komunikasi adalah   titik pangkal di mana setiap tenunan teks, berharap diterima oleh   pembaca atau pembaca baru dan penulis baru, secara baik. Dari sini,   muncullah tawaran baru metodologis, di mana komunikasi menjadi titik   sentral setiap interpretasi, sekaligus didukung oleh substansi estetis   (Ignas Kleden), kritis (Nurel), nilai dan moral filosofis yang membangun   (Ada pada setiap penafsir) dan paradigma baru yang menopangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan paradigma baru ini, seperti yang dikemukakan sebelumnya  dalam  teks-teks awal, adalah intisari dari komunikasi apapun, baik itu  dalam  filsafat maupun sastra, yaitu komunikasi dari hati ke hati.  Kendati  setiap manusia ada dalam ruang dan waktu yang diramaikan oleh   pluralitas kehendak, setiap orang hendaknya boleh berbicara sekaligus   bersedia mendengarkan lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma baru yang ditawarkan adalah sastra sebagai ibadah.   Keseluruhan aktivitas sastra, menenun teks, reproduksi teks secara terus   menerus dan seluruh hal yang tidak terbatas adalah ibadah. Ibadah   adalah kebaikan, baik itu berfondasi teologis, maupun antropologis (&lt;i&gt;homo mensura&lt;/i&gt;) di mana manusia dan kemanusiaan menjadi titik tolak seluruh perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya hal ini secara metodologis disebut sebagai teori, kiranya  agak  sukar menentukan teori apa yang pantas secara akademis-ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mengajukan teori ini sebagai teori sastra pinggiran. Sastra   pinggiran adalah seluruh aspek susastra dan kebudayaan orang biasa,   sehari-hari, namun ia bukan caci maki, kritik membabi-buta, suatu sikap   resentimen tertentu. Sastra pinggiran adalah semua pandangan hidup dan   kearifan lokal orang biasa, sehingga merdeka menentukan jalan hidup  yang  akan ditempuhnya, termasuk jalan sastra dan kritik sastra untuk  ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, teori ini bukanlah teori khusus yang diusung secara   akademis, tetapi merupakan kemerdekan utuh dari pembacanya tatkala   hendak menyampaikan kritik terhadap karya tertentu. Cara baca yang   demikian jelas absah. Menjadi hak pribadi masing-masing dalam membaca   dan menyeru kemakrufan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar kritik sastra Indonesia, Maman S. Mahayana menyampaikan bahwa   justru kritik sastra umum (pinggiran) yang lebih diterima dan dapat   dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat.&amp;nbsp; Meminjam istilah   Kuntowijoyo bahwa agama (Islam) itu membebaskan dan kebudayaan itu   membelenggu. Tatkala kebudayaan akademis mengekang akademisi untuk   berlaku merdeka dalam berdakwah, maka tatkala itu pula tradisi akademik   serupa penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa mengangkat dan menampilkan   unsur universal dari sastra sederhana, dengan cara pandang pinggiran   sangat beresiko. Ada yang mengatakan bahwa mengambil nilai kehidupan   dari hal yang sederhana, tulisan sederhana, ide yang sederhana dan   gagasan yang sederhana merupakan sikap khas para bijak, filsuf dan   seniman bebas. Terus terang, sebagian akademisi menyebut kajian ini   tidak memiliki validitas yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu semua, mencoba untuk meminta izin keluar dari alur  baku  penelitian akademis khususnya yang positivistik, penulis bersikeras   mempertahankan pandangan-pandangan rakyat, sejarah rakyat, kebudayaan   dan tradisi orang biasa, kehidupan sehari-hari, atau dalam sebutan yang   lebih cocok adalah kritik sastra pinggiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik sastra ini, oleh khalayak diakui dapat mengungkap nilai   universal yang kosmopolit. Penulis (pembaca) yakin, teks sastra yang   sederhana, halaman yang pendek, cerita yang terbatas, tidak mustahil   untuk menjamin membuka pandangan hidup baru dan kesadaran bagi   masyarakat luas, termasuk para sarjana, seluruh akademisi, masyarakat   kelas menengah dan elit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyandang kata “pinggiran” berarti suatu hal yang sangat perlu,   menarik, berkesan, bangga sebagai pribumi, dan tidak berpandangan melulu   menjulang ke langit, namun juga turun ke bumi. Karena itu, Kuntowijoyo   menyarankan para pembaca atau kritikus sastra hendaknya seperti air,   yang selalu mengalir ke bawah, menjangkau seluruh wadah dan aspirasi   rakyat. Sastra dan kritik sastra yang demikian tidak bebas nilai, tapi   subyektif mengikuti falsafah padi yang merunduk dan berbudi luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah metodologi yang ditawarkan, kiranya memberi kontribusi  bagi  kritik sastra dewasa ini. Kendati terkesan seperti setia  menggunakan  alur nalar dekonstruksi, yakni menenun yang baru secara  terus menerus,  sebagai suatu upaya produksi teks yang tidak selesai,  kiranya  seluruhnya adalah ibadah, komunikasi yang baik atas kebaikan,  untuk  kebaikan, maka sama halnya dengan reproduksi pahala tiada henti.  []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah Peneliti filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat   (PSIF) UMM, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).&lt;br /&gt;Dijumput dari: &lt;a href="http://www.facebook.com/notes/hasnan-bachtiar/menenun-yang-baru-suatu-upaya-produksi-teks-yang-tidak-selesai/10151151876960702?ref=notif&amp;amp;notif_t=note_tag"&gt;http://www.facebook.com/notes/hasnan-bachtiar/menenun-yang-baru-suatu-upaya-produksi-teks-yang-tidak-selesai/10151151876960702?ref=notif&amp;amp;notif_t=note_tag&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-7144965634844664836?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/7144965634844664836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=7144965634844664836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7144965634844664836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7144965634844664836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2012/01/menenun-yang-baru-suatu-upaya-produksi.html' title='Menenun yang Baru: Suatu Upaya Produksi Teks yang Tidak Selesai'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-4927046751303634837</id><published>2011-12-19T13:58:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T14:00:23.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasnan Bachtiar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Perburuan dan Kelincahan Metodis</title><content type='html'>Hasnan Bachtiar&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu tidak ada titik temu dalam  polemik sastra. Di satu sisi, ada  sebagian masyarakat sastra yang  menghendaki bahwa karya sastra adalah  media komunikasi, sekaligus  estetika. Di seberang sisi yang lain sangat  berbeda. Karya sastra  hendaknya dibebaskan dari beban-beban  komunikatif tersebut. Karena itu,  sastra adalah estetika. Sastra tiada  lain hanyalah seni.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Golongan  yang pertama, mewakili golongan modern yang mempertahankan  nilai  fungsional sastra. Sedangkan golongan yang kedua, adalah para  sastrawan  pascamodern yang menghendaki kebebasan penafsiran atas teks  sastra,  secara terus-menerus tanpa henti, sesuai dengan selera  pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas,  golongan pertama adalah moralis. Sastra memang digunakan  sebagai  strategi moral dan kepentingan sosial. Hal ini dapat ditemui di  mana  saja, misalnya tatkala teks sastra, menuliskan penderitaan  orang-orang  kecil dan tertindas, pemihakan sosial, kritik sosial,  ungkapan religius  kebudayaan tertentu dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada golongan  pascamodern, awalnya ingin memberikan kritik yang  konstruktif bagi  pemikiran modern. Jika sastra itu fungsional dan  komunikatif, memang  menjadi hal yang menggembirakan saat sastra  digunakan sebagai alat untuk  ibadah atau berbuat baik. Dari sini, tentu  saja ada celah-celah yang  mudah dibelokkan. Sastra bisa jadi,  dimanfaatkan untuk hal-hal yang  kurang baik, tercela dan merugikan  orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra yang  bermanfaat ini, baik itu manfaat yang benar maupun  sebaliknya, selalu  bermakna atas apa yang dikehendaki penciptanya. Di  samping itu, bermakna  pula atas keinginan pembacanya. Bagi pembaca,  jelas, adalah mereka yang  punya kepentingan yang sama dengan  penciptanya. Secara lebih sederhana,  sastra modern, adalah untuk  kepentingan moral tertentu. Makna, selalu  mengikuti tuan pengendali  kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bahasa yang  lugas, sastra modern disebut pula sastra moral atau  sastra kepentingan.  Lazim diketahui bahwa, setiap moral atau  kepentingan adalah kekuasaan  yang dijalankan untuk tujuan tertentu. Di  sinilah pemikir pascamodern  memberikan kritik atas kekuasaan, agar  setiap kuasa tertentu, tidak  terlampau berlebihan dalam melampiaskan  hasratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  memberikan kritik, sastrawan pascamodern tentu saja tidak  menggunakan  metode yang sama seperti yang dijalankan sastrawan modern.  Dialektika  modern atau saling beradu argumen dan bertukar pikiran atas  makna-makna,  sangat beresiko pada debat kusir yang tidak berujung.  Tetapi yang  paling penting, mengikuti arus jalannya sastra modern, maka  akan selalu  tidak mandiri dan tidak pula dapat lepas dari tuntunan  moral yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan  alternatif yang ditempuh adalah keluar dari dialektika modern dan   beralih pada metode yang sama sekali berbeda. Barangkali, secara lebih   terus terang, bahwa jalan yang ditempuh adalah bukan jalan dalam   kungkungan moral. Dengan kata lain, bukanlah jalan yang didikte oleh   kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pascamodern menghendaki bahwa sastra  hendaknya terlepas dari  beban-beban komunikatif dan fungsional.  Kebebasan itu berarti adalah  kemandirian teks sastra. Konsekuensinya,  bisa saja bahwa teks itu  bukanlah bahasa formal maupun informal dalam  komunikasi massa, tetapi  hanyalah tenunan huruf. Beruntung pula tenunan  itu dapat dibunyikan  secara oral, jika terajut huruf-huruf vokal. Di  sini, justru makna  sangatlah penting. Makna akan berdiri bebas,  mengikuti  kehendak-kehendak pembaca, tanpa melulu didikte oleh kuasa  apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, pemikiran pascamodern, menolak setiap  kekuasaan mutlak.  Tentu bukanlah hal yang sungguh-sungguh mutlak di  dalam dirinya  sendiri. Misalnya saja Tuhan. Tuhan berbeda dengan sesuatu  tentang  Tuhan: ketuhanan. Maka, kebenaran mutlak, yang hendak ditantang  dan  diserang pemikiran pascamodern, bukanlah yang benar-benar mutlak.   Namun, nampak mutlak. Manusialah yang bisa menentukan adanya yang   “nampak” mutlak, kendati dengan istilah benar-benar mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah,  yang ditentang oleh pemikiran pascamodern adalah kebenaran  yang  “seolah” tunggal, yang seringkali ditampilkan oleh pemikiran  modern.  Sesungguhnya sekali lagi, bukan ketunggalan itu yang coba  dipersoalkan.  Namun, arogansi manusia-manusia yang merasa dirinya  sendirilah yang  paling benar. Kebenaran dalam hal ini, bisa berarti  makna, pikiran,  rasionalitas, moral, pengetahuan dan segala dimensi  etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan  dan ketiadaan moral yang dimiliki manusia pascamodern,  bukanlah berarti  bahwa manusia kehilangan pijakan. Tidak demikian.  Pijakan tetaplah ada,  kebaikan tetaplah diapresiasi dan kebenaran  tetaplah diinginkan.  Kendati demikian, semua itu tidak tunggal ataupun  selesai, final.  Tetapi, terus-menerus memperbaharui segala maknanya,  tanpa batas dan  akhir, sepanjang manusia itu hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu beresiko,  menyebutnya “ketidakmungkinan” maupun kebalikannya,  “keabadian”.  Ketidakmungkinan dan keabadian adalah masa yang belum  tertempuh. Manusia  yang hidup sekarang, kekinian dan kedisinian,  hanyalah mengangankan,  mengimajinasikan, berkarya akan masa depan  tersebut. Dari sini,  teranglah bahwa, ketidakmungkinan, kekosongan dan  makna yang tidak  pernah selesai, sesungguhnya adalah apa yang belum  dijumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal  hal ini melalui cara pandang filsafat, akan ditemui istilah   relativisme, bahkan nihilisme. Relativisme atau makna bagi setiap   pembaca adalah relatif, bisa dimengerti dengan mudah. Namun, kerelativan   itu sendiri, tidak seliar yang dibayangkan. Betapapun manusia itu   memaklumi relativitas pemaknaan, tatkala memberi makna atas teks sastra,   maka berhentilah pembaca atau penikmat sastra dalam “satu”  persinggahan  kekinian. Begitu juga dengan nihilisme, ketidakadaan  kebenaran,  hanyalah ilusi. Sejajar dengan persoalan kebenaran tunggal  itu sendiri.  Klaim nihilisme dan kebenaran tunggal, adalah dua hal yang  berada di  luar pemikiran kekinian. Termasuk pula, jika saat ini  seorang pembaca  sastra mengimani nihilisme, maka sesungguhnya itulah  suatu terjemah akan  karya sastra, suatu iman nihilisme sebagai  kebenaran tunggal saat itu  juga, kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalaupun relativisme dan nihilisme  itu ada, atau sederajat  dengan kebenaran tunggal yang sejati itu ada,  tidaklah bisa manusia  berkomentar atau memberi catatan kritis atasnya,  terlebih  mengkomunikasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatakan kebenaran itu  tidak ada (nihilisme), berarti telah  mengatakan satu kebenaran. Begitu  pula, mengatakan bahwa sesuatu itu  benar sejati, maka hilanglah  kesejatiannya karena sifat manusia yang  alpa. Tidak jauh berbeda, bahkan  lebih ironis jika mengkomunikasikan  keduanya, berarti telah  memanfaatkan untuk kepentingan atau  moralitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran  sastra pascamodern, khususnya yang menghendaki kebebasan  mutlak atas  makna dan mengkritik dimensi fungsional-komunikatif dari  teks sastra,  “seperti” memiliki sayap yang ingin terbang bebas dengan  sejati. Hal  itu, tidak sepenuhnya benar. Realitasnya, mereka hanya  memiliki  kelincahan metodis dan kecerdikan dalam berpolemik pemikiran  sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelincahan  metodis adalah persoalan mudah. Jelas, dengan kehendak untuk   menetralisir segala petunjuk moral sebagai perwujudan kuasa dalam  proses  pemaknaan teks sastra, akan mempersilahkan setiap pembaca untuk   melewati tahapan berikutnya, yaitu tafsir yang dikehendaki atau yang   disukai, “secara bebas”. Kembalilah tahapan pascamodern, pada pemaknaan   yang serupa pada metode sastra modern. Kendati demikian, hal ini   tetaplah berbeda satu sama lain. Metode sastra modern terlihat mantap   dengan keyakinan, sedang pascamodern, tidak terlalu penting menyoal   keyakinan, yang terpenting adalah kebebasan pemaknaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan  kritik pada pemikiran pascamodern, bisa saja dengan  pemikiran modern,  maupun dengan kelincahan metodis yang serupa. Bagi  kritik yang pertama,  berarti memberikan kritik dengan moral-moral atau  dengan kekuasaan  kehendak pengkritik. Memburu celah-celah pemikiran  pascamodern yang cela  dengan metode pascamodern, punya geliat yang sama  dengan kehendak  modern, kendati perbedaannya bahwa hal ini lebih pada  kegiatan  menafsirkan ulang tanpa selesai dan selalu menggapai makna  kebaruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun  itu, segala yang tergolong sebagai pembacaan ulang, kritik atau   penafsiran tertentu, adalah operasi penindakan terhadap obyek tertentu.   Singkat kata, kritik seutuhnya adalah modus operandi penguasaan.  Kritik  adalah perburuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perburuan, entah apa yang  diburu, baik pemikiran modern maupun  pascamodern, baik menggunakan  senjata tradisional maupun dengan yang  lebih canggih, senantiasa  menginginkan agar hasrat berburunya  terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara  berburu ini akan lebih kentara di permukaan, jika menunjukkan  bahwa  obyek buruannya memiliki kekuasaan, kehendak, niat, hasrat  tertentu,  maka setiap pemburu punya hal yang serupa untuk menyerang  binatang  buruannya (teks sastra). Persoalan perburuan, adalah persoalan   pertarungan, tarik-menarik kehendak dan dalam bahasa yang lebih terus   terang adalah kompetisi, kontestasi, rivalitas dan lain sebagainya.  Tapi  tetap, dalam bahasa sastra sehari-hari, perburuan atau kritik,  adalah  suatu upaya penafsiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini, akan dijelaskan soal  polemik sastra yang ada di Indonesia.  Secara spesifik bahwa, yang hendak  dikritik adalah pemikiran  pascamodern, yang diwakili oleh Sutardji  Calzoum Bachri (Sastrawan  Indonesia) yang didukung oleh Ignas Kleden  (Kritikus Sastra), khususnya  dalam esai yang berjudul, “Puisi dan  Dekonstruksi: Perihal Sutardji  Calzoum Bachri” (4 Agustus 2007).  Pemikiran yang punya kelincahan  metodis ini, hendak diburu oleh penafsir  lainnya, yang juga memiliki  kehendak pemaknaan terhadap sastra,  khususnya oleh Nurel Javissyarqi,  sastrawan dan kritikus yang bergaya  Surealis dan eksentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan Nurel ini, telah ditulis  secara sistematis di dalam esai  bersambungnya yang berjudul “Membaca  ‘Kedangkalan’ Logika Dr. Ignas  Kleden?”. Pada bagian pertama dan kedua  esainya, akan diuraikan dalam  diskusi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Segala  sastra adalah metafora. Berarti, setiap pencipta seni, akan  melepaskan  karyanya untuk hidup sendiri secara mandiri. Dengan kata  lain, seperti  melepaskan burung dan membiarkannya hinggap dengan sesuka  hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra,  barangkali akan sangat mudah dipahami orang, pembaca atau  penikmatnya.  Namun adakalanya sebaliknya. Sastra, menuruti sifatnya  untuk  menyembunyikan makna, sehingga sangat sulit dan beragam pemaknaan   atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sastrawan terkemuka, Sutardji Calzoum  Bachri misalnya, memiliki  ciri khas tatkala menuliskan puisi-puisinya.  Kadangkala bagian awalnya  hanya berupa tenunan huruf-huruf yang tidak  selesai sehingga layak  dimengerti sebagai kata. Rasa-rasanya sepintas,  kalau dibacakan seperti  membunyikan sesuatu. Mungkin tidak bermakna atau  sulit sekali  menemukan maknanya secara sederhana, tetapi berasa  sesuatu, yang mana  dapat dinikmati baik oleh pelantun maupun  pendengarnya, sesuai dengan  selera masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah, tidak heran jika Sutardji dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Isyarat&lt;/i&gt;   (2007: 10), menjelaskan bahwa puisinya adalah ruh, semangat, mimpi,   obsesi, dan igauan serta kelakar batin yang menjasad dalam bunyi yang   diucapkan dan sering dituliskan dalam kata-kata. Dengan kekhasan ini,   masyhur ciptaannya menyandang gelar “mantra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang  studi antropologi, “mantra” itu sangatlah unik dan  fungsional. Orang  membaca mantra, biasanya punya kehendak agar orang  lain mengikuti  kehendaknya tersebut, hanya dengan mendengarkan  lantunan-lantunan yang  menuntun batin. Entah energi, entah keajaiban,  yang jelas, tanpa  penjelasan secara rasional, mantra seringkali bekerja  secara ampuh,  menuruti kehendak tuannya. Mantra di sini, sejenis  kata-kata, namun  bukan bahasa, karena tidak memiliki makna yang lazim  dipahami secara  komunikatif. Itulah keunikan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja berbeda,  antara mantra sebagai tradisi masyarakat adat,  dengan mantra dalam  khazanah sastra, khususnya mantra Sutardji.  Kendatipun memiliki  kesamaan, baik itu dalam dimensi kesakralan,  religiusitas, magis, mistis  dan estetika, dari segi kelahirannya, kedua  jenis mantra tersebut  memiliki ibu, rahim, ruang, waktu dan falsafah  yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  penikmat sastra, bisa saja larut dalam keheningan dan terbawa  dalam  suasana ruhaniah, tatkala puisi mantra Sutardji dibacakan. Namun  hal  ini, tidak berlaku bagi masing-masing masyarakat adat yang memiliki   tradisi mantra, bahkan kelahiran tradisi tersebut jauh sebelum   zaman-zaman perkembangan sastra Indonesia menjadi marak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis adat &lt;i&gt;Osing&lt;/i&gt; dari Banyuwangi, akan jatuh cinta secara tergila-gila, karena batinnya telah tertuntun oleh mantra pengasihan &lt;i&gt;Jaran Goyang&lt;/i&gt;, yang dibacakan oleh seorang pria yang menginginkannya. Gejala-gejala magis dari mantra &lt;i&gt;Osing&lt;/i&gt;, sangat berbeda dengan mantra Sutardji yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  ada sisi menarik dalam mantra Sutardji. Jika padamulanya bahasa,  selalu  berfungsi sebagai alat komunikasi, kini tidak lagi demikian.  Karena,  seperti dijelaskan sebelumnya, kata, tidak selalu sebagai  bahasa. Kata  yang bukan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata itulah burung yang terbang bebas.  Sedangkan puisi, lebih luas lagi  dari itu. Bagaikan langit, puisi  menjadi ruang bagi burung-burung yang  terbang tinggi, menari dan pergi  sekehendak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini jelaslah bahwa, puisi atau teks  sastra bagi Sutardji, karena  bukan dalam kategori bahasa, bukan berarti  tidak bisa dikomunikasikan.  Namun, cara komunikasi, baik itu makna  maupun bunyinya, diberikan  seutuhnya bagi pembaca secara bebas, tanpa  batas secara terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignas Kleden dalam esainya,  “Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji  Calzoum Bachri” (4 Agustus  2007) membenarkan pendapat ini. Ia  mengungkapkan bahwa, “Upaya dan  perjuangan Sutardji Calzoum Bachri  menerobos makna kata, menerobos jenis  kata, menerobos bentuk kata, dan  menerobos tata bahasa dapat dipandang  sebagai percobaan melakukan  dekonstruksi bahasa Indonesia secara  besar-besaran dan memberi  kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru  yang lebih otentik melalui  puisi… Dalam sebuah esainya Sutardji menulis  ‘puisi adalah alibi  kata-kata.’ Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa  kata-kata dalam puisi  diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab  terhadap makna, yang  dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada  sebuah kata sebagai  tanggungan kata tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puisi  sebagai alibi kata-kata” itulah kata yang paling pas untuk  membayangkan  teks sastra gaya Sutardji. Dengan puisi, pembaca bisa lari  dari makna  yang hendak dipatenkan, sekehendaknya. Dengan puisi, yang  paling pasti  adalah ketidakpastian yang liar. Inilah yang dimaksud  dengan kelincahan  metodis. Selalu menemukan jalan untuk kabur dan pergi  ke sana ke mari  sesuka hati. Sebenarnya, inilah deklarasi kebebasan  Sutardji. Semacam  kredo yang sedang dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain,  Sutardji menyampaikan bahwa, “Dalam puisi saya,  saya bebaskan kata-kata  dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti  kamus dan penjajahan lain  seperti moral kata yang dibebankan masyarakat  pada kata tertentu dengan  dianggap kotor (obscene) serta penjajahan  gramatika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali  waktu, Ignas Kleden dalam Pidato Kebudayaan Pekan Presiden  Penyair (19  Juli 2007) sangat berharap agar kredo Sutardji tersebut  akan  diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, mulailah pelbagai kritik  dilancarkan oleh Nurel. Bukan pada  Sutardji, namun pada penafsirnya,  yaitu Ignas Kleden. Jelas dalam  uraian esainya, baik itu bagian pertama  maupun kedua, belumlah secara  terus terang memberi kritik pada teks  sastra Sutardji. Kritikus  surealis ini hanya menjelaskan bahwa, logika  yang dipakai Ignas Kleden  untuk menjelaskan kelincahan metodis Sutardji,  belumlah tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dalam dukungan Kleden akan  Sutardji, diungkapkan bahwa  kelincahan metodis, serupa dengan  penerobosan makna, jenis, bentuk kata  dan tata bahasa. Hal itu dinilai  sebagai dekonstruksi bahasa Indonesia  secara besar-besaran, karena  memberi peluang bagi pelbagai gaya baru  yang lebih otentik melalui karya  sastra. Jadi di sini, bukan sekedar  teks sastra yang mengalami  pembebasan, namun juga metodologi dan  filsafat sebagai dasar pijaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  memberikan kritik, Nurel mendiagnosa bahwa Kleden menafsirkan  kata  “pembebasan” dengan “penerobosan”. Pilihan kata “menerobos” sangat   beresiko untuk mendapati arti yang dirasa tepat dengan maksud  kelincahan  metodis &lt;i&gt;Sutardjian&lt;/i&gt;. Menerobos barangkali, lebih  tendensius dan  memanggul cita rasa resentimen terhadap lawan. Sedangkan  pembebasan  tentu saja, kendatipun berkehendak untuk melawan, kata ini  mengandung  unsur moral kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nurel, menerjemahkan kata  “membebaskan” dengan “menerobos”  berarti membelokkan maknanya. Jelas  sah, bagi seorang penafsir,  siapapun, untuk menafsirkan suatu kata  tertentu. Tapi satu penafsiran,  jika ditafsir ulang, maka tidak akan  luput dari kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau konsekuen dengan kebebasan dan  pembebasan penafsiran, maka  dekonstruksi Sutardjian oleh Kleden, akan  lebih mengarah kepada upaya  yang destruktif, sekedar merusak atau  menghancurkan, tanpa menata  kembali. Namun, sebagai suatu jalinan kata  yang utuh (kalimat), Kleden  bisa saja membela bahwa, maksud dari  menerobos telah dijelaskan oleh  kata berikutnya, yaitu untuk,  “...melakukan dekonstruksi bahasa  Indonesia secara besar-besaran dan  memberi kemungkinan bagi  konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik  melalui puisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam esainya, Nurel mencoba menjelaskan,  “Kata ‘menerobos’ yang  diulang-ulang, tak lebih bentuk usaha keras IK  dalam mengaburkan  pemahaman, membuat buyar pelahan-lahan atas tatanan  konsep SCB,  disesuaikan pola IK dalam pijakannya berfikir kali itu, dan  upaya  menekankan, meyakinkan pembaca bahwa kata ‘(mem)bebaskan’ sama  dengan  ‘menerobos’. Ini awal pembelokan manis teruntuk pembaca sastra  yang  sungguh menghipnosis, kalau yang bilang bukan IK, tentu ada  tuntutan,  tetapi karena yang berkata-kata Dr. Ignas Kleden, siapa  berani?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah yang dimaksud dengan penafsiran ulang  atas tafsir tertentu.  Padamulanya, Kleden mentransformasi kata  “membebaskan” menjadi  “menerobos”. Ini adalah tenunan baru dari sebelas  tenunan huruf-huruf  m-e-m-b-e-b-a-s-k-an menjadi sembilan tenunan  huruf-huruf:  m-e-n-e-r-o-b-o-s. Lalu prosesnya, Nurel mengudarnya  menjadi banyak  tenunan huruf, dan jalinan kata yang lain pula. Misalnya,  “’Menerobos’,  masihlah fokus dengan jalan pintas seperti sorot cahaya,  sedangkan  kata ‘(mem)bebas(kan)’ bermakna membuyarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna  menerobos menurut Nurel, seperti halnya makna tunggal tertentu  yang  secara spesifik, memiliki kebenaran yang erat dengan penulisnya.  Sangat  berbeda dengan kata membebaskan, yang bermakna “membuyarkan”  sesuatu.  Kata membuyarkan, jika dikehendaki, bermakna pula sebagai  diseminasi  atau penyebaran teks, dengan demikian, juga penyebaran  jaringan jejak  teks (&lt;i&gt;gramma&lt;/i&gt;) ke teks yang baru, yang tidak tunggal, namun berlaku “bebas” sesuai kehendak penafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  persoalan ini, penulis memaklumi penjelasan Kleden soal  “menerobos” dan  tafsiran Nurel soal “keberatan terhadap kata  menerobos”. Menurut  kacamata sastra pascamodern, terjadi dialektika  intertekstualitas. Tapi  secara jujur, pastilah itu semua adalah  tarik-menarik kehendak antara  Kleden yang selesai menuliskan karyanya,  lalu diburu untuk dikritik oleh  Nurel yang kurang sependapat dengannya.  Dengan demikian, bukan melulu  intertekstual, tetapi intersubyektif.  Apalagi jelas-jelas dalam komentar  Nurel disebutkan bahwa, “Siapa  berani?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak  selesai. Seperti dijelaskan di muka, aktivitas  tafsir-menafsir, tidak  akan pernah selesai. Selalu menemui makna baru  yang dikehendaki secara  terus-menerus. Reproduksi teks dalam  ketidakpastian yang paling pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin  kata “kebebasan” sangat cocok untuk diselidiki lebih jauh.   Pertimbangannya adalah karena polivokalitas yang dimiliki, juga sifat   interpretatif dari pembacaan terhadapnya. Nurel mengungkapkan bahwa,   “Kelicinan IK tidak menampakkan kata ‘kredo’ pada paragraf awalnya,   padahal secara ruhaniah makna merujuk padanya, yang terbukti munculnya   kalimat ‘memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih   otentik melalui puisi’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruhnya adalah teks. Bagi  penulis, untuk menunjukkan tafsir baru,  berarti mereproduksi teks. Namun  mengurai metode, berarti menunjukkan  bagaimana cara kerja filsafat  penulisan teks berlaku. Di sini,  Sutardjian menghendaki pembebasan  makna. Demikian pula dengan kedua  kritikus, baik itu Kleden maupun  Nurel. Kemungkinan bagi konstruksi  baru adalah teks baru yang berasal  dari reproduksi. Begitu pula dengan  catatan Nurel, bahwa tantangan  kritis terhadap Kleden adalah teks baru  yang juga dari hasil reproduksi.  Tentu saja, dapat disimpulkan bahwa  inti dari kebebasan adalah  reproduksi teks yang sekali lagi,  terus-menerus dan tidak selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya  saja, Kleden menyatakan, “...dekonstruksi bahasa Indonesia  secara  besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi  baru  yang lebih otentik...” Tentu saja jika dekonstruksi berlaku, maka   barangkali kungkungan gramatika bahasa Indonesia yang menjerat akan   terbebaskan dan teks otentik baru akan tercipta. Namun, bagi dunia   pascamodern, bukankah hal ini adalah biasa saja? Apa yang hendak   didekonstruksi? Tidak ada. Sekiranya mendekonstruksi jejaring teks, maka   jejaring baru adalah pengulangan yang lama. Seandainya makna yang   didekonstruksi, maka makna barulah yang akan menggantikan kekuasaan   makna lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Nurel, apa yang hendak  dikritik? Makna? Jejaring  teks? Kekuasaan Sutardji? Kebesaran citra  Kleden? Bukankah itu hal yang  biasa? Demikianlah, perburuan-perburuan  serupa dialektika modern atau  pascamodern yang tidak terlalu rumit,  bahkan biasa saja. Teks hanyalah  teks. Subyek adalah subyek. Dialektika  kehendak, sebenarnya tidak  pernah ada. Kehendak untuk saling berkuasalah  yang sedang beroperasi.  Hubungan antar kehendak, dalam jejaring  interpretasi, lazim disebut  dengan intersubyektivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana  yang lebih baik dalam berkomentar atau upaya kritisisme, bukanlah  hal  yang penting. Bahkan benar dan salah adalah hal yang sepele saja.  Ini  juga teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Desember 2011 &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-4927046751303634837?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/4927046751303634837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=4927046751303634837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4927046751303634837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4927046751303634837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/12/perburuan-dan-kelincahan-metodis.html' title='Perburuan dan Kelincahan Metodis'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8932416246097360842</id><published>2011-11-20T12:13:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T12:13:49.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sabrank Suparno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Kekuatan Sastra Hingga ke Pelaminan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt; &lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-8157851887523735295"&gt; &lt;div dir="ltr" style="text-align: left;"&gt;Sabrank Suparno&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Jodoh, Rizqi, Mati, iku mung siji, tapi sewu dalane&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Prolog&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah filsafat Jawa di atas, sepintas &lt;i&gt;ndemel&lt;/i&gt; terdengar,  tapi   akan terus menguntit-ngiang di telinga orang yang serius mendalami    filsafat dan apalagi jika hendak menjadikan konsep pemikiran dan laku    hidup. &lt;span id="more-20969"&gt;&lt;/span&gt;Coba fikirkan sejenak! Jodoh    dimaksutkan untuk menyebut idiom pertemuan dua hal atau lebih yang    saling menguntungkan (simbiosis mutualis).&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/2011/11/kekuatan-sastra-hingga-ke-pelaminan.html" name="more"&gt;&lt;/a&gt;Di  mana pertemuan yang  bersifat sinergial tersebut  berimbas ke saling  melengkapi kebutuhan  berkehidupan. Pada skala yang  lebih luas, jodoh  dapat kita simulasikan  ke pertemuan belbagai hal,  semisal: Sosial,  Politik, Budaya bahkan  Asmara dll. Namun lebih khusus,  istilah ‘satu’  yang disebut jodoh adalah  pertanda awal sebuah  pertemuan yang  berhubungan ruang dan waktu,  diperlukan batasan jelas  sejak kapan  pertemuan itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Rizqi, adalah pertambahan nilai dalam berbagai hal baik    secara finansial atau psikis yang berfungsi sebagai pemenuhan    kebutuhan, menyelesaikan klise-klise nisbi, ke&lt;i&gt;koteran&lt;/i&gt;, atau    kelengkapan yang semakin melengkapi dan melingkupi bagi kelangsungan    hidup. Hanya saja pada tataran nilai tertentu, rizqi kemudian dibagi    menjadi rizqi yang barokah dan tidak barokah. Kedua jenis rizqi tersebut    jika hendak dihadapkan pada efek eksternal, sebab-akibat yang  kemudian   berpengaruh praktis pada diri dan lingkungan di luar tubuh  yang  disebut &lt;i&gt;becik ketitik-olo ketoro&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet dengan Jodoh dan Rizqi adalah Pati-Mati. Ketiganya tidak  dapat   dipisahkan dalam eksistensi kehidupan, bahwa ketiga rumus Jodoh,  Rizqi   dan Pati, adalah proses baku yang disyaratkan pada yang bernama    ‘Hidup’. Mati, begitu&amp;nbsp; bunyinya, lepasnya ruh dari jasad. Di mana sejak    ‘mati’ itu terjadi, tidak berfungsi lagi seluruh perangkat jasad dalam    pertaruhan eksistensi kehidupan riel. Untuk menyebut istilah mati,   orang  Jawa sering memakai ungkapan lugas “&lt;i&gt;lakon uripe wes entek&lt;/i&gt;    (tugas seseorang untuk hidup sudah berakhir).”&amp;nbsp; Tentu, tidak  sertamerta   mati itu terjadi, ada suatu proses terlebih dulu menuju  mati yang   disebut ‘ke-mati&lt;b&gt;-&lt;/b&gt;an, gejala yang mengarah ke kejadian   mati. Nah,  menuju titik temu pada satuan Jodoh, satuan Rizqi dan  satuan  Pati  inilah banyak cara hingga seribu macam jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Sastra Tan Rudydov Berbaris Penulis Lamongan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari prolog di atas, Saya hendak menggiring ke satu titik pembicaraan    mengenai perjodohan sahabat Tan Rudolf. Berangkat dari kegemaran    menulis, lelaki kelahiran Lamongan ini bertemu jodoh hidupnya berkat    tulisan yang rajin ia publikasikan di buku elektro (kitab google).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak berbentuk uraian-uraian panjang, tulisan Tan Rusydov tergolong bermuatan pemikiran-pemikiran yang &lt;i&gt;menteg&lt;/i&gt; (berbobot), hasil pemahaman yang diulet sedemikian rupa, Ia tuangkan mirip puisi Haiku Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suatu saat Tan sempat meng-antologikan tulisannya, akan sejalan    dengan langkah yang ditempuh Nurel Javissyarqi (Penyair Lamongan) dalam    buku Kitab Para Malaikat (PUstaka puJAngga 2007). Dalam buku KPM,  Nurel   Javissyarqi sengaja menyuguhkan karya sedikit &lt;i&gt;nyleneh&lt;/i&gt;,  berbeda   bentuk dari kelaziman metode kepenulisan. Kalimat-kalimat  pendek yang   ditemukan Nurel dalam setiap tempat dan waktu, Ia susun  menyerupai   ayat-ayat, dalam arti, satu kalimat yang berhasil ia  rampungkan, menjadi   satu ayat khusus beserta muatan intuisi dan  tafsirnya yang belum tentu   bersinggungan dengan kalimat berikutnya.  Jika Nurel menandai khusus   sebentuk kalimat puisinya dengan angka  Romawi, Tan memberi tanda dalam   satu kalimat pemikirannya dengan kata  ‘Kawat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tan Rusydov (=) Nurel Javissyarqi, maka keduanya (=) menempati    barisan penulis Lamongan lain yang telah menggegerkan jagat kesusastraan    Indonesia. Di bencah Lamongan yang dahulu masyarakat Jombang akrab    menyebut dengan istilah daerah yang “&lt;i&gt;lek ketigo gak iso cewok, lek rendeng gak iso ndodok&lt;/i&gt;”    ternyata bermunculan penulis berbobot, sebut saja di antaranya Rodli   TL  dengan garapan naskah teaternya, A. Syauqi Sumbawi dengan berbagai    antologi Puisi, Cerpen dan Novelnya, Javed Paul Syatha, Imamuddin SA,    Alang Khoirudin, Mohammad Alif Mahmudi, Herry Lentho, Denny Mishar,  Agus   B. Harianto, Bambang Kempling, ZTF Boy Pradana, Mashuri, Supaat  I.   Lathief, …dll. Hanya saja Tan dan Nurel akan lebih kecil (Lorong  Gelap   Yang Mengasyikkan. Dalam prolog KPM itu Maman S. Mahayana  membariskan   Nurel sealiran dengan Socrates, Plato, Giodano Bruno,  Galileo Galelei,   Rene Descartes, Copernicus, Ferdinand de Saussure,  Roland Barthes,   Derrida, Ibnu Thufail, Ibnu Arabi, Ibnu Sina,  Al-Hallaj, Al-Ghazali,   Muhammad Iqbal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Nurel, Tan dan penyair umumnya dijaring dan ditangkap Maman S. Mahayana dalam paragraf pertama dalam prolog KPM: &lt;i&gt;“Hamparan    semangat menggelegak. Manakala ia tak dapat ditahan dan pecah,   seketika  itu pula ekspresinya muncerat berhamburan, bercipratan,   menerabas apa  pun. Lalu hinggap di berbagai tempat yang dijawilinya   sesuka hati.  Mungkin sama sekali ia tak bermaksud melakukan tegur-sapa,   say hallo,  atau bahkan juga gugatan. Ia sekedar hendak   mempresentasikan gumpalan  kegelisahan yang lama bersemayam dan mengeram   dalam kerajaan gagasannya.  Boleh jadi ia lahir atas kesadaran, bahwa   gagasan yang sekian lama  dipenjara, bakal berakibat buruk pada denyar   pikiran dan denyut  batinnya. Mungkin juga ada kesadaran lain, bahwa   tuhan tidak melarang  makhluknya berkisah tentang apa pun. Bukankah   tidak ada undang-undangnya  yang menyatakan bahwa tuhan kelak akan   menghukum manusia yang mengumbar  imajinasinya, bergentayangan ke   berbagai imajinasi yang lain? Bahkan,  sebaliknya, tuhan menempatkan   manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi  derajatnya dari makhluk lain,   justru antara faktor imajinasi itu.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah tulisan Tan Rusydov&amp;nbsp; yang Ia susun dengan kode-kode    ‘Kawat’-nya. Meski ada beberapa pemikiran yang tergolong liar dan nakal    atau sekedar senda-gurau, namun semuanya terlihat jelas bahwa Tan    berbasis Sastra Arab yang Ia rampungkan selama kuliah di UIN Sunan    Kalijaga Yogyakarta lulusan tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;// Kawat&lt;/b&gt; | Ide&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kita tidak harus menjadi Platon-(Athena, 428/427-347/346 SM), jika    di Indonesia sering ditulis dan diucapkan Plato (tanpa n), karena    filsafat masuk negeri ini lewat bahasa Belanda, sedangkan kata Yunaninya    Pla/twn (Platon)-jika ingin menjadi penulis, pemikir dan perenung  yang   murung. Kita bisa menciptakan-merubah-melahirkan ide sesuai batas    kemampuan kita, sebenarnya tak ada “batas” yang abadi dalam proses  hidup   ini, yang ada adalah “langkah yang berhenti”, artinya kita  dengan   segala kemampuan dan ketidakmampuan itu ada, karena kita mau  untuk   mewujudkannya dan kita pasti akhirnya tahu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orang-orang yang tak mengenal alat-alat tulis, dan tak pernah    mengucapkan a, b, c dan 1, 2, 3…itu juga bisa kita sebut perenung dalam    kehidupannya, tentu saja mereka menjadi filosof di lingkar hidupnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orang-orang yang selalu merenung, mengenang, menyesali dan menangis    karena cinta yang sepele itu juga bisa dikategorikan filosof-filosof    romantika di jalinannya dengan kekasihnya yang hilang atau lebih    tepatnya berganti medan hati.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penonton yang setia di depan layar televisi adalah pembaca yang    cermat kalau tidak bisa disebut pelotot iklan-iklan pembohong besar    dalam kenyataannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kuli-kuli pasar yang letih dan berkeringat adalah filosof jail saat    melihat bokong-bokong wanita baik janda atau anak gadis kita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dewan yang-katanya terhormat-duduk di gedung kura-kura dan Nusantara    adalah perancang-peramu-pelaku dalam sarang Koruptor dan Kleptokrat,    tentu saja yang tersisa yang baik yang tak terlihat dari mata telanjang    kita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dan masih banyak lagi yang bisa kita tulis jika ingin menulis dengan    ada “ide” atau “tanpa ide”, hanya saja “melangkah” itu perlu tapi juga    bertahap, kita ingat perkembangan anak-anak.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kita menatap tembok kosong, putih dan retak-retak kecil, juga bisa    menjadikan kita seorang Platon di tempat dan waktu yang berbeda.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sepandai apapun orang dalam tempurung otaknya, ia akan dilupakan    dalam sejarah hidupnya, paling lama ia dikenang oleh orang-orang yang    dekat dan kemudian hilang-lenyap kalau saja tak ditulis oleh orang lain.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tulislah sederet nama iklan dalam setiap hari kita temukan, bisa    merk sampo, sabun, pembalut, pasta gigi, jajanan pabrik dan pasar,    nama-nama mantan pacar dan orang-orang yang dilupakan, maka akan menjadi    sebuah tulisan yang menarik, dan tentu saja akan menjadi puisi yang    bagaimanapun ia bisa membacanya, bahkan yang mati suri, tak percaya?    Buktikan saja dengan tulisanmu!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Salam budaya!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kawat&lt;/b&gt; Status Bersanding 2 (Aforisme)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Di atas tanah Arab tidak pernah ada sejarah kedamaian, setidak-tidaknya perang terselubung. Arabisme kok dibanggakan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bangsa ayam paling menderita di mulut manusia, dari jenisnya. Ayam bersahabat dengan tikus dan manusia menjadikan musuh.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tanpa mempercayai hari akhir (Kiamat, Yaumul akhir, dan nama    Kepunahan lain) tanpa sadar manusia menciptakan sendirinya. Keimanan itu    datang saat ketakutan dengan sedikit sembunyi ke diri tiap manusia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bumi merasa takut saat manusia dilahirkan kembali, ia sedikit lega    dengan kematian satu-satu manusia. Satu bumi dipeluk hampir 7 miliar    manusia dengan segala tangannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Aku paling suka meraba tanah, kupikir aku membangun rumah semuat    seekor semut dan kubuat sekalian kuburan, ya persis pada Pic-Prof Tan    Rusydov.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Je-ja(ring So)sial. sebenarnya laut sudah membiru di layar saat    ikan-ikan dan terumbu karang mengubah diri jadi    sastra-politik-agama-filsafat dalam sejarah budayanya sendiri. Ada    (laut) Facebook yang tidak melaut? mungkin saja.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kata ayahku; lebih baik cerewet di Facebook daripada cerewet di mimbar khotbah, seminar atau senayan….*_^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Surau-surau dan masjid itu membuat telingaku berdarah mendengar puisi yang muntah, apakah tidak ada puisi yang berbisik ya…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Aku sudah berjalan di bawah yang hampir purnama, ada petir di    halaman_ku. Aku lebih tertarik dengan purnama puisi senyummu, kenapa ya,    mungkin engkau bisa membuat_ku malu. *_^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Barang siapa yang mampu menguasai bahasa puisi, ia menguasai dunianya….yeah, meskipun dianggap gila dengan ketelanjangannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Entah ya, setiap yang kulihat dari aneka rupa wajahmu adalah puisi,    dan itu pasti membuat_ku berdiam diri sambil diam-diam mencatat apa  yang   pantas menjadi diksi dan artikulasi, padahal aku ini paling tak  paham   dengan teori puisi. ^_*.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ada&lt;/i&gt;&lt;i&gt; yang bilang bahwa humor paling tinggi dan paling abadi    adalah bahasa-puisi, meskipun sang penyair ditusuk nisan sendiri atau ia    dibakar dengan marahnya api.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Siapa bilang puisi itu rumit, ibaratkan saja tangisan bayi di pagi    hari/ Siapa bilang puisi itu sepi, anggap saja lalu-lalang transportasi/    Siapa bilang puisi itu rasa, ah, mungkin saat ini engkau kelaparan.    ^-^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bahkan gigitan nyamuk kubaca sebagai puisi yang meminta ejakulasi dini, apalagi gigitanmu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Garis hidup puisi tidak ditentukan oleh si penyair, tidak juga buku    dan pasar. Ia termaktub di kehidupannya sendiri, bisa lapar, marah,    kenyang, gembira juga bisa ngantuk. Selamat tidur puisi. Oh ya, salam    buat pacar gelapmu. ^_^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kopi pagi dan puisi, semacam wanita muda merona dengan si dingin lelaki, hendak merengkuh embun yang dipeluk lekuk puisi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tiap pagi di pasar, yang kutemukan jajanan puisi, penyair janda, lidahnya menjulur kemana-mana, sampai ke dada keringku.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kata siapa wanita di Facebook kesepian, ia datang dengan puisi. Lelaki yang paling kesepian meski sudah beristri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orang utan, simpanse, bonobo, gorila : Great Apes/ Siamang dan Owa : Lasser Apes/ Manusia : Apes doank, pemicunya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Panca Sila itu puitis sekali….dan Tan Rusydov salah satu penggalinya. ^_^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sewaktu Sekolah Dasar, Tan Rusydov menjadi delegasi Cerdas Cermat    dengan topik P4, kalah tapi dengan kepala tegak, karena itu bukan    perlombaan puisi, lebih baik tahu diri. ^_^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Beginilah, jam burung Tan Rusydov kembali pulang ke sarang, merehatkan puisi, namun terjangkit insomnia kelas tinggi. *_^.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sudah dengan bantuan Bob Acri dengan Sleep Away_nya…Jazz 2004…masih juga puisi jingkrak-jingkrak di kepalaku.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ayamku telah bertelur 9 puisi, sampai malam ini ia angkrem dan seringkali kuintip untuk membaca tiap telurnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Puisi adalah kegelapan, siapa yang ingin gelap ia berpuisi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Begini ya, kalau ada yang tidak paham dengan maksud, anggap saja itu puisi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kalau ada yang membiasakan “maaf” dalam hidup, selama itu pula terbiasa dengan “lupa” dalam hidupnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penyair itu kapal kertas kecil/ Puisi menjadi samudera tanpa tepi/ Bumi adalah kata, lalu maknalah yang membentang angkasa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Menu masih sama; Nietzsche. Aku oseng-oseng dan kujepit dengan    irisan tempe. Karbohidrat cukup. Secangkir zam-zam Bengawan Solo. Syukur    itu sedikit makmur.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Puisi itu kekuasaan, manusia menjadi budaknya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Fenomena itulah puisi paling indah di mataku, ia juga paling dalam    di hatiku, ia sangat perkasa di putaran otakku. Tidak ada selain    fenomena itu sendiri, termasuk puisi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Puisi paling banyak menawarkan janji daripada mulut politisi/ Puisi bisa ditepati/ Politisi ingkar janji/ Selamat pagi!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;….Kehendak untuk Berkuasa….puisilah panglimanya. tanpa penyair tak perlu pembaca.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Keimanan itu puisi, artinya apa, iman tak akan bisa diperdebatkan. Omongkosong dengan aliran, faham, madzhab dan semua.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Puisi mestinya tak diajarkan, puisi tidak ada sejarahnya dan nirkepunahan. Hanya kedunguan yang bisa mengujarkannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;apakah puisi juga mandi, mungkin makna apek dan kecut yang mengajak manis menghampiri. senandung senja dan kopi kekasih.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;puisi = aforisme/ tidak ada kelengkapan atas fenomenanya dan diterima/ditolak begitu saja.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sejatinya politik itu puisi anak tiri, ia rakus dan angkuh, tapi malas bekerja. Puisi selalu membawa pesan perlawanan!!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tidak ada jalan puisi kembali, sebab ia tidak punya kamus    kerja-rodi. Dan di setiap perjalanannya selalu dengan darah, airmata,    juga keringatnya sendiri.//&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenal Tan, semakin bertambah data Saya mengenai jumlah    penulis Lamongan yang terangkum dalam buku Antologi Sastra Lamongan    Gemuruh Ruh (PUstaka puJAngga 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Tan Rusydon Bertemu Jodoh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperantara teman Amrulloh (peminat sastra dan seni yang sedang    menyelesaikan S2 Ekonomi di Undar-Jombang) saya mengenal Tan. Yang    menarik bagi Amrulloh hingga bercerita ke Saya adalah bagaimana tulisan    ‘Kawat’ Tan bisa ditunggu para penggemarnya. Bahkan, ketika media   blogs&amp;nbsp;  yang dipakai khusus untuk mengunggah Kawat-Kawat Tan, terblokir,    peminat tulisan Tan, hingga mencari dan bertanya-tanya. Yang paling    berharga bagi Tan atas tulisannya ialah ketika tuangan rasa dan    pemikirannya menyentuh hati Siti Muamalah, dara jelita kelahiran    Ploso-Jombang yang telah lama berdomisili dan sukses di Nusa Dua Bali.    Bagi Mala, betapa anugerah hidup tersempurna jika ceruk palung hatinya    bisa dipenuhi Tan hingga akhir hayat. Lebih dari itu, Mala merasa,  dalam   diri Tan ada nilai tak terhingga bagi umat manusia yang ia  merasa  perlu  turut merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari jati diri tulisan, Tan dan Mala kemudian saling  menziarai   belantara jiwa masing-masing hingga ke wilayah pedalaman  sekali pun.   Betapa keduanya saling terpukau menyaksikan bunga  warna-warni dalam   berbagai pertamanan perdu yang menyeruakkan wewangian  semerbak.   Taman-taman yang menghampar luas. Tentu sangatlah mudazir jika  kemudian   keduanya tidak menjadi sepasang kupu-kupu berasayap jelita  yang   terbang beriringan ke sana-ke mari, hinggap di kelembir  berhelai-helai   dedaunan dan kelopak. Bukan sekedar keasyikan ke dua  kupu-kupu dengan   adanya bunga, melainkan penyejuk teduh bagi setiap  pelupuk mata yang   memandang. Apalah arti taman dan kupu-kupu tanpa  pelupuk mata, meski   keduanya sudah indah sedari asali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan, sang lelaki kemudian bercericit, mengibaskan sayap, menggelar    keindahan tiap helai bulu-bulunya di bawah tenggaran matahari. Sang    pemilik spermatozoon sejati itu pun bergerak aktiv keluar menemui    ovarium yang bersifat menunggu. Alkhasil, pada 29 Agustus 2011, sehari    menjelang puasa, Tan berhasil menemui Mala. Dari pertemuan pertama    tersebut kemudian terbentanglah sajadah panjang bagi lamunan kedua    muda-mudi ini untuk meletakkan dahi saling mensujudi gelaran hidup    sepanjang massa. Tentu bukan saling menyembah setara Tuhan, melainkan    saling mengagungkan atas hasil karya Tuhan yang teramat indah (jodoh)    dan dipersembahkan atas diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian cinta segera bersenandung di antra ke duanya. Mereka tak  bosan   mengeja ulang ayat cinta yang berserakan. Dunia hilang menjelma    kekasih. Apa pun yang di hadapannya tampil sebagai wajah kekasih,    bayangan menguntit ke mana pun diri berada. Seperti Kahlil Gibran, ke    duanya terjangkit Gairah Asmara sedemikian hebat (Diva Press&amp;nbsp; 2004): &lt;i&gt;Laksana    setangkup gandum, cinta menyatukanmu dengan wujudnya, mengulitimu    sampai engkau bugil-bulat, menyerutimu sampai engkau terbebas dari lapis    luarmu, meleburkanmu demi memutihkanmu, menghancurkanmu sampai engkau    menjadi liat, dan akhirnya menuntunmu memasuki api sucinya, lalu  engkau   pun menjelma roti suci sebagai perjamuan bagi Tuhan // Cinta  dan semua   yang dipercikkannya, pemberontakan dan semua yang  ditumpahkannya,   kebebasan dan semua yang diterbitkannya, adalah bagian  dari Tuhan, dan   Tuhan adalah ketakterbatasab pikiran dalam semua  keterbatasan dunia //   Aku memiliki kawan dari diriku sendiri yang  melipurku ketika malapetaka   hari hari kian mengganas. Ia menemaniku  manakala musibah demi musibah   kehidupan menimpa&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seri berikutnya, Tan mulai membuka beberapa kitab kajian wanita, &lt;i&gt;katurangganingnya&lt;/i&gt;,    untuk menyelami lubuk terdalamnya. Wanita, sosok makhluk unik yang  tak   kunjung selesai dibaca. Wanita yang oleh kawan Mardi Luhung hingga   usia  sepuh itu tetap mengatakan ‘&lt;i&gt;Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku’&lt;/i&gt;. Pun juga yang diterawang Nurel dalamKPM pada bab: &lt;i&gt;Membuka Raga Padmi&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Perempuan    itu kembang di pertamanan mimpi, siapa tandas menghirup kedalamannya,    misteri kelembutan bakal sampai // wanita membawa ruhmu ke puncak   padang  padat pasir lamunan bagaikan rerumputan hijau bergoyangan atas   bisik  ketinggian // Jangan memegang sayap kekupu, nanti meronta   tinggalkan  bekas luka, tangkaplah lewat pandangan saja, lantaran   dirinya telah  memahami semerbak angin di udara&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, Tan mengulangi gelombang sejarah Adam pada hari Tarwiyah dan    Arafah. Di tengah kejumudan menyisir bentangan samudera dan benua untuk    menemukan Hawa sang kekasih hati, teman surga-dunia dari tulang rusuk    sendiri, Adam tepekur lelah di Jabal Rahmah. Ia duduk ber&lt;i&gt;sendeku,&lt;/i&gt;    dagu tepat di tengkuk lutut, sedang telapak tangan merangkul ke dua    kaki dan bersilang di atas telapak kaki (depan mata kaki). Ketika  itulah   keputusasaan Adam memuncak. Nisbi rasanya menemukan jodoh yang   tercipta  sejak di surga dulu. Tiba-tiba angin semilir dari bukit   sebelah, angin  yang berhembus membawa aroma Hawa. Seketika Adam   jenggirat, &lt;i&gt;lek teko ambune gak panggling&lt;/i&gt;,  ini mesti aroma Hawa   sedang berada di sekitar Jabal Rahmah. Adam pun  berdiri sembari melepas   bidik matanya ke bebukitan sekeliling. Ketika  itu samara-samar dan   sayup-sayup terlihat sekelebat Hawa. Sepontan Adam  berteriak sekeras   halilintar yang terpercik dari kerinduan menggumpal  berabad-abad,   menyeruak dalam dada. Alkhasil keduanya pun berpelukan di  Jabal Rahmah   pada hari Wuquf tanggal 9 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kerinduan memuncak, kebimbangan pun mengiringi. Pada sisi    tersebut, Tan bertemu ruas dengan apa yang dijelentrehan Alang Khoirudin    dalam bukunya: Percikan-Percikan Cinta Kado Pernikahan Untuk May   (istri  Alang Khoirudin), Pustakailalang 2006. Dalam buku yang tersusun   11 bab  itu, Alang mengulas khusus perihal kelemahan wanita yang   berkarakter  seperti tulang rusuk, keras dan cenderung membengkok. Maka,   jika kasar  meluruskan, akan patah. Pun juga demikian, jika tidak   diluruskan akan  terus &lt;i&gt;mblarah&lt;/i&gt;. Wanita identik dengan   anting-anting yang tak  henti bergoyang. Terlebih dihadapkan pada bahjat   menyatukan dua hal yang  berbeda. Di situ akan tumbuh dua ego   bertabrakan, yakni ego ‘aku’, dan  ego ‘dia’. Untuk menghilangkan ‘aku’   dan ‘dia’, maka ke duanya harus  melebur menjadi ‘Dia’, Yang Maha   Sejati. Di sanalah tataran  berumahtangga dipertanyakan, &lt;i&gt;opo gunane rabi lek gak iso ngajak anak-bojo nyedak marang Gusti&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Tan, lain Mala. Sebagai wanita, Mala pun ingin mengamalkan    hadist-hadist dan ayat yang terangkum dalam kitab Uqudul Lijjaini, kitab    basis bagi perempuan jika berumahtangga karya Imam Nawawi Benten.  Atau   kitab serupa yang lebih moderat, yakni Qolat Li Jaddati karya  Muhammad   Rasyid al-Uwald yang di-Indonesiakan oleh M. Abdul Rahiem  Mawardi,  (Dar  Ibnu Hazm, Beirut, Libanon 1415 H / 1994 M). Buku  tersebut memuat   rumus-rumus bahwa wanita sebagai &lt;i&gt;power&lt;/i&gt; ruh pengendali keutuhan rumahtangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendambaan naluriyah bagi setiap insan adalah terwujudnya kebahagiaan    berumahtangga, sebuah nilai yang tak sebanding ditukar berapa pun,    dengan apa pun. Kesalahan mendasar bagi penghuni kehidupan adalah ketika    meletakkan standart ke-bahagiaan di atas harta-benda. Maka lahirlah    rumus: jika bergelimangan harta ia akan bahagia, namun jika tidak akan    susah. Padahal, ada banyak kemerdekaan hidup cukup mengolah: kaya  dalam   kemiskinan, terang dalam kegelapan. Dengan kata lain, &lt;i&gt;sugeh yo gak sombong, mlarat yo gak susah, biasa wae, sing penting bahagia&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saatnya terjadi, kapan Mala ditakdir mendampingi Tan, tidaklah    berlebihan yang dituntut dan dilakukan Mala, kecuali sekedar sebagai    sosok istri dalam Novel The Home and the Word, Rabindranath Tagore    (Penerima Nobel Sastra tahun 1913): &lt;i&gt;“suami-istri itu sama haknya    dalam bercinta atas pasangan.” Aku tidak membantah dalam hal ini. Tetapi    hatiku berkata bahwa pengabdian bukan berarti ketidakbersamaan,  justru   malah meninggikan derajat kebersamaan. Karena kenikmatan  kebersamaan   yang tinggi itu akan selalu abadi, dan tidak akan menjadi  kebersamaan   yang rendah dan vulgar.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Cintaku, sungguh mulia hatimu, karena tidak mengharapkan    pengabdianku. Tetapi bila engkau mengingat pengabdianku, itu berarti    anugerah bagiku. Kamu perlihatkan cintamu dengan menghiasiku,    mendidikku, memberi apa yang kuminta, bahkan apa yang tidak kuminta. Aku    melihat kedalaman cinta dari kelopak mata ketika kau memandangku. Aku    juga rasakan kepedihanmu dalam menjaga cintamu padaku. Kau cintai    tubuhku seperti bunga dari surga. Kau cintai keseluruhan diriku    seolah-olah benda berharga milikmu yang tak ada duanya di dunia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Aku bangga dengan persembahanku padanya, karena inilah kekayaanku    yang membuat suami bersujud di gerbang pintuku. Tetapi kebanggaan    seperti ini bisa menghalangi penyerahan total cinta perempuan. Andai pun    aku duduk di tahta ratu yang menerima persembahan, maka persembahan   itu  menuntut semakin banyak hal yang tak terpuaskan. Adakah kebahagiaan    sejati bagi seorang perempuan yang berkuasa atas diri laki-laki?  Hanya   dengan merendahkan diri dalam pengabdianlah maka jiwa perempuan  akan   terselamatkan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dengan adat ketimuran masih berpeluang dibanggakan suami.    Kesetaraan derajat dengan kaum laki-laki yang dipahami wanita Timur    ialah bagaimana wanita berposisi sama dengan suami, mewujudkan cinta    yang ditemukan bersama hingga berkembang dan melebar berupa keturunan    anak cucu, beserta keharmonisanya. Konsep wanita Timur sedemikian detail    mengamping perkembangan anak cucu untuk mencapai pribadi tangguh.   Yakni  pribadi yang muncul dari keseimbangan kasih-sayang atas keutuhan    rumahtangga. Tidak sekedar menemukan cinta lalu membubarkannya.    Membincang harapan wanita Indonesia, Saya menulis khusus dalam judul:    Wanita Indonesia, Tiang Ibu Pertiwi (lacak google).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat berbeda dengan kebudayaan wanita Barat kontemporer, di mana    kebanggaan wanita Amerika dalam hal pernikahan hanya sebatas penghapus    julukan bahwa dirinya &lt;i&gt;sangkal jodoh, perawan morek yang gak payu rabi&lt;/i&gt;. Setelahnya akan memilih jalan &lt;i&gt;single parent&lt;/i&gt;/    menjanda dengan dalih tuntutan wanita karier. Wanita Barat lebih  enjoi   dari tuntutan kewajiban sebagai istri yang mereka nilai terlalu  ribet   mengganggu kepuasan dirinya. Pola hidup semacam ini meletakkan  batu   pertama kegagalan menjadikan keturunan tangguh, sebab sejak awal  anak   sudah diajari mental pengecut yang tidak berani bertanggungjawab    terhadap kodrat bahwa dirinya adalah wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pertimbangan sesungguhnya antara Tan dan Mala sebelum    memasuki dunia penyatuan mereka, namun keduanya sepakat menghadapi    segala rintangan bersama. Sehingga pada Selasa, 01 Nopember 2011, mereka    melangsungkan pernikahan di desa Sentul, kecamatan Tembelang-Jombang.    Tidak sebatas itu, sang istri sedang mengurus visa hendak mentraktir    suami berbulan madu ke Negeri Kanguru-Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan niat suci mengikuti kesempurnaan &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; Rasul dan ridlo semua pihak, semoga bahtera rumahtangga Tan-Mala sampi di wilayah &lt;i&gt;mawaddah wa rahmah&lt;/i&gt;.    Seperti apa konsep mawaddah wa rahmah tercapai? Dari beberapa buku    tuntunan berumahtangga, Saya tertarik pemikiran radikal Emha Ainun    Nadjib pada suatu Pengajian Padhang mBulan yang menyinggung khusus soal    be-rumahtangga.&amp;nbsp; Emha memaparkan bahwa konsep mawaddah wa rahmah&lt;b&gt; &lt;/b&gt;ialah    aturan rumahtangga yang dibentuk dan dipatuhi anggota keluarga. Bukan    suami atau istri yang menjadi pemimpin dalam rumahtangga, melainkan    hukum yang sudah disepakati keduanya. Artinya, baik suami, istri, anak,    harus patuh pada hukum rumahtangga yang diterapkan pada suatu  keluarga.   Dalam konsep demikian, siapa yang melanggar aturan, ia akan  terhukum   oleh aturan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emha mencontohkan satu kinerja konsep mawaddah wa rahmah semisal:  suami   mendapat uang berapa pun dari hasil kerjanya, diserahkan  sepenuhnya   pada sang istri tanpa sisah sedikit pun. Bukan istri sebagai  istri,   namun istri sebagai menejer PT Mamawaddah Wa Rahmah yang mereka    jalankan. Sebaliknya, jika suami ingin membeli hal sepeleh pun harus    meminta uang pada sang istri. Bukan sebagai istri suami meminta,    melainkan pada menejer PT Mawaddah Wa Rahmah. Kelebihan teori Emha    tersebut pada ketersangkutan istri-menejer-keluarga dalam kiprah di luar    mereka, ketika suami berada terpisah dalam tugas, ia memberi sebatang    rokok pada teman, atau bersedekah pada orang tertentu, uang yang  suami   pakai bukan dari kantong sendiri, melainkan dari keuangan PT  Mawaddah  Wa  Rahmah. Artinya, meskipun memberi sereceh uang pada  pengemis, atau   sebatang rokok pada teman, pahalanya tercatat hingga  seluruh keluarga.   Konsep Emha inilah yang orang Jawa bilang &lt;i&gt;istri itu suwargo nunut, neroko katut&lt;/i&gt;. Maka suami harus pandai menyertakan keluarganya memasuki batas wilayah surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan pengantin Jawa, ada tradisi Jago-an, yakni pengantin    laki-laki disimbolkan se-ekor ayam Jago yang bernama Sawung Seto Wono    (sawung = ayam jantan, seto=putih, wono= alas / hutan). Artinya,    pengantin laki-laki, diidamkan seorang ksatria yang sudah    melanglangbuana ke berbagai perguruan suci, ilmu sejati. Ayam pejantan    ini sengaja mencari sosok ayam betina yang bernama Sekar Joyo Mulyo,    sing durung rontok saripatine (sekar= kembang, joyo=jaya, mulya=mulya).    Durung rontok saripatine=belum terkonstaminasi berbagai teori yang    meruntuhkan derajat kewanitaan sebagai wanita. Sastra-sastra Jawa    tersebut khusus diudal ketika acara pertemuan pengantin yang menggelar    Roro Pangkon yang selengkapnya bisa dibaca pada tulisan bahasa    nJombangan Saya yang berjudul Bubak Kawak-Roro Pangkon (lacak google).    Namun sekelumit pengharapan masyarakat Jawa pada sejoli yang menikah,    tergambar pada sebagian tulisan Saya berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pangkringane: Kajeng Krudo Mandero&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Peturone: Dalem adi gondo, bantal piwulang, kemul pitutur&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kurungane: Lahir lan bathin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mudune: Nduk jengkar guling, kursi gading, artine sak jerone gerdin, dodo siji tinawonan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Turune: Nduk jero bakupon sing isi putri kewudanan, sang putro nibo pangkon.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kluruk’e: Wayah jam 8 isuk, metu nduk pengayomane Sidodadi ngadep nang bapak Naib, diapit poro priyayi laras karo agomone&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D. Tan Rusydov Hibah Perpustakaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kuliah di Yogyakarta, Tan tergolong mahasiswa yang peduli  dengan   buku. Sekian uang saku yang dikirim ayahnya (H. Pasrah), ditabung  dan   dibelanjakan buku yang ia lacak dari gang perbukuan di Yogya.  Hingga   pada titik Tan menikah, seperti yang dituturkan pada Amrul, “hai  Bro!   Tolong jaga dan manfaatkan dengan baik buku-buku saya ya! Aku    membelinya dulu sekitar 50 juta-an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiatif Tan memberikan buku perpustakaannya pada Amrul, seorang  kawan   lama yang berdomosili di Kwadungan-Badas-Sumobito, setelah  menemukan   kesepakatan dengan Mala perihal kepulangan setelah menikah.  Dengan   perhitungan cermat akhirnya terputuskan bahwa Tan akan mengikuti  sang   istri di/ke Pulau Dewata. Sementara keluarga di rumah yang tidak  ada   militansi terhadap dunia perbukuan, tentu akan membuat sekian buku    perpustakaan Tan mandeg dan mubazir. Agar lebih efektif, terawat dan    lebih bermanfaat besar orang lain, seluruh buku perpustakaan Tan    akhirnya diberikan, dititipkan, dihibahkan atau apa pun namanya, yang    jelas pada 12 Oktober 2011 lalu, ia mengusung bukunya hingga satu &lt;i&gt;colt&lt;/i&gt; penuh ke kediaman Amrul di Kwadungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari cara Tan memberlakukan perpustakaan di atas, kita dapat    menilai arti sebuah konsistensi terhadap dunia perbukuan. Di mana Tan,    berfikir kemanfaatan komulatif, yakni fungsi sebuah buku dibaca  tersebar   di masarakat. Artinya, semakin banyak bacaan yang beredar di    masyarakat, semakin luas pula penyebaran berbagai ilmu yang dipahami    masyarakat. Sikap Tan tersebut melahirkan wacana bahwa yang membeli  buku   belum tentu membaca. Meski bagi kolektor buku pasti ada saatnya  buku   yang ia beli akan dibaca. Sementara di sisi lain, yang mengalami    keterbatasan membeli buku, akan terbagi bisa membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Tan yang demikian termasuk ‘pustakawan’berhati kaya. Meski ia    belum membaca buku yang dibeli, sedang orang lain mendahului mendapatkan    ilmu dari buku yang ia beli, tidak rugi sedikit pun baginya, sebab    tujuan utama bagi penjelajah ilmu adalah meningkatkan pengetahuan secara    merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era-percetakan yang hadir sebelum era-google, sertamerta menciptakan    militansi yang luar biasa terhadap pencari wawasan. Tidak bisa    dipungkiri. Hingga era media elektonik yang lebih efektif dan efisien:    praktis, ringan, tidak memerlukan bahan kertas ber-ton ton untuk memuat    sebuah tulisan, pemangkasan biaya produksi kertas yang apalagi  dikuasai   kapitalisme produksi (perdagangan), masih kita jumpai  pustakawan   ’konyol’. Pustakawan jenis ini berulah menumpuk buku persis  burung   membikin sarang. Tidak memperhitungkan siapa dan apa sempat  dirinya   membaca. Bahkan demi terpandang sebagai kolektor buku,  beberapa dosen   membangun buku pustakanya dengan ‘meminta’mahasiswa  dengan alasan ‘titip   dibelikan’ saat mencari referensi skripsi. Tentu  saja sang mahasiswa   akhirnya &lt;i&gt;sungkan&lt;/i&gt; meminta uang harga buku, takut kalau skripsinya mendapat kendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu dari kedua jenis pustakawan di atas ialah seberapa mereka    bersikap seperti gerobak keledai mengusung buku, apa arti sebuah buku    pada tempat yang tidak berkaitan dengan pembelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;E. Saya Membaca Puisi Antologi Pernikahan Tan-Mala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja Tan menampung puisi kiriman teman jejaring yang ia kenal  untuk   diantologikan khusus sebagai kado pernikahannya dengan Mala. Tentu    tidak berharap banyak bagi pengirim tulisan untuk kado pernikahan    Tan-Mala, kecuali jika setiap kata berfrekuensi do’a, puisi itu    merupakan &lt;i&gt;entri point&lt;/i&gt; tersendiri bagi mempelai. Syukur  berfungsi   sebagai energi positif yang menguatkan sendi-sendi kekokohan    rumahtangga kedua mempelai. Di antara pengirim tercatat nama Yeni    Francisca, Arasandi, Taufik Jokolelono, Sulis Gingsul, Umi Widiarti,    Hazil Aula, Fidelis Situmorang dll. Saya sendiri mengirim puisi    ‘Istriku’dalam antologi tersebut. Tidak hanya mengirim, Saya yang sempat    hadir pada malam resepsi juga didaulat membacakan puisi di sela-sela    gebyar orkes elektrunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Istriku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;istriku&lt;br /&gt;engkaulah bulan ndaru yang jatuh di sepertiga malamku&lt;br /&gt;bulan kemerahan&lt;br /&gt;turun menempa tempayan ubun-ubunku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelahnya&lt;br /&gt;terhiaslah warna-warni permadani&lt;br /&gt;pada tahta cinta yang kuhuni&lt;br /&gt;singgasanalah cinta&lt;br /&gt;aku raja dan kau ratunya&lt;br /&gt;kasih sayang menjelma dayang-dayang&lt;br /&gt;berkerumun mengerubuti&lt;br /&gt;risau dan rindu menyembah, mengabdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;istriku&lt;br /&gt;gravitasi ‘kita’ sedemikian hebat&lt;br /&gt;penyatuan yang menghilangkan ‘aku’ dan ‘kau’ mejadi ‘kita’&lt;br /&gt;hingga partikel atom terkecil pun&lt;br /&gt;kita adalah suluk &lt;i&gt;asmorondonotirtodauno&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;aku angin dan engkau hawa&lt;br /&gt;aku semilir mencari kesejatian&lt;br /&gt;panas-dingin&lt;br /&gt;dingin-panas&lt;br /&gt;anak ke tujuh&lt;br /&gt;ibu bumi&lt;br /&gt;bapak mentari&lt;br /&gt;lahirlah&lt;br /&gt;sejuk-sejuk&lt;br /&gt;damai-damai&lt;br /&gt;bersahaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam istana cinta tak ada kita&lt;br /&gt;melebur&lt;br /&gt;menyatu&lt;br /&gt;satu, satu, satu&lt;br /&gt;anak kita&lt;br /&gt;para pangeran&lt;br /&gt;yang rambutnya mirip denganku&lt;br /&gt;sedang alisnya mirip denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara berbagai acara yang memperkenankan Saya membaca puisi,    merupakan kebanggan tersendiri bisa membaca di resepsi pernikahan, sebab    di sana Saya menyaksikan kebahagiaan pertemuan dua insan yang saling    menyinta. Selain itu, puisi yang selama ini hanya dinikmati komunitas    tertentu, di sana puisi dapat didengarkan masyarakat &lt;i&gt;ndeso klutuk&lt;/i&gt;    yang terperangah.Tidak besar harapan Saya dengan keterlibatan membaca    puisi tersebut, kecuali sekedar menghantarkan Tan-Mala pada kesadaran    yang: -Nyawa mereka sudah dijodohkan sejak berjuta-juta tahun lalu di    Suralaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Anak mereka sudah lahir di Cakrawala&lt;br /&gt;-Mata mereka akan bertatapan berabad-abad&lt;br /&gt;-Hingga maut datang menjemput&lt;br /&gt;-Namun cinta tak akan larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Sabrank Suparno. Peserta Temu Sastra Jawa Timur 2011. Bergiat di Lincak Sastra-Jombang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8932416246097360842?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8932416246097360842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8932416246097360842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8932416246097360842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8932416246097360842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/11/kekuatan-sastra-hingga-ke-pelaminan.html' title='Kekuatan Sastra Hingga ke Pelaminan'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-7754489925739394084</id><published>2011-11-20T12:08:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T12:08:26.469+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Denny Mizhar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Memotret Singkat Perjalanan Sang Pengelana</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;(Catatan Kenangan Perjalanan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Denny Mizhar&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara panas kota Lamongan membuat gerah, waktu itu tak ada alasan untuk tidak berjumpa dengannya. Saya hubungi lewat hand phone, memastikan keberadaannya. Saya baru pertama kali jumpa dengannya waktu dia berkunjung ke kota rantau saya untuk membincang bukunya Kitab Para Malaikat kira-kira tahun 2008-an.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sungguh buku kumpulan puisi yang tak biasa bagiku, bukan saja aku yang berkata demikian. Sehabis acara tersebut, saya tunjukkan pada kawan. Lalu bertanya padaku “Apa ini puisi?” aku jawab “Ya, ini puisi, lihat saja tertulis antologi puisi pada caver depan.” Begitulah awal perjumpaanku dengan pengelana dari Kendal Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang baru saja memasuki dunia kata-kata (penulisan) khusunya puisi, ingin sekali berkunjung kerumahnya. Setelah saya pastikan ada dirumahnya. Motor saya pacu menuju kediamannya. Saya disambut hangat olehnya. Dan kita berbincang-bincang tentang kepenulisan, dia mengeluarkan buku-buku yang pernah di terbitkan stensilan, juga yang sudah di cetak dengan bagus. Saya terkesima dengan prosesnya. Kita berbicara kesana kemari, lalu dia masuk kedalam rumahnya. Rupanya mengambil buku yang isinya puisi di tulisnya dengan mesin ketik dan tebal sekali. Dia rekatkan dengan lem puisi-puisinya di buku tulis yang tebal sekali. Dalam hatiku ketika tulisan menggunakan mesin ketik tentunya sudah lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis kita berbincang tentang buku-bukunya, lalu kita lanjutkan mengenai web yang di kelolanya yakni Sastra-Indonesia.com. Saya mengikuti perkembangan web ini juga blog-blognya sebagai pasukan jemari ujarnya. Sungguh kegigihan untuk berjuang mengenai kesusastraan. Aku selalu berdo’a untuknya agar kerjanya tak perna sia-sia dan berguna untuk Indonesia khusunya dunia sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya sekali itu kami berjumpa, setiap pulang ke kampung halaman saya usahan untuk mengunjunginya. saya berharap ada motivasi-motivasi yang selalu disulutkan. Sebab saya masih sering terlena mendiami kemalasan untuk berusaha lebih baik. Dan dia selalu mendorong saya untuk lebih baik dan ulet untuk menulis khususnya puisi. Tak pernah aku dapat pelajaran yang berharga ini dari seorang yang benar-benar total di dunia kesussatraan, itu pandangan saya sebab saya belum tahu banyak tentang dunia sastra hanya orang-orang penulis satra di malang. Tempat saya kuliah dan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis berpikir tanpa bantuan siapa-siapa dia mengelola web yang tampilan dan segalanya dia pesan pada temannya untuk di buatkan dan dia tinggal memposting tulisan-tulsannya juga tulisan-tulisan yang ia suntuki di halaman-halaman web koran, blog-blog punya penulis-penulis lainya atau buku-buku yang sudah lama. Ruang kerjanya adalah rumah dan tempat-tempat dimana dia singgah waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya, saya berkunjung kerumahnya. Saya temui di ruang kerja rumahnya. Yakni dalam toko kelontong di antara tumpukan-tumpukan barang jualannya dia membuat kolong yang bisa di tempati untuk tiduran dan menulis, sambil menjaga tokonya, kalau ada orang beli dia melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalahnya daya dia berupaya untuk benar-benar masuk, berdiam dan bergerak dalam dunia kesusastraan. Tidak pernah mempertimbangkan untung dan rugi secara materi yang dia lakukan. Saya melihatnya adalah upaya-upaya membuat karyanya lebih baik dan terus baik. Bahan bakunya dalam menuangkan karya puisi dan karya tulisnya, dia membongkar-bongkar buku-buku lama yang isinya belum tentu sastra tetapi refrensi-refrensi lain yang menunjang baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kamera saya membidik sang pengelana Nurel Javissyarqi. Pengelana asal Kendal Kemlagi, desa yang jauh dari pusat kota Lamongan bahkan tranportasi umum jarang lewat. Tentu banyak hal juga yang tak saya ketahui. Tulisan ini saya buat, agar saya selalu terdorong akan kesemangatannya, ketotalannya, juga karya-karyanya banyak memberi pengetahuan bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang-Lamongan, 2009 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-7754489925739394084?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/7754489925739394084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=7754489925739394084' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7754489925739394084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7754489925739394084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/11/memotret-singkat-perjalanan-sang.html' title='Memotret Singkat Perjalanan Sang Pengelana'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8093944344568286513</id><published>2011-10-30T01:26:00.000+07:00</published><updated>2011-10-30T01:26:28.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadi Napster'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA</title><content type='html'>Hadi Napster&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 02 Oktober 2011 yang lalu, tepatnya pukul 20:08 WIB, di  Grup Komunitas Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), terjadi satu  interaksi sangat menarik dengan tema pembahasan “licentia poetica” dalam  sebuah diskusi yang diawali oleh posting Dimas Arika Mihardja (DAM)  melalui tulisan:&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Silakan memberikan respon dan sedapat mungkin memberikan alasan atau  contoh: setiap penyair memiliki licentia poetica dalam penulisan puisi  (kebebasan penyair dalam memilah dan memilih cara dan gaya ungkap  puisinya). Untuk totalitas ekspresi terkadang penyair melakukan  pelanggaran kaidah bahasa dengan tujuan mengungkapkan secara memikat  dapat dihasilkan totalitas pengungkapan. Lantaran bahasa dan komunikasi  senantiasa harus diutamakan, maka pelanggaran dimungkinkan sejauh untuk  kebutuhan ekspresi puitik. Bagaimana menurut Anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyimak dengan seksama dan mengikuti penuh khidmat seluruh  pendapat yang masuk melalui komentar, akhirnya timbul keinginan untuk  turut mengungkapkan sedikit pandangan melalui esai sederhana ini. Tentu  saja dengan harapan, kepada siapapun yang nanti sempat membacanya, akan  dapat memberi anggapan maupun tanggapan terkait licentia poetica yang  oleh Shaw (1972: 291) dikatakan; Licentia Poertica adalah kebebasan  seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau  aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwasanya kata “licentia poetica” yang mungkin di mata sebagian penyair  masih sangat asing, namun oleh kalangan penyair lainnya bisa jadi telah  menjadi santapan sehari-hari, dalam kenyataannya lebih menyerupai  “tameng” bagi penyair untuk memerdekakan diri demi menulis (berkarya)  sebebas mungkin. Termasuk di antaranya kemungkinan melanggar  kaidah-kaidah bahasa yang ada. Kata “licentia poetica” ini seakan  menyerupai nomina abstrak alias kata benda yang tidak terlihat secara  kasat mata. Mengapa? Karena kita hanya sering mendengar tentangnya,  bahkan selalu menggunakannya, tetapi tidak tahu dengan pasti bagaimana  bentuk dan wujud aslinya. Dengan kata lain, masalah sistem, batasan,  cakupan, dan lain sebagainya terkait penerapannya dalam karya sastra  (puisi), hingga saat ini masih menjadi “tanda tanya” besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma yang berkembang selama ini tentang licentia poetica tak lebih  dari kata “bebas” atau “merdeka” dalam menulis. Dengan licentia poetica  seorang penyair dapat dengan leluasa menumpahkan kreatifitas ke dalam  sebuah karya tanpa batasan apapun. Dengan licentia poetica perjalanan  seorang penyair akan sangat aman dan nyaman, bebas hambatan, tak ada  gangguan dari siapapun. Sehingga kesan yang timbul mengisyaratkan bahwa  kaidah bahasa yang kita kenal dengan nama resmi “Pedoman Umum Ejaan  Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” atau lebih sering disebut EYD, yang  mulai resmi berlaku sejak tahun 1972 setelah menggantikan Ejaan  Republik (Ejaan Suwandi), seolah-olah serupa hujan deras yang senantiasa  menyertai, mengiringi, bahkan menjadi aral melintang dalam perjalanan  seorang penyair. Dari derasnya hujan ini, muncullah licentia poetica  sebagai “payung” yang luas-lebar sebagai pelindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran demikian abstraknya, licentia poetica pun tumbuh dan berkembang  sebagai sesuatu yang sifatnya individu dalam lingkup masyarakat bahasa  dan sastra, tak terkecuali kalangan penyair. Di mana “kebebasan”  dimaksud lantas diinterpretasikan, dimaknai, serta dieksplorasi  sedemikian rupa oleh masing-masing penggunanya. Tentu saja dengan cara,  metode, maupun tingkat kemampuan yang berbeda dan nafsi-nafsi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling dekat adalah seorang Sutardji Calzoum Bachri (SCB) –dalam  diskusi BPSM disebut sebagai Presiden Licentia Poetica– yang dengan  mantapnya memproklamirkan sebuah temuan fenomenal bertajuk “Kredo Puisi”  pada tanggal 30 Maret 1973, sebagaimana berikut :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KREDO PUISI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian, Dia bukan seperti pipa  yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan  alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu  sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk  mengantarkan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan  pengertian. Dan dilupakan kedudukan yang merdeka sebagai pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang  membelenggu seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral  kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor  (obscene) serta penjajahan gramatika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena  kata-kata bisa menciptakan dirinya, bermain dengan dirinya sendiri, dan  menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul  karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian  bisa menyungsang terhadap fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penciptaan puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam  gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat  dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri,  mondar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang  mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan  dirinya dengan yang lainnya untuk memperkuat dirinya, membalik dan  menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri  satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu  membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan  berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penyair saya hanya menjaga sepanjang tidak mengganggu  kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertian  sendiri, bisa mendapat aksen tuasi yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti  mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutardji Calzoum Bachri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 30 Maret 1973&lt;br /&gt;(O, Amuk, Kapak, 1981:13-14)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya, membicarakan “Kredo Puisi” SCB yang membingungkan di atas  tentulah sesuatu yang butuh penalaran ekstra dan hendaknya merupakan  kajian representatif. Terlebih jika harus menelusuri asal-muasal berikut  segudang tendesinya. Namun dalam tulisan ini kemungkinan hanya akan  memandang sisi luarnya saja yang berkaitan dengan licentia poetica,  berikut potensi dampaknya terhadap eksistensi bahasa. Karena di samping  keterbatasan waktu serta bahan acuan, ihwal Kredo Puisi ini juga telah  sering dibahas dengan terang-jelas oleh banyak kalangan yang lebih  kompeten. Mulai dari penyair, pemerhati sastra-budaya, hingga para  kritikus sastra. Jadi harap mafhum sebelumnya jika nantinya tulisan ini  ternyata tidak menyuguhkan “fenomena” Kredo Puisi secara detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kredo Puisi –dalam kurun waktu tertentu– memang bukanlah isapan jempol  belaka, karena serta-merta diikuti dan ditegaskan dengan karya-karya  yang sungguh berbeda dari karya penyair lainnya. Dalam karya-karya SCB  yang berkiblat pada Kredo Puisi, kita tidak akan menemukan pertalian  kata dan makna. Apalagi jika harus mencari sangkut-pautnya secara  leksikal ke dalam kamus, tidak ada jalan sama sekali. Karena seluruh  kemungkinan itu memang telah dimatikan oleh SCB melalui “kredo” yang  dengan sangat tegas menulis bahwa kata-kata dalam puisinya adalah  mantra. Tak pelak, dengan licentia poetica berlabel Kredo Puisi, sepak  terjang SCB dalam meramu, menjungkir-balikkan, mempreteli, menguliti,  hingga mencincang kata demi kata lewat karyanya, seakan tak terbendung.  Namun fenomena ini justru mendapat resepsi dan tempat tersendiri dalam  lingkup masyarakat bahasa-sastra. Entah karena unik dan menarik, karena  tidak tahu dan kurang mengerti, atau mungkin karena benar-benar telah  terkena mantra yang disebut dalam Kredo Puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian timbul pertanyaan: apakah licentia poetica sejenis ini bukannya  malah berpotensi membunuh bahasa? Sebab logisnya; ketika kata sudah  dilepas-bebaskan dari makna, ketika kamus tak lagi diperlukan dan justru  dianggap belenggu, lalu untuk apa lagi ada pelajaran Bahasa Indonesia  dalam kurikulum pendidikan? Jika memang kata benar-benar akan  dikembalikan menjadi mantra –menurut “Kredo Puisi” kata pertama adalah  mantra– apa tidak sebaiknya Fakultas Bahasa dan Sastra di  unversitas-universitas seantero negeri diganti saja namanya menjadi  Fakultas Dukun dan Mantra? Kalau demikian, apakah tidak sebaiknya lafal  butir ketiga dalam Sumpah Pemuda yang berbunyi: “…menjunjung bahasa  persatuan…” direvisi saja menjadi “…menjunjung mantra persatuan…”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menurut artinya sendiri dalam KBBI, “mantra” adalah: 1) perkataan  atau ucapan yg memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan,  mendatangkan celaka, dan sebagainya); 2) susunan kata berunsur puisi  (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya  diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang  lain. Dalam pembagiannya lagi mantra dikelompokkan atas: a) mantra  kejahatan, yaitu mantra untuk perbuatan-perbuatan jahat dan mencelakai  orang lain; b) mantra keselamatan, yakni mantra untuk menjaga diri dari  bahaya; c) mantra penawar, atau dikenal sebagai mantra pengobatan  terhadap orang sakit; d) mantra pitanggang, kerap dijadikan mantra yang  menyebabkan perempuan tidak suka kepada pria atau tidak menikah seumur  hidup karena tidak ada laki-laki yang mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mantra mana yang dimaksud oleh Kredo Puisi? Setelah membaca  mantra-mantra temuan Kredo Puisi, pertanyaannya; sudah berapa banyak  orang sakit yang berhasil disembuhkan? Sudah berapa kali mencelakai  orang akibat sihir-menyihir, teluh-meneluh, santet-menyantet, dan  semacamnya? Sudah berapa banyak orang yang terselamatkan dari bahaya?  Atau, perempuan mana yang kira-kira “mau” tidak bersuami seumur hidupnya  karena terkena mantra Kredo Puisi? Mohon maaf, bukan lantaran tidak  mempercayai mitologi dan semacamnya, tetapi jika “mantra” harus  dijadikan acuan sejenis licentia poetica dalam karya sastra, barangkali  perlu dipertimbangkan untuk menggolongkan paranormal kondang –yang tentu  identik dengan mantra– Ki Joko Bodo sebagai “penyair” juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud “apapun” terhadap “siapapun”, namun licentia poetica  bernama Kredo Puisi sungguh telah menanamkan idealisme  segar-nanar-bingar-sangar dalam paham pelaku sastra yang lain, terutama  generasi selanjutnya. Betapa tidak, bahkan bocah-bocah tingkat sekolah  dasar yang baru belajar mengenal huruf pun sudah diharuskan melahap  kreasi individu hasil temuan Kredo Puisi melalui buku yang masuk ke  sekolah-sekolah atas petuah pemerintah yang mengurusi bidang pendidikan  (Depdiknas) –pada masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dampaknya terhadap perkembangan bahasa sendiri? Sungguh  miris mengatakannya, karena idealnya pada tingkatan bangku sekolah  seperti demikian, semestinya bahasa Indonesia-lah (termasuk di dalamnya  EYD) yang harus dijadikan asupan utama. Bukan justru menjejali sekolahan  dengan karya-karya sastra yang penuh dengan penyimpangan “orang-orang  tertentu” saja. Tengoklah sekarang ke sekeliling kita, betapa kebebasan  “seorang” penemu Kredo Puisi jauh lebih dikenal luas, dipuja-puja,  bahkan melegenda di seantero negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan tokoh-tokoh pelopor bahasa semisal Sutan Takdir  Alisjahbana yang dikenal juga sebagai “insinyur bahasa” lantaran  kegigihannya memperjuangkan bahasa Indonesia semenjak masih bernama  bahasa Melayu. Atau deretan nama pemakalah dalam Kongres Bahasa pertama  kali di Solo pada tanggal 25-29 Juni 1938 seperti Ki Hadjar Dewantara,  Djamaluddin Adi Negoro, Amir Syarifuddin, Muhammad Yamin, Soekardjo  Soerjopranoto, Kusuma St. Pamuntjak, Sanusi Pane, hingga Muhammad  Tabrani, yang merupakan salah satu titik tolak lahirnya kaidah-kaidah  bahasa Indonesia. Atau Amin Singgih yang berhasil menarik minat para  guru, mahasiswa, sastrawan, wartawan, hingga para pengusaha dan birokrat  melalui siaran khusus bahasa Indonesia di stasiun TVRI pada tahun  1970-an. Atau “panglima pembakuan bahasa” Anton Moeliono yang juga  begitu banyak memberi andil dalam proses pembakuan bahasa Indonesia. Ke  mana pula tenggelamnya nama para ahli bahasa semisal JS. Badudu hingga  Ajip Rosidi yang begitu setianya mengkaji, membenahi, lalu  memperkenalkan serta mengajak seluruh bangsa untuk menggunakan bahasa  Indonesia dengan baik dan benar? Adakah yang masih sudi untuk sekedar  mengingat nama mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah, karena setelah sekian lama tidak ada yang berani  mengatakan “tidak” pada Kredo Puisi (mungkin karena takut terkena  mantera), akhirnya seorang pengelana dari bencah tanah Jawa bernama  Nurel Javissyarqi lalu datang berbicara selantang-lantangnya,  segamblang-gamblangnya, seterang-terangnya, demi membuka mata dunia  terkait Kredo Puisi berikut sekelumit dinamikanya. Upaya membuat melek  mata dunia ini disusun dengan sangat runut, aktual dan tajam dalam buku  “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri”  (SastraNESIA dan PUstaka puJAngga, 2011), yang lalu diapresiasi dengan  riang-girang-senang oleh banyak kalangan.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyinggung sedikit tentang Kredo Puisi, pada gilirannya kita  kembali bertanya; seperti apakah gerangan resepsi masyarakat bahasa dan  sastra sendiri terhadap teka-teki licentia poetica? Tugas inilah yang  layak menjadi “PR” utama bagi kita semua. Karena harus diakui bahwa  licentia poetica hanya bebas bermain dalam lingkup masyarakat sastra,  tidak membaur-lebur dalam ranah masyarakat bahasa. Apa pasal? Tentu saja  karena dari sekian banyak definisi dan pengertian, tetap saja tidak ada  kejelasan tentang batasan, ketentuan, maupun cakupan dari licentia  poetica itu sendiri. Sedangkan para pelaku sastra –khususnya penyair–  mau tidak mau, suka tidak suka, harus menerima kenyataan bahwa mereka  adalah salah satu ujung tombak sekaligus “penunjuk jalan” dalam hal  penggunaan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah bagaimana jadinya jika penunjuk jalan yang justru nyasar  duluan lalu kencing berdiri di sembarang tempat? Ibarat pepatah, jika  pemegang tampuk “Ing Ngarso Sung Tulodo” sudah doyan kencing berdiri,  kemungkinan konfoi barisan “Ing Madya Mangun Karso” hingga “Tut Wuri  Handayani” yang membututi di belakang nantinya bukan lagi kencing  berlari, tetapi kencing nungging dan jungkir balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seperti apa dan bagaimana licentia poetica sebenarnya? Untuk  pertanyaan ini kemungkinan memang sulit untuk dijawab dengan pasti.  Tetapi dalam rangka pencarian, tidak ada salahnya jika kita sama-sama  bergelut dan bergumul dengan peluh-keluh demi menilik benar-benar  tingkat “kebebasan” kita dalam mencipta karya sastra — yang di dalamnya  menggunakan jasa gratis “bahasa” itu. Adapun ilustrasi langsung secara  sederhana perihal keterkaitan “licentia poetica” dengan “kaidah EYD”  dari sisi struktur atau gaya penulisan, akan coba kita jajal bersama  dalam catatan selanjutnya (MENGENALI STRUKTUR PENULISAN AMIR HAMZAH,  CHAIRIL ANWAR, DAN DIMAS ARIKA MIHARDJA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian catatan selayang pandang terhadap licentia poetica bernama  “Kredo Puisi” dari balik kaca mata pengguna bahasa. Jika ternyata dalam  catatan ini banyak cara bertutur yang kurang berkenan di hati  pihak-pihak tertentu, harap dimaklumi. Sebab sejatinya sama sekali tidak  terbersit niat untuk meminus-negatifkan apapun dan siapapun. Tulisan  ini dibuat semata-mata dengan tujuan membuka ruang diskusi  selebar-lebarnya, kepada seluruh masyarakat pengguna bahasa dan penggiat  sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit harapan; semoga putra-putri negeri belum lupa, bahwa dalam  kalender setiap tahun, tanggal 28 Oktober masih tetap berwarna merah.  Seperti halnya segala anggapan, tanggapan, atau apapun rupanya terhadap  tulisan ini, akan selalu setia dinanti, dengan hati yang juga merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Bahasa, Sastra dan Budaya!&lt;br /&gt;————————————————————————-&lt;br /&gt;*) Beberapa di antaranya dapat dibaca di :&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/tag/edisi-khusus&lt;br /&gt;http://pustakapujangga.com/category/nurel-javissyarqi/&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150187765254368&lt;br /&gt;http://bahasa.kompasiana.com/2011/06/17/hakikat-bahasa-mantra-dan-tanggung-jawab-tanggapan-atas-buku-menggugat-tanggung-jawab-kepenyairan-sutardji-calzoum-bachri-karya-nurel-javissyarqi/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijumput dari: &lt;a href="http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/10/09/dampak-licentia-poetica-bernama-kredo-puisi-terhadap-eksistensi-bahasa/"&gt;http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/10/09/dampak-licentia-poetica-bernama-kredo-puisi-terhadap-eksistensi-bahasa/&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8093944344568286513?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8093944344568286513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8093944344568286513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8093944344568286513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8093944344568286513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/10/dampak-licentia-poetica-bernama-kredo.html' title='DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-3875394335885096135</id><published>2011-10-29T14:48:00.001+07:00</published><updated>2011-10-29T21:27:29.802+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mh Zaelani Tammaka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>MEMBACA SASTRA DARI LOKUS BUDAYA SANG PENGARANG</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Studi “Serampangan” atas Buku Puisi &lt;em&gt;Takdir Terlalu Dini&lt;/em&gt; karya Nurel Javissyarqi *&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mh Zaelani Tammaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA saya diminta untuk mengupas karya-karya puisi Nurel Javissyarqi, seperti yang terlumpul dalam &lt;em&gt;Takdir Terlalu Dini&lt;/em&gt;  ini, saya nyaris buta terhadap pengarang ini. Hal itu di antaranya  karena faktor dekade kepengarangan dari yang bersangkutan, yang muncul  pada paruh akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, di mana pada periode  itu lebih aktif sebagai seorang jurnalis daripada sebagai aktivis  sastra. &lt;span id="more-20366"&gt;&lt;/span&gt;Tentu saja akan berlainan dengan  kawan-kawan penyair yang aktif menulis pada tahun-tahun paruh akhir  1980-an hingga paruh pertama 1990-an, saya lebih banyak mengenalnya  secara pribadi, setidak-tidaknya lebih intens membaca karya-karyanya,  karena pada waktu itu memang sebagai besar waktu saya banyak tercurahkan  pada dunia sastra.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Tentu saja pengetahuan saya yang minimal ini terhadap diri si  penyair, dan juga karya-karyanya, mau tidak mau sedikit merepotkan saya,  setidak-tidaknya menyulitkan saya harus memulai dari mana ketika harus  berhadapan dengan puisi-puisi tersebut. Namun demikian, ketidakkenalan  saya ini bisa saja menjadi lebih menguntungkan, karena barangkali  penilaian saya akan lebih obyektif, meskipun tidak menutup kemungkinan  justru melahirkan ketersesatan. Bukankah studi strukturalisme dalam  sastra justru mengharuskan adanya pengabaian terhadap latar belakang  pengarang, karena bisa saja kehadirannya justru menjadi “kecap penyedap  rasa” sehingga menenggelamkan nilai obyektif dari karya sastra itu  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keminusan pengetahuan saya pada diri pengarang bisa melahirkan  dua kemungkinan yang saling bertolakan – antara berpikir obyektif dan  peluang ketersesatan – ditambah tiadanya kesempatan untuk melakukan  studi yang mendalam, maka tidaklah terlalu salah kalau saya menamakan  pembahasan ini sebagai sebuah “studi serampangan”. Semoga saja, sebagai  “studi serampangan” atas pembacaan yang penuh ketergesa-gesaan ini,  tidaklah melahirkan terlalu jauh “ketersesatan”, namun justru  menghasilkan suatu pembacaan yang “otentik” karena kecilnya  pengaruh-pengaruh di luar teks puisi – seperti biografi pengarang – yang  kehadirannya justru bisa saja mencemari proses penyimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus pembahasan ini memang saya hindarkan dari upaya penilaian atau  penghakiman, karena tulisan ini memang bukanlah dimaksudkan sebagai  kritik sastra, tetapi lebih upaya penyelaman terhadap lokus budaya si  pengarang yang mau tidak mau sering kali akan mempengaruhi corak  kepengarangan yang bersangkutan. Dari sini diharapkan akan lebih  membimbing pada pemahaman dan penghayatan terhadap puisi- puisi yang  ada, bukan sekadar memperoleh pengetahuan kognitif-struktural tapi lebih  pada pengetahuan afektif-emosional-transendental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG penulis (pasti) memiliki “rumah”. Demikian kata Chintia Ozick, pengarang Yahudi Amerika ketika diwawancarai &lt;em&gt;The New York Time&lt;/em&gt; pada awal 1990-an, sebagaimana pernah dikutip R. William Liddle ketika memberi pengantar buku &lt;em&gt;Catatan Pinggir 3&lt;/em&gt; Goenawan Mohammad (1991: VII). Ketika itu, dengan mengutip Shakespeare bahwa kehidupan moral memiliki “&lt;em&gt;a habitation and a name&lt;/em&gt;”  – bertempat tinggal dan bernama – , Ozick menegaskan bahwa seorang  penulis mau tidak mau mencerminkan sifat-sifat kebudayaan dan peradaban  tempat ia lahir dan dibesarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dengan nada sedikit provokatif, Ozick memberi kredo, yang barangkali bisa dijadikan panduan bagi seorang sastrawan: “&lt;em&gt;If  you want to live the live that can best bring into a sense of being a  civilized person, then you heve to suize it through your own culture&lt;/em&gt;.”  Kalau anda ingin menghayati kehidupan yang akan menyebabkan Anda merasa  menjadi orang beradab, Anda harus merebutnya melalui budaya Anda  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, meski setiap orang memiliki “rumah”, yang tidak lain adalah  kebudayaan sendiri, namun tidak semua orang berhasil menemukan  “rumah”-nya tersebut. Butuh perjuangan panjang, dialektika yang tiada  henti, agar seseorang menemukan “rumah”-nya, yang tidak lain adalah jati  dirinya sendiri. Namun demikian, yang tidak dapat dielakkan, pastilah  setiap orang pertama-tama dan pada akhirnya mestilah mereguk peradaban  tempat ia lahir dan dibesarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas di mana “rumah budaya” Nurel Javissyarqi? Dari sedikit  pengetahuan yang saya milki, khususnya setelah saya menemukan nama kunci  Nur Laili Rohmat yang sedikit banyak telah saya kenal, saya mendapatkan  kesan kuat bahwa Nurel pastilah “orang Jawa” yang berasal dan  dibesarkan dari kultur santri. Memang, dari puisi-puisinya yang ada,  termasuk banyaknya nama samaran yang dia pakai, tampaknya dia masih  dalam periode “pengembaraan” dan belum sepenuhnya menemukan “rumah jati  diri”-nya, namun dari potret perjalanan yang ada, alur “pesantren”  tampak lenih dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntowijoyo pernah menyebutkan ada tiga &lt;em&gt;loci&lt;/em&gt; kebudayaan Jawa, yaitu keraton, pedesaan dan pesantren dengan unsur &lt;em&gt;wong agung&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;wong cilik&lt;/em&gt; dan santri. Tentu, kalau dilihat dari pendekatan tiga &lt;em&gt;loci&lt;/em&gt; model Kuntowijoyo ini, kebudayaan yang dominan yang membentuk pribadi Nurel adalah &lt;em&gt;loci&lt;/em&gt; pesantren, meski pada perkembangannya juga bersentuhan kedua &lt;em&gt;loci&lt;/em&gt; budaya Jawa yang lain (&lt;em&gt;wong&lt;/em&gt; &lt;em&gt;cilik&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;wong&lt;/em&gt; &lt;em&gt;agung&lt;/em&gt;) dan budaya kosmopolitan (Barat dan Timur) khas kelas menengah (terdidik) di negara berkembang, seperti Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak “kesastrapesantrenan” Nurel tampak dari kecenderungan gaya  bertutur yang kuat dalam puisi-puisinya. Ini seakan mendekatkan pada  puisi-puisi lisan pesantren, seperti syair puji-pujian, cara pembacaan  kitab-kitab yang dilagukan, serta suluk yang berisi ajaran-ajaran  tarekat (sufisme) dan sebagainya. Gaya ini juga ditunjukkan pada  kecenderungan pada pola epik daripada lirik. Gaya epik kian terasa  ketika membaca, misalnya “Balada Jala Suta” atau tiga sajak tentang Van  Gogh. Dengan demikian, sajak-sajak Nurel lebih mengesankan sastra lisan  yang ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sastra epik, khususnya epik-tutur, puisi-puisi tampak  mengedepankan “pikiran” daripada “perasaan”, khususnya ketika ia harus  dihadapkan pada kesimpulan-kesimpulan filosofis-ideologis.  Puisi-puisinya tidak lagi cenderung bernyanyi seperti sajak-sajak imajis  yang banyak berkembang di Tanah Air, tetapi lebih mengajak berpikir dan  berfilsafat. Gaya seperti ini barangkali ada pararelismenya – kalau  tidak dikatakan terpengaruh – dengan sajak-sajak Iqbal yang juga  berkecenderungan filosofis-ideologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar contoh pararelisme antara Iqbal dan Nurel tampak pada perbandingan berikut ini. “&lt;em&gt;Kemarajaan  Roma yang megah ada obat penawar/Sekali lagi telah kita turunkan mimpi  Yulius Caesar/Kepada Musolini, anak cucunya, yang bertangan besi/Bangsa  ini amat perkasa menjaga laut Itali/Dalam sejarahnya pernah megah  kemudian jatuh tersungkur tanah&lt;/em&gt;” (kutipan “Parlemen Setan” Muhammad Iqbal). Sementara dalam bait XXIX puisi “Nistsche, Aku Tetap Diet”, Nurel menulis: “&lt;em&gt;Kau  cemooh Socrates, dengan dialektikanya/kau tak sadar dengan  dialektikanya sendiri/seperti serangga dalam kuluman bunga teratai/di  atas kertas ia berdiam diri, sedang telaga-samudra Tuhan&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NANUN demikian, kecenderungan epik dan kelisanan Nurel bukannya tidak  ada bahayanya. Yang paling nyata barangkali puisi-puisinya menjadi  sangat “memprosa” dan sangat boros dengan kata-kata. Kata-kata tidak  lagi diperas hingga diperoleh kata-kata yang metaforis, tetapi cenderung  lugas dan apa adanya. Sesuatu yang barangkali bertolakan dengan  prinsip-prinsip puisi modern, apalagi seperti yang dirumuskan oleh  “wali” penyair Indonesia Chairil Anwar yang berkata, “ …&lt;em&gt;tiap&lt;/em&gt; &lt;em&gt;kata&lt;/em&gt; akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke &lt;em&gt;kernwood&lt;/em&gt;, ke &lt;em&gt;kernbeeld&lt;/em&gt;.” (Chairil Anwar, Kartu Pos, 8 Januari 1944).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam tataran ekstrem, puisi-puisi Nurel menjadi terasa  “anti-puitik”. Sebab, kalau hendak konsisten dengan teori-teori puisi  modern, setidak-tidaknya syarat-syarat bahasa puisi yang bersumber dari  tradisi sastra Barat-Modern, jelas sebagian puisi-puisi itu tidak  memenuhi syarat sebagai puisi, setidaknya dianggap puisi yang gagal. Ini  tampak, misalnya, pada sajak “Nyala Api Kehidupan”. Bait-bait dalam  sajak ini lebih kumpulan jargon-jargon kata-kata mutiara, yang dalam hal  tetentu sering kehilangan kepaduan. Bahkan, ada baik-bait yang berisi  sumber-sumber inspirasi penyair, yang ditulis begitu saja dan terkesan  kurang pendalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan lain yang tampak adalah penyebutan nama-nama tokoh atau  sumber yang tidak akurat dalam puisi. Ini penting, sebab bila memilih  bentuk ucap puisi epik-filosofis-ideologis seperti Iqbal, akurasi baik  nama maupun sumber menjadi penting. Sebab, kalau tidak, bisa menimbulkan  keraguan bagi pembaca bahwa itu sebagai perwujudan sikap kenes, sok  filsafat, namun sebenarnya belum menyentuh inti filsafat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, saya tetap merasakan hangatnya nyala semangat  kepenyairan Nurel. Di lihat usianya yang relatif muda (kelahiran Kendal,  Kemlagi, Lamongan, 8 Maret 1967), masih terbentang harapan perkembangan  ke depan. Dan tampaknya kekuatan bentuk pengucapan epik tuturan, yang  ini merupakan salah kekhasan sastra pesantrenan, sangat berpeluang untuk  terus digali dan kelak pasti bisa ikut memperkaya khazanah sastra  Indonesia yang terlanjur Eropa-sentris. Semoga!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, Wisma Ceremai V-14E, 10 Juni 2001&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div&gt;*) Sekadar bahan diskusi untuk Bedah Buku “Takdir Terlalu Dini” Karya  Nurel Javissyarqi di Taman Budaya Surakarta (TBS), 11 Juni 2001.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-3875394335885096135?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/3875394335885096135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=3875394335885096135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/3875394335885096135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/3875394335885096135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/10/membaca-sastra-dari-lokus-budaya-sang.html' title='MEMBACA SASTRA DARI LOKUS BUDAYA SANG PENGARANG'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1604736236883485108</id><published>2011-10-24T07:15:00.003+07:00</published><updated>2011-10-24T07:16:15.078+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikri MS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Nafsuku Tergeletak</title><content type='html'>&lt;i&gt;Kepada Nurel Javissyarqi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Fikri MS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beranda waktu&lt;br /&gt;Ketika hujan habis dimamah angin&lt;br /&gt;Kubaca Kitab Para Malaikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunyah aksara demi aksara di dalamnya&lt;br /&gt;yang terasa pucat di lidahku&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin bertandang mengetuk pintu&lt;br /&gt;Mengantarkan seorang perempuan kepadaku&lt;br /&gt;Wanita itu berkerudung jingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanginya bergairah menyapaku&lt;br /&gt;Lalu sukmaku mempersilahkan ia masuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gelisah memperlakukannya&lt;br /&gt;Sebab tiada kue atau minuman di meja makanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kitab yang masih kupegang seakan-akan menggodanya&lt;br /&gt;Ia menatap&lt;br /&gt;Bertanya, matanya berkaca-kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segan untuk membalas&lt;br /&gt;Ia mendekat aku hanya tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanginya berbisik lembut&lt;br /&gt;Kusudahi bacaanku menatapnya&lt;br /&gt;Ia tiba-tiba menghilang seakan masuk ke liang sajak&lt;br /&gt;Tanpa salam dan pesan&lt;br /&gt;Hanya desah yang terlepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu nafsuku tergeletak di teras beranda&lt;br /&gt;Digumuli sangsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1604736236883485108?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1604736236883485108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1604736236883485108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1604736236883485108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1604736236883485108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/10/nafsuku-tergeletak.html' title='Nafsuku Tergeletak'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8272096063794535425</id><published>2011-10-24T07:13:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T07:13:57.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikri MS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Nafsuku Tenggelam ke Dasar Samudra Penciptaan</title><content type='html'>&lt;i&gt;Kepada Nurel Javissyarqi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Fikri MS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumamah Kitab Para Malaikat di bibir fajar&lt;br /&gt;Ranum seperti bibir perawan sehabis mandi&lt;br /&gt;Sambil menunggu matahari beranjak dari seberang timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlayar&lt;br /&gt;Dan terus berlayar mengembangkan layar menuju teluk tersembunyi&lt;br /&gt;Dihujani embun kegadisan&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di atas gelombang yang merawat pantai&lt;br /&gt;Kapalku pecah berderak&lt;br /&gt;Gelisah menghantam liar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu patahlah kayuh tintahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terombang-ambing&lt;br /&gt;Tak tahu ke mana arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nafsuku tenggelam ke dasar samudra penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8272096063794535425?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8272096063794535425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8272096063794535425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8272096063794535425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8272096063794535425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/10/nafsuku-tenggelam-ke-dasar-samudra.html' title='Nafsuku Tenggelam ke Dasar Samudra Penciptaan'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-7099317560505941985</id><published>2011-10-03T00:08:00.005+07:00</published><updated>2011-10-05T20:57:06.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasnan Bachtiar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Hasnan Bachtiar&lt;br /&gt;http://kataitukata.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini  telah mengemuka suatu mitos sastra (Barthes). Para    kritikus,  seolah  bahu-membahu dalam konsensus imajiner, mengimani   suatu  mazhab  yang  mutakhir. Sastrawan “mantra” menjadi imam bagi   mayoritas  umat:   Sutardji Calzoum Bachri (SCB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hal yang mengherankan,  penisbatan ini tertuju kepada penyair     masyhur itu. Pujangga yang  hebat, memiliki puisi-puisi yang sangat baik     dan sungguh sulit mencari  cela pada anak-anak rohani yang telah    tercipta  dengan kualitas  berkelas, kecuali oleh ketajaman kritikus    tulen yang  bernyali. &lt;span id="more-19606"&gt;&lt;/span&gt;Dengan  menaruh   segala  rasa  hormat, bahwa tulisan-tulisannya yang hadir dalam    kesusastraan   Indonesia, barangkali setara dengan pelbagai khazanah    tafsir kitab suci   yang diagungkan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan  SCB  terdengar menyeruak di tengah pujangga, kritikus,    akademisi,  hingga  penikmat sastra. Bahkan sangat familier, sehingga    begitu dekat  dengan  pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gegap gempita bersinarnya sosok SCB,  tidak jarang beberapa     kalangan merelakan jiwanya, untuk menganut  segala alur pikir dan gaya     sastra yang digemarinya. Ada beberapa yang  berlebihan. Tanpa  sengaja,    SCB menempati posisi yang tinggi dalam  wacana sastra, bukan  sekedar    presiden penyair, tapi sebagai nabi baru  sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas tidak salah mengangkatnya menjadi nabi. Nabi tempat  berkeluh     kesah, pengayom dan tauladan bagi umat sastra, serta  merangkul seluruh     golongan. Yang paling kentara di permukaan dan  nampak mengandung   unsur   kenabian adalah “mantra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra adalah  kata yang hanya kata. Mampu mempesona para pembaca,    meski  tanpa harus  memiliki makna. Tatkala kata terlantun, banyak orang     merasakan bahwa  hal itulah tempat untuk berserah diri, bernuansa   sakral   nan agung.  Dalam bahasa psikologi, boleh juga disebut sebagai   tempat   bersandar di  tengah ketidakmampuan, untuk menghindari istilah   neurosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati  demikian, perlu juga dikoreksi di sini bahwa, di antara umat     ada yang  memberi jabatan lebih tinggi dari sekedar nabi. Mungkin   terlalu    tinggi. Karena itu, pengkultusan menjadi hal yang tak   terhindarkan.    Nasi sudah menjadi bubur, inilah bid’ah yang menggejala   dan beberapa    menampakkan diri dalam kehidupan susastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra terlantun,  kebebasan terhempaskan. Kemerdekaan sebagai manusia     liar mendapat  jaminan yang aman. Inilah puisi, kenikmatan, estetika   dan   kematian  manusia. Segala kuasa adalah kata. Benarkah demikian?   Inilah   yang akan  diuji.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan, wacana ini. Dalam filsafat  kontemporer,    keterkaitan  psikoanalisis, semiologi dan hermeneutika,  Michel Foucault    menyebutkan  adanya “kata yang bukan bahasa”. (Michel  Foucault,    “Nietzsche, Freud,  Marx,” Nietzsche, Cahiers du Royaumont.  Paris: Les    Editions du Minuit,  1964: 183-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut filsuf  Prancis ini, psikoanalisis Freud menyadarkan kita akan     ketidaksadaran.  Psikoanalisis bekerja untuk menafsirkan tanda (pula     kata), karena itu  mutlak pembaca adalah hermeneut. Di samping itu,     karena yang ditafsir  adalah tanda, semiologi menjadi penting turut   serta   menyelami  kedalaman kerumitan pembacaan alam bawah sadar ini.    Betapapun   hermeneut mencoba mengerti akan tanda-tanda, – baik itu  yang   bisa   ditafsir, atau bahasa yang tidak mengatakan maksud yang    sesungguhnya,   ada pula tanda yang bukan bahasa – setiap penafsir    terikat akan  logosnya  tersendiri (wawancara Michel Foucault dengan    Alain Badiou,  “Philosophie  et psychologie,” Dossiers pédagogiques de   la   radio-télévision scolaire,  27 Februari 1965: 65-71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunjuk  kepada mantra, kata yang bukan bahasa ini, mutlak diciptakan     dengan  ketidaksadaran. Bagi penulisnya, tentu terstruktur logos – di     alam  ketidaksadaran – sebagai suatu konstruksi kemanusiaan. Namun  bagi     pembaca-pelantun, menjadi pengandaian sebagai kata ajaib, yang      barangkali memang bebas akan beban-beban komunikatif. Dalam kondisi      ekstase, sangat sulit untuk memutuskan bahwa pembaca terikat dengan      logosnya. Sebaliknya, saat kondisi ketubuhan-kesadaran terjaga,  logos     menjadi struktur alamiah yang senantiasa digunakan, – sekali  lagi –     dalam ketidaksadaran. Orang bisa mengatakan bahwa, “ini  benar-benar     mantra” atau “tiada makna bagi mantra” atau “terserah  kehendak pembaca     bagi makna mantra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, secara terang, mantra yang ditulis  seolah benar “mantra”     terikat hukum pengetahuannya tersendiri (logos).  Pengakuan dan     pembenaran keajaiban mantra oleh pelantun atau pembaca  juga terikat     logos. Kedua, mantra adalah mantra seperti kata yang  hanya kata dan     bukan bahasa, terikat atas struktur logosnya. Ketiga,  juga demikian     dengan kebebasan berkehendak untuk memberi makna pada  mantra, tentu   saja   harus dimaklumi ketergantungannya terhadap logos,  disadari atau   tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logos yang dimaksud di sini, tentu saja  melampaui strukturalisme     semiologis. Barangkali gejala ideologisasi  terhadap alur pikir   tertentu,   diwakili oleh gagasan Derrida tentang  logosentrisme   (Jacques Derrida,   De la gramatologie. Paris: Editions de  Minuit,   1967). Logos bukanlah   pengetahuan semesta yang obyektif,  karena   berlaku sebagai kehendak   kuasa. Penulis jelas menunjuk pada    logosentrisme aliran mantra SCB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang SCB dalam “Sajak dan  Pertanggungjawaban Penyair” (Republika, 9     September 2007) menuturkan  bahwa, “Peran penyair menjadi unik,  karena  –   sebagaimana Tuhan tidak  bisa dimintakan  pertanggunganjawaban atas    ciptaannya, atas mimpinya,  atas  imajinasinya – secara ekstrem boleh    dikatakan penyair tidak bisa   dimintakan pertanggungjawaban atas    ciptaannya, atas puisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  sini, SCB secara pribadi hendak memberi makna pada mantra  sebagai     kata yang hanya sebagai kata, bukan bahasa, karena tercipta bak    sabda.   Dengan demikian, jelas dalam maksud tersebut bahwa, atas kata    yang   bukan bahasa, atau mantra, hendak memberi kemerdekaan penuh   kepada    pembaca untuk melampaui struktur semiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignas Kleden dalam  esainya, “Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji     Calzoum Bachri” (4  Agustus 2007) mengukuhkan pendapat ini, “Upaya dan     perjuangan Sutardji  Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos   jenis   kata, menerobos  bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat   dipandang   sebagai  percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia   secara   besar-besaran  dan memberi kemungkinan bagi   konstruksi-konstruksi baru   yang lebih  otentik melalui puisi… Dalam   sebuah esainya Sutardji menulis   ‘puisi  adalah alibi kata-kata.’   Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa    kata-kata dalam puisi diberi   kesempatan menghindar dari tanggung jawab    terhadap makna, yang dalam   pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada    sebuah kata sebagai   tanggungan kata tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada  masalah sebenarnya. Baik soal kematian manusia (pengarang,     pembaca)  tatkala mencandra teks-teks sastra (mantra), maupun  pembebasan     maknanya, – lebih jauh lagi – juga termasuk pembebasan  logosnya     (struktur epistemologis). Namun, benarkah “kata”  benar-benar berkuasa?     Ataukah manusia yang hidup (beserta logos),  seolah mematikan     “kemanusiaan” dan menggantinya sekedar kata? Atau  mereka mempertahankan     wacana “kata” sejatinya (otonom) dengan  kehendaknya secara membabi   buta   (logosentrisme)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mendalam tentang hal ini, yang  memungkinkan dipersoalkan adalah     soal wacana yang seolah tanpa  tanding, sedang menguasai belantika     sastra Indonesia. Inilah yang akan  ditantang dan diuji secara   filosofis.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logos-logos yang  menjelma mantra, lambat laun hidup dan seperti    makhluk  bernyawa,  menundukkan dan membunuh manusia-manusia. Nurel    Javissyarqi  dalam  esainya “Membaca Kedangkalan Logika Dr. Ignas   Kleden?”   benar-benar  menyadari pentingnya manusia kuat dan pemberani   untuk   menantang mantra  yang “mewabah” dan “menjangkiti” yang dianut   selayaknya   agama. Ia  mengungkapkan, “Dikala memandang pertumbuhan   mitos sastra   dewasa ini  di Indonesia ialah bentuk ucap pengulangan   seragam, tanpa   sistem  mengkritisi demi kematangan penggalian alam   tradisi… Ini jauh   panggang  dari arang, membaca kilau hasil tanpa   menyelidiki proses   kreatifnya…”  (Bagian XIII, 2011).*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih jauh, Javissyarqi mengungkap  kuasa wacana mantra dengan     pisau bedah yang paling vulgar, yaitu  “mitos” Barthesian. Mitos di  sini    berarti kreativitas imaji yang  menari bersama harapan (Roland   Barthes,   Mithologies. Paris: Seuil,  1957). Istilah yang sangat ilmiah   dan paling   cocok untuk memahami    rezimisasi-ideologisasi-logosentrisme terhadap   pemikiran sastra SCB.    SCB berwacana (penanda 1) dan mengkonsep mantra   (petanda 1/penanda  2),   lalu pembaca memaknai (termasuk tafsir bahwa   tiada makna untuk  kata)   mantra (petanda 2) dan begitu seterusnya. Dalam   struktur    penanda-petanda-tanda, SCB adalah tanda, atau mantra adalah   tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah,  semua orang menikmati mitos SCB mantra. Dengan mitos yang      didengungkan setiap saat, nasib baik selalu menghampiri SCB-mantra.      Selain berkuasa dalam singgasana wacana, didukung pula oleh segala  puji     dan decak kagum yang lena. Dalam ritus-ritus pengetahuan,  sekaligus     mitos bukan sekedar mitos, tetapi menjadi mitologi, berbau  mitis,     sakralitas dan pengkultusan. Dalam bahasa yang sebelumnya  disebutkan,     menjadi bid’ah atau ketumpulan kritisisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kerugian  tatkala konservatisme atau wacana dogmatik  menjangkiti    penulis dan  pembaca sastra. Perilaku resentimen barangkali  dapat    disaksikan  sebagai akibat-akibat keimanan yang membabi-buta. Tidak     jarang pula,  sakralisasi teks yang berlebihan membuat orang mabuk     kepayang,  kehilangan orientasi hidup yang utama sebagai manusia. Tampil     para  pejuang mantra yang mengukuhkan     rezimisasi-ideologisasi-logosentrisme.  Ujung perkaranya, stagnasi yang     sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kiranya mulai  mengapresiasi para kritikus sastra yang murni.     Nietzsche memberi  kritik bagi mereka para kritikus yang tidak     bersungguh, mestinya  mereka benar-benar menjadi kritikus sejati dan   jauh   dari selubung atau  topeng kepalsuan. Tidak harus menjadi tuhan,   bahkan   membunuh  manusia-kemanusiaan untuk bersastra. Tidak  sepatutnya    me-nabi-kan yang  tidak layak menjadi nabi, meski hanya  menyebutnya    sebagai presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa  demikian, Nietzsche membuat lelucon bahwa, “The Gods are dead     but  they have died from laughing, on hearing one God claim to be the     only  one, ‘Is not precisely this godliness, that there are gods but  no     God?’” (Z III ‘Of the Apostates”, p. 201. Nietzsche and  philosophy,     Gilles Deleuze, Columbia University Press, 2002: 4).  Segala  kuasa-wacana    yang menuhankan diri dengan pelbagai pembenaran  telah  mati, karena  ada   kebenaran-kebenaran sejati di pinggiran  tengah  berteriak  menantangnya.   Demikianlah demitologisasi terhadap  topeng  kesejatian  SCB-mantra.   Kehendak kritik yang murni telah  terlempar  sebagai anak  panah yang   menembus jantung. Membunuh dengan  tega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting  sekali kiranya kita merenungkan nasehat dari Karl Mannheim.  Ia     berkesimpulan bahwa, “In unmasking ideologies, we seek to bring to      light an unconscious process, not in order to annihilate the moral      existence of persons making certain statements, but in order to  destroy     the social efficacy of certain ideas by unmasking the  function they     serve.” (Karl Mannheim, “Historicism,” Essays on the  Sociology of     Knowledge, Essays on the Sociology of Knowledge.  London: Routledge &amp;amp;     K. Paul, 1952: 141).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;*kutipan tersebut dari esai (rencana kerja) Nurel Javissyarqi, yang kehendaknya terbit di akhir tahun 2012 mendatang.&lt;br /&gt;Dijumput dari: &lt;a href="http://kataitukata.wordpress.com/2011/09/30/demitologisasi-sastra-mantra-sutardji/" title="http://kataitukata.wordpress.com/2011/09/30/demitologisasi-sastra-mantra-sutardji/"&gt;http://kataitukata.wordpress.com/2011/09/30/demitologisasi-sastra-mantra-sutardji/&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-7099317560505941985?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/7099317560505941985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=7099317560505941985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7099317560505941985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7099317560505941985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/10/demitologisasi-sastra-mantra-sutardji.html' title='Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8269939390701213929</id><published>2011-07-22T05:29:00.004+07:00</published><updated>2011-10-01T20:12:01.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aguk Irawan MN'/><title type='text'>MENIMBANG KEPENYAIRAN SUTARDJI CALZOUM BACHRI (SCB) DARI BUKU NUREL: MENGGUGAT TANGGUNGJAWAB KEPENYAIRAN *</title><content type='html'>Aguk Irawan MN**&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 224-227).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa perlu mengutip ayat diatas, karena selain SCB sendiri yang membawanya dalam kredo keduanya “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, Pidato Kebudayaan dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat di HU Republika, 9 September 2007, Nurel Javissyarqi (NJ) sendiri penulis buku “Menggugat Tanggungjawab Kepanyairan SCB” (Penerbit Sastrenesia, 2011) juga secara nyinyir mencoba mengurai, mengupas dan merefleksikan nilai-nilai dan pesan ayat tersebut untuk memaknai kredo kedua SCB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah khatam menghabiskan buku NJ tersebut yang menyorot isi pidato SCB yang dilampirkan dalam buku tersebut, setidaknya saya menemukan dua alasan dalam kerangka besar keberatan NJ terhadap isi pidato tersebut. Pertama, NJ merasa, SCB berlebihan dalam memaknai profesi penyair (sastrawan), yang hanya sekedar bebas bermimpi dan mencipta lalu tak ada lagi setelah itu, termasuk pertanggungjawabannya kepada pembaca, kepada dirinya sendiri dan tentu kepada Tuhan. Karena menurut SCB, penyair itu hampir saja menyamai “profesi” Tuhan, yang sekedar bermimpi dan mencipta, maka jadilah, kun fayakun itu. Bagi NJ, profesi sebagai penyair, tidak kurang dan lebih sebagaimana profesi lain, pemotret, petani, pedagang, buruh, nelayan, guru dan lain sebagainya, yang tentu setelah ia berbuat sesuatu, ada sesuatu lain yang bahkan lebih besar dari semula, yaitu pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, NJ menganggap bahwa SCB telah sesat-pikir mengenai makna dan fungsi kata, bahasa dan tentu puisi dalam kehidupan, karena sejak lama SCB berpendirian, bahwa kata harus dibebaskan dari keterjajahan makna dan fungsinya sebagai alat pembawa pengertian. Kerenanya NJ mencoba menangkap maksud ini, lalu mengomel, dan tentu mengkritik disana-sini, meski ia sendiri nampak terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang sudah pernah saya tulis (Penyair dan al-Qur’an dalam Rekaman Sejarah) di harian yang sama dimana tulisan SCB terpublikasikan (Republika), bahkan tarikh pemuatanya juga pada bulan dan tahun yang sama (2007). Saya kutipkan pendapat Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), barangkali bisa sebagai penyeimbang gagasan antara SCB dan NJ, atau bisa dijadikan pelengkap dari data NJ. Dijelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai ‘penyaing’ keulungan sastra Jahily dan pencerah atas keulungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manuskrip kuno (sastra Jahily), membuktikan hal itu. Tetapi, pada zaman itu jangan ditanya bagaimana bentuk puisi dan makna puisi itu bisa diterjemahkan? Lebih jauh lagi, bagaimana moral masyarakatnya, khususnya prilaku para penyairnya. Dari latar belakang itulah, Ibnu Qutaibah dalam buku Asy-Syi’ir wa as-Asyu’ara (Beirut: Dar ats-Tsaqafah, 1969) memaparkan hari lahir dan asal usul ayat diatas kenapa turun kepada Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Qutaibah, kenapa sastra yang konon sebagai penyangga suatu peradaban seperti tak berguna? Tentu, karena sastra Jahiliyah tersebut nyaris tak menyimpan makna yang bisa membangun peradaban, lihatlah bagaimana bentuk mantra yang menyerupai puisi yang sudah dihasilkan oleh Musailama seperti dalam Ma Huwal Fil atau dengan Ayat-Ayat Kataknya? Begitu juga apa yang telah dihasilkan oleh Imri’ al-Qois, dengan Ayyuha Attahali Al-Bali-nya? Atau karya dari penyair ulung Jahili lainnya, seperti Abu Mihjan ats-Tsaqafi, Abu ath-Thamhan al-Qaini, Dhabi bin al-Harist al-Barjami, Suhaim Abdul Bani al-Hashas, an-Najasy al-Haritsi, dan Syabil bin-Waraqa. Lalu Bandingkan dengan karya-karya penyair yang sudah mendapatkan “pencerahan” dari Nabi, seperti Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Zuhair. Labid bin Rabi’ah dan tentu Ibnu Rawahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi dan tentu Islam percaya, hanya karya sastra yang bermakna, dapat ditelaah (baca: mengandung hikmah), yang mengajak dalam kebaikan, serta menjauhi segala kefasadan dan para kreasinya di barisan paling depan untuk menjalankannyalah yang bisa membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, yang mampu menyangga peradaban. Yang tidak “yaquluna ma yaf’’alun” (sekedar mengatakan, tapi tidak pernah merealisasikan). Sejarawan Muslim at-Tahawani menceritakan, sejarah turunnya surat As-Syu’ara (para penyair) dilatarbelakangi kenyataan bahwa di sekeliling Nabi adalah para pembual, pengakrobat kata, dan penelikung kata untuk diselingkuhkan yang awalnya demi kebaikan menjadi ke-amoralan, begitu sebaliknya, karenanya ayat tersebut mengatakan dengan tegas bahwa; penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat. Atas dasar itulah, ketika ditanya sahabat, apakah Nabi pernah berpuisi, Aisyah menjawab bahwa puisi adalah bentuk omongan yang ia benci (Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan, Juz IX, hlm 224). Puisi yang dimaksud disini adalah jenis gombalan dan akrobati bahasa saja. Pengecualian hanya kepada penyair beriman, yang tentu tidak mau tergiur dengan arus akrobati bahasa saja, tetapi ia memberikan hikmah dan mengadakan pembelaan saat didzalimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari sejumput pengertian ini setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan, dengan apa yang telah dihasilkan oleh SCB dalam proses kreatif atau karier kepenyairannya. Ketika ia menyatakan, bahwa kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri. Bahwa kata-kata harus dimerdekakan dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus-kamus dan penjajahan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sekedar itu, pada pemikirannya yang kedua dalam “Kredo”-nya tersebut, SCB juga ingin “mengembalikan kata kepada mantra”. Sehingga SCB dalam menyeret ayat diatas, mengemukakan tafsir, karena itu para penyair boleh berbuat semua-maunya dan berimajinasi sebebas-bebasnya, lalu menyusun kata seliar-liarnya, sesukar-sukarnya dan tentu, tidak perlu harus malu, apalagi terbebani untuk mempertanggungjawabkannya kepada khalayak, Tuhan dan dirinya sendiri. Ia lupa, bahwa ayat tersebut sebagai pemula atas penekanan akan “ketersesatan” penyair, juga ada pengecualian sebagai penegasan (yaitu penyair beriman). Mari kita ambil contoh dan nikmati satu karyanya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUCING&lt;br /&gt;Sutardji Calzoum Bachri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngiau! kucing dalam darah dia menderas&lt;br /&gt;lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber&lt;br /&gt;gegas lewat dalam aortaku dalam rimba&lt;br /&gt;darahku dia besar dia bukan harimau bu&lt;br /&gt;kan singa bukan hiena bukan leopar dia&lt;br /&gt;macam kucing bukan kucing tapi kucing&lt;br /&gt;ngiau dia lapar dia merambah af&lt;br /&gt;rikaku dengan cakarnya dengan amuknya&lt;br /&gt;dia meraung dia mengerang jangan beri&lt;br /&gt;daging dia tak mau daging jesus jangan&lt;br /&gt;beri roti dia tak mau roti ngiau&lt;br /&gt;kucing meronta dalam darahku meraung me&lt;br /&gt;rambah barah darahku dia lapar O a&lt;br /&gt;langkah lapar ngiau berapa juta hari&lt;br /&gt;dia tak memakan berapa ribu waktu dia&lt;br /&gt;tak kenyang berapa juta lapar laparku&lt;br /&gt;cingku berapa abad dia mencari menca&lt;br /&gt;kar menunggu tuhan mencipta kucingku&lt;br /&gt;tanpa mauku dan sekarang dia meraung&lt;br /&gt;mencariMu dia lapar jangan beri da&lt;br /&gt;ging jangan beri nasi tuhan mencipta&lt;br /&gt;nya tanpa setahuku dan kini dia minta&lt;br /&gt;tuhan sejumput saja untuk tenang seha&lt;br /&gt;ri untuk kenyang sewaktu untuk tenang&lt;br /&gt;di bumi ngiau! dia meraung dia menge&lt;br /&gt;rang hei berapa tuhan yang kalian pu&lt;br /&gt;nya beri aku satu sekedar pemuas ku&lt;br /&gt;cingku hari ini ngiau huss puss diam&lt;br /&gt;lah aku pasang perangkap di afrika aku&lt;br /&gt;pasang perangkap di amazom aku pasang&lt;br /&gt;perangkap di riau aku pasang perangkap&lt;br /&gt;di kota kota siapa tahu nanti ada satu&lt;br /&gt;tuhan yang kena lumayan kita bisa berbagi&lt;br /&gt;sekerat untuk kau sekerat untuk aku&lt;br /&gt;ngiau huss puss diamlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Alquran bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali mereka yang beriman, juga bukan ucapan dukun, sedikit sekali mereka menyadari.” (Qs Al-Haqqah: 41-42). Jadi, nabi bukan seorang dukun (penyihir) juga bukan seorang penyair. Nabi adalah penerima kalamullah. Menurut al-Jumahi, bahwa yang bisa menggetarkan orang tidak saja firman, tetapi juga puisi dan mantera dari jenis perdukunan/sihir. Itu berarti ada penekanan perbedaan antara hakikat firman, bahasa dan mantra. (Muhammad bin Sulam al-Jumahi, Thabaqat Fuhul asy-Syu’ara, hlm 188). Bercermin dari sini saya sendiri meyakini bahwa antara puisi dan mantera adalah dua jenis yang berbeda, dilihat dari berbagai aspek dan syaratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sampai sekarang belum ada batasan yang tepat tentang pengertian puisi. Tapi setidaknya, ahli bahasa sudah sepakat, bahwa garis besar puisi adalah bentuk karangan yang padat dan terikat dengan syarat-syarat: banyaknya baris dalam setiap baris, dan terdapatnya persamaan bunyi atau rima, baik rima horisontal maupun rima vertikal. Yang menjadi titik tekan dari padat, tidak lain, tentu makna dan nilai-nilai filosofisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ajip Rosidi (1987:67) memaparkan bahwa mantra adalah rangkaian kata, dan seringkali mengandung kata-kata serapan asing yang kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta, Arab, maupun Tibet. Kata-kata dalam mantra tersebut diturunkan oleh pawang atau dukun kepada pawang lain secara lisan sehingga sering mengalami kerusakan sedemikian rupa dan sulit untuk menemukan bentuk asalnya. Pada hakikatnya, mantra sebagai salah satu bentuk puisi lama sesungguhnya merupakan suatu bentuk perkataan atau ucapan yang mampu mendatangkan daya gaib. Di dalam sebuah mantra yang lengkap pada umumnya terdapat unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, unsur sugesti, unsur tujuan dan unsur penutup. Namun, yang paling penting dan paling pokok dalam mantra adalah unsur sugesti, sebab unsur sugesti inilah yang memiliki daya atau kekuatan untuk membangkitkan potensi kekuatan magis. Di samping unsur sugesti, dalam pengamalan mantra, seperti di daerah Jawa misalnya, terdapat pula unsur laku mistis yang mendukung. Unsur laku mistis itu antara lain adalah penyertaan kegiatan puasa dalam proses pembacaan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, setujukah kalian, bila NJ dengan tegas, mengatakan bahwa SCB bukanlah penyair melainkan PEMANTRA atau DUKUN? Ataupun kalau masuk golongkan penyair, maka dia PENYAIR JAHILIYAH? Mari kita berdiskusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Kata, 18 Juli, 2011&lt;br /&gt;* Disampaikan Pada Acara Bedah Buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan SCB”, karya Nurel Javissyarqi, di Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda “Karta Pustaka,” Jl. Bintaran Tengah 16 Yogyakarta, 21 Juli 2011.&lt;br /&gt;** Penerjemah buku “O Amuk Kapak” menjadi Atholasim, karya SCB, terbit di Mesir 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8269939390701213929?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8269939390701213929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8269939390701213929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8269939390701213929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8269939390701213929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/07/menimbang-kepenyairan-sutardji-calzoum.html' title='MENIMBANG KEPENYAIRAN SUTARDJI CALZOUM BACHRI (SCB) DARI BUKU NUREL: MENGGUGAT TANGGUNGJAWAB KEPENYAIRAN *'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-4717274102292470661</id><published>2011-07-05T09:43:00.003+07:00</published><updated>2011-10-01T20:11:28.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noval Jubbek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Meruntuhkan Mitos Sutardji</title><content type='html'>&lt;b&gt;(sebuah catatan dari bincang buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan SCB”)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Noval Jubbek*&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak remaja masa-masa SMA saya mulai tertarik menulis, lebih tepatnya merangkai kata-kata untuk sekedar memuji sosok perempuan yang saya suka. Dan serius mencari-cari tulisan indah (puisi) melalui buku-buku pelajaran. Ada beberapa nama yang puisinya sudah berakar (tak saya sadari nyata terdapat di buku tingkatan SD, SMP) salah satunya Sutardji Calzoum Bachri (SCB), yang terus terang rata-rata puisinya tak saya pahami maknanya. Ketika itu pula saya berpikir, apa mungkin puisi yang aneh bisa masuk ke dalam buku pelajaran anak sekolah?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah belakangan saya mulai banyak acuan untuk menanyakan hal itu, lalu meraba-raba bahwa puisi yang tidak kita pahami, bisa jadi sangat bagus dan kuat. Karena jawabannya dari seorang yang saya anggap mengerti, rata-rata mengatakan: “makin sulit puisi kita pahami, kian bagus sekaligus kuat yang terkandung di dalamnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkaget, ketika ada yang mengatakan Sutardji adalah presiden penyair negeri kita tercinta Indonesia ini. Sejak itu saya menjadi (mencoba) suka membaca karya-karya beliau, meski sebenarnya saya semakin tak paham apa maksud puisinya yang berjenis mantra. Sampai suatu ketika saya mendapatkan buku berjudul “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Coulzom Bachri”. Akan tetapi rasa tak paham saya kian menjadi-jadi terhadap puisi yang diusung Tardji, terutama berkredo mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saat bincang buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Coulsom Bachri” karya Nurel Javissyarqi yang diselenggarakan Pelangi Sastra Malang (PSM), bertempat di Kedai Sinau depan pasar buku Jalan Wilis Kota Malang dengan menghadirkan penulisnya dan pembandingnya Wawan Eko Yulianto. Tentu ini sangat menarik bagi saya, yang akan menemukan jawaban dari kegalauan diri saya mengenai puisi Tardji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pun mulai dimoderatori Denny Mizhar. Dia memberikan kesempatan Wawan Eko Yulianto berbicara terlebih dulu. Wawan menyebutkan bahwa penulis kritik tersebut (Nurel), gaya penulisannya -blogger, tak sama dengan esai-esai yang sering ditulis para pengkritik. Itu membuat Wawan merasa sedikit kesulitan memahami yang harus diperbandingkan. Setelah menyebutkan (hanya) meraba-raba maksud dari penulis, Wawan menjelaskan rabaannya tentang gugatan Nurel terhadap Tardji. Salah satunya mengkritik isi esai Tardji; bahwa Tuhan mencipta dari imajinasi-Nya, adalah sebuah kesembronoan Tardji dalam memaknai salah satu pemikiran Ibnu Arabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nurel berkesempatan mempertanggungjawabkan karyanya, kami sebagai audiens merasakan semangat luar biasa dari seorang Nurel. Bagaimana dia mengungkapkan secara detail alasan-alasan dia berani mengkritik Tardji yang sudah presiden itu. Menurut Nurel (di antaranya) SCB menjadi hebat karena ada kekuatan “perkoncoan”. Sehingga terciptalah mitos bagi para pemula dalam sastra terutama puisi, bahwa Tardji benar-benar serupa dewa di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap statement dia keluarkan (SCB), menjadi keharusan bagi pemula untuk mengikutinya, jadi konvensi tak dapat diganggu gugat oleh kaum muda. Padahal jika ditelisik lebih dalam, nampak trik-trik “perdukunannya,” semisal Tardji mengangkat teks Sumpah Pemuda sebagai contoh puisi berhasil, yang tentu menurut Nurel -hanyalah pengalihan demi memantapkan “puisi mantra” yang diusungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi tanya jawab menambah suasana seru. Terungkap bahwa pertanggungjawaban Tardji harus benar-benar dipertanyakan, terutama dalam dua esainya yang menurut salah seorang penanya Hasnan Bachtiar, dia tak sungguh yakin kalau Tardji memahami Ibnu Arabi -terutama Islam, dimana esainya Tardji mengutip ayat, surat Asy-Syu’ara. Menurut Hasnan, terjadi banyak loncatan ontologis dalam esai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membutuhkan waktu amat panjang untuk membongkar gunung yang terlanjur mencadas. Di akhir acara Bincang Buku Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 12 telah usai, Denny Mizhar selaku moderator tak banyak menyimpulkan hasil diskusi. Yang jelas menurut dia masih kurang pantas menyimpulkan sekarang, apakah Nurel telah meruntuhkan mitos Tardji? Karena karya Nurel ini akan beranak-pinak mendewasa, ketika ada yang mengkritiknya secara serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya beranggapan; kita membutuhkan seorang Nurel lebih banyak lagi untuk menjadikan Sastra Indonesia tidak sekedar membuntut. Setidaknya ada yang memiliki keberanian merobohkan tembok samar itu, tentunya dengan karya yang bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang.2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penjual Pulsa dan Anggota Pelangi Sastra Malang.&lt;br /&gt;Sumber: http://www.facebook.com/notes/pelangi-sastra-malang/meruntuhkan-mitos-sutardji/238169576212034&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-4717274102292470661?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/4717274102292470661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=4717274102292470661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4717274102292470661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4717274102292470661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/07/meruntuhkan-mitos-sutardji.html' title='Meruntuhkan Mitos Sutardji'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1525829165079237382</id><published>2011-07-03T09:03:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:14:02.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawan Eko Yulianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Nurel Javissyarqi Gugat!</title><content type='html'>Wawan Eko Yulianto&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperlu apakah kita menggugat Sutardji Calzoum Bachri? Sangat, bagi Nurel Javissyarqi. Kenapa? Sepertinya cukup banyak alasan untuk melakukannya. Apa saja yang perlu digugat? Saya akan coba mendaftar beberapa saja yang berhasil saya tangkap dari buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan Nurel dipicu oleh esai Tardji yang berjudul “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair,” di mana Nurel menemukan paragraf mono-kalimat ini:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Peran penyair menjadi unik, karena–sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya–secara ekstrem boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggunjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.” (89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Nurel pun mulai menggugat panjang lebar. Dalam perjalanan gugatannya, Nurel juga mendudukkan satu esai lagi sebagai biang ketidaksesuaiannya dengan Tardji, yaitu esai “Menulis di atas Mantra.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membicarakan buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, saya ingin meringkas sebentar kedua esai Tardji tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada esai “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair,” Tardji menyatakan bahwa Tuhan menciptakan semesta dari imajinasinya. Pada gilirannya, salah satu ciptaan Tuhan, yaitu penyair, juga menggunakan imajinasinya untuk mencipta. Tuhan dan penyair tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas ciptaannya. Bahkan, penyair, sebagaimana disitir dalam surat Asy-Syu’ara, cenderung tidak melakukan apa yang dia katakan, KECUALI penyair yang beriman, yang “jika ditafsirkan secara duniawi bisa berarti para penyair serius yang selalu melandaskan dirinya pada Kebenaran dalam meningkatkan atau mengembalikan martabat manusia sebagai makhluk termulia di bumi” (90). Yang dilakukan “penyair beriman” inilah yang menjadikan puisi penting, karena selain “meninggikan dan meluhurkan martabat manusia” (fungsi individunya), dia juga “bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan sejarah.” Puisi yang menurut Tardji bisa menjadi contoh puisi semacam itu adalah teks Sumpah Pemuda, yang sebenarnya juga imajinasi (karena waktu itu belum ada nusa, bangsa, dan bahasa Indonesia) yang sarat makna dan menjadi inspirasi “para pembaca dan pendengarnya yang kemudian merealisasikannya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan agar mimpi dalam sumpah pemuda menjadi kenyataan” (92). Kelak, cita-cita Sumpah Pemuda itu menggiring Indonesia pada pemahaman kebangsaan yang bersifat homogen. Adalah perpuisian tahun 70-an yang selanjutnya menunjukkan anak-anak bangsa yang mau merangkul kembali “unsur-unsur daerah yang mereka akrabi.” Bagi Tardji, ini merupakan sumbangan sekaligus koreksi atas Sumpah Pemuda. Tapi, pengangkatan unsur daerah (yang dianggap Tardji sebagai “aspirasi kultural”) ini tidak menunjukkan dampak terhadap kehidupan sosial. Ketika pada tahun 2000-an marak diterapkan otonomi daerah, yang memunculkannya bukanlah aspirasi kultural tadi, tapi “respons terhadap kebutuhan atau tekanan politik” (93). Akhirul esai, Tardji menyayangkan pemerintah kita yang tidak menganggap puisi sebagai aspirasi kultural, tidak seperti John F. Kennedy yang pernah bilang “Jika politik bengkok, puisi yang meluruskan.” Padahal, sekali lagi, menurut Tardji, puisi-puisi yang baik itu mencerminkan “aspirasi hati nurani bangsa.” (93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada esai “Menulis di atas Mantra,” Tardji menyatakan bahwa landasan estetiknya adalah mantra. Tetapi, dia memilah-milih bagian dari landasan tersebut yang harus ditebalkan dan harus dihapus. Dia memandang landasan itu bukan sesuatu yang siap pakai, dan butuh kerja kreatif untuk menggunakannya. Yang dia lakukan itu banyak dilakukan oleh penyair 70-an lain. Mereka kembali ke tradisi alih-alih menjadi “binatang jalang” yang mengagungkan humanisme universal atau menjadi “malin kundang” (96). Menjadi “binatang jalang” dan “malin kundang” merupakan upaya pencarian karakter. Penyair tahun 70-an menemukan tempat nyaman di unsur-unsur yang mereka akrabi, yaitu unsur lokal. Lalu Tardji melompat dan ujug-ujug menyatakan bahwa puisi merupakan buah sekaligus bibit sejarah. Salah satu puisi yang menjadi bibit sejarah adalah teks Sumpah Pemuda (dengan argumen seperti di paragraf di atas). Tardji mengakhiri dengan penyesalannya kenapa para penyair tahun 70-an tidak mendapatkan “ventilasi politik” atas aspirasi mereka. Padahal, kalau berhasil, semestinya otonomi daerah sudah bisa dimulai 30-an tahun yang lalu. Hal itu karena “politik yang berlandaskan kultural memang masih merupakan cita-cita” (99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah singkatnya kedua esai Tardji yang membuat Nurel “menggugat tanggung jawab kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.” Selanjutnya, saya akan COBA mendaftar poin-poin penting dari gugatan Nurel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian pertama buku Menggugat, Nurel berargumen bahwa penyair tak beda dengan profesi lain, dan bila Tardji dalam esai pertama mengatakan bahwa penyair lebih tinggi dari orang berprofesi lain, maka “Hanya perasaan berlebihanlah yang menganggap capaiannya yang lebih agung” (21). Nurel berargumen bahwa syair cenderung jauh dari masyarakat karena “mereka membangun patung-patung mitos sebagai sesembahan. Dielu-elukan sebagai warisan kenabian tanpa memiliki fungsi yang jelas bagi masyarakat, sebagaimana napas kerja lain di belahan bumi kekinian” (23). Nurel juga berargumen bahwa kekeliruan penyair sepanjang jaman adalah karena mereka tergoda “meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat, nilai, dan corak lelaku sedurungnya, sehingga abai pada ikhtiar kehidupan” (23). Dia mengakhiri dengan pandangan bahwa surat Asy-Syu’ara adalah hardikan kepada para penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian kedua, Nurel mengkritik Tardji yang menyatakan dalam esai pertama bahwa Tuhan mencipta dari imajinasiNya. Nurel memandang ini sebagai kesembronoan Tardji dalam memahami salah satu pemikiran Ibnu Arabi (1165-1240). Padahal, yang sebenarnya: jagad raya adalah hasil Tuhan bertajalli atau beremanasi atau memancarkan cahayanya. Nurel pun menyuruh Tardji membaca Asy-Syu’ara dengan lebih serius. Kenapa? Karena, menurut Nurel, “Dalam pandangan Tardji, penyair seolah-olah tugasnya berleha-leha, mengigau kata-kata indah yang memabukkan, seakan-akan kesurupan Tuhannya, sebentuk umpatannya (tuduhannya) Fir’aun dan orang-orang celaka kepada para utusan Allah, di kala kalah di dalam perdebatan” (34). Jadi, kesalahan Tardji adalah pada penggunaan kata “imajinasi” yang bagi Nurel berasosiasi negatif, atau terlalu ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ketiga, Nurel berargumen bahwa Tardji yang beraliran mantra itu posisinya cenderung tak tersentuh, dan “belum ada yang mengupas konsepnya lebih dalam (dari dalam), yakni watak ‘perdukunan’ intelektualnya, mantranya, dari akar-akar lokalitas, sehingga mewujud karya-karyanya” (35). Nurel mencurigai Tardji sebagai penyair yang berfaham, sekali lagi, “secara ekstrem boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.” Padahal, bagi Nurel, semestinya mantra sangat “sarat makna, karena dari maknanyalah, daya aura menembus segala yang dikehendaki menuju batas-batas takaran dan terketahui” (36). Bagi Nurel, ini merupakan ketidaktepatan, dan semestnya Tardji mau merevisinya, bukannya “tiadalah perlu memusingkan perevisian pandang [karena] di sanalah dianggapnya tugas dari para kritikus” (37). Kemudian Nurel menarasikan dengan puitis kisah mulai diturunkannya waktu ke jagad raya hingga bagaimana kelak muncul yang namanya mantra dan jimat. Nurel mengakhiri dengan mempertanyakan apakah mantra Tardji “benar-benar karya pemilik rohaniah sekelas mantra” (44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian keempat, Nurel membahas esai Mochtar Lubis yang berbicara tentang kecenderungan bangsa Indonesia yang mudah terpukau oleh mantra, jimat, lambang, yang dalam manifestasi mutakhirnya bisa berbentuk slogan-slogan Sukarno–btw, Pancasila juga termasuk dalam kelas ini. Separuh jalan bagian empat ini, Nurel berargumen bahwa Tuhan sebenarnya bertanggung jawab, tidak seperti yang tertulis dalam esai pertama Tardji. Sekali lagi, dalam bagian ini, Nurel mempertanyakan kemujaraban mantra Tardji. Nurel membayangkan bahwa jika saja Tardji mempertunjukkan puisinya, “sungguh kentara puisi-puisi Tardji sekadar muslihat kata, tipu daya bahasa tak mengandung unsur dinaya mantra” (52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian kelima, Nurel mengawali dengan adanya mantra-mantra tertentu dalam bahasa Jawa yang memutar balikkan ayat Al-Qur’an, sehingga menghasilkan “pamor terbalik,” sebagaimana dipraktekkan para dukun penghamba jin. Dia juga menghardik, jangan-jangan Tardji yang ingin “membebaskan kata [dengan niat awal] mengeramatkan bahasa Indonesia lewat mantra” itu malah berdampak negatif? “Apakah kredonya tak menjerumuskan umat ke jurang jahiliah, kreativitas pembodohan?.” Di sini kemudian Nurel menguraikan tiga kelompok dalam ilmu kebatinan, yaitu 1) para nabi, rasul, wali, dan orang-orang diberkati, 2) syaman, dan 3) ilmu hitam (termasuk di dalamnya “mantra mengundang roh gentayangan, arwah nenek moyang berwatak buruk, dll”). Selanjutnya, saya tidak berhasil menangkap maksud dari bagian kelima ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian keenam, Nurel mengurai tulisan Taufik Ikram Jamil tentang Tardji, yang menurut Nurel “membelejeti” Tardji meskipun disampaikan dalam bahasa yang seperti memuji. Hal ini berbeda dengan para kritikus yang cenderung meneruskan puja-puji kepada Tardji dan melupakan landasan awal penciptaan Tardji, niat Tardji dalam berpuisi. Tentu, ini berbeda dengan Taufik, yang mengenal Tardji secara personal, sehingga bisa mengkritiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ketujuh, Nurel membahas tentang pernyataan sikap Tardji dalam pengantar buku Tardji Isyarat: Kumpulan Esai. Dalam pengantar ini, Tardji membela sajak-sajaknya karena para kritikus tidak dapat mengapresiasi sajak-sajaknya dengan kadar yang semestinya. Pembelaan Tardji tersebut adalah dengan cara menjelaskan pandangan-pandangan kepenyairannya dalam tulisan-tulisan seperti yang terkumpul dalam buku isyarat tersebut. Itulah bukti tanggung jawab penyair terhadap karyanya. Bagi Nurel, itu “bukan tanggung jawab, melainkan [indikasi/bukti bahwa] karyanya memang bobrok, sehingga butuh alat pengantar si empunya” (72). Sikap Tardji membela karya-karyanya itu mengindikasikan bahwa “batinnya belum ikhlas melepas” (72) atau “belum diuji” (73) atau konsep si penyair belum matang (75). Nurel mengkritik kegusaran Tardji karena para pandangan para kritikus tidak sesuai dengan pandangannya pada awal penciptaan, padahal “tidakkah penilaian orang lain cenderung mengisi?” (76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kira-kira poin-poin penting dari buku Menggugat yang berhasil saya tangkap. Sekarang waktunya saya menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada Nurel dan siapa saja yang berkesempatan membaca buku Nurel ini, dan memberi perhatian yang sepantasnya kepada kedua esai Tardji yang dibahas di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, apakah benar Tardji berpandangan bahwa “penyair tidak bisa dimintakan pertanggunjawaban atas ciptaannya, atas puisinya”? Kata-kata tersebut memang dapat ditemukan dalam esai Tardji yang dibidik Nurel. Tapi sepertinya kita perlu urai lagi esai tersebut. Paragraf tersebut muncul sebelum Tardji mendedah bagaimana Al-Qur’an memandang para penyair sebagai kelompok orang yang “cenderung tergoda untuk bisa bebas tidak mempedulikan pertanggungjawaban terhadap karya-karyanya” (90). Tapi tepat setelah pembahasan terhadap kecenderungan penyair tersebut, Tardji juga menyatakan bahwa Tuhan memperingatkan penyair tentang kecenderungannya yang bisa dibilang negatif tersebut. Nah, bukankah ini berarti Tardji tahu bahwa sebenarnya tidak demikian sikap penyair yang beriman atau yang serius itu? Lagipula, di bagian selanjutnya esai tersebut Tardji membahas tentang “puisi” yang baik, yang menjadi bibit sejarah, yang mempersatukan Indonesia ke dalam satu nusa, bangsa, bahasa: Sumpah Pemuda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan itu, terjawab sudah bahwa sebenarnya Tardji tidak mendukung penyair kebanyakan sebagaimana dihardik dalam surat Asy-Syu’ara. Jadi, tidakkah kini saatnya Nurel membaca lagi pembacaan Tardji atas surat Asy-Syua’ra ini? Dan tentu dia kini perlu membaca tulisannya terkait gugatannya terhadap pembacaan Tardji atas ketiga ayat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bagaimanakah sikap Tardji terhadap mantra? Nurel berulang kali mempertanyakan keampuhan mantra Tardji. Dan sebenarnya saya juga pernah mendengar penyair lain mempertanyakan ini. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa dari kredo Tardji yang berjumlah kata 306 (termasuk nama dan tanggalnya) itu para penyuka puisi Indonesia begitu terpukau oleh kata “mantra” yang hanya muncul dua kali itu? Padahal kata “kata” muncul 23 kali (10 kali lipat dari kata “mantra”). Eh, kok jadi itung-itungan? Saya ingin mencoba memahami kalimat-kalimat penutup dalam kredo tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kata pertama adalah mantra. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Tardji tidak ingin menjadikan kata-kata (dalam puisinya!) sebagai pengusung makna. Dia ingin membebaskannya dari beban itu. Dia mengembalikan kata kepada kata pertama, yaitu “Kata.” Di sini, bisa ada dua versi. Dalam versi Injil, setahu saya yang dimaksud kata ini adalah “Yesus.” Dalam Yohannes 1:1, tertulis “In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God” Tapi kalau buat orang Islam, sepertinya yang dimaksud kata di sini adalah “Kun.” Apa maksud Tardji mengembalikan kata kepada “Kun”? Mungkin Tardji mengacu pada fungsi “Kun” itu sendiri. Jadi, dalam puisinya Tardji menggunakan kata untuk menjadi kata itu sendiri, bukan untuk membawa pesan lain (seperti misalnya kata “laptop” membawa pesan sebuah komputer tipis yang bisa dijinjing dan dipangku). Dan saya beranggapan bahwa Tardji menganggap “Kun” itu sebagai mantra Tuhan. Mantra apa? Apakah mantra yang mempunyai kemujaraban supra natural?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan barusan sepertinya dapat dijawab dengan melihat pembahasan Tardji atas sikapnya menulis di atas mantra. Dia menyebutkan dalam esai itu bahwa “kadang mantra itu malah tertutup, terhapus, atau terlupakan karena tulisan [Tardji] yang berada di atasnya” karena menurut Tardji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“salah satu peran menulis ialah upaya untuk menutup atau melupa, yakni melupakan nilai-nilai atau ihwal yang tak lagi relevan untuk masa-masa kini atau masa depan, dengan demikian lebih terfokuskan (tambahan makna) pada bagian-bagian atau nilai-nilai yang masih bermakna untuk masa kini ataupun untuk masa mendatang.” (95)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, terlihatlah di sini bahwa bisa jadi kemujaraban mantra itu merupakan satu dari sekian hal yang ingin Tardji lupakan karena tidak lagi relevan dengan konteks zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, bisa jadi Tardji, sebagaimana telah dituduhkan banyak orang, telah berubah. Mantra yang Tardji bahas dalam kredonya bisa jadi bukan lagi mantra yang dia bahas dalam esai-esai terkininya. Apalagi, dalam kedua esai yang digugat Nurel ini mengisyaratkan bahwa yang menjadi sumpah pemuda itu serupa mantra adalah karena memiliki “irama dan pengulangan kata-kata” (91), bukan kemujarabannya. Jika perkiraan yang terakhir ini memang berpotensi benar, maka saya menyarankan kepada Nurel agar membandingkan dulu pandangan Tardji yang dulu dengan yang sekarang tentang mantra. Dengan begitu, mungkin telaah Nurel jadi lebih terfokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong soal fokus, sepertinya pembahasan tentang mantra dan kemujarabannya yang cukup merajalela dalam buku ini malah mengurangi fokus gugatan Nurel. Atau, jika memang ingin terus menyertakan mantra dalam pasal-pasal gugatan kepada Tardji, mungkin Nurel harus bersedia menyampaikan gugatan-gugatannya dengan cara yang koheren dan lebih tertata, sehingga pembahasan tentang mantra itu bisa benar-benar mendukung gugatan atas tanggung jawab kepenyairan Tardji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu sudah habis, maka sementara begini dulu pembacaan saya atas gugatan Nurel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://berbagi-mimpi.info/2011/07/03/nurel-javissyarqi-gugat/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1525829165079237382?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1525829165079237382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1525829165079237382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1525829165079237382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1525829165079237382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/07/nurel-javissyarqi-gugat.html' title='Nurel Javissyarqi Gugat!'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8283324575389257132</id><published>2011-06-17T00:08:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:11:04.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahmud Jauhari Ali'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab</title><content type='html'>&lt;b&gt;(Tanggapan atas buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang terbayang di benak Anda ketika membaca judul saya di atas? Wujud bahasakah? Dukun yang sedang membaca mantra? Seorang lelaki yang sedang menunaikan tanggung jawabnya? Atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, di sebuah ruang belajar, saya pernah menyimak sebuah pertanyaan singkat, “Apakah bahasa itu?” Mungkin Anda juga pernah mendengarnya. Mungkin juga tidak. Mengenai pertanyaan tersebut, banyak orang menjawabnya dengan kalimat sederhana, “Bahasa ialah alat komunikasi.” Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah bahasa itu memang alat komunikasi?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita masuk ke wilayah yang lebih jauh menyangkut hakikat bahasa, dan juga menanggapi buku karangan Nurel Javissyarqi yang judulnya saya tuliskan di atas itu, saya katakan terlebih dahulu, bahwa saya bukanlah seorang linguis atau pun sastrawan hebat. Dalam hal ini saya hanyalah seorang penulis yang ingin menuliskan apa yang saya ketahui saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kembali ke pertanyaan apakah bahasa, sekilas tidak salah jika bahasa diartikan sebagai alat komunikasi. Mengapa? Sebab, fungsi utama bahasa memanglah sebagai alat penyampai pesan dari pembicara kepada penyimak, atau dari penulis kepada pembaca. Namun, apakah argumen itu sudah kuat dalam kajian yang mendalam untuk menjadi landasan dalam pendefinisian bahasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin semuanya akan sepakat bahwa fungsi utama bahasa ialah sebagai alat komunikasi. Akan tetapi, fungsi tidaklah sama dengan batasan atau definisi, bukan? Jadi, jika ditanya apa salah satu fungsi bahasa, jawabannya yang benar ialah alat komunikasi. Dengan demikian, “alat komunikasi” bukanlah definisi bahasa, melainkan salah satu fungsi bahasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sebenarnya pertanyaan apakah bahasa ini menyangkut hakikat bahasa itu sendiri. Ketika kita mendengar kata “bahasa”, yang muncul di dalam otak kita ialah “kata”, “frasa”, “klausa”, “kalimat”, dan seterusnya. Kata dan lainnya itulah bahasa di tiap-tiap tatarannya. Secara mudah, baik kata maupun yang lainnya itu sebenarnya ialah lambang bunyi. Dan, lambang bunyi tersebut merupakan wadah makna yang menghubungkan antara lambang seperti kata dengan rujukannya. Misalnya, kata mata merupakan wadah makna yang berbunyi ‘indra di tubuh makhluk hidup untuk melihat’. Makna ini menghubungkan kata mata dengan rujukannya berupa benda bulat yang melekat di bagian wajah tubuh makhluk hidup untuk melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika kita mendengarkan orang mengucapkan, “Selamat pagi!”, berarti kita mendengarkan orang mengucapkan bahasa. Atau, saat ada seorang anak kecil mengucapkan kata “Enak.”, dia telah mengucapkan bahasa, yakni bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati dengan saksama,“Selamat pagi!” dan “Enak.”, semuanya memiliki aturan atau bersistem. Perhatikan saja, “Selamat pagi!” tidak diucapkan dengan pagi selamat dan “Enak.” tidak diucapkan kane, anek, neak, atau kena. Ini membuktikan bahwa bahasa itu bersistem dan sistem itu berlaku secara konvensional oleh suatu kelompok manusia atau masyarakat bahasa. Sebut saja salah satu kelompok manusia yang saya maksud itu ialah warga Indonesia. Saya, Anda, dan lainnya termasuk di dalam kelompok manusia itu yang sepakat secara konvensional atas bahasa Indonesia, baik kata dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kiranya sudah dapat kita tangkap apakah bahasa yang sejatinya merupakan hakikat bahasa itu sendiri, yakni sistem lambang bunyi yang arbitrer (mana suka) dan secara konvensional digunakan untuk kepentingan manusia, seperti berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun bangsa dalam suatu masyarakat bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan masyarakat bahasa ini, dikenal istilah kreativitas linguistik. Contoh nyata dari kreativitas itu ialah, huruf-huruf latin yang jumlahnya tak sampai seratus buah, bisa dibuat kata, kalimat, paragraf, dan lainnya yang tak terhingga jumlahnya. Buku-buku berhuruf latin yang jumlahnya sangat banyak di dunia ini pun, sejatinya juga dibentuk dari huruf-huruf dengan jumlah yang tak terlalu banyak itu. Bayangkan saja, seorang penyair memanfaatkan huruf latin untuk dibentuk menjadi kata, larik, bait, hingga menjadi banyak puisi yang terhimpun dalam buku antologi puisi. Begitupun nenek moyang kita dulu, dari huruf-huruf, mereka membuat banyak mantra. Ya, mantra yang memiliki makna dan maksud untuk ditujukan kepada roh dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya agar bisa membuat karya semacam puisi mutahkhir atau pun mantra, dibutuhkan kompetensi bahasa termasuk mengerti makna dari kata yang digunakan pembuatnya untuk menghasilkan karya bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menghubungkan perihal bahasa di atas itu dengan buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri karangan Nurel Javissyarqi (terbitan Pustaka Pujangga, Mei, 2011), menurut saya sangat menarik. Sejauh mana kemenarikan itu? Silakan ikuti bahasan saya berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kata-Kata harus Bebas dari Pengertian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan SCB, Nurel Javissyarqi terkesan langsung menghubungkannya dengan mantra. Hal ini sesuai dengan SCB dalam kata-katanya yang ingin mengembalikan kata kepada mantra. Menurut SCB, mantra tak bermakna sebagai bagian dari pemikiranya untuk melepaskan kata dari pengertian. Dan, pada buku itu terlihat jelas Nurel menolak penyataan SCB bahwa kata harus bebas dari pengertian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel beropini bahwa mantra itu sendiri mengandung makna agung untuk ditujukan kepada roh dan lainnya. Dengan kata lain, mantra tanpa makna tidak akan mujarab. Lalu apakah persoalannya sekarang sudah tuntas sampai di situ? Ternyata tidak. Sebab, muncul pertanyaan baru, apakah benar mantra tanpa makna seperti kata SCB? Ataukah memang memiliki makna seperti yang dikatakan Nurel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab dua pertanyaan pilihan itu tentu kita selayaknya kembali kepada apa sebenarnya hakikat bahasa. Kata, sesuai dengan ilmu linguistik yang saya paparkan di atas, merupakan wadah makna. Tentunya, makna, maksud, dan pengertian tidak bisa dilepaskan dari kata itu sendiri. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, kata tanpa makna, maksud, atau pengetian, menjadikan kata itu kosong. Serupa dengan kaleng bekas wadah kue kering yang sudah habis kita makan. Misalnya kata pintu, jika dilepaskan dari maknanya, kata itu tidak akan berfungsi apa-apa. Itu sama saja dengan wujud-wujud seperti lopi, meka, juha, dan lainnya yang tanpa makna dan tanpa fungsi apa-apa. Coba renungkan, apakah lopi, meka, juha bisa kita gunakan untuk meyampaikan pesan? Tidak bukan? Sebaliknya, jika makna, maksud, atau pengertian yang dilepaskan dari kata, semuanya itu akan kehilangan wadahnya. Dan, ujung-ujungnya akan dicari wadah atau kata lain untuk mewadahi makna yang dilepaskan dari kata awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadah makna itu sangat penting sebagai penamaan dalam komunikasi. Sebagai gambaran singkat, dulu orang belum bisa membuat komputer sehingga orang-orang tidak mengenal kata computer. Kemudian dengan kegigihan orang, terciptalah benda baru yang bisa digunakan untuk mengetik, mendesain gambar dan sebagainya. Untuk mewadahi atau menamai ciptaan baru manusia itu, dicarilah dan dipilihlah secara artbirter (mana suka) dengan nama computer. Pertanyaannya, apa jadinya jika kata dan makna dipisahkan satu sama lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selain kata, sebenarnya sesuatu di luar lingual atau nonverbal pun memiliki makna. Tidak percaya? Perhatikan ilustrasi berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Fajar membujuk Hena makan di warung sederhana di ujung kampus. Fajar sudah berusaha keras membuat pacarnya yang super elit itu mau mengikuti kehendaknya. Tapi sayang, Hena diam saja. Beberapa waktu Hena masih diam dan tak lama kemudian Fajar menyerah. Ya, dia berhenti membujuk pacar kesayangannya yang cantik itu. Mereka pun akhirnya makan siang seperti biasanya di rumah makan yang mewah dengan harga selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ilustrasi itu kita bisa mengetahui makna dari diamnya Hena, yakni ‘tidak mau makan di warung makan sederhana di ujung kampus mereka’. Dengan diam itu, Fajar menyerah dalam bujuk rayunya. Diam termasuk nonverbal, tapi memiliki makna. Apalagi dengan bahasa verbal? Tentu memiliki makna, bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta emperis dan pembahasan di atas, jelaslah bahwa kata tidak bisa dilepaskan dari makna, maksud, dan pengertian. Dengan kata lain, kata yang merupakan lambang selalu akan menjadi wadah dari makna, maksud, dan pengertian yang menghubungkan dengan rujukannya, baik benda maupun konsep. Jika demikian, kata-kata dalam mantra pun sebenarnya memiliki makna. Perhatikanlah mantra berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Arab dan Banjar …………………….Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismilahirrahmanirahim……………Dengan nama Allah Tuhan&lt;br /&gt;…………………………………………….Yang Maha Pengasih&lt;br /&gt;…………………………………………….lagi Maha Penyayang&lt;br /&gt;Kecuali pandira ini bagarak………Kecuali bendera ini bergerak&lt;br /&gt;Maka maling kawa bagarak………Maka pencuri bisa bergerak&lt;br /&gt;Barakat La ilahaillah………………..Berkat tiada Tuhan malainkan Allah&lt;br /&gt;Muhammadarasulullah……………..Muhammad adalah utusan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satu kata pun yang tak bermakna dalam mantra di atas bukan? Dan, pembuatnya mampu membuat mantra itu dengan ditunjang kompetensi bahasanya termasuk dalam hal makna dari kata-kata yang digunakannya itu. Kalau pun ada kata-kata yang hanya bunyi saja di dalam mantra, itu mengandung maksud tertentu yang dimengerti oleh si pembuatnya untuk ditujukan kepada roh dan lainnya. Dan, pembuat mantra harus memiliki komptensi bahasa dulu baru bisa membuat mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, antara kata dan makna tidak bisa dilepaskan. Dan, makna itu sangatlah penting. Karena itulah, ada ilmu semantik yang membahas soal makna dan wadahnya. Untuk kata-kata yang terkesan hanya bunyi tanpa makna dalam mantra, dikaji khusus dalam semantik maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kata Pertama adalah Mantra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian terdahulu dari tulisan ini sudah saya katakan bahwa dalam masyarakat bahasa ada istilah kreativitas linguistik. Seorang penyair misalnya, memanfaatkan huruf latin untuk dibentuk menjadi kata, larik, bait, hingga menjadi banyak puisi. Begitupun nenek moyang kita dulu, dari huruf-huruf, mereka membuat banyak mantra. Tentunya agar bisa membuat karya semacam puisi mutakhir atau pun mantra, dibutuhkan kompetensi bahasa termasuk mengerti makna dari kata yang dia gunakan untuk membuat karya bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, nenek moyang kita membuat mantra dengan berdasarkan kompetensi bahasa. Di sini jelas, sebelum membuat mantra, nenek moyang kita sudah mengenal kata dan mengetahui maknanya. Bisa dikatakan, sebelum mantra diciptakan, terlebih dahulu harus ada kata dengan kandungan maknanya. Atau dengan kata lain, kata dan makna lebih dahulu ada sebelum adanya mantra. Dengan demikian, tentunya tidak mungkin yang belakangan diciptakan—mantra—menjadi awal dari yang sebelumnya telah ada (kata dan makna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah inilah yang dipersoalkan oleh Nurel dalam bukunya yang berkover warna dominan merah itu. Secara terang-terangan, Nurel menolak pernyataan SCB bahwa kata pertama ialah mantra. Saya pun secara objektif tidak sependapat dengan pernyataan SCB tersebut. Mengapa? Karena, sudah jelas bahwa mantra itu diciptakan setelah ada kata. Jadi, kata pertama bukanlah mantra. Kalau benar penyataan SCB itu bahwa kata pertama ialah mantra, lalu misalnya di dunia ini kata yang pertama ialah makan, apakah kata makan itu mantra? Tentunya kata makan bukanlah mantra. Melainkan, kata makan bisa menjadi kata untuk membuat mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyair Tidak Bisa Dimintai Pertanggungjawabannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah penyair itu?&lt;br /&gt;Apakah dia wali Tuhan di bumi? Rasul yang membawa wahyu? Atau Tuhan itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa penyair disebut juga sastrawan. Nah, kata sastrawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan lema yang tergolong nomina dengan beberapa makna di dalamnya. Makna-makna itu adalah ’ahli sastra’, ’pujangga’, ’pengarang prosa dan puisi’, ’(orang) pandai-pandai’, dan ’cerdik cendekia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan itu secara umum memasukkan penyair ke dalam golongan sastrawan. Dan, setinggi apapun penyair hingga dia dimasukkan dalam kaum sastrawan, tidak serta merta membuatnya bebas dari tanggung jawab. Penyair tetaplah manusia. Dia tak bisa menjelma malaikat atau lainnya. Semua manusia, termasuk penyair akan mempertanggungjawabkan segala amalnya. Jika salah, dia dihukum dan jika benar dia akan mendapatkan ganjaran yang baik. Jangankan kata dalam bentuk puisi tertulis atau diujarkan di atas panggung, bisikan hati penyair yang belum menjelma kata-kata dan perbuatan lainnya pun dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran manusia saja, perkataan siapa pun selalu menimbulkan efek. Bisa negatif, bisa pula perkataan kita berdampak positif bagi orang lain. Jika berdampak negatif, bukan hanya di akhirat kita mempertanggungjawabkannya, tetapi di dunia kita juga harus mempertanggungjawabkan perkataan itu. Bahkan, bisa jadi pertanggung jawabannya dengan kehilangan nyawa atau kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan dunia puisi, SCB menyatakan penyair tidak bisa dimintai pertanggungjawabannya. Dan, pernyataannya itu ditolak oleh Nurel Javvisyarqi. Menurut Nurel, penyair tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Saya pun secara objektif dan sesuai penjelasan di atas itu, menolak pernyataan SCB tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan efek, pernyataan SCB itu dapat menimbulkan kebebasan tingkat tinggi. Bayangkan saja, jika penyair tidak dimintai pertanggungjawabannya, tentu penyair akan sesukanya menggunakan kata. Kata-kata yang tak patut dikatakan semisal yang porno, kotor, dan lainnya pun akan menjadi halal dikatakan oleh penyair. Sebab, penyair tidak mempertanggungjawabkan kata-katanya. Ini kekebasan yang sangat tidak diharapkan. Apabila hal ini dikaitkan dengan Licentia peotica dalam sastra pun, kurang sejalan. Licentia poetica pun yang ideal memiliki batasan agar tidak melampaui batas kewajaran, termasuk memperhatikan aspek tanggung jawab dalam berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang baik, selayaknya memperhatikan setiap kata yang digunakannya untuk membuat puisi sebelum dipublikasikan ke tengah masyarakat. Ini penting untuk menghindarkan tafsiran-tafsiran yang tidak diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketiga hal di atas itulah yang menurut saya merupakan inti dari buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri karangan Nurel Javissyarqi, sang pengelana dari bencah Tanah Jawa itu. Dan, hanya inilah secuil tulisan yang dapat saya sampaikan. Sejatinya kebenaran hanya milik Tuhan dan jika ada yang tak sejalan dengan pemikiran saya di atas, itu hal wajar. Salam takzim dari saya di Tanah Borneo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimantan Selatan, 8 Juni 2011&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://tulisanbaru-mahmud.blogspot.com/2011/06/hakikat-bahasa-mantra-dan-tanggung.html"&gt;http://tulisanbaru-mahmud.blogspot.com/2011/06/hakikat-bahasa-mantra-dan-tanggung.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://pustakapujangga.com/2011/10/the-truth-of-language-mantra-and-responsibility/"&gt;http://pustakapujangga.com/2011/10/the-truth-of-language-mantra-and-responsibility/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8283324575389257132?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8283324575389257132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8283324575389257132' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8283324575389257132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8283324575389257132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/hakikat-bahasa-mantra-dan-tanggung.html' title='Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-21780584697882286</id><published>2011-06-17T00:00:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:07:36.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad Rain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>PAKAIAN BAHASA</title><content type='html'>Muhammad Rain&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara banyaknya pengguna kata dalam dunia sastra puisi, pakaian kata tentu berganti-ganti dipakai oleh penyairnya. Tuntutan adanya variasi akibat keseringan menggunakan kata yang sama disokong oleh pengaruh yang ingin menjembatani penulis puisi (penyair kata-kata) agar bahasa yang diramunya dapat terus terasa segar saat dibaca. Harapan puisi dapat mengalir seiring berkembangnya mode kata-kata selalu ada di setiap even penulisan. Dekade setelah reformasi, lemari kata-kata makin ramai dipenuhi oleh rujukan modernitas pengucapan. Bahasa (kata) yang biasa disusun ulang itu selanjutnya mempertemukan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan baru, pola susunan putar-balik, transendent dan revision dari kedua sisi yang melingkupinya, baik secara ejaan maupun semantiknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konsep kata pada dasarnya berunsur konvensional. Penyair tidak menulis untuk kalangan biasa, selanjutnya pakaian umum kata ini (kata bermakna lugas) dibordir, digosok dalam lajurnya yang baru, ditambah personil asesorisnya guna mempertinggi nilai abstraksi hasil penafsiran prismatis yang kelak dikehendaki penulis jika puisinya diapresiasi secara maksimal kelak, baik oleh pembaca umum apalagi kritikus yang eseis pula. Marilah kita cermati beberapa tanda pengubahan pakaian kata yang berusaha dikreasikan oleh penulis-penulis puisi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Puisi: aku, setan, dan tuhan&lt;br /&gt;Judul Antologi: Putri Berkicau&lt;br /&gt;Karya: Putri Sarinande&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Kemucen&lt;br /&gt;Tahun Terbit/Hlmn: 2010 : 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibuku pernah bilang bapaku sudah mati&lt;br /&gt;ibuku juga bilang bapaku itu setan&lt;br /&gt;padahal bapaku sedang main judi&lt;br /&gt;padahal bapaku hanya dikelilingi perempuan dan minuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapaku pernah bilang ibuku adalah setan&lt;br /&gt;bapaku juga bilang bahwa ibuku jalang&lt;br /&gt;padahal ibuku hanya seorang perempuan&lt;br /&gt;padahal ibuku hatinya sedang meradang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibuku menangisi aku yang mati&lt;br /&gt;bapaku menangisi aku yang mati&lt;br /&gt;semua menangisi aku yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ada satu yang menertawai aku yang mati&lt;br /&gt;apakah dia setan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan, dia bukan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu siapa jika dia bukan setan.&lt;br /&gt;dia adalah tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati puisi beraroma posmo di atas, pembaca sudah meyakini bahwa ini dunianya puisi, bukan dunia sehari-hari yang biasa manusia jalani. Pakaian kata yang dipakai di puisi ini murni telanjang dan nyaris tanpa berandai-andai, alias terbuka, langsung pada pokok persoalan. Sindiran juga gugatan tentang tuhan disampaikan secara keras oleh pengguna pakaian bahasa puisi di atas. Tuhan dianggap setan. Terlepas unsur ekstrinsik di atas, si penulis puisi bukan lagi murtat sebenarnya dalam menyampaikan tema gugatannya ini, namun ia ingin kita yang membaca paham, seperti apakah keyakinan bertuhan yang kita miliki, pakaian dalam berketuhanan yang bagaimana idealnya bagi seseorang yang mengaku beragama? Apakah kita sudah bertuhan dan beribadah juga percaya teguh terhadap takdir dari tuhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan puisi berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Puisi: Arah Kiblat&lt;br /&gt;Karya: Faradina Izdhihary&lt;br /&gt;Penerbit: Nurul Haqqy Publishing&lt;br /&gt;Tahun Terbit/Hlmn: 2010 : 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan menjelma dalam sarang burung,&lt;br /&gt;mengerami telur-telur,&lt;br /&gt;menghangatkan kasih ibu dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nafsuku bergelut pada bibir yang saling kecup,&lt;br /&gt;pada tangan yang saling mendekap,&lt;br /&gt;pada birahi yang tak bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan dan nafsuku adalah satu, berkejaran dalam darah.&lt;br /&gt;memuncak gairah: ketika ajal merekah&lt;br /&gt;seperti gunting yang memotong tali, pada busur-busur mimpi&lt;br /&gt;yang melejit tanpa kendali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada tuhan sungguh aku bernafsu,&lt;br /&gt;pada nafsu aku bertuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke mana menemu arah kiblat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar tidak sadar, penulis puisi kedua ini sedang menawarkan alamat kiblat bagi kita, yang bagi orang muslim kiblat dianggap sebagai arah menghadap dalam beribadah (salat, wudhu, mandi junub bahkan menyembelih hewan dsb.) Kiblat yang dikehendakinya di sini mengarah kepada fungsinya secara visioner yang berarti arah pencarian dirinya sebagai makhluk berkeinginan memenuhi nafsunya. Penulis mempertanyakan pakaian kata sebagai eksistensi yang bagaimana sebenarnya dalam mencari tuhan? Berbeda cara pandang oleh yang ditampilkan penyair satu “aku, setan, dan tuhan” yang lebih mengambil jahitan kata-kata untuk membentuk pakaian pemahaman menjahit pakaian kebertuhanannya secara original, murni mode sendiri, desain sendiri. Meskipun pembicaraan kedua tema puisi tersebut masih soal ketuhanan, masih berwujud ketauhidan, kepercayaan yang menjadi akar sikap manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua penyair di atas dengan terang sedang memutar benang pencarian pakaian kata mereka, yang satu memakai benang nilon tebal dan jarumnyapun tergolong besar, yang satu dengan jemari lentik kata perlahan menjahit menggunakan jarum berukuran lebih kecil dan cenderung sentimentil meski ditutup juga dengan keterbukaan sebuah jahitan yang belum kelar. Tentu jika pembaca ingin melihat pakaian mereka kedua ini, model-modelnya bagaimana saja dalam selemari yang terkumpul harus membaca sendiri dan dengan bebas menafsirkan seperti apakah sesungguhnya pakaian bahasa (kata) yang mereka pakai dalam buku antologi puisi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita cermati dua penyair lagi berikut ini dengan pakaian yang lebih halus kainnya bagai sutra, dengan benang jahit yang lebih limit dalam menawarkan bidang-bidang modenya sesuai selera penyairnya dalam menciptakan pembalut badan puisi sebagai bahan pokok alias bakal yang terkesan kontras dengan dua puisi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Tiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Puisi: Tahajud Ilalang&lt;br /&gt;Judul Antologi: Sajak Emas 200 Puisi Sexy&lt;br /&gt;Karya: Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;Penerbit: Kosa Kata Kita&lt;br /&gt;Tahun Terbit/Hlmn: 2010 : 44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap pagi dan petang, ilalang bergoyang&lt;br /&gt;inna shalati wa nusuki…&lt;br /&gt;rakaat demi rekaat merayap&lt;br /&gt;di dinding rumah:&lt;br /&gt;alifku rebah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siang merajut sujud&lt;br /&gt;malam merenda kalam&lt;br /&gt;iqra bismirobikaladzi…&lt;br /&gt;setiap saat kubacabaca 99 nama:&lt;br /&gt;jemariku letih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilalang di belakang rumah&lt;br /&gt;tak lelah&lt;br /&gt;ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Empat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Puisi: Diruapi Malam Harum, VI:I-ILXXVII&lt;br /&gt;Judul Antologi: Kitab Para Malaikat&lt;br /&gt;Karya: Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Pujangga&lt;br /&gt;Tahun Terbit/Hlmn: 2007 : 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh yang diberkati menyatukan jiwa sedenyut kasih sekapas lembut bertiup&lt;br /&gt;melepaskan ada-tiada dalam ruangan sesama, seturut kehendak melati (VI:XXIX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dekati dadamu atau kau pada gemuruh jiwanya, rasakan keterbangunan&lt;br /&gt;beling dingin ratapan, dan khusyuk sayap-sayapmu menjemput niatan (VI: XXX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu-bulu bebas meninggalkan kekang mengikuti panggilan gemawan,&lt;br /&gt;merindu-rindu cahaya pembuka di jemari tangan-tangan dedoa (VI: XXXI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir berdemaman didekapnya kesembuhkan, masukilah sumsum iman,&lt;br /&gt;lantas kembalikan cinta dari kubangan rindu, kubur kenangan ajal (VI: XXXIX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi pakaian penyair tiga meski masih berbahan sutera namun jahitannya tetap berbeda dibandingkan pakaian bahasa (kata) yang dipakai penyair empat. Penyair tiga dengan rutinnya memperhatikan jahitan pakaian kebertuhanannya lewat 99 jahitan tersebut, saban hari, saban waktu sampai lelah jemarinya meletih. Mengambil simbol ilalang yang beribadat di belakang rumah dengan perbandingan taatnya si “aku” lirik dalam beribadah pula, menyebut nama (asma) tuhannya. Sebagai insan kamil, makhluk yang seharusnya memimpin dunia, penyair tiga menyampaikan poin kritiknya bahwa manusia harus berpakaian syukur, syukur sebab ia dicipta lebih sempurna maka sebab itu tak pantas melupakan ibadahnya pada khalik. Ilalang sujud, manusia yang memiliki perangai tak rutin sujud, tak yakini lagi arti penciptaannya. Keindahan pakaian sindiran penyair tiga dengan lembut berupaya mencapai kesadaran mata, hati dan kelembutan peribadatan yang wajib dimiliki setiap umat manusia yang mengaku bertuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair empat menggunakan metode pakaian bahasa justru berbeda dari kebanyakan penulis puisi lain. Seolah tidak sedang berpuisi jika kita lihat dari ketiadaannya bait dan larik. Kalimat-kalimat meluncur sebagaimana seorang petasbih yang berzikir dalam mabuknya doa dan kata-kata, barangkali penyair jenis empat ini sudah muak dengan pakaian bait dalam berpuisi, ia merombaknya mendesain sendiri tipografinya sehingga penampilan pakaian bahasa yang dikenakan dalam berpuisi dan bergaya di bidang kesusastraan semacam pengasingan diri, asing di tengah riuhnya ramai penulis-penulis puisi yang masih memakai jahitan model konvensional. Kain-kain perca bahasa ia satukan, setiap kalimat berlintasan berlepasan dan berbuih namun tetap mencirikan ombak penampilan puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat berupa larik puisi menyusun jedanya masing-masing, keadaan yang menjadi fasilitas kebermaknaan puisi berupa bait dari berlarik-larik pakaian kata selanjutnya menemukan ceruk, mendapati lubang-lubang penuh buih. Pembaca yang penasaran dan terlihat jarang menemukan pakaian kata di dalam puisi sejenis selanjutnya mengajak dirinya untuk mau mengetuk. Sebab dasar dari tujuan membaca adalah memahami maksud yang disampaikan penulis, dalam hal ini penulis puisi bukan penulis umum yang sekedar mencaplok kata-kata dari kamus dan kebiasaan pemakaiannya di lingkungan dunia penulisan. Kerjanya sebagai penghimpun pakaian kata yang unik justru mengharuskan dirinya sebagai pekerja seni bahasa untuk bekerja serius memperbaharui tenaga kata, mempertinggi nilai kandungan bahasa, juga turut mewaspadai matinya kata-kata yang akhirnya justru jadi kain lap, pembersih debu di dapur atau kain perca sebagai alat rumah tangga sekedar untuk dipijaki kaki yang kotor oleh tamu maupun tuan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemahnya daya kreasi pendesain pakaian kata akan mempengaruhi nilai dan mutu karya yang diciptakannya. Pengunjung lemari puisinya (pembaca antologi puisinya) hanya melihat sekilas pintas belaka terhadap pajangan di dalam lemari kaca itu, tidak mau memegangnya, memilih-milihnya mana yang cocok sesuai jiwa dan selera dan bahkan seperti melihat pameran mode maju yang konon justru memasang diskon besar dan obralan murah meriah. Kesan bahwa penyair sebagai tukang loak kata-kata tak bisa tidak dengan miris akan dihadapi oleh kaum sastra, keadaan seperti ini tentu tak layak dibiarkan. Perlu ada pemerhati desain kata, perlu ada tukang ukur kat, tukang pasang kancing kata, tukang jahit pinggir kata. Misalnya editor buku puisi, illustrator sampul buku puisi, juga penerjemah warna lokal (pakaian lokal) dalam buku puisi yang dibutuhkan untuk membedah nilai secara mumpuni, nilai kekaryaan, nilai konstruktif yang ikut membangun tingginya mutu karya sastra puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi dunia kata-kata dengan dunia berpakaian sesungguhnya seperti melihat sesosok manusia modern yang rapi berdasi namun kalimat-kalimat pidatonya sebagai seorang pemimpin justru tidak seideal pakaian (pembalut tubuh) yang dikenakannya. Banyak sudah contoh perilaku kemanusiaan bangsa kita yang tanpa disadari telah meninggalkan kebudayaan dalam berpakaian perilaku berupa kata-kata pantas. Orang bermobil tapi caciannya kepada pengemis seakan lebih rendah dari bahasa penjahat. Perkataan justru menjadi penggenap kurangnya penampilan seseorang, jika ia seorang yang sederhana namun kalimat-kalimat yang diutarakannya sungguh memikat hati, tak urung orang lain bisa menganggapnya guru yang berbudi bahasa. Tradisi kita sebagai orang timur memang suka sekali memperpanjang kata-kata, memutar-mutarkan kalimat sehingga meliuk tak berujung pangkal, nah di sinilah perlu kita sikapi bahwa roda jaman mengharapkan kita lebih hemat dalam berkata, layak mempertimbangkan kepraktisan namun pemugaran ini butuh etika dan kedinamisan yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis puisi tidak serta merta dapat membebaskan pemakaian bahasanya dengan segala alasan yang tidak konstruktif, yang justru tidak ada sangkut pautnya dengan meninggikan mutu/nilai pakaian katanya. Compang-camping dan meresahkan hati pembaca. Sikap dewasa dalam berpuisi menggunakan kata berhati, bernas dan tetap sederhana justru tak ada ukuran idealnya. Lain lubuk lain ikan, dengan ragam bahasa yang ribuan suku ini, bangsa kita membutuhkan sikap berbahasa yang berlandaskan rasa kebersamaan. Konsep pembinaan bahasa yang dilakukan oleh lembaga bahasa Indonesia di seluruh propinsi sudah selayaknya disikapi proporsional, ranah sastra tak luput pula dari perhatian lembaga tersebut, proyek-proyek kreatif kesusatraan turut pula diatur secara bersinergi dengan sekolah-sekolah, lembaga kesenian di tiap daerah, para penyair lokal juga pemerintahan yang punya tuntutan kerja di bidang ini, bidang mengatur pakaian bahasa yang sepantasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi menulis terpengaruh pula dari lingkungan di tempat penyair puisi tumbuh, jika Anda orang Medan, tentu bahasa lugas, tuntas dan tegas ikut menjadi bumbu puisi yang ditulis, jika Anda berlatar belakang masyarakat sosial suku Jawa, maka tak ayal bahasa Anda penuh santun dan sangat mempertimbangkan bunyi, jika Anda berlatar Melayu, bahasa Anda menjadi semacam pantun yang melambai seperti pucuk-pucuk para, atau jika pun Anda seorang Aceh yang gemar bercerita, bahasa Anda sedikit banyak nantinya dalam menulis puisi akan tampil ketegasan, kesopanan dan sedikit intonasi meninggi yang menyerupai dialektika orang Batak, Padang bahkan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah puisi yang kita ibaratkan tadi semacam lemari kaca buat meletakkan pakaian-pakaian bahasa tersebut, harus berhasil menunjukkan kemauannya untuk menyesuaikan mode/desain dan tuntutan atmosfer baru dalam kancah seni bersastra puisi. Kita tak mungkin menggunakan pakaian bahasa seorang Amir Hamzah yang sudah usang bukan? Namun bukan dengan demikian artinya kita tidak menghargai usaha seorang pujangga besar di dekade kesusastraan lama ini, sebab dengan demikian kita telah bekerja di luar batas-batas kedirian kita, orisionalitas bangunan dasar (foundament) kesusastraan kita. Perlu dengan dewasa mencermati, apa yang penyair-penyair besar itu tanam (termasuk seorang Chairil Anwar) dengan benih mutu yang baik pada akhirnya memunculkan batang tubuh kesusastraan Indonesia yang kekar dan tahan cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun adalagikah upaya kita selain memelihara apa yang sudah ada, yang sudah menjadi pakaian kesusastraan kita untuk selanjutnya berubah, berevolusi sesuai jamannya? Kebijaksanaan para kreator pakaian bahasa kita jangan sampailah melanggar etika ketimuran kita, lupa diri dan Salah Asuhan dalam modernitas yang justru menjadi Belenggu, sementara Layar Terkembang jangan lagi menjadikan bangsa sastra masuk jurang. Manifes ya Manifes , Lekra ya Lekra, tapi kini jaman Millenia, segala yang secuil dapat menjadi api, segala yang menggunung dapat menjadi cenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mencapai kodratnya sebagai makhluk bahasa dan menempati keindahan sebagai tanah untuk berpijak dan di sinilah ia melangkah dengan pakaian bahasa, bahasa sebagai fitnah jika tak dipakai semestinya, bahasa yang membunuh jika ia menjadi harimau bagi dirinya, tentu saja kebutuhan pakaian baru selalu ada, rasa ketidakpuasan menjadi hukum alam dunia manusia, apa yang sudah lewat tidak semuanya perlu diubah dan apa yang di hadapan justru membutuhkan esensi dari pencapaian kodrat manusia demi kemaslahatan dunia seni sastra secara umum dan keberlangsungan berkarya para penyair itu. Sebetulnya tidak semua sastra yang membawakan suara jamannya pasti sastra yang baik, seperti pendapat Budi Darma (dalam buku Sejumlah Esei Sastra, cetakan 1, 1984:15). Sebab, kalau sastra yang membawakan suara jamannya adalah sastra yang baik, maka sastra yang baik ini adalah sastra yang latah dan tidak mempunyai kepribadian. Setiap jaman memang membawakan mode tersendiri. Dan seseorang yang latah adalah hasil jamannya dan sekaligus membawakan suara jamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman pembredelan sudah lewat maka di depan kita akan melihat sebuah jaman di saat buku menumpuk tanpa pembaca, nilai dinamis menjadi raja, kebermaknaan menjadi harga dan kesetiaan kepada pakaian bahasa menemukan tantangan besar. Marilah kita hadapi bersama sebuah masa transisi di antara kendaraan seni sastra yang makin berlintasan, kawan dan lawan harus tetap sejalan jangan bugil jangan malas bercermin seperti apa sudah pakaian bahasa kita? Selamat berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsa-Indonesia, 14 Juni 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-21780584697882286?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/21780584697882286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=21780584697882286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/21780584697882286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/21780584697882286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/pakaian-bahasa.html' title='PAKAIAN BAHASA'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-938061570578632332</id><published>2011-06-14T09:58:00.003+07:00</published><updated>2011-10-01T20:14:41.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asarpin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Nurel Javissyarqi: Waktu di Sayap Malaikat</title><content type='html'>Asarpin&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jiwa manusia aku tak terikat&lt;br /&gt;Pada lambang-lambang bilangan-&lt;br /&gt;Aku tak terikat pada masa dan keluasan&lt;br /&gt;Pada pergantian dan tahun kabisat&lt;br /&gt;–Muhammad Iqbal, Nyanyian Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari seorang Pendeta Agung singgah di sebuah majelis pumpun sambil mengajukan teka-teki kepada hadirin: “Apakah di antara yang ada di dunia ini yang paling panjang namun sekaligus juga paling pendek, paling cepat namun paling lambat, paling terbagi-bagi tapi paling luas, paling disepelekan tapi paling disesalkan. Tanpa hal tersebut, tak satu pun bisa dilakukan. Dia melahap segala sesuatu yang kecil, tapi mengabadikan yang besar”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hadirin tampak berpikir untuk menemukan jawaban. Lalu seorang berdiri, dan dengan amat meyakinkan ia menjawab: Kekayaan. Si pendeta menggelengkan kepala. Lalu seorang lagi mengacungkan telunjuk sambil menyebut cahaya. Seorang lagi menjawab kabut. Ada juga yang menyebut asa. Tapi semua jawaban itu salah. Yang betul adalah jawaban Zadig: Waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan waktu, kata Zadig yang sedikit berfilsafat, maka tak ada yang dirasakan lebih panjang, sebab waktu adalah ukuran keabadian. Dengan waktu, tak ada yang lebih pendek karena selalu kurang untuk melaksanakan rencana-rencana kita; tak ada yang lebih lambat bagi mereka yang sedang menunggu; tak ada yang cepat berlalu untuk mereka yang sedang menikmati hidup. Waktu terbentang luas tak terkirakan, juga terbagi-bagi dalam satu ukuran sekecil-kecilnya. Semua orang menyepelekannya, namun menyesali kehilangannya. Tak ada yang dapat dilakukan tanpa waktu. Waktu membuat semua yang tak patut dikenang terlupakan, dan yang pantas dikenang menjadi abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teka-teki dan jawaban dengan sedikit retorika itu, saya kutip dari satu bab roman Voltaire dalam versi Indonesia: Suratan Takdir (judul aslinya Zadig). Apa sesungguhnya waktu? Zadig mungkin akan tetap menjawab: panjang. Kita hidup dalam waktu, dan sejak lama melahirkan persekutuan dan angkatan. Tapi apakah sebenarnya waktu di situ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak tahu persis jawaban apa yang akan diberikan. Namun hampir tak ada penyair yang tak pernah menulis puisi tentang waktu. Minimal pernah sekali dalam hidupnya ia memikirkan waktu dan menuliskannya ke dalam bentuk sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak penyair yang menulis tentang waktu, hanya sedikit sajak yang sungguh-sungguh menghadirkan pergulatan tentang waktu. Kalau Voltaire membayangkan waktu sebagai ukuran keabadian, sesuatu yang panjang, maka saya ingin menandaskan bahwa waktu dapat dijadikan bahan tes bagi otentisitas seseorang. Kalau dia penyair, maka keontentikan dirinya sebagai penyair akan terlihat ketika ia menggarap soal waktu. Otentik atau tidak puisi yang dihasilkannya, juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca ketika ia membicarakan soal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyair yang tak begitu dikenal, namun telah menghasilkan satu buku kumpulan sajak yang unik dan bentuk yang menyempal, adalah saudara Nurel Javissyarqi. Lewat analekta sajak bertajuk Kitab Para Malaikat (2007) Nurel menghadirkan tafsiran waktu dalam bingkai filsafat dan ajaran kebatinan Jawa yang tak mudah dicerna, namun dari segi tema, terasa otentik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perihal bentuk, sajak-sajak Nurel cukup unik tapi sekaligus janggal. Setiap ujung larik sajaknya ditandai dengan huruf atau angka romawi. Tentu saja kita bisa berdebat tentang fungsi angka-angka romawi dalam baris larik sajaknya. Bisa jadi hal itu hanya sekadar tempelan, seni dekorasi, dan tak memiliki maksud dan makna apa-apa. Atau bisa juga sebuah kelatahan, sekadar pemenuh garis kalimat, sebagaimana kita bisa juga memperdebatkan tanda baca yang tumpangtindih dan sepintas mubajir dan menyalahi aturan seperti yang dimaui para penggiat bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya boleh berbaik sangka, tentu saja semua keanehan itu dikerjakan dengan perhitungan yang mengandung misi tertentu. Angka-angka itu mungkin tak lagi sekadar kenenesan atau keisengan serta sekadar pemenuh garis kalimat. Bisa jadi ia memiliki hubungan yang terencana dengan sesuatu yang kita sebut sebagai penanda waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tematik, selain persoalan waktu, Kitab Para Malaikat banyak menampilkan tema seputar eksistensi. Namun menyelam tema saja tak cukup untuk menegaskan hakikat keindahan sebuah puisi. Kita mesti juga berenang menyusuri arus bentuk dan wawasan estetik sang penyair. Dan sajak-sajak Nurel tampak memberikan kesan “menyempal” dilihat dari segi bentuk. Di dalamnya kita temukan campur-baur berbagai gaya dan pengucapan. Beberapa bagian tampak si penyair begitu asyik dengan aforisme, dengan saran dengan petuah, dengan perbalahan, dengan doa dan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena telisik ini lebih memfokuskan pada penyelaman karakter tema, dengan fokus pada persoalan waktu, maka jadilah telisik ini amat sempit dan picik. Keputusan menjadikan waktu sebagai lahan garapan di sini karena cukup banyak dijumpai isyarat tentang waktu. Ketika si aku sedang asyik melakukan tamasya bahasa ke berbagai lumbung, si aku merasakan kekaguman terhadap waktu. Ada waktu di mana ia mengagumi setiap mil yang pernah dijelajahinya, setiap makanan yang pernah dicicipinya, setiap pribadi yang pernah dikenalnya, atau “ditidurinya”. Semua itu menggodanya, lalu dicatatnya, kemudian menjelma sebuah sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai (salah satu) bahan tes bagi otentisitas, waktu karena itu bukan hal sepele dan main-main dalam sajak-sajak Nurel. Bahkan banyak sekali urusan di muka bumi yang terpaut dengan waktu muncul di situ. Banyak hal yang bahkan begitu tergantung dengan detik, menit, hari atau tahun. Kita bisa saja tak memahami ucapan seorang tokoh dalam sajaknya ketika menyebut “waktu di sayap malaikat”, atau ketika ia menulis “waktu terselip di jemari, menyibak ilalang memeluk senjakala ”, namun karena kita merasakan penghayatan sang penyair terhadap waktu begitu intens dan syarat makna, maka layaklah kita memberi predikat otentik terhadap larik sajak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita ambil contoh satu larik lagi, ketika Nurel bicara tentang perempuan dan waktu. Seorang perempuan dibayangkan sebagai gerbang menuju ke ketinggian, mendaki ke puncak pohon lotus terjauh. “Ia pembuka gerbang langit, ketika kitab waktu belum dipelajari”, tulis Nurel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaui sang penyair dengan larik semacam itu? Adakah ia hendak menegaskan bahwa puisinya memiliki hubungan tersembunyi dengan proses penciptaan makhluk perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di sana dibayangkan sebagai timbangan, mizan. Sebuah tinanda sekaligus isyarat tentang kejadian sesuatu. Waktu juga diandaikan sebagai ukuran terhadap hal-ikhwal. Ia bisa dinyatakan lewat bilangan, lewat angka, atau waktu kuantitas. Tapi ada juga waktu kualitas yang tak terkait dengan angka atau bilangan. Waktu psikologis atau waktu eksistensialis, atau waktu filosofis, adalah penanda waktu di luar urusan kuantitas, tapi bisa terpaut dengan sifat atau karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang filsuf pernah menulis begini: “Ada renungan yang panjang terutama ketika waktu diukur dan dibekukan dalam satuan-satuan menit. Seakan-akan ada rentetan statis yang lantas dianggap sebagai waktu”. Ini kata-kata Bambang Sugiharto ketika memahami waktu dari konteks filsafat. Di sini waktu bisa bermakna penantian, ibarat waktu di ruang tunggu. Waktu dibayangkan sebagai seutas tali kebisuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Nurel merasakan kesuntukan dan kegersangan yang nyaris tak terkatakan ketika hendak berenang terus-menerus dalam arus waktu kehidupan. Dalam sebuah halaman ia menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajah haru biru menerima pautan waktu, rintik menerobos gersang,&lt;br /&gt;sesapu debu juga daun-daun bersegaran setelah muka kemarau memanggang,&lt;br /&gt;inilah hangat asmara mencerna ufuk timur raya (XIII:LXXXIV)&lt;br /&gt;Anak-anak sungai menggelinjak ke bebatuan,&lt;br /&gt;Terpotong tanggul kakikaki mungilmu (XIII:LXXXV)&lt;br /&gt;Selembut tanya harapan tersengal keputusasaan&lt;br /&gt;Terlempar arus kesadaran berasal hempasan (XIII:LXXXVI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam larik itu, ada pautan waktu, juga tentang harapan atau obsesi. Apa harapan dan obsesi yang dimaui sang penyair? Mari dengarkan senandung jawaban dalam lembar berikutnya: ”Waktu tertinggal mengekalkan kebaikan, tertulis hasrat suci mendekatkan diri/Sebelum sayap-sayap kaku, ujung-ujung tenggorokan hampa, izinkan mengucap kalimah sakti, teguh menguliti nasib mengisi, demi membuka kilauan tabir penciptaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair sepenuh-penuhnya berpaling kepada waktu ketika kata mulai dirasakan kian tak berdaya menyalurkan hasrat dan rasa haus estetis yang telah menyembul di kerongkongan. ”Kata-kata tidaklagi memuaskan mereka, kau tahu ruang kejujuran, keheningan suci tiada bercak keangkuhan”, tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan waktu, si aku merasakan pedihnya kesendirian, kesepian, hingga ia menandaskan kepada lawan bicaranya. “rasakan diamnya di dalam dirimu tersebab pribadi tidak menentu, maka mustahil pecahkan guratan batu di kening sejarah waktu”. Memang, seperti sering dikatakan orang, kita hidup dalam pergulatan terus-menerus dengan sejarah waktu. Atau mungkin lebih tepatnya: dalam arus waktu yang kian tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel seakan hendak menggenapkan waktu dengan menghubungkannya dengan sejarah dan kata serta membayangkan waktu masih berupa potongan-potongan tahun cahaya. “di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?/mewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,/siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana dimensi waktu terasa jauh lebih relevan ketimbang dimensi ruang. Sebab, seperti juga pernah dikatakan seorang penyair lirik terkemuka di negeri ini, puisi tak terikat oleh waktu, dan tidak dapat pula dibelenggu oleh waktu. Ia bisa melintasi waktu, melampaui dimensi waktu. Dan Malaikat, kita tahu, bukan makhluk sejenis manusia yang kasatmata yang terikat oleh ruang dan waktu manusiawi. Dan kita juga tahu peran Malaikat dalam penyebaran wahyu dan misi kenabian dalam agama-agama dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat adalah makhluk yang sejajar dengan setan atau iblis. Dan kita tahu, seandainya tak ada malaikat di surga, apa arti wahyu bagi manusia dan kemanusiaan. Seandainya tak ada iblis di surga yang menggoda Adam, mungkin kita takkan mengenal kitab suci di dunia, dan mungkin juga dunia takkan pernah dihuni manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menjadi bagian tak tepisahkan dari manusia, alam, dan Tuhan. Hampir semua kebudayaan yang ada di muka bumi memiliki pemahaman tentang waktu: baik waktu sebagai angka hari, bulan, dan tahun, maupun waktu sebagai sejarah atau waktu dalam arti makna dan pemahaman. “Aku sengaja melempar dadu“ untuk “mencari padanan waktu”, tegas Nurel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanga penyair agaknya mulai merasakan kejengahan terhadap waktu. Maka ia pun mulai sedikit bermain-main dengan waktu untuk menuju dan menemu waktu di luar sejarah dan pemahaman. Atau barangkali itu hanya strategi untuk menaklukkan waktu. Sebab dalam sajak-sajaknya terdapat isyarat tentang waktu geometris, waktu kalenderis, waktu antropologis, waktu mistis, waktu abstrak, waktu simbolis, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terpaut dengan sejarah, makna waktu menjadi serangkaian kejadian atau peristiwa yang dalam pandangan tradisionalisme, waktu tak dapat berulang. Waktu lampau membeku dalam sejarah dan tak dapat kembali. Musim durian tahun 2010 hanya sekali walau tahun berikutnya berkali-kali terjadi musim, namun berbeda hari, bulan atau tahun. Dan waktu tak mungkin berputar mengikuti lingkaran siklus yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna waktu menjadi kian rumit ketika dilihat dari konteks makna dan pemahaman. Dengan kata lain, waktu kualiatif. Alexis Carrel pernah mengingatkan akan pentingnya waktu kualitatif, karena menurutnya: banyak sekali persoalan manusia dan alam raya yang tak terkait secara kuantitatif. Martin Heidegger lain lagi: ia memahami waktu sebagai yang sambung-menyambung antara masalalu, masakini, masadepan dan berputar-putar tanpa awal dan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ibarat komidi putar di taman ria yang mengelilingi lingkaran. Ratusan tahun lampau al-Hallaj sudah menyebut tofik waktu sebagai lingkaran titik-titik primordial yang berputar terus-menerus dalam kesatuan antara masalampau, masakini, dan masadepan. Manusia memahami luncuran waktu sebagai proses yang tak cuma mengenai masa lalu, melainkan masakini dan juga masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan fisika kuantum konon mampu kembali ke waktu 1 miliar tahun lampau. Seorang kritikus pernah menelusuri persoalan waktu dalam konteks ini melalui pertemuan dengan sajak Padamu Jua dari pujangga Amir Hamzah. puisi itu menurutnya memiliki hubungan dengan skala waktu geologi yang kini mencakup masa jutaan, bahkan miliaran tahun, karena Bumi sendiri, katanya, telah berumur sekitar 4,5 miliar tahun. “Bicara waktu untuk kosmos atau alam semesta malah lebih menggetarkan karena menjangkau sedikitnya 13 miliar tahun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun yang jauh melampaui rentang waktu hidup pujangga Amir Hamzah—demikian ia sering disebut—manusia yang cerdas dan terus mendedikasikan tenaga, waktu, dan pikiran untuk memahami rahasia alam, kini bisa kembali ke masa miliaran tahun silam. Bahkan, kalau umur kosmos disebut 13 miliar tahun, katanya yang tampak sangat matematis, maka dengan berbekal ilmu fisika kuantum, manusia dapat mereka ulang kejadian-kejadian di dekat masa 13 miliar tahun silam itu, bukan saja satu detik setelah alam semesta lahir, tetapi bahkan seperjuta-triliun-triliun-triliun detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pujangga Nurel Javissyarqi mencoba menafsirkan riwayat sang kala dengan imaji sepersekianjuta tetes cahaya kepak sayap Mailaikat. Di bagian akhir kitabnya ia mengutip satu pernyataan Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi dalam ”Daqooiqul Akbar”: ”Malaikat Jibril as mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu dari zafaron. Matahari seakan berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gemintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah Subhanahu Wataallah menjadikan dari setiap tetes tersebut wujud Jibril as., mereka sama bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka Malaikat Ruhaniyyuun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Nurel mengingatkan pembaca sambil meyakinkan lewat seruan: ”Saudara tentu tidak menyangka ketika kelepakan sayap malaikat menyentuh lapisan langit pertama, terciptalah kata, kata-kata itu dipungutinya sendiri bagi saudara-saudaranya, para Malaikat Ruhaniyyuun yang ditugaskan tuhan mengatur segala urusan dunia. Kata-kata tersebut bukan wahyu hendak disampaikan kepada para nabi, tapi murni pengalaman perjalanan bolak-balik. Hasil lawatannya itu diidentifikasi sendiri, bagaimana watak insan penghuni bumi. Ini catatan memahami sifat insan demi permudah malaikat menjalani perintah-Nya, menjaga ruh hayat lestari, juga demi insan mengerti cahaya malaikat berkreasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kesaksian-kesaksian Nurel, atau goresan-goresan pengalaman kreatif yang melatari lahirnya antologi puisi yang penuh imaji kesufian yang liar ini. Ia tak puas jika tak menjelaskan apa dan bagaimana serta dimana sajak-sajak ini mengendap dan kemudian lahir sebagai sebuah kitab sajak yang jalin-menjalin antar berbagai tema dan pengalaman. Baik pengalaman luka maupun bahagia, baik pengalaman sakit maupun sehat, kekosongan maupun kepenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, pembaca, diajaknya ikut merasakan, mengarungi, mengidentifikasi untuk kemudian mencoba mendekati seintim mungkin pengalaman-pengalaman puncak yang nyaris tak terkatakan itu. Bukan sekadar membaca, tentu saja, tapi membaca untuk bergulat ikut merasakan getar-getar pengalaman batin yang menggelora, juga mempesona. Sebagai penyair, tugasnya telah selesai, dan kini sajaknya berada di tangan pembaca, diambil-alih oleh pembaca melalui apa yang disebut kewenangan tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penyair, Nurel tak seradikal Sutardji yang mengajak pembaca untuk memeras keringat hati dan otak dalam memahami isyarat-isyarat yang terdapat dalam sajak-sajaknya. Sebab soal paham dan tidakpaham, soal makna dan ketanpamaknaan sebuah sajak, bagi Nurel, adalah perkara lain lagi. Dengan bijak ia bersaran kepada pembaca untuk menemu tafsir yang bisa ditafsirkan lagi, memahami yang bisa terpahami saja lagi, atau—mengutip kata-katanya sendiri—”ambil yang saudara mengerti &amp;amp; selidiki yang belum terketahui”, lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebagai pembaca, tak mudah lagi untuk mengambil bagian mana dari larik sajak yang dimengerti dan mana yang takdimengerti. Lagi pula kalau sudah dimengerti tak perlu lagi diselediki, atau masih ada gunanyakah menyelidiki sesuatu yang sudah telanjang kasatmata, atau yang sudah terang-benderang? Justru karena sifat sajak-sajak yang balam-balam itu, maka pembaca ditantang untuk berenang-renang ke tengah mengarungi tepi-tepi terakhir sebelum karam digulung ombak suak ujung sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, Kitab Para Malaikat adalah buku puisi yang mengambil bentuk prosa kefanaan: kehidupan dan kematian. Juga tentang doa dan waktu, serta waktu dan keabadian. Kitab ini tak mudah ditangkap hanya lewat pandangan saja, apalagi pandangan mata seorang kritikus yang tak siap untuk paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, hakikat waktu dalam sajak-sajak Nurel tak lengkap jika tak dilacak hingga ke akar-akar ”kebudayaan tradisional”. Sebab dalam ”masyarakat tradisi”, waktu tak terpisahkan dengan keseluruhan aktivitas sosial dan fenomena ekologis dan metereologis. Pencarian religius orang Hindu lama, misalnya, mengikuti jejak waktu spiritual. Mereka keluar dari siklus dan keterikatan waktu dari eksistensi untuk mencapai keadaan eksistensi yang abadi, imortal dan bahagia. Sementara ajaran Budha mirip dengan Hindu yang menggambarkan keadaan nirvana sebagai arus waktu melalui gagasan kelahiran kembali. Hanya saja, dalam kosmologi Budha, alam semesta adalah siklis, dan arus waktu kelahiran kembali itu ternyata melahirkan parinirwana—fase ketika tak ada lagi reinkarnasi atau terhentinya kelahiran kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam astronomi Babilonia yang digerakkan oleh ras Sumaeria dan Akkadia, misalnya, ruang dan waktu adalah bingkai kehidupan yang non-rasional yang berulang. Pemikiran astronomi dan matematis pada awalnya masih diliputi oleh suasana pemikiran magis-mistis. Ruang dan waktu dalam sistem astronomi awal tidak berupa ruang dan waktu teoritis yang terdiri dari titik-titik dan garis-garis yang bisa diukur. Astronomi lebih dikenal sebagai astrologi. Karena astronomi tak mungkin lahir tanpa sosoknya yang mitis dan magis, yaitu sosok astrologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berabad-abad sifat ini bertahan, bahkan menurut Ernest Cassirer dalam An Essay on Man, masih terdapat dalam kurun pertama abad ke-20. Namun, kesulitan-kesulitan mendasar untuk mengekspresikan ruang dan waktu abstrak dan simbolis akhirnya dialami juga oleh para filsuf. Fakta bahwa ada ruang abstrak merupakan penemuan terpenting dari pemikiran Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun para pemikir Yunani masih juga kesulitan menjelaskan corak pemikiran logisnya. Sama seperti aljabar simbolis Babilonia masih teramat elementer dan sederhana. Maka larilah para filsuf Yunani ke dalam pernyataan-pernyataan paradoksal. Demokritos menganggap ruang ”bukan hal ada”. Newton mengingatkan agar tak mencampur-adukkan ruang matematika murni dengan ruang pengalaman inderawi. Tugas filsafat justru mengabstraksikan data-data dari pengalaman inderawi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir Berkeley menampik gagasan Newton tentang ruang matematika murni sebagai yang tak lebih dari ruang imajiner juga; suatu khayalan dalam pikiran manusia. Weinz Werner menganalisa gagasan ruang dan waktu masyarakat primitif dan secara angkuh menganggap ruang dan waktu manusia primitif kurang objektif, kurang terukur, kurang abstrak, sifatnya yang egosentris atau antromorfis, yang fisiognomis-dinamis yang tak sesuai dengan teori ruang dan waktu ilmiah. Dengan ruang geometris, katanya, maka manusia mendiami ruang universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Descartes berangkat dari penemuan besar di bidang matematika yang melahirkan cita-cita ideal mathesis universalis yang bermetamorfosis menjadi cogito ergo sum. Kant memisahkan pengertian antara ruang dan waktu, di mana ruang adalah bentuk pengalaman luar manusiawi, sementara waktu adalah bentuk pengalaman dalam. Demikian pula Leibniz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran astronomi dan matematika yang semula masih berbau metaforis dan mistis, akhirnya berubah menjadi sangat rasionalis dan khaostis. Astronomi mengugusur astrologi. Kuantitatif dalam matematika telah menggusur kualitatif. Maka agama sedemikian jauh terpisah dari ilmu. Sebab itu, tak heran jika ’Alija ’Ali Izetbegovic—mantan presiden Bosnia—pernah tertarik untuk mengamati hubungan seni dan ilmu atau ilmu dan agama. Jika kita menyimak fenomena alam, katanya, maka di sana ada susunan yang terdapat dalam sebuah mesin, atau sebuah melodi. Keduanya, bukan dalam analisis terakhir, tak bisa direduksi menjadi satu sumber yang sama. Yang pertama adalah kombinasi hubungan dan bagian spasial atau kuantitatif yang sesuai dengan alam, logika dan matematika. Yang kedua mempertahankan kombinasi nada atau kata-kata dalam sebuah melodi atau puisi. Kedua susunan ini memiliki dua kategori yang beda—ilmu dan agama, atau dari sudut pandang ini, ilmu dan seni…Maka jika hanya ada satu dunia, maka seni tidak akan mungkin. Setiap karya seni merupakan kesan dunia yang bukan tempat tinggal atau asal kita, dan yang di dalamnya kita ’kehilangan tempat kita’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal para penemu pertama astronomi dan geometri tak bermaksud meretas selubung mistik dengan teori ilmiah. Baru kemudian ketika astronomi dan pemikiran matematis Babilonia yang mistis telah beralih ke Yunani dan Arab-muslim, maka ruang dan waktu yang mistis digusur oleh yang serba-rasionalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Nurel tentang waktu dalam Kitab Para Malaikat mengikuti pandangan kosmologi Jawa klasik yang dikawinkan dengan pandangan Islam. Dalam pemikiran tradisional Jawa, memang terdapat keselarasan alamiah antara gerakan kehidupan manusia dan gerakan kosmos. Roda yang berputar adalah suatu gambaran gerak dan ketenangan, berangkat dan pulang kembali. Bentuk dari waktu universal adalah satu dari ciptaan dan destruksi, dan berulang lagi ciptaan dan destruksi lagi. Dan manusia dilahirkan dalam zaman yang fana, hidup seumur-umurnya dan kemudian kembali kepada zaman yang baka lagi. Perputaran berhenti dan generasi yang lain memulai putaran baru lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak bunyi larik akhir buku Kitab Para Malaikat: sekalipun ”ada saatnya perjalanan musti dihentikan kala menemui pantai doa ibunda”, namun ”ini babak peleburan mengulum bibir rindumu, serupa kematian berulang/nikmatnya terus terberi, sedang energinya tak pernah habis selesai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis-selesai? Ya, sebab waktu adalah masa silam yang serempak mengada dengan masa depan dalam masa kini. Dalam gerak-diam waktu, kejadian tak pernah habis-selesai. Tak ada lagi pengulangan yang persis sama dalam arus gerak waktu. Nurel mengingatkan kita akan ketidakmungkinan manusia untuk berenang dua kali dalam sungai yang sama. Dengan menempatkan ”waktu di sayap malaikat”, Nurel tampak ingin menyarankan agar manusia membebaskan diri dari waham bernama politik lokasi tunggal. Waktu adalah kondisi umum kehidupan organis yang terdiri dari tiga modus yang telah disebutkan, dan ingin saya sebutkan lagi, yakni: waktu lampau, kini, dan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel meletakkan waktu yang statis, beku, dan menunjukkan apresiasi terhadap tradisi Jawa sewaktu ia dituntut untuk tidak lagi hidup dengan tradisi kuna yang panjang umur itu. Berbeda misalnya dengan para penganut kemajuan, sebuah pemuja semangat progres, waktu ditempatkan sebagai gerak-maju yang dinamis dan lurus-liner. Spiritualitas waktu sebagai pertarungan hidup mati umat manusia. Masalah sastra—puisi khususnya—menyangkut masalah paling eksistensial tentang bagaimana mengolah ladang waktu, menguasai ladang waktu, dan manusia bisa jaya terhadap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalender Jawa yang dipengaruhi Hindu, ada istilah Mahakala (waktu tanpa akhir), yang mengatasi waktu dan siklus perputaran kelahiran kembali. Dalam kerangka reinkarnasi ini, waktu dalam pemahaman Nurel merupakan roda perputaran yang menyedihkan dari eksistensi di dunia yang fenomenal, yang bukan dunia nyata, melainkan maya. Karena itu ia mencoba mengatasi apa yang imortal dan yang abadi dengan yang berubah dan tak selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran panca maha butha, semua makhluk hidup pada akhirnya akan terurai dan terberai atas unsur alam pembentuk kehidupan: air, api, logam dan eter. Kematian adalah siklus yang terputus. Satu hidup saja memang tidak abadi, karena hidup masih sering ditata dalam prasangka kefanaan, tetapi rangkaian siklus kehidupan dan reinkarnasi, itulah makna keabadian sejati, seperti yang pernah disinggung Voltaire dalam kitabnya yang saya kutip di awal telisik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pemaknaan waktu semacam itu perlahan-lahan bergeser. Dan ini mulai dirasakan sebagai kecemasan oleh Nurel. Sebagai seorang ”titisan kebatinan Jawa”, Nurel merasakan kegelisahan tatkala waktu spiritual mulai bergeser menjadi ”waktu rasional”, atau antara ”metafora dan matematika”. Akar pergeseran ini bisa dilacak sejak kekuasaan raja-raja Jawa dihapus dan Islam menjadi patokan di segala bidang. Akibatnya, gejala-gejala sinkretisme dan mistisisme yang jadi falsafah hidup sebagian besar orang Jawa mulai tergusur. Penanggalan Jawa kuna yang memiliki pertalian dengan India, akhirnya berubah, terutama sejak Sultan Mataram berkuasa dan masuknya Islam ke bumi nusantara. Berbagai corak mistis dan magis serta misteri-misteri yang terkait dengan tradisi, ruang dan waktu, mengalami kodifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran itu, Kitab Para Malaikat sebetulnya tak hanya bicara soal waktu dalam konteks kebudayaan Jawa, tapi dunia. Di sana kita disuguhkan pula perbincangan filosofis tentang waktu dalam konteks kosmologi. Waktu dari alam bukan waktu arloji atau waktu kalender, melainkan hadirat atau waktu yang menyekarang. Dalam waktu arloji tidak ada perbedaan jam satu siang dengan jam satu malam, jarum arloji menunjuk pada angka yang sama. Waktu alam ialah mengalir. Karena itu, waktu bisa mandek, bisu, beku. Sementara ruang bisa tembus pandang dan menjelah bidang liputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pandangan ini dilanjutkan, maka corak alam tak lain adalah keseluruhan prinsip-prinsip dan pengaturan relasi sesuai dengan dorongan vital dari manusia yang mengkonstitusikan alam. Tendensi mengasimilasikan benda-benda dalam hampir semua sajak di buku ini, bukan menampilkan ekspansi difusi sebagaimana sering disinggung para kritis postmodernis, melainkan aliran vital yang berjalan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendensi puisi yang kembali ke alam tradisionil, dalam hal ini, berarti kembali menunjukkan persoalan ketidaksadaran. Semakin berkurang kesadaran seseorang, semakin ia kembali kepada tradisionalisme. (Sebagai contoh, buku Kitab Para Malaikat banyak menggunakan kata pujangga, bukan penyair, dan kitab ini dibuka dengan kalimat yang mengingatkan kita pada kitab-kitab lama yang berisi doa purba: ”Allahhumma shalli ’ala sayyidina Muhammad; ruh bersaksi sederaian gerimis mengantarkan rasa atmosfer semesta terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga (I)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu diulangi secara ritmis. Semua titik peralihan menentukan batas relasi. Sampai batas itu, alam seakan membuka diri baginya. Seakan menjelma doa-doa. Sementara di luar dirinya, ia mencoba memilih posisi yang lain. Pengalaman berdasarkan relasi antara kita dan benda-benda, tetapi relasi itu tak bisa ditempel atas benda-benda itu. Dengan pengalaman saja, pengaruh dari benda-benda sudah selesai sehingga pengaruh dialami secara absolut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagaimana terbaca dalam beberapa sajak, doa dan waktu dari alam itu kini mengalami perubahan seiring ditemukannya pengolahan yang serba-mesin. Di zaman sekularisasi yang menciptakan demistifikasi terhadap manusia dan desakralisasi terhadap hal-ikhwal yang disucikan ini, sebuah puisi memang tak sepenuhnya bisa diharapkan menjadi remedi bagi luka besar kemanusiaan. Sekalipun Nurel bertekad untuk “memindahkan rasa sakitmu dari tangan alam ke titian waktu”, toh, sajak-sajaknya memiliki keterbatasannya sendiri. Dan, sebagai pembaca, saya hanya bisa berdoa: semoga kau berhasil dan berbahagia terbang bersama para malaikat ruhaniyyuunmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandarlampung-Kota Agung, Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-938061570578632332?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/938061570578632332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=938061570578632332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/938061570578632332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/938061570578632332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/nurel-javissyarqi-waktu-di-sayap.html' title='Nurel Javissyarqi: Waktu di Sayap Malaikat'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1866217532935271791</id><published>2011-06-12T17:24:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:16:24.455+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heri Listianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Mengenal Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri</title><content type='html'>Judul: Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri&lt;br /&gt;Penulis: Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Pujangga&lt;br /&gt;Terbit: Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal: 100 halaman&lt;br /&gt;Harga: Rp. 19.000,-&lt;br /&gt;Peresensi: Heri Listianto &lt;br /&gt;http://tunaspustaka.blogspot.com/&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisinya. “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan tekat sebagai pengamat, penikmat, pengkritik, dan juga sebagai pelaku sastra terus bermunculan dan benar-benar ditunjukkan Nurel Javissyarqi dalam web http://sastra-indonesia.com/ salah satunya adalah tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri berjudul Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan itu Sutardji Calzoum Bachri menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: “Peran penyair menjadi unik, karena sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilanjutkan dengan keberanian Nurel Javissyarqi dalam mengamati eksistensi puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang lain dan kaitannya dengan beberapa ayat di dalam surat Asy Syu’ara. Nurel Javissyarqi berbicara panjang lebar mengamati mulai dari putih, hitam, coklat, riang ke remang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nurel Javissyarqi mengungkap dengan dua esai Sutardji Calzoum Bachri sebagai lampiran yang menurutnya sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” sebagai tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Sutardji Calzoum Bachri dalam buku ini dijelaskan bahwa, dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru seakan-akan di sinilah letak tanggung jawab Sutardji Calzoum Bachri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun buku ini memiliki sub judul Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tidak seluruh bagian dalam buku ini mengulas tentang gugatan-gugatan terhadap Sutardji Calzoum Bachri. Sebagian besar isi buku ini adalah pengalaman Nurel Javissyarqi dalam memahami dan mengamati kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri baik secara kultural maupun filosofis. Dari sinilah ia mengenal kekayaan ciri kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu diungkapkan Nurel Javissyarqi secara objektif, lugas, bahkan dengan sangat rinci. Inilah yang membuat buku ini tidak membosankan dan bahkan penting untuk dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi: Heri Listianto (Penyair)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1866217532935271791?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1866217532935271791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1866217532935271791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1866217532935271791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1866217532935271791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/mengenal-kepenyairan-sutardji-calzoum.html' title='Mengenal Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-2270773042899806599</id><published>2011-06-08T10:27:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:17:04.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imron Tohari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Sajak Imron Tohari</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dalam Pencarian Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar matahari hanya untuk siang&lt;br /&gt;Bukan berarti dia tiada kala malam&lt;br /&gt;Kecuali ianya meringkuk di sebalik awan langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bulan hanya untuk malam&lt;br /&gt;Bukan berarti dia tiada kala siang&lt;br /&gt;Kecuali ianya meringkuk di sebalik awan langit&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sudut bumi belah setengah&lt;br /&gt;Masih perlukah mempertanyakan lagi&lt;br /&gt;Ada dan tiada&lt;br /&gt;Maujud dan tak maujud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa berhasrat meneguk niat membimbing cahaya rasa,*&lt;br /&gt;mengubah kidungan langit demi peribadatan,*&lt;br /&gt;tapi mereka enggan penasaran*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pikiran dan keyakinan serta merta beradu dentam&lt;br /&gt;Diantara siang dan malam hasrat duniawi menikam-nikam gairah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=========&lt;br /&gt;* dipetik dari karya Nurel Javissyarqi, “Kitab Para Malaikat” Antologi tunggal; hal.90 – XV:LXIX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-2270773042899806599?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/2270773042899806599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=2270773042899806599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/2270773042899806599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/2270773042899806599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/sajak-imron-tohari.html' title='Sajak Imron Tohari'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-7552316396210995439</id><published>2011-06-08T10:24:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:18:08.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Raudal Tanjung Banua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Puisi Raudal Tanjung Banua</title><content type='html'>&lt;b&gt;TANAH TAMBAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;untuk sahabat Nurel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan tanah dan air segala tampak:&lt;br /&gt;Gubuk-gubuk ngantuk dengan dermaga kayu&lt;br /&gt;menunggu perahu yang tidak selalu tiba.&lt;br /&gt;Turbin mesin berputar sepanjang waktu&lt;br /&gt;tapi bukan kincir angin menghiburmu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padi dan ikan-ikan berulangkali panen&lt;br /&gt;di luar musim. Capung-capung terbakar&lt;br /&gt;di udara panas bergaram. Sebuah tempat&lt;br /&gt;dinamakan pasar pagi karena tutup&lt;br /&gt;sebelum matahari menuntut lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;Dan lalat-lalat berpesta di gelas-piring warung makan&lt;br /&gt;langganan suap setiap orang. Air payau&lt;br /&gt;menguap diam-diam tanpa jadi energi, garam atau hujan&lt;br /&gt;kecuali janji meluap dimusim dekat nanti&lt;br /&gt;mengapungkan rumah-rumah papan&lt;br /&gt;yang bergerak tanpa tarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh terasa asing:&lt;br /&gt;Kalau ini laut, aku tidak melihat karang&lt;br /&gt;Kalau kebun dan sawah, jauh dari pematang&lt;br /&gt;Air bukan sekadar kolam karena semua yang kupandang&lt;br /&gt;seperti lautan impian. Di atasnya nelayan-nelayan&lt;br /&gt;bercaping pandan berlayar menjaring kilau sisik harapan&lt;br /&gt;Petani-petani setengah riang menyandang cangkul&lt;br /&gt;bersiap dan berharap bulir ketam di hampa tangan&lt;br /&gt;Para tengkulak datang dan pergi&lt;br /&gt;membuat jalur sendiri di atas air dan api:&lt;br /&gt;memanen tanpa menimbang, menimbang sebelum panen&lt;br /&gt;Sementara di utara, sebuah tempat disebut kampung teroris&lt;br /&gt;karena menyala oleh lebih banyak tuduhan,&lt;br /&gt;maka sempurnalah keasingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin berhembus menembus pori-poriku yang kering&lt;br /&gt;Seekor capung dengan sayap terbakar membuatku tengadah&lt;br /&gt;memahami matahari: cahaya satu yang tak sama&lt;br /&gt;mencintai seluruh sisi bumi. Seperti di sini, mulai kuhikmati&lt;br /&gt;hamparan tanah dan air berbagi lebih dari yang tampak&lt;br /&gt;di wajahmu yang letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/Lamongan-Yogya, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-7552316396210995439?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/7552316396210995439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=7552316396210995439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7552316396210995439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7552316396210995439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/puisi-raudal-tanjung-banua.html' title='Puisi Raudal Tanjung Banua'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8367044119237877175</id><published>2011-06-08T10:11:00.005+07:00</published><updated>2011-10-01T20:18:37.241+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tosa Poetra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Sutardji Vs Nurel J</title><content type='html'>Tosa Poetra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan dalam kehidupan dalam dunia karya tulis, segala sesuatu memang syarat dengan kontroversi, setuju dan tidak setuju merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi, pro dan kontra lazim terjadi yang mana apapun pendapat itu hendaknya dihargai agar dapat menjadi tambahan kekayaan ilmu pengetahuan dan wawasan agar dapat menjadi semakin baik, bukannya menjadi bahan perseteruan abadi.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam esai sastra berjudul “Mempertanyakan tanggung jawab kepenyairan Sutardji dan As Syu’ara (para penyair)” yang ditulis Nurel dan dipublikasikan di catatan facebooknya pada 8-9 April 2011, yang esai tersebut telah dibukukan, entah esai tersebut telah dimuat di media massa cetak atau belum, dan itu bukanlah soal bagi saya yang jelas esai tersebut terus melambaikan tangannya yang terkadang dengan genit mencubit saya dengan manja, merayu saya untuk membaca dan mencermati tiap kata yang tertulis di sana. Seolah telah menjadi Romy Ravael, menghipnotis saya agar tidak beranjak dari tempat duduk berjam-jam dan membuat mata selalu tertuju pada esai tersebut yang pada akhirnya mengharuskan otak saya untuk terhanyut dan berfikir, bergelut dalam tiap baris yang kadang tak cukup sekali membaca demi memahami maksudnya, kemudian memaksa jemari saya menuliskan beberapa kata untuk mengulas sedikit dari pengetahuan dan pemahaman seorang pencinta dan pembelajar sastra seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam esai tersebut jika kita baca akan dapat diketahui bahwa yang diuraikan penulis merupakan Gugatan kepada Sutardji dan ketidak sepakatan dengannya. Ketika kita berbicara “Sutardji”, siapa yang tidak mengenalnya, sastrawan besar yang mendapat gelar Presiden penyair (entah siapa yang menggelarinya), tidak cuma di Indonesia tapi namanya dikenal di manca negara terutama oleh kalangan penikmat, pembelajar dan penggiat sastra, sebab di bangku sekolah dan perguruan tinggi jurusan bahasa sastra diajarkan, mungkin cuma pelajar atau mahasiswa yang mengantuk di kelas saja yang tidak mengenal namanya. Lain halnya dengan Nurel, siapakah dia? Saya pun cuma mengetahui namanya, alamat dan hal lain tentang dia entah mungkin di simpan dalam dompet di saku celananya atau mungkin tertinggal di tumpukan berkas kantor kependudukan yang butuh berhari-hari untuk menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Nurel pertama kudengar dari sahabatku Misbahus Surur mahasiswa S2 di UIN Malang yang juga penggiat sastra yang esai dan puisinya sering termuat di koran, berikutnya nama Nurel kudengar dari rekan sastra di Jombang, Wong Wing King dan kang Sabrank yang selanjutnya beberapa kawanku menyebutnya juga, yang akhirnya akupun penasaran tentang siapa Nurel dan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin baru sedikit orang yang mengenalnya atau dengan kata lain Nurel adalah semut jika dibanding Sutardji, tapi dalam esai tersebut entah setan darimana yang menclok padanya hingga dia nekat dan berani menggugat Sutardji, mungkin ini adalah hal bodoh bagi sebagian kalangan namun hal tersebut dilakukan Nurel dengan landasan dan data yang lengkap juga kuat. Mungkin ini adalah titik awal kebesaran Nurel yang mungkin akan mengungguli Sutardji atau mungkin Sutardji sudah saatnya pensiun dari presiden penyair jika tidak dapat membantah gugatan Nurel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam esainya tersebut Nurel memuat esai Sutardji “sajak dan pertanggung jawaban penyair” 9 September 2007 yang menyebutkan; ketika Tuhan memimpikan dirinya dikenal dan lepas dari kegelapan rahasianya ia berfirman Kun Fayakun maka jadilah alam semesta, juga mengungkapkan bahwa Sumpah Pemuda sebagai puisi dan mantra, juga terkait As Syu’ara. Dalam esainya Nurel juga memuat puisi Shang Hai (1973) dan Mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan Nurel di sini terkait kekurang cermatan SCB dalam menyerap As Syu’ara, juga pada Mantra dan ketika SCB mengungkapkan tentang mengembalikan makna kata pada asal kata (mantra) atau pada eksistensi atau kekuatan atau kegunaan kata tersebut, bukan pada pencarian arti dalam kamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel juga menggugat ketika SCB mengungkapkan ketika SCB mengungkapkan bahwa penyair adalah seperti halnya Tuhan yang tidak harus bertanggung jawab pada ciptaanya. Gugatan Nurel pada mantra diuraikan dengan mendedahkan devinisi mantra yaitu kata yang memiliki kekuatan magis yang belakangan ditulis sebagai jimat atau rajah, nah di sini Nurel mempertanyakan apakah ada puisi SCB yang memiliki daya seperti hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi memang dapat menjadi mantra namun tentunya yang memiliki daya magis adalah yang ditulis oleh orang linuih, sedang yang ditulis pada awam biasanya memang memiliki kekuatan bukan secara magis namun sebagai daya pendorong semangat misalkan pada Sumpah Pemuda yang disebut oleh SCB sebagai puisi, sebagai mantra memang harus diakui bahwa daya Sumpah Pemuda juga syair Indonesia Raya telah membawa semangat untuk bersatu sehingga merdeka dan melahirkan bahasa kesatuan dan negara kesatuan RI, hal ini seperti halnya ketika seorang orator memetik kata Bung Karno, Bung Tomo ataupun Wiji Tukul untuk mengobarkan semangat masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada eksistensi puisi mantra sebagai pengobar semangat sayapun sepakat menanyakan mana puisi SCB yang mengobarkan semangat? Atau mungkin SCB menguraikan Puisi sebagai mantra itu terkecuali karyanya atau tak setiap puisi mantra memiliki daya baik daya magis ataupun pengobar semangat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian harus diakui bahwa puisi SCB memang telah menjadi mantra yang menghipnotis para sastrawan di masanya dan banyak di masa sekarang sehingga menjadi pengagumnya dan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya gugatan Nurel terkait ungkapan SCB “pengembalian makna kata pada eksistensi kata” bukan pada pencarian dalam kamus yang dalam hal ini dulu SCB memang cenderung menulis karya gelap ketika itu, seperti halnya beberapa penulis yang lain semisal Danarto dan dulu Chairil pada masa awal menulis puisinya juga cenderung gelap seperti yang terdapat pada puisinya NISAN, hal yang perlu dipertanyakan mengapa ketika itu SCB menulis puisi gelap dan merasa tidak perlu bertanggung jawab atas karyanya karena itu adalah tugas apresiator dan kritikus namun belakangan SCB menulis puisi yang tidak gelap, entah mengapa, apakah SCB memang ingin berkreasi lain ataukah ketika menulis puisi gelap itu memang SCB masih awal menulis sehingga masih terdapat kekurangan sebagaimana pada Nisan karya Chairil yang sulit dipahami maknanya, ataukah SCB yang belakangan menulis puisi tidak gelap adalah karena SCB tidak ingin ketinggalan jaman ataupun ingin karyanya banyak diketahui umum dan diminati umum. Apapun itu hak preogratif SCB sebab bukankah dalam menulis tidak harus melulu dengan model yang itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan ungkapan SCB bahwa penyair seperti Tuhan, tidak perlu bertanggung jawab pada karyanya karena itu ranah milik apresiator dan kritikus untuk mengurainya, namun pada belakangan diungkapkan bahwa jika apresiator dan kritikus cuma dapat berkomentar asal saja tanpa menghargai dan memahami makna karya maka penyair wajib berbicara, sungguh dua pengungkapan yang bertolak belakang, meskipun hal tersebut memang tidak harus dipersalahkan, namun jika seorang apresiator atau kritikus hanya berkomentar asal saja dan tidak dapat mengurai makna maka itu namanya bukan apresiator, atau mungkin karya yang dihasilkan terlalu rendah untuk diapresiasi atau mungkin juga karya tersebut terlalu gelap sehingga cuma penyair sendiri yang dapat mengetahui maknanya atau dalam kata lain boleh dibilang puisi gagal yaitu maknanya tak sampai sebab apresiator tentu tidak ngawur dalam mengapresiasi karena tentu telah melakukan berbagai pendekatan untuk menggauli karya tersebut. Dan selain itu memang tak dapat dipungkiri bahwa pembaca memang hanya meraba makna karya dari sisi luar yang masing kepala dapat memiliki interpretasi berbeda sesuai daya apresiasinya masing-masing, sedang makna sesungguhnya menjadi rahasia penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya sampai di sini sedikit apresiasi saya pada esai gugatan Nurel pada SCB tersebut yang dalam hal ini adalah karena keterbatasan dan kekurang pengetahuan saya juga lemahnya daya serap dan pemahaman saya, yang dalam hal ini bukan dalam arti saya melakukan pembelaan pada SCB ataupun dukungan pada Nurel, hanya saja jika dalam hal tersebut terdapat perseteruan seperti halnya dalam pertandingan semoga saya dapat menjadi penengah atau wasit dari kacamata pembelajar dan penikmat sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dengan tidak mengurangi rasa hormat, semoga SCB akan menjawab gugatan Nurel dan pada Nurel saya cuma dapat mengucapkan Selamat dan Mari terus berkarya. Salut atas keberanian dan pengetahuan atas kejeliannya dalam gugatan tersebut. Masih sangat banyak pula kesalahan dan kekurangan dalam catatan yang saya tulis ini yang itu merupakan kebodohan dan kekurangan saya sebagai pembelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.facebook.com/notes/tosa-poetra/sutardji-vs-nurel-j/10150128004322609?ref=notif¬if_t=note_reply&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8367044119237877175?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8367044119237877175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8367044119237877175' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8367044119237877175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8367044119237877175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/sutardji-vs-nurel-j.html' title='Sutardji Vs Nurel J'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-2664274089900565215</id><published>2011-06-08T09:41:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:19:35.355+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad Rain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>MEMBACA NUREL JAVISSYARQI</title><content type='html'>Muhammad Rain&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan kesusastraan sepertinya semua penulis puisi akan suka dan tertarik, nyaris tanpa embel-embel ngarep. Ngarep nama-namanya disebut dalam kupasan selentingan bidang sastra itu. Termasuk pula sahabat baruku Si Nurel ini, saya pikir beliau tak ada sedikitpun niat ngarep disebut-sebut namanya dari mulut kata Muhrain. "Si" yang saya maksud sebab saya merasa sok akrab saja, begitu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berupa sapaan belaka ini dengan maksud menuju pemikiran tentang apresiasi karya Nurel yang telah saya peroleh hasil kiriman hibah Saudara alias Sahabat baru kita ini, "kita" bermakna bahwa sahabat pembaca adalah sahabat saya, sahabat saya adalah sahabat kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah hampir seminggu memegang "Kitab Para Malaikat (Puisi Nurel) dan Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Esai Kritik Nurel)" namun karena masih terus di jalanan menebas Medan, Banda Aceh dan Sabang (jelang akhir Mei dan awal Juni 2011) , buku ini belum berhasil saya tamatkan. Alias baru setengah halaman belaka. Jadi tak ada yang tuntas tentunya jika saudara pembaca menuntut saya menjawab isi keseluruhan buku tersebut yang berhasil terinsyafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melangkah pada kebermaknaan kehadiran Nurel dalam kawasan pemikiran saya, sebagian dari cara Nurel menulis isi batin-pikirannya terhadap sastra secara umum, ada letupan tersendiri yang terasakan terutama dalam kehadiran sosok penyair di lingkup kesusastraan kita (baca Indonesia). Konsep rahmatan lil alamin sepertinya khatam kita baca lewat karya-karya Nurel. Pemahaman tentang dogma yang muncul dari kehadiran mantra ala Tardji, disusul ide "kemalaikatan" lewat "Kitab Para Malaikat"-nya Nurel tersendiri, lalu dengan cucuk hidung saya katakan bahwa kesusastraan memang sedang dan selalu butuh karya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ingin yang baru memang sudah menjangkiti dunia seni sastra sejak matinya penyair besar Chairil Anwar, apalagi disusul W.S. Rendra dan berdiangnya banyak penulis baru sastra Indonesia terutama bidang puisi yang berkutat dalam kawasan putaran roda di tempat. Mengapa saya katakan berotasi di tempat? Saudara pembaca sudah tahu, apakah ada yang baru dari dua nama tersebut, oh ya, ada Afrizal Malna, Seno Gumira A., Agus R. Sarjono, Dimas Arika Mihardja dll. yang konon bagi saya belumlah mencucuk hidung rasa seni sastra saya selaku penikmat mereka (murni subjektif belaka). Saya terus jadi ingat bahwa persoalan bangsa kita masih sama sejak ditinggalkan Rendra, persoalan salon sastra, penyair salon, pamflet darurat, kegelimpangan pembodohan dan berbagai kertas kerja yang repetitif belaka sejak angkatan 60-an termasuk nama Taufik Ismail yang akhir-akhir tahun lalu sering dapat kritik kehadirannya sekedar mendirikan perusahaan kesusastraannya belaka. Mengapa sebab demikian saya katakan belum ada yang baru di sastra puisi kita? saudara sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu menyinggung kembali konsentrasi Nurel dalam essainya tentang Tardji, apa yang penting? Kenyataan lahirnya penyair ke dunia memang harus bersandar pada rahmatan lil alamin. Persoalannya apakah penyair itu sendiri telah seolah berupa rahmat bagi dirinya terlebih dahulu, apakah hadirnya diri dalam kawasan puisi (sastra lebih luas) mampu merubah buruk dirinya jadi baik yang diukurnya sendiri dengan insyaf. Lalu tafsir serupa bisa kita gurah lewat wahyu ilahi, "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". Apabilakah ucapan, tulisan, karya sastra mampu menghindarkan kita dari api berisi iblis laknatillah ini? Sepertinya kerja menyair tak sama bagai tukang sulap yang menipu dan kita sebut seni, macam menipunya koruptor namun tak pernah begitu menyeninya sehingga membengkalai keremajaan pembangunan manusia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak paham sastra, bukan saja karena belum lulus di fakultas sastra atau menjadi guru besar di bidang ini, namun seperti banyak ragam orang yang melalui jalan tempuh demi menikmati bahasa dan mata batin sastra, saya kira saya masih dahaga. Ketika orang ingin inovasi, dia akan selalu memerlukan modal untuk membeli apa yang diciptakan oleh penyair itu. Pepatah yang segar seperti "jadilah tangan di atas sebab lebih mulia dibanding tangan di bawah". Dengan begitu kekosongan identitas sastra puisi baru kita dapat dimungkinkan. Saya menulis banyak puisi sekedar percobaan seperti yang saya kutip dari omongan (komen fb) Dimas Arika Mihardja, belum lagi mendapatkan ceruk tempat karya itu menyaruk dan mengajak pejalan ramai mau sekedar melongok atau bahkan ikut masuk ke dalamnya dan berlama-lama. Namun pemikiran terus berjalan sebagaimana hidup, seperti yang saudaraku dengan jamak alami pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanggapan sesungguhnya setelah dengan sangat sedikit mengenal sosok Nurel? Jawabannya: saya hanya penuh curiga, apa maunya orang ini di dunia sastra kita?, mengapa banyak bukunya baru saya dapat dua, di Aceh memang amat ketinggalan soal karya sastra baru, buku yang beredar di kantung-kantung sastra di Jawa juga kepulauan lain macamlah menunggu bara hanyut, itu sentilan saya dengan maksud mengatakan saya harus jemput bola demi tahu sejauh mana putaran roda sastra Indonesia itu beredar berpendar di kawasan Indonesia yang maha luas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel masih sangatlah baru yang tersebut di bibir ini, itu saya akui, puisi-puisinya panjang tak ketulungan namun semacam menemui angin laut yang sepoi dan kadang menyegarkan di pulau Sabang, keras dan penuh asin. Garam yang ditawasnya dalam setiap bab Kitab Malaikatnya itu berhasil membuat saya curiga, jangan-jangan ia (Nurel) lebih mirip filsuf dibandingkan penyair, sebab bagi saya itu amatlah beda, menjadi filsuf punya akar baca dan akar faham yang mumpuni, menjadi penyair hanya perlu aral dan pedang tinta juga sedikit gontok-gontokan dengan pihak pengelola taman budaya juga penerbit setempat plush membidani perawakan gondrong, energik, sangar dan terkadang malah memuakkan pemerintah akibat rewel menggelisahkan kekuasaan (itu sich penyair label alias tampil untuk proyek esek-esek sastra panggung, sastra bahenol kalau tak mau dibilang sastra nol). Beda tentunya dengan faham bagaimana sejatinya menjadi penyair yang dikupas meski belum habis oleh Nurel lewat karya essainya menggugat Tardji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya belum dapat saya tawarkan pada kalian sidang pembaca coretan sore ini, 6 Juni 2011, sebab saya memang masih sangat sibuk bertanya, mengapa yang terbit tak pernah merasa redup dan mengapa yang redup belum lagi mampu membuka diri menuju putaran jaman kesusastraan yang makin menggoda di depan. Jangan ikut kalau takut, jangan marah kalau gerah, dan jangan seorang Nurel saja, misalkan kita masih mau menghirup nafas kesusastraan lebih gairah dan penting. Pentingkah masih sastra itu, puisi itu? Kita akan jawab bersama lewat terus berkarya. Salam takjim pada Nurel Javissyarqi. Meski saya tak pernah janji mau menulis namanya pada kenangan, sebab saya tak bisa melupakan sentilan-sentilan ala Javanya dalam dua bukunya belaka yang telah saya punya. Terima kasih Nurel, salam pula kepada segenap pembaca Muhrain. Selamat sore saya kirim lewat angin Jantho (Aceh Besar) Nanggroe Aceh Darussalam. Sebuah puisi penutup sebagai sapa rutin Muhrain buat segala. Salam Reusam Tanoh Rencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DI BALIK SEULAWAH &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Rain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuumbar angin hijau gunung bukitan&lt;br /&gt;menyapa awan dan langit tenang&lt;br /&gt;nun setelah berangas tumbangnya pohonan&lt;br /&gt;gundulnya nyentrik para pembalak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukutuk harum gersang tanoh endatu&lt;br /&gt;sejak perang hanya lahirkan kedai kopi&lt;br /&gt;yang menanam mimpi kapan Aceh Jaya&lt;br /&gt;dan karena darah lahir dari Rencong&lt;br /&gt;mataku muncrat melancong ke dalam padang hampar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukatakan matiku untuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantho (Aceh Besar)- Indonesia, 6 Juni 2011.(Seulawah adalah gunung kebanggaan Aceh)&lt;br /&gt;Sumber: http://www.facebook.com/notes/muhammad-rain/membaca-nurel-javissyarqi-sahabat-baruku-muhrain/136228399787524&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-2664274089900565215?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/2664274089900565215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=2664274089900565215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/2664274089900565215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/2664274089900565215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/membaca-nurel-javissyarqi.html' title='MEMBACA NUREL JAVISSYARQI'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-4820872798724543032</id><published>2011-06-08T09:16:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:20:07.171+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dimas Arika Mihardja'/><title type='text'>Surat balasan untuk Dimas Arika Mihardja</title><content type='html'>Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum balasan surat ini merambat jauh, maafkan “saudaraku” Dimas Arika Mihardja (DAM) jikalau alunanya terlalu subyektif nantinya, tersebab dalam hal ini aku mengandalkan daya ingat serta semacam men-gayal masa lalu (mengingat yang terlewat), bukan ber-hayal yang bermakna lencungan ke masa depan atau angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Lagian kala membaca suatu karya, pun berpapasan si pengarangnya, kerap kali aku berjarak, ini tak lebih demi merawat pandanganku agar timbul keobyektifan selalu, maka di wilayah susastra pula bebidang ilmu pengetahuan lain, aku melihat (membaca, mengamati, meneliti)&lt;span class="fullpost"&gt; dengan membawa jiwa ini sebagai orang asing, semisal tersesat di keramaian pasar, lebih jauh gembel yang berlalu lalang, membuat orang-orang muak, namun di kedalamannya berdaya jangkauan selidik sebagai makhluk di luar lingkaran, kadang malah diriku sendiri menjadi sasaran selidik atas dua bola mataku yang nakal, pandangan bathinku, kedua mataku seperti berayun-ayun mengudara dan tiada yang menyaksikannya, aku pun tak bisa melampaui kecurigaannya, demikian aku memasuki kehidupan, sebagai insan bebas tak beridentitas, tepatnya pengelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAM, kita pertama atau paling akhir ketemu di Ngawi, kata paling akhir sebab masih nyantel diingataku, tidak salah DAM berasal dari Jogjakarta yang kini bermukin di Jambi (nama ini mengingatkan sebuah pohon), kata pertama karena lamat-lamat seolah pernah berjumpa di Jakarta, kedua peristiwa tersebut dalam acara sastra, tentu aku hanya melihat, sebab lebih menyukai sebagai subyek yang bisa leluasa membaca daripada dibaca, inilah alasanku kenapa kerap keberatan diminta membaca puisi misalnya. Setidaknya perpustakaan pribadiku sebagai bukti bahwa aku tidak hanya suka sastra, bebidang pengetahuan aku perlakukan sama di mejaku pula tokoh-tokoh yang menghidupkan ruangan belajarku berlainan dunianya, dari mereka aku peroleh banyak dialog pelajaran yang lebih menyadari posisi diri sebagai pengelana, untuk menghindari kefanatikan membuta yang kerap dirasakan oleh para pelaku yang hanya berfokus dalam bidangnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua alasanku paling penting kenapa berjarak dengan dunia sastra, satu telah kusebutkan di atas, selanjutnya agar tiada yang merasa terganggu, entah cemburu, benci atau persaingan berwatak buruk. Mungkin yang kulakukan separas ayu kesenangan, bukan bentuk profesi yang wajib diperjuangkan, lantaran kenyataannya aku menyukai nilai-nilai hikmah, dan kasus aku menggugat SCB sekadar ingin meluruskan pandangan, kalaulah adanya ketidaksesuaian dapat didialogkan lebih dewasa dengan porsi seimbang lewat kesadaran berpijak, bukan hanya luapan lewar apalagi sugesti sulapan. Istilahnya jalanku sejenis bermain tanpa beban guna merawat jiwa ini tetap sumringah, tidak ada gontok-gontokkan kecuali kepada nilai-nilai yang saling diperjuangkan demi menemukan wajah bijak, kesejatian diraih untuk harkat kemanusiaan pengisi bumi keselamatan setanggungjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baca berulang kali surat itu, kata “sahabatku” dari DAM, sungguh menyejukkan hatiku, lalu hadir sekelebat bayangnya sesosok pengajar yang dikaruniahi kelembutan perangai pun lantunan kalimahnya sama, sahaja dalam menembangkan hayat, seolah tiada nada tinggi rendah bagi yang disapanya, andai naik-turun tak lebih sudah diperem lewat kesabaran lama, pribadi demikian laksana banyu (air) pula desir bayu lembut menyusup ke sela-sela batu, atau rimbunan daun-daun meski pohon yang diterpanya menjulang angkuh, tetaplah air pun angin tersebut mencurah dari ketinggian, keayuhan sentuhan, ketampanan bisikan menghadirkan kemungkinan serupa rahmat tuhan tiada berbilang melimpahruah, tentu melalui perawatan, tanggul mengaliri pesawahan, kincir angin, kincir air, menggerakkan energi listrik dalam menjaga lampu-lampu keharmonisan dikala petang pula diselimuti malam seorang, dan siang hari putarannya menyenangkan para penyaksi semua lapisan, setiap kalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, selepas buku tersebut terbit aku berhadap ada sanggahan balik, hujatan, bantahan, syukur-syukur pembantaian karya, entah dari SCB sendiri yang sudah memegang buku itu sejak di kota Malang, atau dari orang-orang sepaham, para kritikus yang pernah terpukau sepak terjang kepenyairannya. Sehingga diriku lebih leluasa mengudar data selanjutnnya soal puisinya dari para penyair lain sebelumnya atau aku sendiri yang menyikapi tanggapannya juga perihal yang diusung SCB mengenai otonomi daerah yang nantinya aku ambil sedari awal sejarah berdirinya NKRI, agar tidak berfahamkan seolah berasal dari semangat angkatan tahun 1970an. Tapi karena kupasan DAM senada dengan bidikanku, maka aku masih menunggu yang mengendap-endap itu demi belajar, guna sama-sama menyadarinya di ruangan nyata, bukan di tempat imajinasi ataupun pamor bikinan media massa semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dengan sikapku ini, aku pribadi minimal dapat memahami dan mempercayai keberadaan kesusastraan Indonesia, bukan hanya lewat membaca karya mereka atas keahlian merakit sejarah susastra Tanah Air dengan susastra dunia bersama tokoh-tokohnya, dengan keterlibatan ini menjatuhkan mimpi serta imajinasi, berharap benar-benar sedada jantung kesadaran. Turun gununglah kalau ada merasa di ketinggian, seperti Dimas Arika Mihardja yang ringan mengulurkan tangan wawasannya demi manfaat bersama. Semisal ingataku yang masih dinaungi awan ragu-ragu pada hasil penyelidikan para pengupas puisi SCB dengan membandingkan kekaryaan tokoh Hamzah Fansuri contohnya, agar tak tampak sekadar kata-kata pujian, namun juga menengok sepantulan perbuatan pula corak yang dikembangkan keduanya di hadapan umat, sehingga tidak sebunyi-bunyian ganjil sindiran sastrawan Mochtar Lubis mengenai mantra: “...bim salabim, nah... keluar kelinci dari dalam topi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian surat balasanku, jikalau hati ini besok-besoknya masih ingin menuliskan kembali, maafkan mengganggu, matur nuwon sanget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* pengelana dari bencah tanah Jawa, Lamongan.&lt;br /&gt;Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150253475176469&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-4820872798724543032?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/4820872798724543032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=4820872798724543032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4820872798724543032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4820872798724543032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/surat-balasan-untuk-dimas-arika.html' title='Surat balasan untuk Dimas Arika Mihardja'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-5786682940077353370</id><published>2011-06-08T09:12:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:20:34.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dimas Arika Mihardja'/><title type='text'>MANTRA KAMASASTRA [SURAT SASTRA BUAT NUREL JAVISSYARQI]</title><content type='html'>Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku yang hebat,&lt;br /&gt;Hari ini, Rabu 12 Mei 2011, tepat pukul 10.45 telah kuterima sepucuk surat-esai yang terbagi dalam VII bagian, lengkap dengan “Mulanya”, “Akhirnya”, dan “Lampiran” dua esai Sutardji Calzoum Bahcri. Telah tandas dan tuntas kubaca sepucuk surat darimu, pengelana dari bencah tanah Jawa ( Lamongan) yang sekian lama tergoda oleh retorika bangsa Melayu yang santun dan pintar membuat orang lain senang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang dulu saat mabuk berteriak lantang "Akulah Presiden Penyair Indonesia" pada tahun 70-an, saat beliau gencar memperkenalkan kumpulan puisi O AMUK KAPAK, dalam konteks tertentu tampil secara fenomenal dan bahkan kontroversial. Konon, penyair besar haruslah fenomenal dan jika perlu kontroversial. Pengakuannya sebagai presiden penyair Indonesia, lalu mencapai klimaknya saat dihelat Pekan Presiden Penyair dalaam rangka ulang tahun SCB, Juli 2007. Di perhelatan ini, saat itu saya juga diundang untuk menyemarakkan baca puisi di Taman Ismail Marzuki, antara lain terbit sebuah buku berjudul "Raja Mantra Presiden Penyair" (Yayasan Panggung Melayu, 2007) yang memuat belasan makalah dari dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, tepat di bulan Mei 2011, seorang Nurel Javissyarqi, seorang yang mengaku sebagai pengelana dari bencah tanah awa (Lamongan) menyampaikan gugatan melalui esai panjang yang lalu dibukukan dengan judul "Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri" (SastraNESIA dan PUstaka puJAngga, 2011). Hal yang membuat Nurel Javissyarqi (NJ) tersentak ialah sebagian esai SCB yang menyatakan: "Peran penyair menjadi unik, karena --sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya--secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya." Pernyataan SCB inilah yang merupaan minyak tanah yang menyalakan obor yang membakar pemikiran dan membarakan kegelisahan seorng NJ. NJ juga gelisah saat SCB mengawali tulisan esainya seperti ini: "Ketika Tuhan merindu menampilkan dirinya agar dikenal dan lepas dari kegelapan rahasia-Nya, Ia berfirman: Kun faya kun. Maka jadilah alam semesta ini." Esai SCB ini merupakan orasi budaya di dalam Pekan Presiden Penyair yang lalu dimuat di Republika 9 September 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut NJ, "Kekeliruan" penyair zaman dulu sampai sekarang, watak ugal-ugalannya karena merasa sudah sangat serius melakoni hayat bersastra dengan seluruh jiwa raga. Kesuntukan itu menggodanya meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat, nilai, dan corak lelaku sedurngnya sehingga abai pada kehidupan (hal. 23). Premis NJ inilah yang lalu dikembangbiakkan sebagai gugatan atas konsistensi SCB. Dalam konteks ini, menurut bahasa saya, alih-alih NJ mengatakan bahwa SCB termasuk penyair yang tidak konsisten, mencla-mencle, dan pada saat tertentu mengelak bertanggung jawab atas puisi-puisinya, dan pada kesempatan lain merasa perlu menerangjelaskan karyaa-karyanya sehingga para kritikus (yang memang kurang berkarakter) lalu terseret arus apa yang diinginkan oleh SCB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCB, menurut kredo puisinya, yang mengantar buku kumpulan puisinya O AMUK KAPAK (pernah diterbitkan oleh Sinar Harapan, 1981, dan Depdiknas, 2003) ingin membebaskan kata dari penjajahan makna, ingin mengembalikan pada kata pertama, yakni mantra. Realitasnya, kesan saya sama dengan NJ bahwa dalam puisi-puisinya SCB sekadar menjungkirnalikkan kata semaunya. Lalu setelah banyak pembaca dan kritisi dinilai kurang cerdas menangkap sinyal-sinyal puisi SCB, SCB yang semula emoh bertanggung jawab, lalu menulis pengangantar khusus untuk menerangjelaskan karya-karyanya. Dalam konteks ini lalu terlihat inkonsistensi kepenyairan SCB (pada satu ketika menolak bertanggung jawab dan pada ketika lain justru menerangjelaskan karya-karyanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NJ dalam esainya menampilkan begitu banyak referensi sebagai rujukan dalam mendedahkan Ayat-ayat Penyair yang juga kurang tepat dimanfaatkan oleh SCB. SCB mengerti ayat-ayat itu, namun seolah-olah mengabaikannya. Pada satu titik SCB menyamakan kinerja kepenyairan sama dengan kinerja Tuhan, bahwa Tuhan memiliki imajinasi, pelu pengakuan, dan sebagainya. Memang bisa jadi SCB ketika menampilkan Tuhan beserta imajinasinya sekedar untuk metafora, tetapi justru hal inilah (mempersamakan penyair dengan Tuhan) membuat NJ lalu melacak jejak Kitab-kitab yang disinyalir sebagai rujukan kepenyairan SCB (antara lain Ibnu Arabi). Lgi-lagi SCB dinilai inkonsistensi dalam hal imajinasi dan emanasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NJ juga mengugat pernyataan SCB terkait dengan teks Supah Pemuda sebagai puisi. Dalam hal ini NJ justru lebih menghargai Mohammad Yamin yang dengan cemerlang merumuskan teks Sumpah Pemuda itu ketimbang kredo kepenyairan SCB yang ternyata dingkarinya sendiri. Diingkari? Dalam konteks tertentu ya, sebab dalam kredonya SCB mengangkat marwah mantra di dalam puisi-puisinya, yang ingin melepaskan makna, atau membebaskan kata. Namun, dalam sajak "Walau" (hal.107) SCB justru menulis "walau huruf habislah sudah, alifbataku belum sebats allah". Nah, di sini juga tampak tidak konsistennya SCB. Lalu sajak-sajak SCB yang dipublikasi tahun 90-an justru telah mengigkari kredo puisi yang mengantar O AMUK KAPAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi tahu bagaimana kegelisahanmu sebagai penyair, pemikir, dan musyafir di dunia sastra dan budaya. Aku jadi tahu kitab-kitab yang telah kaubaca, japa mantra, dan ngelmu yang bersumber pada Kitab-Nya. Aku jadi tahu kegigihanmu merintis website sastra-indonesia.com dan aneka aktivitas kreatifmu. Terima kasih kuhaturkan. Usai membaca surat panjangmu yang berjudul”Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” yang terbit sebagai buku oleh Penerbit SastraNESIA dan Pustaka puJAngga (Mei 2011: 100 hlm) amat memikatku dan mendorongku langsung menulis surat sastra ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku, dengan cara dan gayaku, izinkan aku mulai menulis surat-puisi untukmu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di balik puing-puing mantra kamasastra&lt;br /&gt;aku menemukan ungkapan paling berharga&lt;br /&gt;sebagai buah dari pengalaman. Aneka pengalaman puitis &lt;br /&gt;tergali dari dasar kolam jiwa, kedalaman rasa&lt;br /&gt;pengalaman puitik yang serupa khatarsis itu&lt;br /&gt;menjadi monumen ketegaran sepanjang usia:&lt;br /&gt;nafas boleh tersengal,&lt;br /&gt;langkah boleh terjegal,&lt;br /&gt;dan tertinggal, tapi JANGAN MAU TERAJAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karnaval kata-kata itu lalu mengkristal&lt;br /&gt;menjadi lilin yang menyerahkan cahaya&lt;br /&gt;menjadi obor di kelam tanpa bebintang&lt;br /&gt;menjadi matahari jingga yang menyala&lt;br /&gt;lalu sebuah monumen terpahat di dada&lt;br /&gt;di kepala&lt;br /&gt;di segenap rasa&lt;br /&gt;menjadi api pembakar semangat :&lt;br /&gt;nafas boleh tersengal&lt;br /&gt;langkah boleh terjegal&lt;br /&gt;dan tertinggal tapi jangan mau terajal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di mata ini&lt;br /&gt;poranda citra dan aroma mantra kamasastra&lt;br /&gt;adalah lilin yang leleh demi memberi terang cahaya&lt;br /&gt;di rawa-rawa hidup ini&lt;br /&gt;panorama mantra menjelma kembang bakung tak peduli aroma&lt;br /&gt;di telaga dan muara sisa-sisa mantra kamasastra adalah teratai putih berbunga padma&lt;br /&gt;di taman ini makna mantra kamasastra adalah melati putih&lt;br /&gt;dironce dan disemat di sanggul Ibu Pertiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu indahnya karunia setelah poranda mantra kamasastra mereda&lt;br /&gt;begitu indahnya “bungahati” bernama puisi&lt;br /&gt;sampai-sampai anak-anak menggubah dan mengubah puisi-puisi khusus&lt;br /&gt;melukis kesejatian bencana&lt;br /&gt;sampai-sampai mereka merasa tak kunjung mampu menuangkan perasaannya&lt;br /&gt;sampai-sampai ada yang perasan perasaannya terlampau tandas&lt;br /&gt;sampai-sampai air keindahan tumpah dan mengalir menuju sketsa wajah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kabarkan padamu saat padam lampu&lt;br /&gt;aneka macam perasaan berkecamuk&lt;br /&gt;fisik terasa remuk&lt;br /&gt;terasa ada sesuatu yang menumpuk&lt;br /&gt;dan membuat terpuruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nafas boleh tersengal&lt;br /&gt;langkah boleh terjegal&lt;br /&gt;dan tertinggal, TAPI JANGAN MAU TERAJAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulukis wajah Ibu Pertiwi dengan tangan gemetar&lt;br /&gt;kejora itu, kembang mayang itu&lt;br /&gt;beringin putih dan sulur-sulurnya itu&lt;br /&gt;bibir itu&lt;br /&gt;bunga bakung&lt;br /&gt;pagar-pagar&lt;br /&gt;mantra&lt;br /&gt;doa&lt;br /&gt;!&lt;br /&gt;jadilah kartun hitam&lt;br /&gt;kartun superhero&lt;br /&gt;tak kenal sakit&lt;br /&gt;tegar&lt;br /&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nafas boleh tersengal,&lt;br /&gt;langkah boleh terjegal,&lt;br /&gt;dan tertinggal.&lt;br /&gt;TAPI JANGAN MAU TERAJAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;X&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;=&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;@&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;$&lt;br /&gt;%&lt;br /&gt;&amp;amp;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup penuh tanda dan makna&lt;br /&gt;aku disergap aneka tanda-tanda&lt;br /&gt;ada degup rasa gugup&lt;br /&gt;ada resah rasa gelisah&lt;br /&gt;ada rindu rasa candu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah&lt;br /&gt;desah tembang itu&lt;br /&gt;menjelma pagar-pagar&lt;br /&gt;pengusir gusar&lt;br /&gt;makna tembang itu&lt;br /&gt;ah ah ah&lt;br /&gt;menjelma risalah rajah-rajah&lt;br /&gt;mantram-mantram menenteramkan&lt;br /&gt;juga menenggelamkan&lt;br /&gt;ah, sajadah basah&lt;br /&gt;membasuh resah-resah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nafas boleh tersengal&lt;br /&gt;langkah boleh terjegal&lt;br /&gt;dan tertinggal&lt;br /&gt;TAPI JANGAN MAU TERAJAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak pintar nembang,&lt;br /&gt;itulah yang membuatku ngambang!&lt;br /&gt;Aku tak pintar berenang,&lt;br /&gt;itukah yang membuatku terbuang ke tanah seberang?&lt;br /&gt;di sorga&lt;br /&gt;Adam memakan buah Kuldi&lt;br /&gt;dan Hawa memanen nyeri&lt;br /&gt;hanya untuk memahami makna&lt;br /&gt;dan degup hidup&lt;br /&gt;sampai kapankah aku nembang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu beragamnya karunia yang kita terima&lt;br /&gt;terkadang&lt;br /&gt;merasa sebatang kara&lt;br /&gt;terkadang&lt;br /&gt;merasa terlunta-lunta&lt;br /&gt;terkadang&lt;br /&gt;merasa lungkrah tak berdaya&lt;br /&gt;kadang sepi mengiris-iris&lt;br /&gt;kadang sunyi mendesis-desis&lt;br /&gt;kadang terombang-ambing&lt;br /&gt;terbanting&lt;br /&gt;terasing&lt;br /&gt;pusing&lt;br /&gt;tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nafas boleh tersengal,&lt;br /&gt;langkah boleh terjegal,&lt;br /&gt;dan tertinggal.&lt;br /&gt;TAPI JANGAN MAU TERAJAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gempa masih mengguncang dada&lt;br /&gt;goyangannya menorehkan rangkaian luka&lt;br /&gt;dalang terus memainkan wayang&lt;br /&gt;aneka watak, masalah, musibah&lt;br /&gt;seperti banjir bah&lt;br /&gt;goro-goro&lt;br /&gt;salah mongso&lt;br /&gt;ki dalang terus menembang&lt;br /&gt;nada pelog, slendro, berbaur bergantian&lt;br /&gt;gunung-gunung meletus&lt;br /&gt;bumi gonjang-gajing&lt;br /&gt;lautan menghempas badai&lt;br /&gt;blencong terus mencorong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rangkaian kidung&lt;br /&gt;mengendap di setiap kedung&lt;br /&gt;mengalir dari hulu ke hilir&lt;br /&gt;jadi sihir&lt;br /&gt;sebelum kelir ditutup&lt;br /&gt;peti wayang ditutup&lt;br /&gt;dalang memainkan golek:&lt;br /&gt;golekono aneka macam makna !&lt;br /&gt;CARILAH ANEKA MACAM MAKNA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian catatan sekilas lintas tentang inkonsistensi SCB, yang dalam beberapa hal sejalan dengan pemikiran NJ. Catatan akhir, dalam hal tertentu penyair harus bertanggung jawab atas kinerja kratifnya. Ia tak bisa melepaskan diri dari apa yang telah dihasilkannya. Memang dulu ada faham seni untuk seni dan bentrok dengan faham seni untuk masyarakat. SCB tampaknya ada di tengah-tengah (kalau tidak boleh dikatakan mudah berubah) di antara dua faham ini. SCB digugat oleh NJ bertolak dari cara dan gaya SCB meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat,nilai, dan corak lelaku sedurugnya sehingga abai pada kehidupan. NJ menutup esai panjangnya dengan kalimat seperti ini: "Demikianlah "hujatanku" kepada Sutardji Calzoum Bachri, seorang yang mengatakan Tuhan bermimpi, berimajinasi. Padahal sebaliknya ia suka berimajinasi,senang bermimpi. Karena Tuhan Maha Pengasih, maka angan-angan Tardji pun tercapai menjadi Presiden Penyair Indonesia dan Raja Mantra. Tentunya, dengan bobot tak faham Ibnu Arabi" (hal. 85). Begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambi, 12 Mei 2011&lt;br /&gt;Sumber: http://www.facebook.com/notes/dimas-arika-mihardja/mantra-kamasastra-surat-sastra-buat-nurel-javissyarqi/10150187117489368&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-5786682940077353370?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/5786682940077353370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=5786682940077353370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5786682940077353370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5786682940077353370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/mantra-kamasastra-surat-sastra-buat.html' title='MANTRA KAMASASTRA [SURAT SASTRA BUAT NUREL JAVISSYARQI]'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1792957759047357280</id><published>2011-06-01T12:16:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:21:44.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chamim Kohari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>NUREL JAVISSYARQI MENGGUGAT SUTARDJI *)</title><content type='html'>Chamim Kohari **)&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu.&lt;br /&gt;Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata,&lt;br /&gt;dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman,&lt;br /&gt;beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Membaca tulisan Nurel Javissyarqi yang berjudul Menggugat Tanggungjawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, yang dibukukan oleh penerbit sastraNESIA &amp;amp; PUstaka puJAngga, tahun 2011, seakan-akan menyentak dan menyadarkan kepada siapa pun yang menggeluti dalam bidang puisi dan kepenyairan. Semangat Nurel sangat bergeni-geni, ia seperti —pinjam istilah Maman S. Mahayana— telah sekian lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya untung ia seorang santri yang mambu seniman, atau seorang seniman yang mambu santri, sehingga apa yang ia paparkan masih terkendali. Dalam tulisan Nurel Javissyarqi tersebut sangat tampak semangat Watawaa Shauu bi al-Haqi Watawaa Shauu bi al-Shabri (saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan I, Nurel mengungkapkan bahwa biangkerok dari Menggugat Tanggungjawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, berawal dari esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007. Dalam Tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: “Peran penyair menjadi unik, karena —sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya— secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pernyataan Tardji seperti itu Nurel terhenyak, matanya ngedim, giginya gemerutuk, meski sehari ia hanya shalat 5 kali, ia menjadi sangat tidak terima ketika Tardji mengatakan Tuhan bermimpi, berimajinasi, Tardji menyamakan kedudukan Tuhan dengan penyair, tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, pada hal Allah berfirman Faman ya’mal mitsqaala dzaarratin khairan yarahu Waman ya’mal mitsqaala dzaarratin syarran yarahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair adalah manusia biasa, juga Tardji, ia bukan Rasul bukan nabi, ia tidak lebih baik derajatnya dari tukang sol sepatu, ia makhluq (yang dicipta) seakan-akan menyamakan kedudukannya dengan Al-Khaliq (Maha Pencipta) sehingga dengan gegabah menyatakan sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya— secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta). Kata Khaliq berasal dari kata kerja khalaqa, yang dalam kamus Al-Ashri kata khalaqa berarti “menciptakan”, “membuat orisinil”, “memproduksi” berbeda dengan kata Ja’ala yang berarti “membuat” walau bisa juga diartikan “mencipta”, tetapi kata khalaqa lebih cenderung pada makna “mencipta” dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, sedang kata ja’ala bermakna “membuat” dari yang sebelumnya sudah ada menjadi ada dalam bentuk yang lain. Sementara makhluq termasuk kata benda penderita (isim maf’ul) yang berarti “yang dibuat” atau “dicipta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan II, Nurel mengungkapkan bahwa “Andai pun Tardji mengambil dari mana saja pemikiran Ibnu Arabi, tidaklah patut merombak dan membentuknya menjelma pengertian lain, yang lalu lebih menekankan imajinasinya. Pada hal dalam karya Ibnu Arabi, tidaklah ada yang merujuk ke imajinasi, tetapi emanasi.” Ibnu Arabi beranggapan bahwa Tuhan sebagai esensi mutlak, tidak mungkin dikenal atau bagaimana mungkin disebut Tuhan, kalau tidak ada yang menuhankan-Nya, Ibnu Arabi mengambil dasar Hadits Qudsi yang artinya “Aku adalah khasanah yang tersembunyi, Aku ingin agar Aku dikenal, maka Aku ciptakan dunia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan III, Nurel mengungkapkan bahwa bagaimana kredo Tardji membebaskan kata-kata dari penjajahan pengertian, dari beban idea, membiarkan kata-kata menentukan dirinya sendiri, menulis puisi bagi Tardji adalah mengembalikan kata kepada mantera, pada hal menurut Nurel mantera sangat sarat dengan makna, karena dari maknanyalah daya suara menembus segala yang dikehendaki. Sementara pada buku himpunan kertas kerja seminar internasional dan sejumlah esai tentang Tardji, bertitel Raja Mantra Presiden Penyair terbitan Yayasan Panggung Melayu, 2007, tampak judul yang sangar, hebat, memabukkan dan tiada tanding, oleh karena itu Nurel menjadi semakin geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan IV, Nurel mengungkap proses lahirnya sumpah pemuda (1928), yang sebelumnya (tahun 1920-an) ada gerakan Renaissance Indonesia dengan gerakan Pemuda Indonesia, juga diuraikan tentang kondisi manusia Indonesia sampai kini masih percaya pada lambang-lambang, semboyan-semboyan, jimat, mantra dan jampe-jampe. Nurel juga mengungkap bagaimana para sastrawan yang tidak takut jeruji penjara, kelaparan keluarganya, juga keberaniannya yang mengundang inspirasi manusia di sekitar dan penerusnya seperti Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra dan seterusnya. Mereka bertanggungjawab atas laku nasib dan karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Nurel V mengungkap bagaimana mantra berkembang, mulai dari yang mengadopsi nilai ajaran Islam sampai mantra-mantra yang berdaya ruhani rendah, yang paras auranya merah, mudah dipelajari karena menghamba pada jin atau bentuk-bentuk penyimpangan ajaran murni yang sengaja dirombak demi pamor berbalik, yang biasanya dipakai para dukun. Terus apa jadinya jika Sutardji dalam mantra-mantranya memutar balik bahasa sekenanya hingga makna jungkir balik tidak punya kandungan isi dan tidak bertuah. Coba simak sajaknya yang berjudul Shang Hai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHANG HAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ping diatas pong&lt;br /&gt;pong diatas ping&lt;br /&gt;ping ping bilang pong&lt;br /&gt;pong pong bilang ping&lt;br /&gt;mau pong? bilang ping&lt;br /&gt;mau mau bilang pong&lt;br /&gt;mau ping? bilang pong&lt;br /&gt;mau mau bilang ping&lt;br /&gt;ya pong ya ping&lt;br /&gt;ya ping ya pong&lt;br /&gt;tak ya pong tak ya ping&lt;br /&gt;ya tak ping ya tak pong&lt;br /&gt;kutakpunya ping&lt;br /&gt;kutakpunya pong&lt;br /&gt;pinggir ping kumau pong&lt;br /&gt;tak tak bilang ping&lt;br /&gt;pinggir pong kumau ping&lt;br /&gt;tak tak bilang pong&lt;br /&gt;sembilu jarakMu merancap nyaring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, tiga kumpulan sajak, 1973)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi tersebut hanya tampak terkesan seperti bermaian kata-kata atau bahasa. Dengan demikinan, menurut Nurel perlu dipertanyakan, apakah kredonya Tardji tak menjerumuskan umat ke jurang jahiliyah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tulisannya, Nurel menegaskan “sejauh ini, Tardji memang kreatif mengurai bunyi-bunyian disusupkan ke irama puisinya juga menggali energi vocal mau pun konsonan demi puisinya laksana mantra, tetapi sampai 30 tahun lebih, ia belum terbukti berhasil mentransfer kekuatan mantra ke dalam puisi mantranya. Ia tidak cukup sakti sebagai Raja Mantra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerukmacan, 21 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni itu panjang&lt;br /&gt;Hidup itu pendek&lt;br /&gt;Agama itu dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Disampaikan pada acara Bedah buku dalam Safari Sastra yang diselenggarakan oleh Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat Jombang, pada hari Ahad, 22 Mei 2011 di Aula SMA Muhammadiyah 1 Jombang.&lt;br /&gt;**) Aktifis Komunitas Sastrawan Pesantren Jawa Timur, kini menetap di Pondok Pesantren Darul Falah Jerukmacan, Sawo Jetis, Mojokerto, HP 081931091965. E-mail: www.ppdf@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1792957759047357280?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1792957759047357280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1792957759047357280' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1792957759047357280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1792957759047357280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/nurel-javissyarqi-menggugat-sutardji.html' title='NUREL JAVISSYARQI MENGGUGAT SUTARDJI *)'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8844163874983574459</id><published>2011-06-01T12:13:00.004+07:00</published><updated>2011-10-01T20:22:27.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fanani Rahman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Membaca Nurel, Membaca Sutardji *</title><content type='html'>Fanani Rahman&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ akulah Jala Suta, memberontak&lt;br /&gt;adalah siasatku menghormati nenek moyang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas adalah penggalan dari larik terakhir puisi panjang Nurel Javissyarqi, Balada Jala Suta, yang ditulisnya lebih 10 tahun lampau, dalam kembara kreatifnya di Yogyakarta. Dari larik puisi itu pula saya mencoba silaturahmi “mengenal” proses kreatifnya, sebab akan terkesan sok akrab kalau saya mengistilahkan “menyelami” atau “mengupas” atau istilah lain — yang malah kurang nyaman.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah bertemu langsung dengan Nurel, hanya sekali bersapa via sms, seminggu lalu, atas budi baik Sabrank Suparno yang berbagi nomor HP, yang telah duluan jadi teman bersastra. Sementara dari catatan Fahrudin Nasrulloh, saya mendapatkan sekilas gambaran sosok Nurel, yang digelari sebagai penulis pemberontak, yang nekad dan gede nyali bikin penerbit sendiri, Pustaka Pujangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun akhirnya berkenalan juga dengan situs sastra-indonesia.com, situs yang konon dibuat dengan nekad pula oleh Nurel 3 tahun lampau. Yang dengan jujur saya acungi jempol, karena telah mampu menjadi lembar-lembar propaganda, menjumput karya-karya sastra yang tak tergapai media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kawan, ijinkan saya mulai masuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adegan I :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Sekte Sutardji Calzoum Bahri (SCB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah sastra Indonesia, nama SCB melesat bagai kejora, sekitar tahun 1970-an, tatkala tampil membaca puisi tunggal, dengan gaya yang nyleneh, membaca puisi sambil menenggak bir dan mengayunkan kapak di atas panggung. Gelar kepenyairannya makin kokoh, ketika dia memproklamirkan “Kredo Puisi” tahun 1973, sebagai konsep bersastranya. Oleh beberapa pengamat dia dianggap sebagai pembaharu perpuisian Indonesia, bahkan diberi gelar Presiden Penyair Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyegarkan ingatan, berikut saya kutip kredonya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam (penciptaan) pusi saya, kata-kata saya biarkan bebas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama,….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penyair saya hanya menjaga – sepanjang tidak mengganggu kebebasannya – agar kehadirannya yang lebih bebas sebagai bentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal. Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengembalikan kata-kata pada awal-mulanya. Pada mulanya-adalah Kata. Dan Kata pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kredo puisi yang diproklamirkan itu, sungguh luar biasa efeknya, ibarat strategi memenangkan peperangan dan legitimasi atas keistimewaan karyanya. Sejurus itu, blantika sastra mengamininya, tersebutlah SCB sebagai pembaharu puisi tanah air. Konon, sejak itu SCB dianggap meluruhkan mitos Chairil Anwar Sang Pelopor angkatan 45, sebagaimana jua Chairil meluruhkan mitos Raja Pujangga Baru, Amir Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi SCB mendapat tahta yang istimewa dalam jagat sastra Indonesia, iapun banyak mendapat penghargaan sastra, antara lain South East Asia Writing Award (Sea Award) di Bangkok, Thailand (1979), dan Anugerah Sastra “Chairil Anwar” (l997-l998) dari Dewan Kesenian Jakarta. Puisinya diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tergelar acara “Pekan Presiden Penyair” yang dihelat di Taman Ismail Marzuki–menara gading sastra– untuk merayakan usia 66 tahun SCB, paling tidak ini menunjukkan seberapa penting eksistensi Sutardji dalam sejarah sastra Indonesia. Konon, acaranya sungguh semarak, menghadirkan pembicara-pembicara sastra dari negeri tetangga pula. Setahu saya, belum pernah ada penghidmatan atas penyair yang diwujudkan dalam agenda sastra sebegitu meriah, sebagaimana yang diberikan terhadap SCB ini. Kecuali mungkin terhadap tokoh-tokoh yang sudah tiada, pada Chairil Anwar misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCB telah berhasil menciptakan mitos dirinya. Telah berhasil membangun sekte sastra tersendiri (meminjam istilah Oyos Suroso HN). Betapa tidak, semua yang keluar dari dirinya selalu dianggap memukau, nyleneh, mempesona, dielu-elukan. Sosok dan penampilannya yang nyleneh, konon telah dianut dengan takdzim oleh beberapa generasi setelahnya. Kabarnya, salah seorang lomba baca puisi dalam rangkaian acara “Pekan Presiden Penyair” itu, membawakan puisi berjudul “Mas Kawin” nyaris tanpa busana dan beraksi panggung layaknya sebuah peristiwa ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan II :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel pun takjub pada Presiden Penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya pengelana sastra yang lain, Nurel pun takjub atas kepiawaian SCB. Ini bisa dirasakan pada bagaimana buncahnya dia mengisahkan, bertemu sepanggung dengan SCB, saat rangkaian peristiwa pengukuhan Abdul Hadi WM sebagai Guru Besar, di Kampus Paramadina, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun bagaimana Nurel memberikan catatan hormat atas kumpulan esai SCB, Isyarat, terbitan Indonesia Tera, 2007. Berikut saya kutip ulasan Nurel :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membaca Isyarat Tardji, serasa mendengar paduan suara jaman, yang didengungkan kumpulan serangga nan berkumandang.” (dari esai “Isyarat Tardji Tergeletak dan Codot” 17 September 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paragraf lain, ia menulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia telah melampaui seorang diri, genap sudah usianya melegenda; seumur hidup dikawal kalimah-kalimahnya, praktis paripurna. Bahasa menterengnya, Tardji itu segugus peradaban perpuisian di Indonesia.” (dari esai “Isyarat Tardji Tergeletak dan Codot” 17 September 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan III :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jala Suta menggugat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa agenda apresiasi sastra, dimana SCB didaulat jadi pembicara, yang sering diapresiasi bukan pada proses pemahaman terhadap karya-karya SCB, bukan pada tematik – inti ruh karyanya, tapi lebih pada kenyentrikan dan kenylenehan style dan performa sang penyair. Ini tentu tak lepas dari keberhasilan SCB membangun mitos, yang mana sejarah dan pengajaran sastrapun mengamininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa catatan yang ada, belum saya temukan ulasan minor tentang SCB, kecuali dalam buku gugatan Nurel ini. Kalaupun ada mungkin desas desus sambil lalu, seperti cibiran kecil, tatkala SCB memutuskan untuk menerima hadiah 150 juta saat dinobatkan sebagai salah satu peraih Bakrie Award 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “ Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bahri” merupakan tanggapan atas esai SCB yang berjudul “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, yang disampaikan sebagai orasi budaya dalam acara Pekan Presiden Penyair, di TIM, tahun 2007 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri mencoba menelisik, namun semenjak esai itu dilahirkan, disuarakan sebagai orasi, bahkan dimuat di beberapa sumber berita, tidak saya temukan jejak tertulis, tanggapan kritis atas pernyataan SCB (atau mungkin karena pembacaan saya yang tidak purna). Ada baiknya saya kutip kembali pernyataan SCB untuk sama-sama kita cermati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peran penyair menjadi unik, karena—sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya—secara ekstrem boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, Sang Jala Suta gelisah setelah membaca esai penyair pujannya itu. (saya membayangkan, malam itu mungkin ia tidak bisa tidur, menghisap dalam berbatang-batang rokok, menenggak bergelas-gelas kopi kental. Sebagaimana ia terseret ujaran yang diugeminya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski saya tidak rajin ibadah, melakukan dosa, jangan sekali-kali menghina agama saya, Tuhan saya, Nabi saya, keyakinan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan betapa gelisahnya dia, selaksa demonstran menggedor-gedor pintu tebal penguasa. Alam pikirnya berkecamuk antara dirinya penyair, dirinya pengagum SCB, dirinya santri, dirinya manusia pengelana. Dimana dia akhirnya dengan tegas menuturkan dan menggugat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyair bukanlah turunan pokok ruhani, apalagi jasadiah para nabi. Yang jelas, ia mencintai bahasa setulus-tulusnya dan siap bertanggung jawab atas setiap perbuatan (kata-katanya) juga kisaran hayat seperti para insan yang mempertanggungjawabkan kepada sesama serta Tuhan Yang Esa, di kala dimintai pertanggungjawaban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira pemberontakan kawah pikirnya berhenti disitu, namun tidak, ia lanjutkan gugatannya lebih tajam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…“Kekeliruan” penyair zaman dulu sampai sekarang, watak ugal-ugalannya karena merasa sudah sangat serius melakoni hayat bersastra dengan seluruh jiwa raga. Kesuntukan itu menggodanya meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat, nilai, dan corak lelaku sedurungnya, sehingga abai pada ikhtiar kehidupan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Nurel, sang penulis pemberontak, mengudarasa sumbatan-sumbatan yang mengganjal di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggugat pernyataan Sang Presiden Penyair, dengan kalimat pamungkas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya, kukira surat Asy Syuara bukanlah bentuk penghormatan kepada para penyair, melainkan titel tersebut tak lebih sebagai hardikan serupa yang ada pada Surat Al Lahab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan IV :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara angin, lalu sepi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Nurel tersebut, adalah tanggapan yang kritis atas sikap kepenyairan Sutardji. Adalah sikap pemberontak yang tak bisa tinggal diam. Tidak salah jika M.D Atmaja, eman terhadap nama Nurel yang semakin mewarna jagat sastra. Karena menggugat Sutardji, ibarat menggugat mitos, menggedor tembok raksasa. Disini, nama dan kepenyairan Nurel dipertaruhkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, usai buku diluncurkan, bahkan sebelumnya secara bertahap sudah diposting di situs internet, saya belum mendengar riuh-tanggapan. Yang ada hanya dialog abu-abu. Kata-kata yang samar, lalu suara angin, lalu sepi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sepi itu, saya teringat kembali Jala Suta, yang memberontak, yang menggugat, sebagai siasat untuk menghormati Sang Presiden Penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Secarik pengantar bedah buku: “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bahri”, Kumpulan Esai Karya Nurel Javissyarqi, Terbitan PUstaka puJAangga dan SastraNESIA, Mei 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8844163874983574459?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8844163874983574459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8844163874983574459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8844163874983574459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8844163874983574459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/membaca-nurel-membaca-sutardji.html' title='Membaca Nurel, Membaca Sutardji *'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8859269132875498156</id><published>2011-06-01T12:12:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:23:44.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>PIJAR KATA NUREL DI TENGAH ALUN ZAMAN</title><content type='html'>KRT. Suryanto Sastroatmodjo&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pustakapujangga.com/?p=641"&gt;http://pustakapujangga.com/?p=641&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta sangat menentukan kelanjutan proses penyebab atau proses kehidupan subyek. Sebab ketika berada di titik koordinat, kita jelas mendapati karakter diri sebenarnya atau dengan titik seimbang, cermin diri sanggup merasakan getaran kesungguhan dari sang maha Penyebab Cahaya Ilahi: Apakah kita gemetar atau semakin asyik oleh kesejukan Cahaya. Sebelum sampai ke suatu akhir bernama akibat (mati, timbangan pahala)” dikutip dari buku Kajian Budaya Semi (buku pertama Trilogi Kesadaran), bagian Kajian Sebab atas Subyek, Nurel Javissyarqi. Di situ penulis muda, merupakan intan pemikiran dan mutiara-penggagas keadilan ruh dari Lamongan, bicara tentang pemaknaan hayati.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sepadan anggukan halus-lembut dari para pemerhati dari rana manapun di Indonesia saat ini, tatkala kita meriadukakan “Seminya Budaya” yang linuhung, setelah bertahun-tahun menjadi korban dari tikai-cidera, silang-selisih dan goda-goda membawa bangsa kita terkantuk di batu-sandung, kerikil tajam melukai tangan dan kaki dalam hal-hal menuju pada kesantunan situasi, kemuliaan akhlak, banyak pihak (pemikir, penggagas, penyumbang dan penyeimbang mantap masyarakat) dapat dikaji lewat bangsal-bangsal pustaka yang damai-arkadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korolariz dari cita lembut ini, Nurel kita hadirkan dalam hasana sastra yang memiliki pijar penyalaan elok, laras zamannya. Manakala ia menyapa generasi muda di belantara Nusantara, lantaran ingin merefleksikan pijar-kata pula. Barangkali semacam renungan diri yang khusyuk, ditulis secara tepat oleh Nurel Javissyarqi: PEWAYANGAN: Mitos apakah melingkupi tubuh ini /hingga menari-nari di alam sunyi. /Mitos apakah menutupi kalbu ini /sehingga terdiam dalam ramai /dan membalut luka bakar ini? /Segalanya menuju kering serupa /tinggalkan bekas sulit terkelupas; /olehnya berjalan di belakang layar. 1999, dari bukunya; Sayap-Sayap Sembrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel menegur para pemimpin bangsa yang sering berseteru ini, agar dapat saling mengendalikan diri, saling berkhidmat, tegar-tabah munajad agar memperolah kecerahan yang indah. Ia berseru agar apabila bangsa ini ingin jaya, kita tanggalkan mitos-mitos duniawi yang menggerogoti jiwa-raga bangsa dan gantilah dengan tafakkur, meditasi membawa kita pada kedamaian esok hari, agar apapun menyebabkan luka bakar (akibat nafsu angkara tiada kesudahan) merusak jasad, merusak kalbu; niscaya terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Langkah memberi ruang positif, sebagaimana orang sedang berjalan atau beraktivitas memberi ruang positip, di mana pemaknaan gerak ialah energi yang terlaksanakan” (dikutip dari Kajian Budaya Semi, bagian Merekonstruksi – x – = + dalam Korupsi), mendorongnya untuk mengajak bangsanya agar menciptakan kedamaian fikir, hati, nalar agar “positive thingking” menjadi acuan getar hayati, dengan harapan agar energi lebih terjaga sempurna lagi sentausa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa getar yang terbeber, Nurel berpendapat; Zaman Trawaca padang Njinglang, zaman pencerahan semesta bakal menyusuri lorong-lorong hati manusia dan tiba pada keyakinan; bahwasannya kemuliaan insan terlahir dari sikap mandiri ini. Dalam hal ini maka pola pikir umat manusia pada jaman kegelisahan justru harus diawali dari diri pribadi kita sendiri. Mengapa tidak? Karena dalam suatu sikap terkepal, membebas, terkristalisir pada era yang ada, selaras spirit jaman (Zeit-geest) yang ada, kita merasa eksis dan dari situ percayalah waktu segala kejadian di masyarakat ini dapat mengikut pola pikir paling tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, Nurel mempunyai anugerah sikap yang terbaca jelas lewat buku-bukunya, misalnya “Takdir terlalu Dini” (awal bukunya membedah tentang kemuliaan ruh dimuka bumi lestari ini), di mana Nurel mengharap Tri-dimensi penghampiran qualified ditumpah darah Nusantara kita cinta ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Konsep “well-informed dan well educated among nations” [marilah kita tegakkan informasi sejelas-jelasnya tentang agama, budaya, adab-susila (terutama secara Islami) untuk suatu tata nilai yang hidup].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Konsep tentang “inspirating and inspired” [telah teralami dan telah terilhami seluruh umat di jagadnya dengan ajaran-ajaran Islam yang kita hormati dan cintai, terutama al-Qur’an agar kehidupan insan dapat terbawa pada keluhuran, keagungan, kefitrian].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena di sini, kita menyinggung soal “lisensi puitika” kebebasan makna, kemerdekaan mimbar, kearifan lokal sang sastrawan, maka sang waktu dapat juga merupakan kancah rohaniah juga membutuhkan discursus pula. Kalau kita mengikuti wawasan Bung Karno dalam “Di bawah Bendera Revolusi” (1960), maka dalam kapasitas pejuang, kita dapat mengharapkan adanya tiga macam gagasan terpadu yang mesti dihayati secara sempurna, yakni; nationalisme-geest (gagasan dan angan-angan nasionalis), nationale-will (kemauan dan tekad nasional) dan nationale daad (perbuatan nasional) yang kita jabarkan dalam bahasa pergaulan kita dewasa ini; angkah lan langkah sing tuwuh saka anggit (tekad timbul dari langkah untuk suatu dinamika) dan dhemen sing tumemea (rasa sayang pada gagasan-gagasan besar yang bisa diresapi maknanya), niscaya bakal mewujudkan realisasi kesejatian makna, terkabulnya aspirasi dan cita-cita luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Nurel Javissyarqi atau (dulu) sebagai pimpinan Komunitas Sastrawan Tugu Indonesia, Yogyakarta, 5 tahun lewat dalam nama Nurla Gautama (nama pemberian cerpenis Joni Ariadinata) bisa mewariskan martabat bathin lewat buku-bukunya yang “menggigit” di seantero pemikiran unik; akhirul kata terwujudlah semoga ide-ide tentang Nasionalisme Islamis yang kita harapkan dewasa ini; “Ayo bergeraklah, mereka dari ainul yakin menuju hakkul yakin, sempurna. Ayo, kibarkan panji-panji kemerdekaan kalbu mandiri bersemangat baja. Ayo, kita menangkan cita luhur peradaban Islam sepanjang Zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obsesi dan ketertarikan fa’al juang ialah hak bagi setiap orang yang kepingin merebut ranah ini, misalkan Iqbal, Gibran, Nietzsche dan lain-lain. Namun kreativitas sastra niscaya dapat menyapa orang dan terbawa pada dimensi yang ingin pula diejawantahkan melalui kidung-kidungnya sebagai prosa lirik dan puisi yang khas dimiliki Nurel, sebagaimana dalam Kajian Budaya Semi, yang kita haturkan ini. (Dapatkan gagasan-gagasan Nasionalisme berangkat dari lokal menuju Nasional, menggapai Internasional), niscaya menjadi tumpuan-harapan sebagai kaum usia muda dahaga saat ini, akan pijar kata Islami yang dinamikanya dapat diterbangkan oleh sayap-sayap hati terlembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, banyak gayung bersambut, kata berjawab, sayap-sayap bathin dan ketakwaan menjamah ranah kerontang ini. Andai-kata kita berjalan melintasi padang-padang dan di sana terdapat sendang, telaga bening, berbahagialah kita, bahwa seteguk tirta akan dapat memberi obat dahaga tersebut, setelah kita menembangkan laguan sunyi sang kelana yang makin lama dilamun rindu, perih, duka. Niscaya, seorang kawula muda seperti Nurel ini merupakan salah satu contoh, dimana Sabda Alam menemukan ujung, dimana salam menjawab misteri hidup, lantaran tiap tapak jelajah bisa diamati pemerhati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita telah menangkap, apapun telah diwedarkan pada ucap-bedah atas telempap sejarah, namun kita masih membutuhkan kata-kata yang lebih nyaring berkumandang lagi, entah ditengah ratri jelaga, entah dipagi-resik, dimana andika sekalian merupakan rekan-rekan seikhawan dalam kelana ini. Demikian…wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nagan Lor 21, Yogyakarta. Senin, 23 Mei 2005.&lt;br /&gt;Makalah bedah buku KBS di UIN Yogyakarta 26 Mei 2005, bekerjasama dengan teater ESKA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8859269132875498156?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8859269132875498156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8859269132875498156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8859269132875498156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8859269132875498156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/pijar-kata-nurel-di-tengah-alun-zaman.html' title='PIJAR KATA NUREL DI TENGAH ALUN ZAMAN'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-2458831063179018077</id><published>2011-06-01T12:03:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:24:16.535+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspiring Writer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutejo'/><title type='text'>BERKACA MENULIS DARI NUREL</title><content type='html'>Sutejo&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Hal ini dilakukan juga untuk mengatur Nurel dalam menentukan perguruan tinggi di mana jendela masa depan harapannya dapat diwujudkan. Tetapi jiwa berontak Nurel memilih untuk tidak selesaikan skripsi di jurusan ekonomi.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menarik dari penulis ini? Beberapa hal berikut saya impresikan dari pertemuan empat hari bersama Maman S. Mahayana dan Kasnadi dalam tamasya budaya Jakarta-Bogor. Di emper rumah Bang Maman, hal-hal menarik berikut dapat direnungkan (a) ketidakpuasaannya atas institusi formal karena mengalirkan kebohongan, (b) memilih komunitas untuk mencerdaskan buah kepalanya, (c) pengalaman menulisnya adalah pergulatan sosial budaya lewat meditasi kultural ke berbagai tempat spiritual, (d) semangat lokalitasnya yang tinggi dalam menggerakkan dunia kepenulisan –dan karena itu dia mendirikan penerbit bernama Pustaka Pujangga–, (e) kebiasaan mengarang segala hal dalam pendidikan, dan (f) masa kecilnya sulit membaca –dan karena itu—baru bisa membaca di usia dia belajar di kelas-5 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unik? Tentu, begitulah jika kejujuran yang menjadi langit pemikiran kita. Persoalannya adalah apa yang Nurel miliki, ternyata, tidak dimiliki oleh kecenderungan remaja kita. Jiwa kepenulisannya muncul, ketika banyak pemikirannya yang tidak terfasilitasi oleh ruang-ruang publik. Di sinilah, maka Nurel mengedarkan pemikirannya berupa buku yang merupakan foto kopi ke berbagai komunitas kemudian dibedah dan dikritisi. Sebuah upaya pencerdasan bangsa, katanya. Ketika, teman-teman lokal lainnya (kemudian mendirikan penderbit Pustaka Ilalang) takut berbagai ancaman –yang mungkin dari pihak—keamaan, dia malah berkerlit, “Wong mencerdaskan anak-anak bangsa kok dilarang.” Di sinilah, tampak dua penting (a) keberanian yang luar biasa, dan (b) jiwa pemberontak khas anak muda. Ketika anak-anak muda lebih banyak memilih demo, lelaki Nurel sebaliknya memilih pena sebagai senjata bertarung pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruang diskusi yang tak berdinding itu, Nurel juga tak alergi kritik. Di sinilah, memang akan terjadi proses refleksi dan penajaman. Ternyata, tidak ini saja upaya penajaman itu. Dia bahkan menyusuri tempat-tempat yang dinilai magis, lokalitas, dan spiritualitas. Dalam proses kepenulisannya, dia terinspirasi oleh beberapa tempat religius. Pondok Tegalsari, misalnya, di Ponorogo, adalah salah satu tempat terakhir yang dia kunjungi. Kasan Besari adalah sosok historis yang melahirkan Ronggowarsito sang pujangga besar nusantara. Di tempat-tempat itulah, akunya akan memantik kondisi magis (bawah sadar?) yang menarik. Realita ini barangkali mengingatkan apa yang diungkapkan Rendra, bahwasanya sastrawan (penulis) adalah agen kontemplasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kenekatan untuk mengembangkan dunia kepenulisan terinspirasi oleh pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Yakni, baru di usia SD kelas-5 dia lancar membaca. Hal membuatnya termotivasi setelah mengenal dunia buku di saat-saat dia tekun berkomunitas di Jogjakarta. Di sinilah, barangkali sebuah ruh religius –yang rata-rata—tidak dimiliki oleh para guru. Jika Nurel seorang sastawan jatuh cinta pada dunia kepenulisan maka realita guru kita –yang tidak mencintai kepenulisan– akan menjadi paradoks sepanjang masa. Terlebih jika diamati, dalam berbagai penerbitan buku-bukunya dibiayai sendiri. Andai motivasi Nurel ini menjadi motivasi para guru, tentunya, akan menjadi sinyal positif di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda? Sebuah bilik cahaya yang menarik untuk diselisik mengingat ruang-ruang gelap dunia pendidikan kita nyaris tidak memberikan tempat untuk penyemaian dunia kepenulisan ini. Jika lahir 1000 Nurel saja, maka ibarat virus ia akan menjalar begitu cepat. Andai tiap kota di Jawa Timur lahir Nurel dengan idealismenya ini maka dinamika perbukuan akan menjadi dunia alternatif yang efektif mengubah mentalitas bangsa yang akut dan parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik disimak adalah semangat lokalitas. Artinya, mengapa dia tidak memilih Jogja atau Jakarta sebagai persalinan pemikiran dan tulisan-tulisannya? Jawaban ringan sambil bercanda dia bilang, “Kalau di Jakarta aku kan hanya nomor kesekian puluh saja, atau bahkan ratusan. Tetapi kalau di Lamongan, tentu akan menjadi nomor satu karena yang merintis memang baru Nurel.” Sebuah logika berkarya yang menarik untuk diapresiasi. Pengibaran bendera penerbitan dari kabupaten daerah akan menjadi sejarah di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, selanjutnya, meminjam metafor perjalanan Nurel adalah pentingnya jiwa pemberontak. Sebuah jiwa tidak kompromi atas kemapanan. Jiwa demikian dalam kepenulisan ibarat nyala api yang akan menghangatkan. Karena itu, menarik untuk ditransformasikan kepada siapa pun kita. Terlebih, anak-anak muda yang –nyaris menjadi agen perubahan—ini sudah lama terjebak pada politisasi peran sosialnya. Proses permenungan dan berkarya seperti terlupa oleh hirup pikuk politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terakhir, dan ini yang menuntut mobilitas tinggi adalah bagaimana dia menyusuri beragam tempat untuk pengembangan pemikirannya: diskusi dan bedah buku. Sebuah upaya memasyarakatkan pemikiran di satu sisi dan pada sisi lain merupakan gerakan bawah tanah untuk melawan hegemoni arus atas Jakarta. Semacam pemberontakan? Jika meminjam kecenderungan berpikir Nurel, maka hal ini bisa jadi adalah upaya penyebaran virus kepenulisan dan pemberontakan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jika kita mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Nurel, maka ada baiknya kita memilih sekian pemikiran dan kiprah dalam membumikan pemikiran dan karya. Keberanian Anda jadi penulis adalah mutiara masa depan. Jika itu dipelihara secara sempurna masa depan telah ada digenggaman Anda.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;*)Pernah dimuat di Ponorogo Pos&lt;br /&gt;**) Isi tulisan ini masuk dalam buku Inspiring Writer, karangan Sutejo, penerbit Felicha, Maret 2001, pada urutan ke 7, halaman 61, dengan judul "Merindu Jiwa Berontak Kepenulisan Nurel Javissyarqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-2458831063179018077?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/2458831063179018077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=2458831063179018077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/2458831063179018077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/2458831063179018077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/berkaca-menulis-dari-nurel.html' title='BERKACA MENULIS DARI NUREL'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-298003052903421274</id><published>2011-06-01T11:58:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:25:36.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Marhalim Zaini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trilogi Kesadaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>MEMBACA DUNIA NUREL *</title><content type='html'>Marhalim Zaini **&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada logika-logika aneh dan asing, ada sentakan pemberontakan yang ajaib, ada teriakan-teriakan keras dan dalam, ada hasrat untuk membangun dunia sendiri. Ada lompatan-lompatan makna dalam bahasa yang berguling-guling, ada jerit dari jerih kata yang diperas berulang-ulang, ada laut yang saling berbalik arah debur ombaknya.”&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian komentar saya via sms, beberapa waktu lalu saat menerima dan membaca sejumlah buku (berukuran) mungil yang dikirim oleh Nurel Javissyarqi. Buku-buku yang hemat saya lahir dari kegelisahan spiritualitas khas para pejalan sunyi, yang bergumam, berbisik atau terkadang menjerit dalam lengking panjang tak berujung.&lt;span class="fullpost"&gt; Ada dalam bentuk surat-surat, aforisma, syair, puisi, kisah, dan sejumlah bentuk yang tampaknya sedang membangun frasa nafasnya dalam lorong hidupnya sendiri. Dan saya kira, komentar saya di atas, juga kelak berlaku dalam pembacaan saya terhadap sebentuk buku lain yang juga ditulis oleh Nurel, berjudul Kajian Budaya Semi, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, di dunia hiruk, penuh lintasan peristiwa dan kolase waktu yang berselirat serupa jaman kini, tidak ada yang mustahil. Setiap yang lahir dari rahim pemikiran siapa pun akan selalu hadir sebagai segumpal wacana, dengan segala potensinya, berupaya keras untuk ikut bergabung dalam wilayah publik yang lebih luas, mencoba hidup berdampingan dengan sejumlah tubuh-tubuh wacana lain. Dalam konstelasi serupa itu, yang terjadi kemudian adalah kompetisi. Bukan sebuah kompetisi yang semata ditata oleh sebuah sistem produksi yang massif, akan tetapi juga dalam sebuah lingkungan terkecil, bahkan tersempit dari sisi yang paling tepi. Dan apakah sempat kita sadari bahwa rupanya masih demikian lengkap hidup kita ini dengan pernik-pernik kesadaran terkecil yang (mungkin) selama ini tidak tersentuh. Dan sosok Nurel (dalam sejumlah bukunya) adalah satu dari sekian pernik yang tidak tersentuh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula saya mengenal Nurel, saat saya masih di Yogyakarta dulu, saya selalu melihat ada jerih dari semangat yang sulit pecah saat terbanting. Berulang-ulang Nurel terhimpit dalam situasi payah, tidak membuatnya sayang pada segala benda dimilikinya untuk “dikorbankan” bagi penebus hasratnya menerbitkan sebuah buku dan menggiatkan sejumlah kegiatan sastra. Dan sampai kini, meski saling berjauhan, saya masih terus melihat Nurel “mengabdikan” dirinya dalam dunia tulis-menulis, justru dengan frekuensi lebih besar. Produktivitasnya tampak seperti sedang berlomba-lomba berkejaran dengan waktu. Meski awalnya saya katakan, bahwa Nurel tidak sedang ikut berkompetisi dalam sebuah sistem produksi massif, akan tetapi, kini tampak ia sedang bergerak menguji sejumlah kemungkinan untuk bisa menerobos sekat-sekat itu, dengan berkayuh di atas perahunya sendiri. Ini berat sekaligus ringan; Berat sebab sekat-sekat itu demikian kokoh dibangun oleh sejarah (tulis-menulis) yang permanen serta dihuni nama-nama besar. Dan ringan, karena ternyata Nurel memiliki jaringan komunitasnya sendiri, dengan tanpa mengikutsertakan beban historisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling esensi yang dapat saya tangkap dari proses macam itu (terutama dalam diri Nurel) adalah sebuah hasrat untuk terus “memelihara” kejujuran, ketulusan, sekaligus “kebebasan” dalam berekspresi. Bahwa saat membaca “dunia Nurel” dalam (bisa dikatakan) seluruh karyanya, saya (atau kita) sebagai pembaca tidak akan bisa serta merta melepaskan diri dari konstruksi bahasa yang ditawarkan oleh Nurel. Tidak semata pada fiksi, namun juga non fiksi (seperti buku ini yang Nurel sebut sebagai semi ilmiah). Bahasa, tampaknya bagi Nurel, adalah media sangat kompromis dan demikian terbuka untuk diajak melakukan eksperimentasi, baik dalam wujudnya konvensional, maupun dalam hal membangun permaknaannya sendiri. Barangkali inilah yang saya lihat sebagai ada lompatan makna dalam bahasa yang berguling-guling. Maka, harus dimafhumi jika pembaca temukan sejumlah kata, frasa, bahkan kalimat yang terdengar aneh dan asing. Dari sini, justru dapat terlihat bahwa Nurel sedang membebaskan dirinya dari “beban” bahasa formal dan langsung melompat pada wilayah pemikiran-pemikiran yang tampak tidak terbendung untuk tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, membaca pemikiran Nurel, benar-benar sedang terombang-ambing di atas laut yang berbalik arah debur ombaknya. Pada bagian pertama, Indonesia Merangkak Menuju Matahari, adalah awal dari proses panjang menelusuri teriakan-teriakan keras, sentakan pemberontakan (Nurel) yang ajaib. Ajaib dalam konteks ini adalah jelmaan-jelmaan pemikiran yang terkadang hadir membayang dan berseliweran. Ada emosi personal sedang bercakap-cakap dengan gelombang narasi besar peradaban dunia. Sebuah dunia yang kelak terpetak-petak dalam wilayah mata angin, terutama Barat dan Timur. Saya menangkap, bahwa Nurel sedang “berkubang” dengan sejumlah pertelingkahan dua arah mata angin itu sebagai sebuah sikap atau sebuah jawaban atas kecemasan-kecemasan kolektif yang dialami bangsa ini. Sisi spiritualitas kemudian dikedepankan sebagai wilayah masih perawan, yang masih menyimpan “rumah alternatif” bagi kembalinya segala persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kemudian Nurel sebut sebagai “Kekuasaan Dan Kemenyan” di sub bab pertama, adalah simbolisasi diri dan refleksi atas kegemaran sebuah bangsa pada korupsi. Korupsi yang menjadi salah satu penyebab timpangnya realitas sosial kita, seolah telah mentradisi dan sekaligus menjadi representasi dari rentannya sistem birokrasi spiritual kita. Saya membaca kata-kata; pengangguran, peperangan, kegagalan, pembangunan, penjarahan dan tragedi pada sub pembahasan berikutnya, ialah buah upaya membeberkan problema yang kian membuat sebuah bangsa berhadapan dengan dirinya sendiri sebagai pribadi tanggung, penuh paradoks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada bagian ke dua, secara lebih mengkerucut, Nurel tampak sedang menelisik persoalan pada wilayah vertikal, wilayah transedensi, wilayah segala sesuatunya menemukan keberadaan diri yang sesungguhnya. Latar belakang Nurel sebagai seorang yang sempat dan selalu menyinggahi dunia pesantren, telah membawa kajiannya pada celah-celah cahaya bagi kegelapan sebuah dunia, dalam sebuah lingkaran bernama agama. Wacana tuhan berkembang dalam segala seluk-beluk pemikiran, menyinggung sisi kemanusiaan kita sebagai yang dilahirkan dalam sebuah lingkungan kebudayaan yang tak tunggal. Ada perbenturan, pergesekan yang bermuara pada pernyataan-pernyataan tentang paradigma “kebenaran.” Tokoh-tokoh seperti Nietzsche pun (yang mencuat dengan Kematian Tuhannya) kemudian acapkali menjadi sesosok “hantu” yang mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berpatokan pada judul buku ini (Kajian Budaya Semi,) maka inti dari perbincangannya tampak lebih fokus di bagian ketiga. Kebudayaan sebagai sosok intim dengan manusia terlihat sedang “bermesraan” dalam sebuah kesadaran individu si penulis. Meski pada pembahasan berikutnya, kebudayaan seolah sedang berselingkuh dengan perubahan-perubahan yang datang menggoda, lewat pakaiannya yang molek. Lalu peradaban bagi puncak sebuah kebudayaan dipertanyakan. Dicubit sensitivitasnya. Sekaligus diperbantahkan segala infra-strukturnya. Meski hemat saya (sebab kena virus, kelanjutan tulisan ini via sms); Hemat saya, hrs dicari korelasi yg cukup tegas jika kmdian (pada sub briktnya) wilayahnya meluas smpai pd soal kajian bhsa si penulis sndiri. Dan dicari konteks yg lbh tepat, tentu dalam kapasitas sbuah tema pmbhasan yg lbh spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(alinia baru). Saya kira, pd dua bab trakhr buku ini, Nurel justru sdg melmpat ke wilayah yg lain; Kecantikan &amp;amp; Mistis, Mahabbah, Syauq, Muwajjaha, yg lbh menunjam ke ruang2 personal kemanusiaan kita. Mgkn bagi Nurel, persoalan2 inilah yg ssngghnya (kembali ke via internet atau email); yang patut menjadi perhatian serius dalam rangka membangun sebuah peradaban. Apa yang tampak menjamur dalam banyak media dunia modern kita kini, adalah sebuah klise. Cinta hadir dalam tubuhnya yang compang-camping, dalam beragam pengertian, perlakuan terhadapnya. Terlepas bagaimana Nurel mengaitkan pembahasannya terhadap dunia kaum mistis, saya menangkap bahwa Nurel hendak mengarahkannya pada esensi. Pada sesuatu yang kini tampak tak tersentuh, terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang saya anggap sebagai hasrat untuk membangun dunianya sendiri. Lewat buku ini, kita sedang diajak mengembara ke dunia yang tumbuh diam-diam dalam ketidaksadaran kita. Sebuah dunia (yang mungkin) terasa chaos, tak terperhitungkan, tak terduga dan absurd. Kesadaran apapun yang kemudian tumbuh dari pembacaan itu, adalah hasil dari tangkapan pemahaman kita terhadap sebuah realitas. Jika kemudian ada kegamangan, ketidakteraturan, ketidakmenentuan, dan tumbuh sejumlah penyakit dalam diri kita, maka itulah virus. Virus yang sebenarnya telah tertanam jauh sebelum diri kita terlahir. Selamat masuk ke dunia Nurel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**) Berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) Pekan Baru.&lt;br /&gt;*) Tulisan Marhalim Zaini di atas adalah lampiran di buku “Trilogi Kesadaran,” cetakan I, 2006, yang sebelumnya sebagai pengantar buku stensilan “Kajian Budaya Semi,” cetakan I, 2005, karya Nurel Javissyarqi, penerbit PuJa [PUstaka puJANgga].&lt;br /&gt;Bacaan lain terkait: &lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/03/dunia-anomali-di-mata-mistikus/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/03/dunia-anomali-di-mata-mistikus/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-298003052903421274?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/298003052903421274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=298003052903421274' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/298003052903421274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/298003052903421274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/membaca-dunia-nurel.html' title='MEMBACA DUNIA NUREL *'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-3322149872568698880</id><published>2011-06-01T11:53:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:26:23.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar antologi puisi tunggal “Sarang Ruh”'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI”*</title><content type='html'>Suryanto Sastroatmodjo&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pustakapujangga.com/?p=638"&gt;http://pustakapujangga.com/?p=638&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kurang 15 warsa silam, Pamusuk Erneste (dalam buku “pengadilan puisi” penerbit Gunung Agung Jakarta, 1986), menggambarkan bagaimana jauhnya bila jagad sastra (inklusif kepenyairan didominasi sejumlah nama, yang ingin bertahan sebagai idola, dan bukan sebagai creator), hingga publik sastra kecewa. Ia menyebut tentang Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan WS. Rendra di tahun-tahun 70-an (setelah menikmati kemasyhuran hampir 25 tahun lebih, sementara kader-kadernya makin meredup masa itu), sehingga timbul sekelompok penyair muda yang merasa harus bertindak untuk mengembalikan dunia sastra di sudut penglihatan netral dan imbang, selaras dengan rising demans (tuntutan semakin meningkat).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pendekar sastra HB Jassin menyebut; kredo sastra ialah suatu keteladanan moral, suatu empati individual yang lembut, jangan dipolitisir oleh elemen-elemen imperatif. Saya mengistilahkan camera obscure puitika apabila ingin meletakkan kaca mata tilik-selidik dalam penggarapan karya, terlebih jika kita ingin memaparkan karya-kreatif yang bersejarah dan monumental. Impresi adakalanya tanpa diacuhkan para penyair muda. Akan tetapi, postulant kecendikiaan justru berharap, agar metafor-metafor puitika mempunyai modus operandi yang adil, sejujurnya, harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama FKY pada era 80 ke 90an, terlebih ikhwal kebangkitan, peneguhan kredo semacam ini, betapa harus diakui, banyak nama-nama kreator terkubur, sementara sejumlah nama sempat, dan ingin selalu eksis di persada Sastra Indonesia. Sejauh inipun harus diakui, bahwa habitat-habitat sastrawan sangat majemuk, dan berbeda-beda; obsesi-obsesi pewartaan literer juga kudu diakui lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal tahun 1977, tatkala para penyair muda Yogyakarta, berhimpun di Gunung Jala Sutra, dan mengikrarkan “konsili puitika jala-sutra,” kami berlima; Djudjuk Sagitaria, Minadi S, Kuswahyo S. Rahardjo, Fuad Riyadi dan saya. Mengumumkan; “Tiada sastrawan mati, Tiada penyair sirna, Tiada lahan penciptaan raib, namun demikian Yogyakarta, harus sanggup membangkitkan terus-menerus, gairah produktif penciptaan nan utuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, bersama budayawan Yoyok Hadi Wahyono, Keliek Moh. Nugroho, dalam pertemuan fajar di Bukit Ratu Boko Prambanan, terbersit lagu baru; “Sastra ialah Rumah Damai yang harus sanggup menampung krida karya mereka, yang menulis puisi laksana arus sungai mengalir, gemerincing di kaki langit. Di balik kedalaman itu, kita pun harus berani menggugat dan menuding diri sendiri, manakala kemandekan (stagnasi) tiba, dan tiada bersahabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ialah tipis dan pragmatis, bahwasannya penyair-penyair andalan 80an, seperti Otto Sucatno CR, Redi Panudju, Anton Taufan Putra, Abidah El Khaliki, Ulfathien CH dan Dorothea Rosa Herliani,—kita lihat 3 sastrawati berbasis kepenyairan Yogyakarta, dapat “mempribumikan ide-ide kegelisahan perawan” pada era pembebasan Ruh, menuju Teologi Kemerdekaan -berkumandang jauh, sedangkan kaki-kaki mereka, masih berpijak ditekad membumi, dan mengabdi tanpa pamrih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ialah riil, betapa potensi ekologis, emasi-patoris dan aplikatif, sudah bertambah tegar, sehingga pada penulis wanita, tidak lagi menghirau apa disebut problem gender yang kini mencuat itu. Kehidupan via literer, dan qua formaleus berkesenian yang jauh berlari, juga dalam pengembaraan gemuruh, seharusnya juga masih bisa ditatap, dan diadaptasikan pada situs-situs baru, produk-puitika mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graduasi kekinian toh tidak harus ditafsirkan sebagai seni mutakhir, alias gerak depan akhir jaman, sebagaimana kalau saya mengamati puisi-puisi Nurel Javissyarqi, Sri Wintala Achmad, Ahmad Syekhu, dan lantaran mereka bukan bicara tentang jaman nan tenggelam, akan tetapi tentang keberpihakan, keuqahari (a simple denotati on), komprehensi dan ritme sang kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, bila kita kaji puisi Kuswaidi Syafi’i yang sarat amsal-amsal “mempribadinya manusia” dan soliditas anak manusia. Al-hasil sebuah sikap betapa seharusnya kita bicara bijak, tentang membumikan fitrah hayati, kendati kita tidak bernaung di bawah firman-Nya (secara langsung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu sejumlah penyair 1974 berorasi di depan patung Pak Dirman, dipimpin Ragil Suwarno Pragulopati, maka terbit amarah anggota dewan perwakilan rakyat, yang masih “demam malari;” Malapetaka Januari, pertentangan borjuisme gaya hidup dan media ekspresi, sementara pola-pola kerakyatan yang termuat dalam serangkum madah, justru cenderung formulasi proletarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu penyair Fauzi Abdul Salam, melantunkan kidung “Lantunan Tiri Pejalan Sunyi,” terasa menderum; Kalaulah waktu bicara sudah terpotong fiksi bincangan peraturan di gedung musyawara / dunia acapkali pangling dengan lambaian kasih / hidup bermuara pada selokan pahit anyir / dan ndoro-ndoro tuan tanpa cawat…/. Keprihatinan anak “rakyat ternyata lebih membumi” ketimbang sejumlah impian birokrat pemda DIY (antara 70an) yang cuma bisa mengunyah-kunyah ucapan “Dirgahayu wahai para pribumi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kololaria pada memo-memo jemawa, sering kali membuat para penyair tahun 70-80an, sering mengucapkan begini; “Bukankah para priyayi sudah lebih lama mendulang intan? / bukankah si bocah pinggir kali tinggal mencukil-cukil tinja di antara batu-batu kanal di pinggir kota?”—sebagaimana Alfauzi Sofi Salam dalam renungan malamnya menggugat; “Barangkali sudah cukup lama kita menangis, dan dibentak oleh mereka yang menista, kita sebagai Pribumi dalam kepapaan.” Setara dengan laguan kidung pembebasan, sebagaimana pengolok-olok LSM yang berpijar bersama anak-anak jalanan; puisi lebih bersinar lembut di kalbu para bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, apakah sebab penyair juga sudah lama menanggalkan kedukacitaan bocah pedalaman? -sehingga mereka tersesat di rimba kenestapaan?- Dalam Mempertimbangkan Tradisi, WS. Rendra (Gramedia, 1983) mengungkapkan tiga kegelisahan kreatif; pertama, bahwa bila seniman atau penyair bertarung tentang hari depan puisi yang “tahan banthing, tahan jaman” maka ia harus dapat menyeleksi ragam tradisi-tradisi lama, agar memperoleh daya saring -jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, metafor-metafor puitika itu sebuah pamrih kefasihan berkarya sastra, kendati ini pun bermakna peneguhan hati nurani. Ketiga, upaya melepaskan dari tradisi manapun, untuk menjadi sang sejati yang berformat global. Sejalan itu, penyair senior Imam Budhi Santosa pernah berujar; “Kita sama-sama membutuhkan tradisi;” yakni tradisi spiritual yang tiada terhadang ruang dan waktu, tapi bertutur tentang dunia yang bijak, hidup intensif. Kita juga membutuhkan tradisi intelektualitas, dimana penyair mencoba mentranformasikan gagasan-gagasan akurat, seraya setia pada habitat awal, dalam konsep berkesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Sitor Situmorang, dalam buku autobiografi “Sitor Situmorang, Panyair Danau Toba” (pustaka sinar harapan Jakarta 1981) menyebut kelahiran dua kumpulan puisinya yang monumental diperalihan tahun 50an menuju 60an, yaitu; Wajah Tak Bernama, Surat Kertas Hijau, bagi gambaran segi; pertama, penyair musti memiliki retang dunia pertemuan kembali, antara masa lampaunya mistis dan polos, dengan masa kini yang keras, atos, jemawa, nyaris tanpa kompromi. Aspek kedua, upaya mempertemukan jejak-jejak, ispired, terkadang kredo penggubahan karya puitika yang produktif, dengan menuju hari esok sulit ditebak kesadaran induktif, dan kolaboratif toh kudu dipersembah kepada publik sastra, hadir tanpa jedah, musim ke musim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap kekinian (dimana poros semusim lalu ialah pertaruhan emosional artistik) maka biarkanlah karya-karya menemukan identitasnya, setelah menghadapi berbagai hantaman dan gugatan. Proses evolusioner memperlihatkan situasi sastra bertajuk swa-winaya (selfdispline), kemudian widya arorraga (kerendahan hati oleh sikap arif ilmiah), niscaya bakal dibasuh suatu kesimpulan; lalan dung-tyastara (dimana bobot karya sampai kepada pemahaman adi-luhung, bagi umat manapun). -seperti halnya seorang Khalil Gibran, pun Rabindranath Tagore, yang berbicara lantang kepada dunia. Di situlah letak camera obscure puitika, menunjukkan fitrah kemuliaan, nan benar-benar membumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi kesusastraan bagi angkatan muda, bakal menuju pada kekeluargaan sesama, antar etnis, antar-individu, bahkan antar-kelembagaan. Saya berharap, antologi-antologi sastra, jurnal-jurnal sastra, dan buletin-buletin sekitar puisi bertajuk “Selamatkan Dunia Ini, Selamatkan Jiwa-jiwa Luhur Nusantara,” niscaya akan melegitimir puncak karya masa kini dan kelak. Kita masih harus terus berjuang. Wadah sastra yang kini menjadi alternatif, barangkali merupakan langkah awal menuju kedewasaan yang terharapkan, karena disitulah kita memuliakan gairah riel berkesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nagan Lor, 21 Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEREKA YANG MEMBICARAKAN “SARANG RUH” 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak yang terhimpun dalam antologi ini, secara tematis cenderung menyuarakan hakikat kesejatian insan. Manusia dalam sajak-sajak itu, berupaya memenuhi panggilan kesejatiannya; subyek yang sadar, dan bertindak mengatasi dunia-realitas mengkondisikannya.&lt;br /&gt;Dunia realitas bukanlah sesuatu ada dengan sendirinya, dan harus diterima menurut apa-adanya. Maka, sajak pun dapat menjadi Sarang Ruh, sebuah papan melakukan refleksi terhadap situasi itu. Sajak pun bisa dianggap sebagai aktualisasi upaya concientization bagi diri sendiri, bahwa diri sebagai subyek harus mampu menunaikan imperatif sebagai kreator bagi sejarahnya.&lt;br /&gt;Proses menjadi merupakan suatu yang tidak pernah selesai. Membangun Sarang Ruh bukan sekadar proses penyesuaian, melainkan proses integrasi dalam mencapai kemanusiaan sejati, Selamat (Suminto A. Sayuti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyukai semangat dan keberanian Nurel, sesuatu yang kelak jadi persoalan serius bagi kebanyakan pengarang. Ia telah menulis ratusan puisi, menjilidnya sendiri; dan itu bagi saya, sebuah modal sangat berharga. Saya bukan seorang penyair, meskipun saya juga tidak buta puisi. Tapi saya kira, tawaran Nurel dalam buku ini, cukup menjanjikan harapan (Joni Ariadinata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Yogyakarta memasuki milenium baru, kita diajak sajak-sajak Nurel Javissyarqi pada pertanggungan diri, sebagai pusat kendali, dari perubahan di luar perubahan sosial, agar manusia tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya, ditengah euphoria –kebablasan. (Abdul Wachid BS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Pengantar antologi puisi tunggal “Sarang Ruh” karya Nurel Javissyarqi, 1999 Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-3322149872568698880?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/3322149872568698880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=3322149872568698880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/3322149872568698880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/3322149872568698880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/kado-penghampiran-sastra-yang-membumi.html' title='KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI”*'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1109180705170049219</id><published>2011-06-01T11:49:00.003+07:00</published><updated>2011-10-01T20:27:21.055+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fahrudin Nasrulloh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Mazhab Sastra Facebookiyah</title><content type='html'>Fahrudin Nasrulloh**&lt;br /&gt;http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarang teknologi telah pecah. Menyebar ke pedalaman renik manusia. Buku, tradisi membaca, dan perjalanan kepengarangan telah dipadatkan jadi arca di kamar facebook. Kemanakah gelombang kesusastraan dan kepengarangan kita sekarang, ketika tentakel teknologi dan gerak perubahan berada di tubir ketidakpastian?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dunia maya terkini telah menghadirkan produk terbaru yang kita sebut “facebook”. Terkait dengan dunia penulis, tak dapat ditampik, mereka juga menggunakan teknologi tersebut yang berdaya-guna praktis, cepat, dan berbagai kepentingan apa pun bisa digentayangkan di dalamnya secara serius maupun main-main. &lt;span class="fullpost"&gt;  Inilah bagian dari ekses “guncangan media”, seperti yang disinyalir Afrizal Malna, di mana percepatan bersilang-salip, muncul-tenggelam, dalam aras gigantis yang terus merangsek keseharian manusia. Di sanalah dirayakan segala keterbukaan dan ketakterbatasan itu. Beberapa penulis yang terbilang berduit, pasti memiliki laptop dan modem sendiri untuk ber-internet-an. Malah dapat pula lewat telpon genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain facebook yang tak jarang disesaki “status” basi-basi, saya mengamati seorang teman yang nyaris 24 jam nonstop tak beranjak dari laptopnya. Facebook telah dijadikannya sebagai rumah berkarya, mengusung semua karya-karyanya ke dalamnya, mengedit ulang, dan setelah itu menayangkannya dalan “note” ataupun “status”nya. Yang terakhir itu ia gunakan untuk menjalin sapa-kenal dan sambung-rasa dengan teman baru maupun teman lama. Saling bercengkerama, mengomentari, bahkan tak jarang dari teman pendatang “asing” nylonong masuk dan terjadilah percekcokan sengit soal apa saja ihwal politik, puisi, kesenian, pilkada, gigolo di Bali, hingga lomba karikatur Nabi Muhammad. Ini cerita kecil soal seorang penyair yang merasa karya-karyanya tertampik di koran. Ada dendam sampai tak bertekad lagi mengirim. Tapi semangat menulisnya tak pernah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus bergerak dari batin terdalamnya yang kemudian menjadikan dirinya serpihan daun yang terapung-apung di belantara impiannya. Coba memaknai sesuatu yang tercecer dan mengendap lama dalam tempurung kepala dan daki yang mengerak di tapak kaki. Impian-impian yang diangankan, dalam keseharian yang pedat yang tak bosan-bosan menguntitnya, membentur apa saja yang bahkan kosong tapi kuasa mementalkan. Dan di tembok lapuk itu dirinya seolah membikin bundas batok kepalanya sendiri dengan seabrek kejayaan pengarang dan pemikir masa silam. Tapi tak ia perdulikan. Cinta atas nama puisi yang bergayut dalam dirinya menjelma menjadi hiruk-pikuk was-was, sakwasangka, dan kesumat penuh nafsu tersembunyi. Mengisi apa saja yang di tangkapnya dari jalan-jalan panjang yang pernah dilewatinya. Di lorong itulah ia, melimbur diri dalam dunia maya. Ada yang menyergapnya tiba-tiba di balik layar monitor, liang mause, dan pekatnya flashdisk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus menulis, menulis apa saja untuk menebus apa saja yang pernah melongsor dari dirinya. Mengelupaskan diri dalam “status” facebook, hingga yang menguap pengap dari mulut para penyapa harus dipelototi dan “dijempoli”. Tapi dari “entah” itu, ia setidaknya ingin dianggap “ada”. “Ada” yang baginya penting ketimbang merasa sunyi sendiri di pelosok kampungnya. Hidup semakin kompleks. Kebutuhan sehari-hari makin mengimpit. Menulis adalah jalan yang diteguhkan pengalaman panjang sehingga menjadi sejenis iman. Tiba-tiba terasa ada yang menghentak, menelikung diam-diam, dari balik dinding keserbagamangan itu. Ia seperti biksu yang linglung, yang mencari makna bahwa keraguan yang dirawat baik akan menemukan lorong cahayanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap sebatang rokok yang tandas, keringatnya mengudara dikesiur malam dan berakhir di perut asbak yang menggunung latu dan puntung. Kini menulis bukan perkara keramat dan wingit, semua orang dapat merayakan perkembangan teknologi yang dengan begitu murahnya terhadir di depan mata. Dalam fitur-fitur facebook itulah, ia jadikan sebagai medan bertapa. Khayalan cerita pendekar-pendekaran jaman dahulu mengisi imajinasinya. Laku bersyair, baginya, seperti lelaku si pendekar kelana yang menyerap ilmu dari guru ke guru demi menjadi pendekar pilih tanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, pada Selasa, 27 April 2010, ia menulis sebuah tulisan berjudul “Para Amatir yang Pemberani”. Tulisan ini agak panjang. Tentang energi menulis dan proses mengimaninya yang harus diperjuangkan. Ia menulisnya langsung di laptopnya dengan seberkas gairah yang barangkali amat jarang didapatinya di luar momen itu. Beberapa kalimat sempat saya rangkum berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolakan dengan hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Dari pada bengong, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan bakal mempercepat segalanya? Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni. Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantuk membuta, bisa mengelak. Terus membaca, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan. Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh. Itu malah jadi godam kita suatu hari. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang saya sebut itu adalah Nurel Javissyarqi, penyair dan bos penerbit Pustaka Pujangga dari Lamongan. Dari catatannya di atas jelas menyiratkan percikan dari endapan catatan perjalanannya dengan taburan tips menulis, agak filsafati, adventourus, dan sedikit magis. Setelah itu, pada 16 Mei 2010, ia menulis esai yang cukup menarik dengan judul “Untuk Bayi-bayi Besar Sastra Indonesia” yang didiskusikan dalam acara Geladak Sastra yang dihelat Komunitas Lembah Pring Jombang. Sedang pembicara lain, Bandung Mawardi dari Kabut Institut Solo, yang terbilang tulisannya kerap dimuat koran, menjadi kontras dengan pemikiran dan pengalaman Nurel. Yang satu bertapa-karya di facebook, dan yang satunya adalah “pengutuk facebook” yang telah merajai koran dengan esai-esainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati media facebook, juga media elektronik lain, sebagai “medan lintas batas” di mana “demokratisasi sastra” seperti yang disebut-sebut Afrizal Malna bergerak dengan percepatan dan ketakterdugaan yang berseliweran menerobosi keseharian penggunanya. Dan Nurel, setelah karya-karyanya tak digubris koran, ia memasuki lelorong facebook sebagai dendam skizofrenik yang “tak bertuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arti lain, media koran sebagai sosialisasi karya para penulis, tidaklah menampung semua penulis. Ada ruang sistemik-prosedural yang berlaku dengan rambu-rambu tertentu di sana. Dan pertarungan di dalamnya pada akhirnya adalah bagi pemenang dan yang diberuntungkan. Koran dengan sendirinya telah benar-benar menjadi rezim sastra dan muasal dari segala proses itu adalah kegetolan mengirim karya, selebihnya seleksi, koneksi, dan jaringan personal-emosional yang terjaga baik antara penulis dan redaktur. Sejarah kecil “sastra koran” pada awal 2000-an yang pernah ditulis oleh kritikus Katrin Bandel dalam peta kesusastraan tanah air masih tetap menghangat diperbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjamurnya facebook dengan segala nilai positif-negatifnya, apakah kita juga melihat ihwal yang masih tersamar bahwa lewat sanakah kesusastraan Indonesia akan menilaskan jejak di kemudian hari? Tentu saja sastra koran adalah sisi lain yang masih kokoh tak tertandingi. Tapi penulis seperti Nurel dan lainnya, juga yang muda-muda dan yang tua-tua namun tetap bergairah, menjadikan facebook sebagai perlintasan jaringan informasi kekaryaan dan event kesenian yang sebenarnya jika diamati dengan cermat sungguh luar biasa perkembangannya. Itu salah satu pengaruh positifnya. Ekses lain mungkin dapat dibayangkan: penulis jadi malas riset berkarya, ajang gosip, tebar cerca dan fitnah, dan berpotensi ambeyen-liver-insomnia. Selain itu, banyak kita jumpai pengarang yang melahirkan karya lewat facebook, seperti Yusron Aminullah, adik Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis dan impian-impiannya mengalirkan karyanya dalam arus besar teknologi dan pergeseran gigantik yang tak tertampik itu. Ini seperti ramalan Jorge Luis Borges: “Di abad mendatang, ketika orang meneliti kesusastraan abad ini, nama-nama yang dikenal sebagai para sastrawan besar bakal berbeda, para pengarang tersembunyi bakal bermunculan, para pemenang Nobel Sastra akan dilupakan. Saya berharap, saya akan dilupakan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel dan penulis lainnya yang seperjalanan, tentu mengeram imajinasi puitik demikian dan di batin terdalam mereka terselip tekad untuk mendapatkan tempat selain di koran demi menggores sejarah masing-masing. Dan inikah sejenis tanda era kesusastraan kaum facebookiyah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—–&lt;br /&gt;**) Bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang&lt;br /&gt;*) dimuat di buletin [sastra] Pawon, edisi30 tahunIII, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1109180705170049219?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1109180705170049219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1109180705170049219' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1109180705170049219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1109180705170049219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/mazhab-sastra-facebookiyah.html' title='Mazhab Sastra Facebookiyah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-8032205625521715509</id><published>2011-06-01T11:32:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:28:12.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asarpin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Waktu di Sayap Malaikat</title><content type='html'>Asarpin&lt;br /&gt;http://www.lampungpost.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak penyair yang menulis tentang waktu, hanya sedikit sajak yang sungguh-sungguh menghadirkan pergulatan tentang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU Voltaire membayangkan waktu sebagai ukuran keabadian, sesuatu yang panjang, saya hendak menegaskan di sini: waktu dapat dijadikan bahan tes bagi autentisitas seseorang. Kalau dia penyair, keautentikan dirinya sebagai penyair akan terlihat ketika ia menggarap soal waktu. Autentik atau tidak puisi yang dihasilkannya, juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca ketika ia membicarakan soal waktu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyair yang tak begitu dikenal, tapi telah menghasilkan buku kumpulan sajak yang unik dan bentuk yang menyempal, adalah Nurel Javissyarqi. Lewat analekta sajak bertajuk Kitab Para Malaikat (2007), Nurel menghadirkan tafsiran waktu dalam bingkai filsafat dan ajaran kebatinan Jawa yang tak mudah dicerna, tapi autentik dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi bentuk, sajak-sajak Nurel cukup unik: setiap ujung larik sajaknya ditandai dengan huruf atau angka romawi. Tentu saja kita bisa berdebat tentang fungsi angka-angka romawi dalam baris larik sajaknya. Bisa jadi hal itu hanya sekadar tempelan, seni dekorasi tanpa punya maksud dan makna apa-apa. Atau bisa juga sebuah kelatahan, sekadar pemenuh garis kalimat, sebagaimana kita bisa juga memperdebatkan tanda baca yang tumpang tindih dan sepintas mubazir dan menyalahi aturan seperti yang dimaui para penggiat bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya boleh berbaik sangka, tentu saja semua itu dikerjakan dengan perhitungan yang mengandung misi tertentu. Angka-angka itu tak lagi sekadar kekenesan atau keisengan serta sekadar pemenuh garis kalimat. Bisa jadi hal itu justru menjadi penegas bahwa kitab puisi yang dihasilkannya tak lain adalah kitab waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tematik, selain persoalan waktu, Kitab Para Malaikat banyak menampilkan tema seputar eksistensi. Namun, tema saja tak cukup untuk menegaskan hakikat keindahan sebuah puisi. Kita mesti juga menggali bentuk dan wawasan estetik sang penyair lebih jauh. Dan sajak-sajak Nurel tampak memberikan kesan “menyempal” dilihat dari segi bentuk. Di dalamnya kita temukan campur-baur berbagai gaya dan bentuk dan pengucapan: ada aforisme, bentuk esai, bentuk cerita, sajak dengan kandungan doa dan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena telisik ini lebih memfokuskan pada penyelaman karakter tema, dengan fokus pada persoalan waktu, maka jadilah telisik ini amat sempit dan picik. Keputusan menjadikan waktu sebagai bahan “autopsi” di sini karena begitu bayak dijumpai isyarat tentang waktu. Ketika si aku sedang asyik melakukan tamasya bahasa ke berbagai cenayang dan lumbung, si aku merasakan kekaguman terhadap waktu. Ada waktu di mana ia mengagumi setiap mil yang pernah dijelajahinya, setiap makanan yang pernah dicicipinya, setiap pribadi yang pernah dikenal atau “ditidurinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai (salah satu) bahan tes bagi autentisitas, waktu karena itu bukan hal sepele dan main-main dalam sajak-sajak Nurel. Bahkan banyak sekali urusan di muka bumi yang terpaut dengan waktu muncul di situ. Banyak hal yang bahkan begitu tergantung dengan detik, menit, hari atau tahun. Kita bisa saja tak memahami ucapan seorang tokoh dalam sajaknya ketika menyebut “waktu di sayap malaikat”, atau ketika ia menulis “waktu terselip di jemari, menyibak ilalang memeluk senjakala”. Namun, karena kita merasakan penghayatan sang penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap waktu begitu intens dan syarat makna, maka layaklah kita memberi predikat autentik terhadap larik sajaknya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita ambil contoh satu larik lagi, ketika Nurel bicara tentang perempuan dan waktu. Ia pembuka gerbang langit, ketika kitab waktu belum dipelajari. Apa yang dimaui sang penyair dengan larik semacam itu? Adakah ia hendak menegaskan bahwa kitab puisi yang dihasilkannya tak lain adalah kitab waktu? Lalu kalau memang begitu, apa masalahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah takaran, timbangan. Sebuah tinanda sekaligus isyarat. Waktu dapat menjadi ukuran terhadap hal-ikhwal. Ia bisa dinyatakan lewat bilangan, lewat angka, atau waktu kuantitas. Tapi ada juga waktu kualitas yang tak terkait dengan angka atau bilangan. Waktu psikologis atau waktu eksistensialis, atau waktu filosofis, adalah penanda waktu di luar urusan kuantitas, tapi bisa terpaut dengan sifat atau karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu juga bisa bermakna penantian. Waktu dibayangkan sebagai seutas tali kebisuan, atau seutas waktu yang membisu. Wajah haru biru menerima pautan waktu, rintik menerobos gersang, tulis Nurel. Sesapu debu juga daun-daun bersegaran setelah muka kemarau memanggang, inilah hangat asmara mencerna ufuk timur raya(XIII:LXXXIV) /Anak-anak sungai menggelinjak ke bebatuan,/Terpotong tanggul kakikaki mungilmu (XIII:LXXXV)/ Selembut tanya harapan tersengal keputusasaan/Terlempar arus kesadaran berasal hempasan (XIII:LXXXVI). Dalam larik itu, ada pautan waktu, juga tentang harapan atau obsesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hubungan antara kata dan waktu. Dan Nurel Javissyarqi tampak berusaha menggenapkan waktu dengan menghubungkannya dengan sejarah dan kata serta membayangkan waktu masih berupa potongan-potongan tahun cahaya. Di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?/mewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,/siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimensi waktu ternyata jauh lebih relevan ketimbang dimensi ruang. Sebab, seperti kata seorang penyair lirik mengingatkan, puisi tak terikat oleh waktu, dan tidak dapat pula dibelenggu oleh waktu. Ia bisa melintasi waktu, melampaui dimensi waktu. Dan malaikat, kita tahu, bukan makhluk sejenis manusia yang kasat mata yang terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Kita juga tahu peran malaikat dalam penyebaran misi kemanusiaan dalam agama-agama dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat adalah makhluk yang sejajar dengan setan atau iblis. Seandainya tak ada malaikat di surga, apa arti wahyu bagi manusia dan kemanusiaan. Seandainya tak ada iblis di surga yang menggoda Adam, maka kita tak akan mengenal kitab suci di dunia, dan mungkin juga dunia tak akan pernah dihuni makhluk bernama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu, dengan kata lain, menjadi bagian tak tepisahkan dari manusia, alam, dan Tuhan. Hampir semua kebudayaan yang ada di muka bumi memiliki pemahaman tentang waktu. Nurel mencoba menafsirkan riwayat sang waktu dengan imaji seper sekian juta tetes cahaya kepak sayap malaikat. Di bagian akhir kitabnya ia mengutip satu pernyataan Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi dalam Daqooiqul Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kesaksian-kesaksian Nurel, atau goresan-goresan pengalaman kreatif yang melatari lahirnya antologi sajak yang penuh imaji kesufian yang liar ini. Ia tak puas jika tak menjelaskan apa dan bagaimana serta di mana sajak-sajak ini mengendap dan kemudian lahir sebagai sebuah kitab sajak yang jalin-menjalin antarberbagai tema dan pengalaman. Baik pengalaman luka maupun bahagia, baik pengalaman sakit maupun sehat, kekosongan maupun kepenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asarpin, Pembaca sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-8032205625521715509?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/8032205625521715509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=8032205625521715509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8032205625521715509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/8032205625521715509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/waktu-di-sayap-malaikat.html' title='Waktu di Sayap Malaikat'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1960477649284334215</id><published>2011-06-01T11:31:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:29:01.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hudan Hidayat'/><title type='text'>Persoalan Seni Fiksi dan Seni Fakta</title><content type='html'>Hudan Hidayat&lt;br /&gt;Republika 10 Feb 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkritisi tradisi sastra Indonesia terkini yang ditandai kecenderungan menguatnya politik sastra, penyair Ahmadun meminta kita berdialog kembali kepada teks. Sehingga, yang akan terjadi bukanlah “inilah saya”, tapi ”inilah karya saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opini penyair Sembahyang Rumputan itu nampak mengandung perbedaan yang tegas. Tapi, kalau kita pikirkan lagi, “inilah saya” dan “inilah karya saya” adalah hal yang niscaya. Karena “saya” berada di dalam “karya saya”. Dan saya yang sedang melakukan politik sastra atau politik tekstual sastra, bisa terjadi, atau tak bisa dilepaskan, dari “inilah karya saya”. Atau “inilah karya saya” bisa terjadi, atau tak bisa dilepaskan, dari “inilah saya”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat beruntung memiliki Tuhan. Karena, model pertama “inilah saya” datang dari-Nya. Yang mewujud ke dalam dialog. Tuhan bisa langsung menciptakan manusia (Adam) tanpa harus mengatakannya. Tetapi toh Dia mengatakannya. Akan Kuciptakan manusia ke dunia, kata-Nya. Kata-kata Tuhan ini adalah model “dialog pertama”. Dan, respon iblis menjadi model “konflik pertama”. Maka dialog dan konflik menjadi paket dari pihak yang berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mengharapkan dunia sepi dari konflik, hampir mustahil. Sama mustahilnya meminta dunia tanpa dialog. Mematikan dialog terasa tak menghormati ajaran Tuhan, atau menantang Tuhan. Kemanakah kita kalau berpaling dari Tuhan? Tak akan kemana, karena kemana pun kau menghadap di sana wajah-Nya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah saya” oleh Tuhan mewujud ke dalam “inilah karya-Ku” yakni dunia dan isinya. Kau boleh menggunakannya sesuai ajaran-Ku. Tetapi ingat, karena “saya” ada di situ maka kau harus mengingat-Ku dengan menyebut nama-Ku. Banyak memuji dan memuliakan diri-Ku. Segera terlihat Dia yang ingin “diakui”. Dan Dia yang murka bila “eksistensi-Nya” tak diakui. Maka, Tuhan tak cukup hadir beserta karya-Nya tapi hadir juga beserta diri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan semacam ini maka saya berpendapat bahwa seni bukan hanya terdedah dalam kata. Tapi, juga dalam manusia. Sehingga dia menjadi “seni fiksi” dan “seni fakta”. Sehingga, sebuah novel bukan hanya mengeram dalam aksara, tapi juga mengeram dalam (diri dan ucapan) manusia. Sehingga, novel menjadi manusia yang berjalan. Persambungan semacam ini mengisyaratkan sebuah dialektik: keindahan yang berjalan bolak-balik, antara novel dan pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog dan konflik dalam sastra Indonesia kini bisa dipandang sebagai jejak dari seni fiksi dan seni fakta yang sedang memainkan perjalanan bolak-baliknya. Pada titik tertentu, seni fakta itu menjadi seni fiksi. Ia menjadi fiksi yang enak juga dinikmati (umpama gerak mata Saut dan Wowok yang seolah mengedip nakal, atau senyum Goenawan yang nampak misteri dan intelektual). Selalu kita bisa mencari atau menemukan sisi-sisi humor dari dunia yang sedang kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah menjelaskan filsafat “saya” dan “mengada” dari Sidratil Munthaha. Tempat saya mengembalikan segala dialog dan konflik. Tempat nenek-moyang pengetahuan pertama. Maka saya bisa mengerti bila Sutardji Calzoum Bachri tak cukup menuliskan O Amuk Kapak, tapi juga menulis esai. Bisa dikatakan seluruh buku Isyarat adalah manifestasi dari “inilah saya” dalam perspektif “inilah karya saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah upaya yang wajar. Karena politik tekstual semacam itu bukan saja dibutuhkan untuk mengawal “saya-nya” Sutardji yang telah terepsentasi dalam “karya Sutardji”. Tapi, ia adalah perwujudan dari seni fakta yang kini menemukan dirinya ke dalam seni esai. Bahkan seni dalam tubuh Sutardji sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bisa dipandang, atau dinyatakan, dialog dan konflik sastra yang diminta oleh penyair Ahmadun Yosi Herfanda untuk dikembalikan kepada teks itu adalah seni fakta dalam bentuk ucapan. Dimana sang sastrawan sedang membela “saya-nya” yang telah terepsentasi dalam “karyanya”. Rupa-rupanya telah terjadi ketidak-adilan. Rupa-rupanya mereka sedang memainkan seni yang mengeram dalam tubuh manusia yang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Indonesia tidak akan mati oleh rendezvous dengan model dialog dan konflik seperti yang kita lihat akhir-akhir ini. Tuhan selalu menyimpan rahasia untuk dunia. Dunia yang mengalami kemajuan melalui perbantahan. Maka banyak-banyaklah bersemedi agar rahasia semua ini bisa terkuak dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar alur dialog dan konflik semacam itu, dunia sastra Indonesia kehadiran warganya tanpa kita pernah menyadarinya. Saya menemukan Amien Kamil yang berjalan di kota-kota besar Eropa sendirian saja tanpa pernah berkata-kata. Dari perjalanan panjang itu, tiba-tiba Amien hadir dengan Tamsil Tubuh Terbelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Amien Kamil mensejajarkan diri dengan Binhad Nurrohmat, Fadjroel Rachman, Zain Hae atau Mardi Luhung di ajang Katulistiwa Literary Awards (KLA), yang meski penuh kontroversi, nyata adanya. Kehadiran yang bukan dibingkai oleh kokok ayam bersahutan/dengan suara adzan, seperti larik puisinya. Amien Kamil hadir dengan berkata: Aku pernah juga terpelanting dan terkesima/di lorong-lorong museum, singgah di toko sex/dan tersihir saksikan karnaval keliling kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku puisi telah di tangannya. Buku yang dihias lukisan apik, lukisannya sendiri. Buku yang, astaga, semuanya dikerjakannya sendirian saja. Sehingga, kata Iwan Fals di sampul belakang buku, “Kalo soal Om Amien ane percaye aje deh. Die entu kagak ade matinya, idup di segale cuace. Kalo enggak percaye baca aje ni ‘Tamsil’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menemukan novel Sunar karya Sigit Susanto. Pengarang ini meliuk dari kesusastraan Indonesia yang angker dengan membuat kanal di dunia maya. Yakni milis Apresiasi Sastra. Seperti yang saya lihat juga di kalangan penyair Komunitas Bunga Matahari yang sering saya dengar puisi-puisinya di Radio Prambors. Sunar yang telah kehilangan ibunya tapi mampu tetap kokoh. Terbaca oleh saya sebagai nyanyian pengarangnya sendiri yang kini bermukim di Swiss. Novel Sunar di tulis tahun 1994, tapi baru di ujung tahun 2007 kita “temukan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Amien Kamil berjalan di lorong-lorong kota di Eropa untuk menemukan eksistensinya, maka Nurel Javissyarqi berkelana dari pesantren ke pesantren di ujung-ujung Pulau Jawa untuk menghadirkan Kitab Para Malaikat ke tengah kita. Inilah karya penyair yang gemilang, yang mampu berdiam dalam keheningan sumur kata yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadirannya tanpa ancang-ancang membuat kita tak mengetahuinya. Tak mengapa. Kita memang mengalami ledakan sastra yang tiba-tiba di tengah persoalan kritikus sastra dan ruang serta interes media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Nurel bisa diletakkan pada perspektif “nilai kata yang lain, atau bentuk sastra yang lain”. Dan, Nurel hadir tidak hanya untuk diri sendiri. Tapi mengajak orang lain menulis melalui penerbitannya, Pustaka Pujangga, yang telah melahirkan banyak penulis di ujung Jawa Timur. Salah satunya, AS Sumbawi, dengan novel Dunia Kecil, Panggung dan Omong Kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Para Malaikat sampai membuat Maman S Mahayana berkata, “Temukan Nurel di antara Socrates, Plato, Derrida, Iqbal, Sutardji, Afrizal Malna”. Dan, saya ingin menambahkan: temukan juga Nurel di tengah Sembahyang Rumputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira Maman benar. Kitab Para Malaikat memang mencapai tingkatan itu. Seperti terbaca di salah satu larik “kitab” itu sendiri:&lt;br /&gt;Percikan ini berasal bebijian zaitun bersimpankan minyak/cemerlang tanpa nyala api, laksana insan berkehendak tinggi/melebihi kursi kedudukan para Malaikat Ruhaniyyuun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1960477649284334215?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1960477649284334215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1960477649284334215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1960477649284334215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1960477649284334215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/persoalan-seni-fiksi-dan-seni-fakta.html' title='Persoalan Seni Fiksi dan Seni Fakta'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-5589762675641358272</id><published>2011-06-01T11:22:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:29:46.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robin Al Kautsar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Syarah Kitab Para Malaikat</title><content type='html'>&lt;b&gt;Untuk Sebuah nama: Sonia Scientia Sacra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Robin Al Kautsar&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Penyair memberi judul sebuah puisinya (antologi puisi?) dengan memunggah kata Kitab. Salah satu kata yang memiliki bentangan makna yang cukup lebar. Kitab bernuansa sebagai kitab suci, kitab keagamaan, kitab wejangan / pedoman hidup yang harus disikapi takzim (walau belum pernah membacanya sekalipun) karena isinya menunjukkan kesucian dan kebesaran yang harus diperjuangkan dan kita tuju. Sementara di sisi lain ada sebuah kitab yang tidak kalah serius, seperti Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), namun sering dicibir orang dengan “Kasih Uang Habis Perkara.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Judul Kitab Para Malaikat sering menggoda saya untuk menghubungkan dengan Al-Kitab Perjanjian Lama yang di dalamnya memuat judul-judul: Kitab Hakim-Hakim, Kitab Para Raja, Kitab Para Pengkhotbah. Tetapi tidak sampai di situ, Kitab Para Malaikat juga memiliki bagian yang bernama Surat Kepada Gerilyawan yang ditulis oleh orang lain, sama seperti Al-Kitab Perjanjian baru yang memiliki bagian yang bernama Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia, Surat Paulus kepada jemaat di Efesus dan lain-lain yang juga ditulis orang lain (Paulus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul itu juga mengingatkan saya pada masterpiece Iqbal yang berjudul Javid Nama (Kitab Keabadian) yang mendeskripsikan semacam mikrajnya Penyair Iqbal ke dunia lain dengan dibimbing oleh Mursyid Jalaluddin Rumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kemiripan judul dengan dua kitab tersebut Kitab Para Malaikat ingin menjadi “sastra serius,” “sastra profetik” atau “sastra sufi” yang berpretensi menyodorkan “posisi yang tegas” yang setelah menegasikan kebobrokan manusia kemudian menunjukkan jalan kebenaran atau paling tidak sesuatu yang paling penting secara moral kepada masyarakat luas? Mari kita kaji Kitab ini bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu kitab ini saya diminta untuk percaya bahwa kitab ini merupakan kumpulan puisi (antologi puisi). Tetapi setelah melongok kitab ini sekilas yang penuh dengan panorama judul dan bait puisi secara masif, saya memutuskan untuk menyikapinya sebagai satu puisi panjang, dan bukan antologi puisi, sebagaimana Al- Kitab, Javid Nama serta serat-serat dalam sastra Jawa. Walaupun sayang penomoran dengan angka romawi sangat mengganggu penikmatan saya. Penomoran tersebut walaupun tampak seperti epigon dari kitab suci, justru sangat mengotori layar kesadaran pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu kitab ini saya sangat bertanya-tanya dengan nama-nama besar filsuf, matematikus, ahli bahasa, kritikus sastra, sufi serta penyair, yang anehnya terakhir justru bukan nama orang, tapi nama sebuah isme. Apakah maksudnya ini? Apakah penyair tidak nyaman hanya sebagai penyair, sehingga harus memperluas identitasnya (kebanyakan mereka ahli fikir)? Atau sekedar kegenitan belaka bahwa penyair sangat onsesif untuk punya nama besar? Sebenarnya saya malu mempertanyakan ini. Tapi saya kira ini penting karena jerawat runyam itu terpampang mencolok di pusat wajah. Maafkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kitab mula-mula terbayang bahwa kitab ini akan berisi gambaran zaman terbaru dari makluk terkutuk (Iblis, Kafir, Musyrik, Kapitalis, Nihilis, Liberalis, Hedonis) di satu sisi dan makluk beriman (pengusung wahyu yang kini tidak begitu laku) di sisi lain, yang saling berhadap-hadapan (walaupun tidak mungkin hitam putih), dan Tuhan menguji masing-masing mereka dalam situasi yang berbeda secara saingnifikan dengan masa yang sudah-susah. Tetapi perkiraan saya meleset. Saya tidak menemukan percikan api dari dua benda tajam yang berbenturan. Tidak. Justru penyair terlalu banyak bernyanyi tentang masa lampau dunia pesantren sorogan yang serba koheren, dengan idiom-idiom alam, sedang kita hidup di alam mikroelektronik-digital yang merayakan paradox dan dibayang-bayangi pemanasan global. Bahkan penyair sebenarnya lebih banyak menggumam dan menghindari pernyataan-pernyataan yang tegas-menyodok. Jadi saya tidak melihat sikap baru sebagai hasil dari penyingkapan baru. Perjalanan sang penyair yang diawali dengan bertengger di atas sayap malaikat tidak jelas mau ke masa depan yang mana, mau membawakan misi apa? Dan sayangnya perjalanan yang “menggetarkan” ini tidak didahului oleh doa yang syahdu ke hadirat Tuhan, kecuali sekadar sholawat pendek yang bernuansa agak menjaga jarak dengan Tuhan. Saya dari bawah kibasan sayap malaikat tidak bisa melihat “perbekalan unik” dan “senjata canggih” yang dibawa oleh sang penyair, kecuali butir-butir warisan sufi lama yang agak kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan saya. Saya ingin melihat pergulatan sufi zaman ini, di mana kemiskinan dapat merontokkan mental masyarakat, termasuk kemiskinan para ulama dan pejabat. Saya harap bait ini bukanlah magnum opus sang penyair dalam menatap masa depan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja mengunjungi masa silam&lt;br /&gt;Puja keagungan di tengah pencarian kesejatian&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Membasuh kaki-kaki kembara ke makam para wali&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Di mata saya Nurel adalah calon penyair profetik atau sufi (santai saja, jangan dibaca terlalu serius) yang dapat kita harapkan di masa depan, karena energi juang yang dimilikinya sudah cukup terkenal dan dia juga adalah sosok “penyair pejalan jauh” yang punya nafas panjang dan istiqomah. Saya yakin karyanya yang akan datang benar-benar merupakan Kitab Para Manusia (Masa kini dan Masa Depan), karena kematangannya menyalam sampai ke inti manusia dan kemanusiaan. Manusia jelas lebih kompleks daripada Malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Baghdad dikepung oleh tentara Jengiz Khan, dan umat jatuh nyalinya. Justru seorang sufi buta turun ke pasar menyampaikan khotbah yang membakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin Nurel akan mampu menunaikan tugas penyair sufi masa depan yang berani melakukan “perjalanan ke dalam” dan sekaligus “perjalanan keluar,” yang penuh dengan resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugu, 5 Nop 09.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-5589762675641358272?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/5589762675641358272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=5589762675641358272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5589762675641358272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5589762675641358272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/syarah-kitab-para-malaikat.html' title='Syarah Kitab Para Malaikat'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-3256688216129808258</id><published>2011-06-01T11:20:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:31:13.172+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasnan Bachtiar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Pengantar dalam Menjelajahi Kitab Para Malaikat</title><content type='html'>Hasnan Bachtiar&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar dalam menjelajahi Kitab Para Malaikat sebagai suatu karya sastra pada umumnya, adalah hendak mengurai apakah suatu teks berpotensi sebagai kebenaran, kendati bukan merupakan teks keagamaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks merupakan fenomena yang sedemikian kaya dengan ketakterbatasan makna. Hal ini berlaku bagi teks apapun termasuk teks keagamaan yang berdimensi sakralitas (Northrop Frye, The Great Code: the Bible and Literature).&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi pada intinya, teks-teks bahasa sebenarnya adalah sarana untuk mengungkapkan realitas dengan cara tertentu. Kendati demikian, bahasa – termasuk teks bahasa - memiliki fungsi lain selain fungsi umum tersebut, yaitu fungsi komunikatif, yang mengasumsikan adanya hubungan antara pembicara dengan sasaran bicara, dan antara pengirim dan penerima (Roman Jakobson, Linguistics and Poetics: 350).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi pengertian tersebut, pada hakikatnya penulis tidak terlalu tergesa dalam menjelajahi ketakterbatasan makna-makna dari ritus-ritus, jejak-jejak, simbol-simbol dan pelbagai penampakan lain yang berserakan dalam ruang kosmos. Belum lagi adanya ceceran-ceceran kebenaran yang tak terjangkau oleh kekuatan intelegensia (Mohammed Arkoun, Islam: to Reform or to Subvert?: 15), sekaligus watak gradualisme interpretasi tanpa batas (Paul Ricoer, The Conflict of Interpretation: 289). Karena itu, kecenderungan penulis lebih kepada, apa yang menjadi persoalan utama dalam bahasa dan teks?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula, Aristoteles menungkapkan ketidakmungkinan untuk membawa ide-ide nalar ke dalam keberadaan benda yang nyata. Alih-alih perlambang ontologis suatu benda, namun harus menggunakan namanya sebagai simbol. Konsekuensinya adalah tampil suatu anggapan bahwa apa yang terjadi dalam nama-nama terjadi pula dalam benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It is impossible in a discussion to bring in the actual things discussed: we use their names as symbols instead of them; and therefore we suppose that what follows in the names, follows in the things as well, just as people who calculate suppose in regard to their counters. But the two cases (names and things) are not alike. For names are finite and so is the sum-total of formulae, while things are infinite in number” (Aristoteles, On Sophistical Refutations).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah problem bahasa di satu sisi dan aktualisasi pengertian di sisi lain. Problematika semakin meningkat ketika Heidegger menulis bahwa, para pemikir sejak dahulu selalu memikirkan dan membicarakan suatu hal dan benda yang ada, namun di sisi lain melupakan ”ada” itu sendiri sebagai landasan dan merangkum segalanya (Martin Heidegger, Being and Times). Dari sini Derrida mengungkap kenyataan bahwa manusia tidak mengungkapkan diri dan malah tidak dapat bernalar kecuali melalui bahasa, tradisi kebahasaan dan tradisi teks tertentu. Dengan kata lain, manusia tidak dapat berpikir atau menulis apapun, kecuali merujuk pada tradisi pemikiran tertentu yang mengendap dan dilestarikan dalam sekian banyak teks yang saling berkaitan (Jacques Derrida, Dissemination). Karena itu, berangkat dari pembedaan antara pikiran (noesis) dengan yang dipikirkan (noema) oleh Hegel dan Husserl, suatu struktur interpretasi bukan lagi berpijak pada logos-ucapan-penulisan, tetapi pada logos-penulisan-ucapan (Gayatri Chakravorty Spivak, An Introduction to Jacques Derrida of Gramatology: 133-173).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik mengamati Kitab Para Malaikat sebagai suatu karya monumental Nurel Javissyarqi, ketika dibenturkan dengan pelbagai problematika kebahasaan. Sebagai suatu teks yang otonom, kitab ini mengandung pelbagai nilai kosmos maupun representasi kosmos yang bisa dibaca oleh siapapun. Kondisi teks sebagai sebagai teks beserta kematian pengarangnya merupakan suatu syarat untuk lepas dari segala determinasi ide dan penjara struktur ide pengarangnya, termasuk pasungan pilihan-pilihan teori nalarnya. Pembacaan yang demikian diharapkan mampu menemukan suatu kondisi di mana kemurnian gagasan ditemukan tanpa terjebak dalam ideologi atau mitis yang hadir baik dengan kesengajaan ataupun semena-mena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak pada postulat awal bahwa teks merupakan pintu logos dan kosmos sekaligus atau logos dan kosmos merupakan teks atau simbol sekaligus, melampaui dekonstruksi Derrida yang membongkar logosentrisme, bahwa teks-teks atau ayat-ayat dari Kitab Para Malaikat berpretensi memberi petanda terakhir (le signifie dernier). Sesungguhnya suatu petanda transendental, tidak hanya terbatas pada teks-teks keagamaan seperti pada asumsi Arkoun (Arkoun, ’Lecture de la Fatihah), namun juga terdapat pada teks apapun, walau tanpa berjubah sakralitas. Konsekuensinya, Hermes dan Avatar hanyalah seperangkat penunjang kebenaran, demi hakikat kebenaran itu sendiri sebagai ”ada”. Atau analoginya dalam Islam adalah, tinggal mengganti Hermes dengan Jibril dan Avatar dengan Muhammad. Jadi, petanda terakhir niscaya hadir dengan ataupun tanpa teks dan kosmos itulah teks yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pengantar dalam menjelajahi Kitab Para Malaikat, diharapkan adanya ide-ide fenomenologis yang melampaui sekedar ide-ide kritis ini mampu meraup makna-makna yang bergentayangan dalam semesta, yang terungkap dari jejak-jejak yang berlari-lari tanpa henti, tak beraturan dan seringkali tak tertangkap oleh kekuatan intelegensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Koordinator Studi Linguistik dan Semiotika di Center for Religious and Social Studies (RëSIST) Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-3256688216129808258?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/3256688216129808258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=3256688216129808258' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/3256688216129808258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/3256688216129808258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/pengantar-dalam-menjelajahi-kitab-para.html' title='Pengantar dalam Menjelajahi Kitab Para Malaikat'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-5438241863660013580</id><published>2011-06-01T11:12:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:31:42.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fahrudin Nasrulloh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Gerilya Penulis Pemberontak</title><content type='html'>Fahrudin Nasrulloh&lt;br /&gt;Pontianak Post &amp;amp; http://www.jawapos.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu, diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Inilah gambaranku atas lanskap batin penulis pemberontak ini, Nurel Javissyarqi, yang gede nyali bikin penerbit sendiri, Pustaka Pujangga. Ia menerbitkan karya-karyanya meski awalnya stensilan dan dicetak terbatas: 100 sampai 200 eksemplar. Tak cukup itu, ia bergerilya memasarkannya sendiri, dengan motor butut GL-nya, menjelajah dari kota ke kota. Sudah sejak 1995 aku mengenal penulis unik dan ngedan berkarya ini. Ia juga getol ngompori banyak penulis untuk terus berkreasi-cipta bahkan ia apresiatif menerbitkan karya-karya mereka, dengan kerja sama yang akomodatif dan blak-blakan. Misalnya, penulis bersangkutan sedia menyokong dana 20 persen atau 30 persen dari total ongkos cetak. Di antara karya mereka yang telah diterbitkan seperti Balada-Balada Serasi Denyutan Puri karya Suryanto Sastroatmodjo (2006); Kantring Genjer-Genjer karya Teguh Winarsho AS (novel, 2006); Herbarium (antologi puisi empat kota, 2007); Ngaceng karya Mashuri (rampai puisi, 2007); Sastra Perkelaminan karya Binhad Nurrohmat (kumpulan esai, 2007); Amuk Tun Teja karya Marhalim Zaini (kumpulan puisi, 2007); Dunia Kecil: Panggung dan Omong Kosong karya A. Syauqi Sumbawi (novel, 2007); dan terakhir Nabi Tanpa Wahyu karya Hudan Hidayat (rampai esai, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang Nurel menanggung semua biaya produksi sebagian kawan penulisnya di atas. Eskalasi penerbitan buku-buku sejenis itu terbilang merugi. Aku yakin, di antara 500-an penerbit Jogja nyaris tak akan yang berani menempuh langkah ’’bunuh diri’’ ala Nurel demikian. Hanya bos penerbit yang sinting plus tim redaksi yang konyol tertarik menerbitkan buku-buku seperti itu yang kemungkinan besar tak akan laku di pasar. Tapi dari mana ia punya dana saving? Hitungan kasarnya, jika satu judul buku dicetak 1.000 eksemplar, dengan ketebalan sekisar 250 halaman, maka ongkos produksinya bisa sampai Rp 4.000-Rp 5.000/eksemplar. Nurel pasti punya pertimbangan lain. Dan setahuku, ia juga seorang pedagang toko kelontong yang tergolong sukses di kampungnya. Aku patut salut: semangatnya mengingatkanku pada gagasan ’’sastra pinggiran’’ yang disorong Kuspriyanto Namma di era 90-an, meski mandek dan sepi apresian. Namun Nurel membabah peta anyar, walau dalam skala kecil dan agak ndeso: membangkitkan kembali greget ’’sastra pedalaman’’ tersebut di kancah ingar-bingar arus besar sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis ’’bandel bin nekat’’ ini memang tak kunjung patah arang. Sekian lampau pertarungannya di media tak banyak membuahkan hasil. Terlebih puisi-puisi dan esai-esainya nyaris tak diapresiasi koran. Kalaupun ada, hanya satu-dua. Yang ironik, karya-karyanya pernah dicap sampah. Ia membalas tudingan itu semata cincong kosong yang tak membakar lemak jiwa. Tak lebih ledekan ecek-ecek si pecundang yang nyinyir menantang absurditas kepengarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Ayo, sobat, libas dan kalahkan! Sekarang penulis harus pede menerbitkan karyanya sendiri. Diam atau membangkai hanya pantas bagi mayat. Catatlah, aku kini telah jadi ’’hantu kecil’’ bagi penulis lain, lebih-lebih bagi penerbit-penerbit besar dan mapan, ketika sekian buku yang pernah kutawarkan, mereka cibir sebagai karya kacangan. Hanya cecoretan jorok-pesing di tembok WC! Bualan itu tak bakal membunuhku,’’ serunya tajam, sekilas bacot pedasnya itu meringkus tatapanku, di denyar malam iruk-pucat tahun baru 2008, saat ia bersambang ke Pesantren Denanyar, lalu mampir ke padepokanku di Lembah Pring Jombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sosoknya, benakku tiba-tiba mendesis: ia telah mewarisi spirit ’’nyala api’’ dari tlatah Lamongan asal teroris Amrozi itu. Semacam ledakan proses kreatif yang lama nian dipanggang di atas kesadaran ’’ras pemberontak’’ Nietzchean sebagaimana termaktub dalam bukunya Trilogi Kesadaran (2006). Di samping itu, jam terbang kreatifnya terbukti dengan sederet bukunya yang menderas terbit, seperti Sarang Ruh (1999); Takdir Terlalu Dini (2001); Ujaran-ujaran Sang Pujangga (2004); Batas Pasir Nadi (2005), Kekuasaan Rindu Sayang (2007), dll. Dan yang terbaru antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007). Karya ini, telisik Maman S. Mahayana di pengantarnya, ’’Berbeda dengan karya Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna. Karya Nurel Javisssyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi yang menggelegak. Maka, yang muncul adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait itu, bila disepadankan, Nurel tak sepopuler dengan kesuksesan Habiburrahman El-Shirazy di mana novel Ayat-Ayat Cinta-nya sejak 2004 hingga akhir 2007 mencapai rating penjualan 300 ribu eksemplar. Bayangkan, saban sebulan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini menerima royalti sekitar Rp 100 juta. Gila! Atau coba bandingkan dengan karya-karya Asma Nadia (Catatan Hati Seorang Istri), Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada), Muammar Emka (Jakarta Undercover), Andrea Hirata (Laskar Pelangi dan Edensor). Namun buku laris belum tentu baik, begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merenungkan teka-teki kembara Don Quixote, Cervantes seolah mendesirkan bebayang kutukan bagi tiap penulis bahwa tindakan magis melahirkan karya besar teramat lengkara. Menjelang punah. Lantaran kini, tandas Nirwan Dewanto, ’’Kita telah dikepung lautan karya yang mahaluas, jika bukan lautan mahakarya.’’ Tapi Nurel, di balik kelimun pahit itu, bak Don Quixote tanpa Sancho Panza, si majenun kampungan yang menyana dirinya penulis tersohor yang liwung bertualang ke mana-mana. Bersama GL Rozinante-nya: nelangsa merawat imajinasi demi bercampuh di belantara sejarah sastra kita yang, konon, berjibun kronik politis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malangnya, ia tetap bersikukuh meledakkan diri di kubangannya. Ia tahu ia tak akan dapat menggores sejarah, hanya menoreh setilas ingatan yang lambat-laun pudar. Justru karena ia terus bermimpi begitu, ia menggeret perubahan, seperti Sisifus, di jagat kepengarangan yang melulu tak selesai. Paling tidak, ia kuasa mengebor spirit kawan-kawan sekotanya untuk gigih berkarya: Haris Del Hakim (Laras Liris); Ridlo Tl (Dazedlove); Javid Paul Syatha (Tamasya Langit); Alang Khoiruddin (Seruling Cinta); dan Imamuddin AS (Anggun Sasmita). Nurel mungkin sekadar menuliskan takdirnya, dan Tuhan menghamparkan kertas suci untuknya. Inilah secawuk cerita yang rapuh tapi boleh jadi menyimpan bara tuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walakhir, atas kemajenunannya aku layak memekik, ’’Jangan berhenti berkarya, sobat, sebelum belati hitammu terbakar!!’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Fahrudin Nasrulloh, penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-5438241863660013580?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/5438241863660013580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=5438241863660013580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5438241863660013580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5438241863660013580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/gerilya-penulis-pemberontak.html' title='Gerilya Penulis Pemberontak'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-7257960546317916163</id><published>2011-06-01T11:10:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:32:28.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan KPM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herry Lamongan'/><title type='text'>SURAT KEPADA GERILYAWAN*</title><content type='html'>Herry Lamongan&lt;br /&gt;http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal kau benar: besar nyali. Dengan besar nyali itu rasa percaya diri berbiak. Proses kreatif dibangun. Alhasil, puluhan buah karyamu kau bukukan. Kau seleksi kau edit, selanjutnya kau terbitkan dan pasarkan sendiri. Bila Chairil Anwar memilih sesanti sekali berarti sudah itu mati. Kau tidak. Kau seakan berkejaran dengan usia, berkarya demikian banyak, apa pun: puisi, esei, atau sekadar ujaran, kemudian kau lepas ke ruang publik berkitab-kitab, sejak “Takdir Terlalu Dini” hingga yang sekarang ini “Kitab Para Malaikat”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Umumnya para penulis memulai karir dengan mengirimkan karya ke berbagai media massa. Mungkin kau pun pernah. Sesungguhnya, dengan jatuh bangun, gagal/berhasil lewat media massa itu seorang penulis berkompetisi. Tulisan-tulisannya teruji. Dan hanya penulis bernyali besar yang tahan menghadapi seleksi redaksi media massa. Tampaknya, meski nyalimu pun besar, kau tak mau repot jatuh bangun menempuh jalan publikasi media massa. Kau lebih mengandalkan cara “gerilyawan”, datang ke kantong-kantong kesenian, kampus, juga pesantren, kemari kau jajakan sendiri karya-karyamu. Kau publikasikan buku-bukumu secara langsung dari pintu ke pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang antologi puisi “Kitab Para Malaikat” apa yang bisa saya komentari? Kang Maman S. Mahayana sudah begitu jeli dan panjang lebar mengulasnya. Bagi saya kau tinggal mengunyah-mamah ulasan itu, memilah-memilih bagian yang paling pas, lantas menjadikannya semacam daya dorong untuk meningkatkan kualitas karya-karyamu berikutnya, bukan hanya mengejar kuantitas. Ini langkah lanjut setelah sekian puluh buah tanganmu membuku. Setelah belasan diskusi gerilyamu menegur, menginterogasi, bahkan mengritikmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa hampir di setiap puisi dalam antologi “Kitab Para Malaikat” ini ada lompatan-lompatan imaji yang saling bentur, yang tampaknya gagal kau padukan menjadi suatu bangunan puisi utuh. Bahkan dalam sebait puisi (dengan tanda angka romawi) yang hanya dua baris pun, terkesan upaya memanjang-manjangkan kalimat yang justru mengaburkan makna larik itu, misal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang setia menyusuri jalan menapaki pantai hakikat, segera tahu&lt;br /&gt;bunga Wijayakusuma merekah, bagi syarat penobatan Ratu Adil (XVIII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pula ketika kau gunakan kosa kata bahasa Jawa, kurang mampu menampilkan citraan yang kuat sebagaimana harapanmu. Sebagai misal periksa larik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…berkepompong senyawa pucuk daun manunggaling bayu semesta bathin (XIV: IX). Atau larik berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Anggur tumpahkan nurani atas cengkeraman gelisah dirasuki wedi … (XVIII: XCV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi dalam “Kitab Para Malaikat” kau tulis dari tahun 1998 – 1999. Jika pada tahun 2007 ini baru bisa diterbitkan, berarti sudah mengendap sembilan tahun. Sudah sublim. Dalam pengembaraan panjangmu selama ini “Kitab Para Malaikat” serta, dan kau ajeg merevisinya. Ketika masih ditemukan beberapa kekurangan di sana, itu hal biasa, karena kata-kata bisa juga tak mampu sepenuhnya menampung gagasan. Atau selera penyaji bertolak belakang dengan selera penikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, engkau benar, tanpa nyali yang besar seseorang sangat sulit menghasilkan karya, apalagi karya sastra. Dengan cara unik dan nekat engkau telah membuktikan hal itu. Jakarta, Yogya, Jember, Tanjungkarang, Malang dan banyak kota lain pun berhasil engkau jadikan sasaran gerilya. Khas gaya Nurel. Apa pun, benar jua ujaran ini: kekuatanmu adalah kelemahanmu, dan kelemahanmu adalah kekuatanmu. Salam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Epilog KPM (Kitab Para Malaikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-7257960546317916163?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/7257960546317916163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=7257960546317916163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7257960546317916163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/7257960546317916163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/surat-kepada-gerilyawan.html' title='SURAT KEPADA GERILYAWAN*'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-1365032086509746305</id><published>2011-06-01T11:07:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:33:02.561+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imamuddin SA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Perjalanan Panjang nan Sejenak</title><content type='html'>Judul Buku : Kitab Para Malaikat&lt;br /&gt;Pengarang : Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Pengantar : Maman S. Mahayana&lt;br /&gt;Epilog : Herry Lamongan&lt;br /&gt;Jenis Buku : Antologi Puisi Tunggal&lt;br /&gt;Penerbit : PUstaka puJAngga&lt;br /&gt;Tebal Buku : x+130hlm;15,5x23,5cm&lt;br /&gt;Peresensi : Imamuddin SA&lt;br /&gt;http://anggunsasmita.blogspot.com/&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hidup di dunia ini merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang namun sejenak. Dikatakan panjang sebab kehidupan manusia di dalamnya harus melalui beberapa fase. Secara fisikal, dimulai dari fase pembentukan jasad. Kelahiran dalam wujud balita. Kanak-kanak. Dewasa. Tua. Lanjut usia. Lantas tiada. Belum lagi perjalanan secara ruhaniah. Yaitu yang dimulai dari tataran syariat, hakikat, ma’rifat, serta fase penyatuan. Kesemuanya itu merupakan sebuah proses pencarian kesempurnaan dan jati diri kemanusiaanya. Dan rentang waktu antara fase satu ke fase yang lain itu cukuplah lama. Berpuluh-puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan sejenak sebab dunia ini fana yang bersifat tidak kekal. Begitu juga dengan manusianya. Secara jasadiah, manusia pasti mengalami kematian di dalam dunia ini. Ia tidak kekal. Suatu saat ia pasti lenyap dari keberadaan kehidupan materi ini. Yang demikian itulah fenomena hidup di dunia yang merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang yang sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian perjalanan panjang yang sejenak ini, seorang manusia pastilah menemukan sesuatu yang lebih dalam hidup dan kehidupanya. Ia sudah barang tentu menemukan hikmah-hikmah tersendiri yang tidak sama dengan penemuan manusia yang lain. Yang lebih dulu hidup daripadanya. Namun jika ada satu kemiripan, itu merupakan suatu kewajaran. Sebab realitas kehidupan manusia sekarang tidak lain adalah hasil pengulangan realitas kehidupan yang silam. Yang menjadi pembedanya adalah cara pengungkapan dan penuangannya dalam realitas sosial. Tentunya dipengaruhi oleh setting suasana dan tempat yang berbeda. Jadi yang sama adalah akar konsep pemahaman idenya. Bukan sama secara realitas fisiknya. Hanya saja konsep ide yang lalu dalam realitas sekarang mungkin terdapat satu pengembangan sesuai dengan prifasi dan lingkungan fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan sesuatu yang lebih dan hikmah-himah oleh seorang manusia itu berpangkal pada tindak pemaknahan terhadap simbol-simbol realitas yang ada. Simbol-simbol yang terdapat di sisi sayap kanan dan kirinya. Dengan adanya pemaknahan itu, maka beroleh manfaatlah dalam pribadi orang tersebut. Tidak menutup kemungkinan, orang lain pun turut merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tampaknya telah dicapai oleh seorang Nurel dengan menghadirkan karyanya Kitab Para Malaikat. Rangkaian hikmah yang dicakup dalam hidup dan kehidupanya berpangkal dari pemaknahan akan realitas yang melingkupi pribadinya. Perjalanan yang relatif panjang. Kurang lebih hampir sepuluh tahun ia mengumpulkan hikmah-hikmah tersebut hingga kini hadirlah sebuah buku yang berjudul Kitab Para Malaikat. Tempaanya tidak pada satu tempat melainkan di berbagai tempat. Seperti di pesantren Waticongol, Muntilan (Magelang), Tegal Sari, Jetis, (Ponorogo), Yogyakarta, Selat Sunda, Gersik, Lamongan, dan lain-lain. Ia laksana memungut satu demi satu kerikil makna kehidupan yang berserakan sebagai amunisi menelanjangi peradaban zaman.&lt;br /&gt;Falsafah hidup sangat kental dalam Kitab Para Malaikat. Dalam tiap bagianya tersebar luas nilai-nilai falsafahnya. Falsafah tentang wanita misalnya. Siapa yang dapat menghormati dan menjujung martabat rumah tangga, masyarakat, bangsa, dan bahkan leluhur seseorang? Semuanya itu yang berperan adalah seorang wanita. Dialah panutannya. Dialah tulang punggungnya. Jika pribadi seorang wanita itu rusak, maka rusaklah semuanya. Martabat pun akan mengalami degradasi dengan indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa wanita sebagai penentu dan tulang punggug semuanya? Ini bukan merujuk pada tindak emansipasi wanita secara mutlak. Tidak mengunggulkan wanita harus memimpin segalanya. Memimpin rumah tangga, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Ini melainkan berorientasi pada hakekat dasar wanita. Obsesi wanita sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Cinta kasih harus ditanamkan oleh seorang ibu kepada anaknya secara mendalam. Pendidikan dasar seorang anak tercermin lewat karakter ibunya. Sebab seorang ibu pada dasarnya lebih dekat secara psikologi dengan anak-anaknya. Seorang anak akan mempelajari secara alamiah kebiasaan-kebiasaan ibunya. Jika ibunya sering bersikap kasar, apatis, nakal, kurang sopan, dan sering keluar rumah, sudah barang tentu kelak karakter anak tidak jauh berbeda dari semua itu. Bahkan bisa berbuat lebih. Tidak ingatkah ketika seorang ibu mengalami sakit, maka bayinya pun turut merasakanya jua. Seorang ibu yang sedang guncang jiwa dan perasaanya, maka bayinya pun merengek tak henti-hentinya. Ini sebagai bukti bahwa kedekatan psikologi seorang anak cenderung mengarah pada kepribadian ibunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi peranan wanita sebagai penentu kepribadian generasi berikutnya yang menjadi sorotan utamanya. Wanita harus bisa memberdayakan eksistensi pribadinya. Yaitu sebagai seorang ibu yang mencurahkan segenap kasih sayang, cinta, dan pendidikan dasar kepada anak-anaknya. Bukan memberi contoh buruk. Biar kelak tercipta generasi penerus yang lebih unggul. Generasi yang mampu menyemikan harkat dan martabat neneng moyangnya. Wanitalah panutanya. Tampaknya hal itu yang menjadi titik tolak ungkapan seorang Nurel; “Bagi bangsa-bangsa menghormati moyangnya, wanita // menjadi panutan, selendang panjangnya menyeret lelangkah // dan dunia setuju walau berkali-kali terhempas prahara” (Membuka Raga Padmi, I; XI, hal:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran akan nilai-nilai keikhlasan juga semerbak dalam karya ini. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus senantiasa melangkah dengan penuh keikhlasan. Mengabdi dengan bekal keikhlasan lewat ketetapan hati, perkataan, maupun perilaku. Keikhlasan itu diwujudkan dalam bentuk ikhlas kala memperoleh kenikmatan. Dan ikhlas kala mendapatkan musibah. Hal itu memang terjadi secara bergantian. Ini sebuah kewajaran. Orang tidak akan merasakan kenikmatan sebelum ia pernah merasakan musibah atau sengsara. Begitu juga dengan sebaliknya. Ini merupakan sesuatu yang berkala. “Sakit serta nikmat ia terima sejauh tidak mengurangi kekhusyukan, // kesungguhan hayatmu mengabdi berbekal puja keikhlasan” (Anak Sungai Filsafat, IX; XXI, hal:52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai vitalitas juga terdapat dalam Kitab Para Malaikat. Ini seolah cermin dari pribadi pengarangnya. “Bara revolusi berasal dari rindu terkumpul gagasan sebelum bertemu, // dan akhirnya bentuklah yang menciptakan melodi ruangan takdirmu” (Musik-Tarian Keabadian, V; XI, Hal:31). Ungkapan ini bermaksud memberi dorongan dan semangat hidup. Bahwa sesungguhnya perubahan besar yang terjadi dalam pribadi seseorang itu bermula dari kerinduan untuk menggapai suatu hal. Di mana pencapaian terhadap suatu tujuan itu belum terwujud. Oleh sebab itu dorongan batin harus segera dituangkan dalam bentuk tindakan dan kesungguhan usaha. Adapun takdir di esok hari akan mengikuti kekuatan tindakan dan kesungguhan usaha dalam proses penggapaian suatu hal yang telah dirindu-impikan. Intinya, seseorang tidak boleh berhenti di tengah jalan saat hendak merengkuh sebuah impian dan cita-cita. Kuatkan tekad sampai muara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini merupakan karya yang dituangkan dalam bentuk romantisme perjalanan hidup. Adapun yang menjadi selimutnya adalah romantisme filosofis. Disusun ke dalam beberapa bagian. Lebih tepatnya dua puluh bagian ditambah satu bagian muqaddimah sebagai pembuka awalnya. Bagian-bagianya adalah; Muqaddimah (Waktu Di Sayap Jibril), Membuka Raga Padmi; I, Hukum-Hukum Pecinta; II, Bait-Bait Persembahan; III, Ruang-Ruang Mengabadikan; IV, Musik-Tarian Keabadian; V, Diruapi Malam Harum; VI, Keinginan-Keinginan Mulia; VII, Di Atas Tandu Langitan; VIII, Anak Sungai Filsafat; IX, Sekuntum Bunga Revolusi; X, Penampakan Do’a Semalam; XI, Duka Tangis Busa, XII, Gelombang Merawat Pantai; XIII, Mengembalikan Niat Suci; XIV, Pembangunan Dunia Ganjil; XV, Siang Tubuh Malam Jiwanya; XVI, Secercah Cahaya Kurnia; XVII, Tanah Kelahiran Masa; XVIII, Ruang Waktu Padat; XIX, Muakhir (Kesaksian-Kesaksian); XX.&lt;br /&gt;Dalam setiap bagianya tersusun secara panjang. Namun dibatasi dengan angka-angka romawi sebagai bentuk pemisahan baitnya. Hal itu tampaknya sebagai wujud ekspresi yang menyimbolkan bahwa karya ini digurat dalam rentang waktu yang relatif lama. Dan dalam ruang-waktu yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan fisik Kitab Para Malaikat cenderung mengelabuhi penikmatnya. Penikmat akan terpancing untuk memaknai dan memahami dalam tiap baitnya secara terpisah. Tiap bait yang dicipta seolah mengusung topik yang baru. Padahal tidak. Itu sebenarnya merupakan satu kesatuan yang utuh dalam tiap sub bagiannya. Walaupun juga ada sedikit yang meloncat. Namun pada akhir bagianya bisa kembali pada topik pembahasan semula. Jika pola pemahaman penikmat dilakukan secara terpisah-pisah, maka benar apabila karya ini disebutnya sebagai karya yang pengguratanya menggunakan ritme Jurus Dewa Mabuk. Ritme yang tidak beraturan dan tak berarah. Namun mengandung kekuatan yang dahsyat dan mematikan lawan-lawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang dipaki tidak sederhana dan terlalu sublim. Jadi butuh pemahaman ekstra untuk menguak intinya. Dan tiap bagianya pun terlalu panjang. Ini bagi penikmat yang kurang sabar, sering mengalami kejenuhan dan bosan. Serta sedikit mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Yang paling sering akan menganggap ungkapan dalam karya ini minim makna dan pesan. Sekedar keromantisan bahasa yang disajikan. Namun bagi beberapa kalangan penikmat, ini sangat menyenangkan. Sebab ada tantangan yang lebih untuk menguak kesublimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, selamat menikmati. Selamat menerjemahkan inti. Semoga kesahajaan akan melingkupi jiwa-jiwa sang pencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-1365032086509746305?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/1365032086509746305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=1365032086509746305' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1365032086509746305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/1365032086509746305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/perjalanan-panjang-nan-sejenak.html' title='Perjalanan Panjang nan Sejenak'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-4060818797754684679</id><published>2011-06-01T11:05:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:34:35.576+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liza Wahyuninto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Nyanyian Persembahan Malaikat Ruhaniyyun</title><content type='html'>Judul : Kitab Para Malaikat&lt;br /&gt;Penulis : Nurel javissyarqi&lt;br /&gt;Penerbit : PUstaka puJAngga Lamongan&lt;br /&gt;Cetakan : I, Desember 2007&lt;br /&gt;Tebal : ix + 130 halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Liza Wahyuninto*)&lt;br /&gt;http://www.sastra-indonesia.com/&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Malaikat Jibril as. mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu zafaron. Matahari seolah berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gumintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah menjadikan dari setiap tetes cahaya tersebut ujud Jibril as, mereka semua bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka malaikat ruhaniyyun. (Daqoiqul Akbar, Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna yang tertuang dalam kitab Daqoiqul Akbar inilah yang ditelanjangi oleh Nurel Javissyarqi melalui antologi puisinya Kitab Para Malaikat. Nurel seolah ingin menunjukkan bagaimana para malaikat yang dalam bahasanya di beri nama malaikat ruhaniyyun, melakukan ritual penyembahan kepada tuhannya. Peristiwa inilah yang dikagumi oleh Nurel, dan memaksa dirinya - sebagai seorang sastrawan – untuk melukiskan peristiwa tersebut. Hal semacam ini pulalah yang memaksa Maulana Jalaluddin Rumi untuk mulai menulis masterpiece nya, Matsnawi fi Ma’nawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan mendasar antara Nurel dan Rumi terletak pada penggalian ide. Nurel lebih mengedepankan imaji dan pikiran liarnya, sehingga tidak jarang kata-katanya melampaui alam bawah sadarnya. Bahkan Maman S. Mahayana dalam pengantarnya menggambarkan syair-syair Nurel sebagai perpaduan antara hamparan semangat yang menggelegak dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan Rumi, ia berpuisi dengan jiwanya. Sehingga tidak jarang dalam sejumlah ghazal nya ditemukan larik-larik yang menyentuh hati pembacanya, karena dari setiap ghazal yang ditulis oleh Rumi adalah hasil perpaduan antara kenyataan dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat ini Nurel sepertinya ingin merayakan kebebasan berpikir. Sebagaimana yang telah dimulai oleh tokoh-tokoh besar yang hidup jauh sebelumnya. Tokoh-tokoh yang mengusung kebebasan berpikir tersebut di antaranya, Socrates, Rene Descartes, Derrida, Ibn Sina, Muhammad Iqbal, Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri dan lain-lain. Merekalah pula lah yang dicirikan Nurel sebagai pedoman dalam merayakan kebebasan berpikirnya. Ini dapat dilihat dari salah satu larik puisinya, Marilah hadir bersama keindahan, membimbing kesadaran alam terdalam/ sia-sia dipenuhi hikmah, malapetaka jikalau ajaran berharga dibuat bangga (I: LX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantarnya Maman S. Mahayanan juga menyatakan bahwa perbedaan antara Nurel dan Sutardji Calzoum Bachri yaitu, Sutardji mengusung penghancurkan konvensi dan menawarkan estetika mantra. Dan dengan Afrizal Malna yang mengusung keterpecahan, fragmen-fragmen, dan semangat menawarkan inkoherensi. Nurel Javissyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi atas hamparan semangat yang menggelegak. Ia seperti telah sekian lama lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya. maka, yang muncul kemudian adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Para Malaikat pun demikian, penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan masih kental terasa. seperti tertuang dalam satu larik, Kelopak melati menebarkan untaian makna memecah ketinggian hening/menuruni nasib, burung-burung ngelayap sayapnya disedot rebana cinta (XVI:XCI, hal. 97). Jika melihat dari sini, Nurel tak ubahnya sebagaimana Kahlil Gibran. Kahlil Gibran pun dikenal sebagai tokoh pengusung kebebasan berpikir, hingga tidak jarang dalam karya-karya terbaiknya pun ditemui pemorakporandaan imaji-imaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, baik Nurel maupun Kahlil Gibran, keduanya melakukan hal tersebut semata-mata untuk menemukan keindahan bunyi dan pencitraan yang tinggi. Tidak salah pada zamannya hingga hari inipun Kahlil Gibran masih banyak pemuja syair-syair liarnya. Hal ini dikarenakan yang pertama kali diresapi oleh pembaca bukan makna, akan tetapi keindahan bunyi lirik. Dan Nurel sangat paham akan hal ini dan memanfaatkan kelebihannya dalam permainan diksi. Sangat wajar jika antologi ini dikarang dalam kurun waktu 9 tahun, yaitu dari rentang tahun 1998-1999 sampai tahun 2007, karena Nurel ingin antologinya ini sempurna baik dari sisi keindahan bunyi maupun makna yang terkandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurun waktu 9 tahun merupakan waktu yang lama untuk penulisan sebuah antologi puisi. Sangat dimungkinkan jika nantinya Kitab Para Malaikat ini akan menjadi sebuah kitab suci para penyair pada zaman sekarang. Tapi, untuk menuju ke sana, antologi puisi ini perlu diuji ketahanannya lewat para kritikus sastra lainnya. Uji ketahanan memang belum semarak dilakukan dalam sastra Indonesia, wajar jika minim ditemukan kritikus sastra di Indonesia. Melalui Kitab Para Malaikat ini, sangat diharapkan akan bermunculan kritikus sastra yang berada pada posisi yang semestinya yaitu mengawal lajunya pertumbuhan sastra di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain yang terasa janggal dalam antologi puisi ini yaitu adanya kesan memanjang-manjangkan kalimat. Ini juga diungkapkan oleh Heri Lamongan dalam epilognya dalam antologi ini. Menurutnya, ada kesan Nurel memanjang-manjangkan kalimat padahal hal itu justru mengaburkan makna larik. Dan hal itu hampir ditemukan pada hampir keseluruhan lirik dalam antologi puisi ini. Heri Lamongan menyitir salah satu lirik tersebut adalah, Yang setia menyusuri jalan menapaki pantai hakikat, segera tahu bunga wijayakusumah merekah bagi syarat penobatan Ratu Adil (XVIII, hal. 126). Jelas ini agak janggal dan mengurangi nilai keindahan bunyi maupun lirik dalam lirik tersebut. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, puisi tertinggi adalah yang kata-katanya sudah tak mampu mewakili inti nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari semua itu, Kitab Para Malaikat ini sebenarnya telah mampu memuntahkan apa yang hendak diamanatkan Nurel Javissyarqi. tugas pembacalah membedah makna yang tersirat dari apa yang tersurat. Buah 9 tahun melakukan pertapaan, meskipun masih terkesan terburu-buru perlu untuk diapresiasi bahwa antologi puisi ini merupakan masterpiece Nurel sejauh ini. Sebagaimana tersohornya Mantiq at-Thayr buah karya Fariduddin Atthar ataupun Matsnawi fi Ma’nawi buah karya Rumi, Kitab Para Malaikat pun dapat bersaing dengan keduanya. Tinggal bagaimana cara Nurel menyikapi pembaca dan para kritkikus sastra yang memberikan kritik dan saran dalam karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Liza Wahyuninto, Kritikus Sastra dan Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Kota Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-4060818797754684679?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/4060818797754684679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=4060818797754684679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4060818797754684679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/4060818797754684679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/nyanyian-persembahan-malaikat.html' title='Nyanyian Persembahan Malaikat Ruhaniyyun'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-5722188042741181787</id><published>2011-06-01T11:02:00.002+07:00</published><updated>2011-10-01T20:36:05.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Para Malaikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar KPM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maman S. Mahayana'/><title type='text'>LORONG GELAP YANG MENGASYIKKAN</title><content type='html'>Maman S. Mahayana&lt;br /&gt;&lt;a href="http://mahayana-mahadewa.com/"&gt;http://mahayana-mahadewa.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pustakapujangga.com/2009/10/revision-edition-kitab-para-malaikat-book-of-the-angels/"&gt;http://pustakapujangga.com/2009/10/revision-edition-kitab-para-malaikat-book-of-the-angels/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan semangat menggelegak. Manakala ia tak dapat ditahan dan pecah, seketika itu pula ekspresinya muncrat berhamburan, bercipratan, menerabas apa pun. Lalu hinggap di berbagai tempat yang dijawilnya sesuka hati. Mungkin sama sekali ia tak bermaksud melakukan tegur-sapa, say hello, atau bahkan juga gugatan. Ia sekadar hendak merepresentasikan gumpalan kegelisahan yang lama bersemayam dan mengeram dalam kerajaan gagasannya.&lt;span class="fullpost"&gt;  Boleh jadi ia lahir atas kesadaran, bahwa gagasan yang sekian lama dipenjara, bakal berakibat buruk pada denyar pikiran dan denyut batinnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin juga ada kesadaran lain, bahwa tuhan tidak melarang makhluknya berkisah tentang apa pun. Bukankah tidak ada undang-undangnya yang menyatakan bahwa tuhan kelak akan menghukum manusia yang mengumbar imajinasinya bergentayangan ke berbagai wilayah imajinasi yang lain? Bahkan, sebaliknya, tuhan menempatkan manusia sebagai makhluk yang berada lebih tinggi derajatnya dari makhluk lain, justru lantaran faktor imajinasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, Nurel Javissyarqi dalam antologi puisinya, Kitab Para Malaikat seperti merepresentasikan kesadarannya tentang wilayah imajinasi. Cermati saja segenap larik yang dibangunnya dalam antologi puisinya ini. Ia begitu deras menghamburkan gelegak semangatnya. Ia laksana sengaja menikmati betul kebebasannya berekspresi. Maka, yang dapat kita tangkap dari larik-larik puisinya itu adalah kebebasan menguak serangkaian perkara (: tema) sesuka—semau nalarnya mengatakan itu. Ia bagai tak peduli konvensi. Yang dilakukannya adalah pembebasan imajinasi dari kerangkeng yang dianggapnya membelenggu. Maka, berhamburanlah model reduplikasi yang terasa lebih segar. Selain itu, muncul keriuhan atas sejumlah gagasan yang melompat-lompat, nemplok di sana-sini, dan bergentayangan ke belahan dunia lain yang tak terbayangkan. Itulah gerakan pembebasan imajinatif, kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi yang sudah punya sejarahnya sendiri yang begitu panjang dan melelahkan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingatkah Socrates yang memilih minum racun ketimbang mengkhianati keyakinannya berekspresi? Plato, Aristoteles dan sederet panjang pemikir masa lalu adalah manusia yang telah menyemarakkan sejarah panjang kebebasan berpikir, berekspresi, berimajinasi. Dari sanalah kebudayaan dan peradaban manusia menggelinding deras tak terbendung. Ingat pula Giordano Bruno yang dibakar hidup-hidup lantaran perjuangannya mengusung kebebasan berpikir. Galileo Galelei, Rene Descartes, Copernicus, dan sejumlah nama lain dalam deretan pemikir Barat adalah tokoh-tokoh yang bergerak dalam perjuangan pemikiran. Dari sanalah kemudian ilmu pengetahuan berkembang semarak hingga manusia mempunyai kemampuan mengejawantahkan jati dirinya secara paripurna. Hingga kini nama-nama itu terus bergentayangan, meskipun sejumlah tokoh lain, macam Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Derrida, hingga para penganjur postmodernisme –poststrukturalisme— telah bertengger kokoh menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia Timur, deretan nama-nama itu tidak kalah panjangnya. Ibn Thufail, Ibn Arabi, Ibn Sina, Al-Hallaj, Al Ghazali, Muhammad Iqbal sampai ke belahan bumi kita –Hamzah Fansuri dan Syekh Siti Jenar— adalah tokoh-tokoh yang langsung atau tidak, telah ikut mengubah dan menanamkan tonggak pemikirannya dalam kebudayaan—peradaban dan kesusastraan Indonesia. Jadi, keliaran dan kehendak mengusung kebebasan kreasi sungguh bukan hal yang baru. Persoalannya tinggal, apakah ia hendak menghancurkan paradigma lama –menurut gagasan Thomas Khun—dan memancangkan paradigma baru atau sekadar melakukan pemberontakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia sastra, siklus empiris atau lingkaran paradigma itu dihembuskan dalam konsep ketegangan antara konvensi dan inovasi. Tarik-menarik antara konvensi dan inovasi sesungguhnya bersumber pada kehendak mengekspresikan kebebasan kreasi, melakukan eksplorasi kreatif, dan mengeksploitasi berbagai kemungkinan estetik. Dalam hal ini, licentia poetica didasarkan pada semangat menawarkan bentuk baru, kreativitas baru, dan memojokkan konvensi sebelumnya menjadi sesuatu yang dipandang sudah out of date, usang, kadaluwarsa. Maka, yang muncul kemudian adalah kebaruan yang dalam karya sastra (teks) diselusupkan pada sejumlah unsur intrinsiknya, meski dengan tidak menutup rapat-rapat pada aspek ekstrinsikalitasnya. Itulah dunia sastra, sebuah dunia yang di sana berbagai macam peristiwa kreatif dihadirkan dengan kesadaran estetik yang erat kaitannya dengan kegelisahan kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peta perjalanan kepenyairan Indonesia, deretan nama penyair garda depan, seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna dan nama-nama lain yang bertaburan dalam peta perpuisian Indonesia, pada hakikatnya juga bergulat dalam tarik-menarik antara konvensi dan inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, kita juga tidak menutup mata pada bermunculannya para penyair kontemporer kita yang juga mencoba melakukan pembelotan, pemberontakan atas nama inovasi, atas nama kreativitas, atas nama pembaruan. Kadangkala, ia mengusung semangat sekadar beda dan eksperimental. Tidak apa-apa. Tokh, tuhan pun tidak melarang umat manusia melakukan itu. Jadi, sah-sah saja jika kemudian muncul penyair Indonesia yang juga hendak melakukan gerakan kebebasan kreatif. Boleh jadi, ia tidak puas atas model-model estetika sebelumnya. Boleh jadi juga ia punya kesadaran estetik melakukan gugatan. Sangat mungkin pula ia mengusung semangat sekadar beda, seperti halnya juga kemungkinan ia tidak dapat menahan gelegak gagasannya yang bertumpuk-tumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesadaran dan pemahaman itu, maka jika kini kita menghadapi antologi puisi Nurel Javissyarqi yang mengesankan muncratnya berbagai gagasan, berhamburannya ide-ide liar, dan rumitnya kita menemukan bentuk konvensional aturan berbahasa yang lazim, segalanya dibolehkan dan sah. Ia tidak melanggar hukum tuhan. Ia sekadar memberontak pada konvensi puitik, pada ekspresi berbahasa yang dalam sejarahnya memang senantiasa diserang pemberontakan. Lalu, bagaimana hasilnya? Bagaimana Nurel menggerakkan kreativitasnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah puisi yang sarat gagasan dan liar imajinasinya, kita memang seperti berhadapan dengan lorong panjang yang di sana bertebaran pula lorong lainnya yang bercabang-cabang. Berbeda dengan Sutardji Calzoum Bachri yang menghancurkan konvensi dan menawarkan estetika mantra atau Afrizal Malna yang mengusung keterpecahan, fragmen-fragmen, dan semangat menawarkan inkoherensi, Nurel Javissyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi atas hamparan semangat yang menggelegak. Ia seperti telah sekian lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya. Maka, yang muncul kemudian adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporadaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk. Yang juga menarik dilakukan Nurel adalah penciptaan bentuk-bentuk reduplikasi yang terasa segar, meski juga bukan hal yang baru. Sebutlah kata wewangi, pepintu, wewaktu, pepohon, bebayang, gegunung dan seterusnya untuk menunjukkan bentuk jamak sejumlah kata-kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian makna memang kadangkala menghadapi kegagalan. Tetapi, justru di situlah tantangannya. Ada semacam teror, tetapi tidak sampai pada tingkatan menciptakan huru-hara dalam pikiran kita. Bahkan, dalam beberapa hal, kita masih dapat menangkap model Khahlil Gibran atau Muhammad Iqbal. Periksa misalnya, beberapa larik berikut ini ketika Nurel berbicara tentang dunia perempuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu kembang di petamanan mimpi&lt;br /&gt;…. (I: X).&lt;br /&gt;dikaulah perempuan dari kerajaan-kerajaan misteri&lt;br /&gt;(I: XIX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah style itu mengingatkan kita pada model refleksi Khahlil Gibran? Dalam beberapa hal, kesan itu kadangkala menyentuh rasa estetik kita (aesthetic contaxt). Dan selepas itu, kita tiba-tiba saja disergap gagasan lainnya yang liar, tak terkendali, sehingga cenderung terasa menjadi teror. Perhatikan lagi larik berikut yang menggambarkan keindahan wajah perempuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis kerudung kedua bagimu, bilamana alis dicukur habis&lt;br /&gt;hilanglah bulan sabit menggantung anggun di tengah malam,&lt;br /&gt;sementara lampu-lampu kota hanyalah hiasan (I: XXXVII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua larik pertama menunjukkan, betapa alis bagi wanita adalah asesoris penting yang menjadi bagian dari keindahan, bahkan juga sensualitas perempuan. Tetapi, bagaimana hubungannya dengan lampu-lampu kota yang ditempatkannya sebagai hiasan? Di sinilah, cantelan sensualitas perempuan –alis lentik yang bagai bulan sabit itu— tiba-tiba diteror lampu-lampu kota. Bagaimana hubungannya, asosiasinya, dan cantelan imajinasinya? Itulah teror yang sepertinya memang sengaja dibangun untuk menghancurkan imaji itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus lain, Nurel bertindak bagai sosok pertapa yang dalam hal tertentu, terkadang menyulap dirinya menjadi sosok Sisifus. Ia sekadar berkehendak, berbuat, dan bergerak membawa imajinasinya yang liar ke dalam lorong-lorong. Periksa lagi larik berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah hadir bersama keindahan, bimbing kesadaran alam terdalam&lt;br /&gt;sia-sia dipenuhi hikmah, malapetaka jikalau ajaran berharga dibuat bangga (I: LX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan sosok Iqbal atau Gibran menyampaikan fatwanya tentang keindahan, tentang alam yang memercikkan keindahan (tuhan). Lalu, mengapa pula orang yang memperoleh hikmah, dianggap sia-sia. Lalu apa pula maknanya dengan malapetaka jikalau ajaran berharga dibuat bangga? Boleh jadi, doktrin, ajaran, atau hikmah, cukup sebagai pemberi cahaya pada hati, dan tidak perlu membuat seseorang jadi takabur, lupa diri. Apakah nur ilahi atau percik cahaya tuhan itu sebagai representasi dari hikmah, dari sebuah ajaran yang memberi pencerahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model-model berfatwa itu, di sana-sini memang tampaknya sengaja dihadirkan sebagai pengejawantahan sosok aku liris yang memposisikan dirinya sebagai resi atau pertapa yang berkhotbah dari atas gunung. Sejumlah fatwanya terasa asyik, meskipun tidak jarang membawa kita pada lorong gelap atau gagasan yang berkeliaran di tengah hutan belantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunang-kunang terbang malam, berikan cahayanya kepada kalian/ Sebuah fatwa yang mengingatkan saya pada ajaran Konfusianisme. Tetapi apa yang terjadi pada larik berikutnya: kumpulan tersebut terselimuti kegelapan terjaga (IV: XCVIII) // Dalam konteks itu, tampak, ada semangat membangun paradoks. Lalu, apa maknanya fatwa itu jika kehendak memberi pencerahan, memasuki selimut kegelapan?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, Nurel Javissyarqi dalam antologi puisinya, Kitab Para Malaikat mengusung banyak hal, menyodorkan berbagai pemikiran filsolofis dan menyerap pengaruh dari begitu banyak filsuf. Tetapi, mengingat begitu saratnya gagasan menggayuti isi kepalanya, ia seperti ingin segera melakukan pembebasan. Ia hendak memuncratkan semuanya dalam sebuah tarikan nafas. Itulah problemnya. Sebuah hasrat membuncah, mengeram sekian lama, tiba-tiba membobol tanggul penghalangnya, maka muncratlah hasrat itu menerabasi apa pun, menggilas-melindas segala yang berada di hadapannya. Dengan begitu, kesan yang seketika muncul adalah serangkaian keasyikmasyukan, keterlenaan, dan ekstase yang memabukkan dirinya sendiri. Maka, gagasan-gagasan yang terlontar adalah suara pemikirannya sendiri yang seperti peluru mitraliur yang justru dapat mencederai banyak pesan yang hendak ditawarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi Kitab Para Malaikat ini disusun ke dalam dua puluh bagian (ditambah Muqaddimah). Bagian terakhir seperti mewartakan serangkaian kesaksian atas berbagai pengalaman yang diperlakukannya sebagai pengayaan batin dan pemikiran sosok seorang Nurel Javissyarqi. Ia menikmati kegelandangannya sebagai perburuan gagasan. Oleh karena itu, dapat dipahami jika Nurel seperti tak kuasa menahan beban gagasannya sendiri yang bertumpuk-tumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai persoalan itu, saya menikmati antologi puisi ini sebagai sosok pengelana yang tersesat di belantara rimba raya. Ada hasrat untuk segera keluar dari ketersesatan itu, tetapi tokh asyik juga menikmati ketersesatannya. Seperti sosok Sisifus. Nikmati sajalah, maka kelak kita akan sampai juga di jalan yang benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bojonggede, 30 April 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-5722188042741181787?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/5722188042741181787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=5722188042741181787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5722188042741181787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/5722188042741181787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/lorong-gelap-yang-mengasyikkan.html' title='LORONG GELAP YANG MENGASYIKKAN'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-6432943378280899004</id><published>2011-06-01T10:47:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T20:38:06.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A. Qorib Hidayatullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trilogi Kesadaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>Pemantik Kesadaran Revolusioner</title><content type='html'>Judul Buku : Trilogi Kesadaran&lt;br /&gt;(Kajian Budaya Semi, Anatomi Kesadaran, dan Ras Pemberontak)&lt;br /&gt;Penulis : Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Pujangga&lt;br /&gt;Cetakan : I, Oktober 2006&lt;br /&gt;Tebal : xxx + 490 hlm&lt;br /&gt;Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*&lt;br /&gt;http://indonimut.blogspot.com/&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berpacu pada aforisma padat Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, Maka Aku Ada), ada kemiripan ketika membaca pemikiran Nurel dalam buku ini. Nurel bisa dikatakan sosok muda yang gila akan makna kesadaran. Ia berani menggugat tanpa tedeng aling-aling akan kemapanan dalam dirinya. Pemberontakan jiwanya telah mewarnai kanvas-kanvas kehidupan untuk dituangkan. Seturut Descartes, yaitu sosok filsuf ‘yang menyangsikan segalanya’, “cogito”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trilogi kesadaran, merupakan buah refleksi anatomi kesadaran Nurel demi mengembang-terbangkan sayap-sayap pemikirannya. Ujung pemikirannya, dibidikkan pada ranah pembebasan orisinalitas jiwa insan dari ketertindasan atas masa perubahan (pancaroba). Jejak jajakan intelektualnya, diberangkatkan dari asal kesadaran akan eksistensi diri menuju kegelisahan besar atas sejarah zaman. Lahan kesangsiannya adalah kehidupan sehari-hari dalam menggali nilai-nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkiblat pada Goenawan Muhamad dipengantar bukunya, Eksotopi, berujar: “Sejak selama hampir separuh abad terakhir; seorang Indonesia adalah seorang yang peka oleh pengalamannya dengan kekuasaan. Pengalaman itu, sesuatu yang traumatis, bermula dari tubuhnya, dari ruang bersama tempat ia tinggal dan bergerak, dari saat pertemuannya dengan orang lain, dari penentuan identitas, dari kehidupannya berbahasa dan menafsirkan, dari kepercayaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sosok Nurel, kelahiran tanah Lamongan, 08 Maret 1976, sebagian dari orang Indonesia yang dimaksud Goenawan telah mempertajam pengalaman, dan menisbatkan dirinya untuk jadi wakil suara-suara pedesaan. Lewat karya-karya lainnya, Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga &amp;amp; Kulya Dalam Relung Filsafat, dan juga buku ini, menghantarkan kepada pemahaman, bahwa ada generasi muda yang memiliki kesadaran revolusioner saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Semi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikajian ini, Nurel memosisikan kesadaran asimetris dengan segala kebijakan-kebijakan Negara yang digulirkan. Ia tak mudah terima kenyataan bulat-bulat, terus digugat hingga temukan kesadaran versinya. Kalau saya maknai, ia seolah mendambakan bangsa mandiri, tanpa intervensi siapapun. “Kenapa kita selalu belajar pada bangsa sudah ompong (yang telah kenyang pengalaman hingga seenak udelnya berbuat onar dimuka bumi). Bukankah bangsa asing sudah cukup mengocok perut otak kita, sebagai bola bekel, adu domba antara ideologi dalam pada bangsa kita sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditopang “kesadaran murni”, ia sangat berharap bangsa ini percaya diri, dan mampu ciptakan wejangan sendiri walaupun itu bobrok. Bangsa yang tak lagi didekte oleh bangsa asing, ruh pendidikan tak lagi dikonsumsi dari negeri seberang, yang nyata-nyata tak sesuai dengan kepribadian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renung kesadaran Nurel, sengaja diletupkan meraih kembalinya karakter asli bangsa. Berpayung cinta tanah airnya, “Ingat, kita memilikinya; danau indah, rawa-rawa menawan, lautan megawan, kepulauan, rentet sekalung putri raja. Tapi dengan apa kita suguhkan kepada dunia, jikalau masih selalu pulas tidur mendengkur, mabuk tak bisa berbuat atas kekuasaan anggur asing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya semi, dianggap Nurel sebagai penelitian pseudo ilmiah. Ia tuangkan kesadaran bebas ditengah pergulatan bangsa ini. Manusia yang benar-benar sempurna, bebas secara definitif, dan sempurna puas dengan diri yang sebenarnya. Jika penguasa malas adalah kebuntuan, maka perbudakan yang giat bekerja, sebaliknya merupakan sumber dari seluruh kemajuan manusiawi, sosial, dan historis. Sejarah adalah sejarah budak yang bekerja. (Alexander Koje’ve, dikutip Fukuyama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatomi Kesadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Nurel, anatomi kesadaran merupakan gabungan psikologi diri dalam meramu filsafat kalbu keimanan dengan memakai timbangan nalar (hlm 172). Anatomi kesadaran adalah pemaknaan diri didepan cermin. Merefleksi segala yang ada bertopangan kesadaran diri, menelisik, meneliti bahwa perubahan harus terus dirasakan berkesadaran puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana manfaat kesadaran, anatomi kesadaran merupakan esensi paling dalam. Yaitu, pengembangan fitrah insani untuk terus diperjuangkan meski pada ranah mengecewakan. Karakter suatu kesadaran takkan terbentuk jika tak mau merawat (kegelisahan atas keseimbangan integralitas diri sebagai diri bangsa). Garis inilah, yang selalu digebu agar terbentuk wacana baru, yaitu kesadaran diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicontohkan Nurel: “misalnya kita terkadang terima sepucuk surat dari kawan lama, lalu tahu-tahu dapati kegembiraan, sebab kawan itu tak berhubungan lama, bagi tanda mengingat lewat datangnya surat. Ketiba-tibaan inilah macam rindu tersembuhkan atas gerak luar yang nanti membentuk kesadaran baru, kiranya sapaan kalimat lembut memanggil jiwa atau sebaliknya jika surat yang datang berberita tragedi, kita bisa memberi motivasi agar yang terselubung permasalahan cepat teratasi.”&lt;br /&gt;Anatomi kesadaran dapat mewujud atas kesungguhan cita, menancapkan kepercayaan yang dalam, agar gerak langkah menambah penciptaan atas kerja keras, demi mencapai tujuan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ras Pemberontak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa pemberontak tak dapat dilepaskan dari kesadaran. Ruh kesadaranlah, menyebabkan seseorang memberontak, menggugat, dan mendekonstruksi. Apapun disekitarnya, perlu diselaraskan dengan pemahaman dan kesadaran. Karena, kesadaran mutlak pemberontak hanya bersemai didalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Nurel: “Kesadaran itu kekuasaan terbangun, berlangsung bagi naluri, berkembang dari sekumpulan pertanyaan dan ruang kosong penentu pijakan. Perbendaharaan dari sembuhan nalar atas daya tarik kontrak sosial dan kontrol tampak dinamai kesadaran kekuasaan.” (hlm 315).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan dan kesadaran adalah cara pandang mendasar, hadir atas penjajalan (percobaan) persepsi hingga menghasilkan premis penentu. Yaitu, dibangun melalui sarana mental evolusi nilai, terus dikembangkan di alam sekitar, dan hidup kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting, cara kerja membuang kebiasaan lama, bangun berkekuatan baru, berasal dari tiap diri kita masing-masing. Jiwa pemberontak, yang benar-benar berharap revolusi diri-dari revolusi nilai positif- yang selama ini kita abaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lewat refleksi-refleksi kristal sang pengarang, memberikan stimulus hebat menuju manusia berkesadaran. Membacanya, kesadaran mapan kita terkikis, digugat, hingga direstorasi. Menjadi referensi, bagi siapapun yang ingin bergerak sosial (social movement) menuju revolusi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8032572292181926229-6432943378280899004?l=nureljav.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nureljav.blogspot.com/feeds/6432943378280899004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8032572292181926229&amp;postID=6432943378280899004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/6432943378280899004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8032572292181926229/posts/default/6432943378280899004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nureljav.blogspot.com/2011/06/pemantik-kesadaran-revolusioner.html' title='Pemantik Kesadaran Revolusioner'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8032572292181926229.post-5526345888568651746</id><published>2010-03-16T11:47:00.010+07:00</published><updated>2011-10-01T20:38:44.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agus B. Harianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Picasso'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christian Zervos'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><title type='text'>PHILOSOPHY of PICASSO; STRATEGY REVOLUTION &amp; CREATIVE PROCESS</title><content type='html'>&lt;a href="http://pustakapujangga.com/?p=64"&gt;Written by Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Translated by Agus B. Harianto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;{View of Picasso from memory Christian Zervos (in heel writing), he obtained it when he did conversation on winter with that artist of kubisme. And then it was included into magazine “Cahiers d’ Art” in the year 1935. And I got it from the book entitling The Creative Process, which was compiled by Brewster Ghiselin}.&lt;span id="more-64"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Insinuation from someone expressing, that there is no riskier one than the nesting of war material on-the hand of all generals, and we can alter it in compatible meaning also appropriated to all actor. In the same meaning, there are no riskier than justice on-hand of all judges and paintbrushes to portray on-hand of painter! Just imagine its danger to society.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Power of creating represents ability endanger also at the same time is beauty. I become to be remembered at year 1996, when I was on the top of mountain Gambar (as the place of trace track of Samber Nyawa).&lt;span class="fullpost"&gt; Precisely at the edge west side crevasse, flowers were blossoming fully freshness. Which transformed to be daydreaming captive to lulled body, slipped into crevasse. Almost one dozen of my sketch I finished at the top of it, at the same time I was hearing Javanese musical procession, which was coming from mountain bevel (included the region of Mount Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (Special Region of Yogyakarta), which was coincidence there was marriage party).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Doesn’t the daydreaming when have reached its core namely reality, hence transforming to be blade of keris, one embers. And the ability of all smiths to associate his energy of ritual, spirituality of creature soul asses. It is true, that sometimes a smith makes decision of hollowing of keris, a number of which was wanted by its order. Then our memory is thrown to qualified buttonhole like Ken Arok, which was ordering to Pu Gandring, to blade of keris of murdered the history. The next Reality. When the ability is mastered by its identity, its awareness anatomy in fist of power hand, the desire to do anything can start. Creation as opener spillway, to cymbal the power. And I mention it as the world huddled with possibility.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But these days we have no the spirit to prohibit all poets and painter, because we don’t have describing about the danger which can befall if they are remain to be free to gallivant in town.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Town that is fully hurly burly atmosphere, sweat condense of obsession is crowded from old history gland, together with rebel. Jolt of graffiti comes from repeatedly shrieking, until character that emerges of old paradigm. Shatter idea is reproduced, until root of its genuine is uprooted, insensible many times. Untouchable area, the village keep sings ancient Javanese musicals, when humankind still misses peace of soul continuity.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Grievous for me, but may be also be pleasant that I compile &amp;amp; arrange everything as according to passion feeling of me. What sad to a painter taking a fancy to blond women but does not enter them in his painting, because they are not matched to fruit bucket in the picture. What miserable of a painter that frowns upon apple but insisted to defining it too because of the fruit is compatible with its painted tablecloth.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;When two current is found, balmy collision and inexistence of security become searcher soul demand, and human being often changes identity. Which as real as does not be expected, but that’s his desire to find satisfaction from fault that keeps to be discovered in the midway. Fad greeting and seriousness, cause longing is scatterbrained when distance does not provide contemplative place. Detached and most chummy, are insisted to be united. But, doesn’t trough that way is insisted to be despise, jealously, acrimonious, the time is molten in receptacle of seriousness color. Meaning den will find its separate value; does not merely leveling off or parallel lines. In here the struggling of passion also the way of instinct, dissolution is compacted to reach definitive pattern. This surely has estuary to new identities that mentioned as finding.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I my self pack anything I like into my painting. It is true that my painting objects have “downing on luck”, because they cannot help reside in one another, do they are felt compatible or not for that.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Room composition that determines anomalous or felt banal, when eyes is inhaled by object. Then the wildness of inspiration determines, makes breakthrough since from old obsession is barricaded. Paint is bobbin quality of in seeking of past, hidden daydreaming is firmed up with situation of creation, then accepting it as renewal. Rooms of sacral creation are from hillock that is profane by intimacy. Secret that is blanketing the self is making impossible matter become to be born. And presumption of yesterday energy is unknown, then transform become august discourse, for example endless masterpiece from the present activity.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;During this time, a painting grows up to the way of solving through a growth. Every day the painting increases with something new. A painting is the amount of from the doing additions.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;What described above are life realities. Addition also daydream that forming multiplication. While reduction is as loss of something like forget.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But for me, a painting is the amount from numerical of ruining. I draw a painting and continue it to destroy. But in the end there is anything missing. Red color I moved from one shares appears on other shares.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;In fact that unloading fight against to forget to be placed in some different corner, so that ghost of oblivion does not alight on again. Become true that complexity supports the truth of awareness reality. And I will not support, otherwise leave together from growth of logic footstep x’self, namely reality for the shake of future.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Will be very attractive to make photo from a painting, rather than levels growth of its solution, but its form transformations.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Finish of an element when have cannot mean again, that’s view. Mean effect is moral decadence that truly endangering. Because process represents life, or open view and soul.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Perhaps people will see such band of mind finds the way up on crystallization of his dream. But, in fact most wish to be known, is see do the picture does not basically change, that first picture remains to be intact almost however final existence of the picture.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;In here is found, experience determines the next color. The colors of feeling have time to be formed, continue to have continuation aim to the growth. But, does not become to be eliminated of the identity of past memory. I mention it as ghost of memory is frequently lures. While with hard practice, matter that initially misdirection in the beginning can be entered to separate shares. Or situating of its color composition remain to does not lose, under control at final bases of mind, when finishing a masterpiece.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I often see darkness and light, what I pack into my painting; I do what I can do to negate it, by enhancing a color that creating contest effect.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Trough several technique of attempting, life is always fresh, excelsior productivity has odorous aroma. The contest effect is negation from previously, but doesn’t mean to eliminate old ones. Just the first character is limited by the light or darkness more than idea contest. Like crumpling of event that is recorded, does not mean of omission of memory. But addition that creates the sharper of a painting object.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If this masterpiece is photographed because I feel that what have I done to repair my first picture that have vanished, and that in the end what shown by result of the photograph is as according to my first picture, before appearance of changes that moved by willingness of myself.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Photograph is activity to immortalize moment without continuation process, or something in that photo cannot make a move. Except we create dramatizes at the picture, trough some logical reasoning. And, repeatedly photograph, its value being equal if its presentation by snatches, because every one of those has world frame. But, when object is moved world of mind, in essence of the object had abysmal of its body like an actor with his creativity daydreaming wings. Or, this is a kind of conversation in kept quiet, dialogues really heavily that finishes energy of mind and also inmost feeling about its dig.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The painting does not be thought of and does not be defined previously; more precisely, to be told is that during the painting is made and finished, the painting follows mind mobility motion. If that draw finish, it change further, as the condition of the one who sees it.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;However involuntary attitude emerges, does not mean those coincidence does not be created previously. Because as soft as any of deliberation we have, it has created judgment of value. And, the determination is sometime missing from logic development, if does not long study where the coincidences came from. By it, law that is have diffuseness still has tying energy, can explain as desire to pass off finding way, or come out from old frame to corner of objective research.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A painting runs this life as mortal creature, experiences changes that is resulted by influence of everyday life. This matter is natural, because of a painting masterpiece only alive, trough who sees it.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Painting objects as visual masterpiece, much easier to be understood if using eyesight sense, in which appliance to reach those media can be understood. Object is unmoving thing if seeing it in a flash way. But, when the research about object becoming chummy, those objects make a move by it selves, this is creative process creature energy.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If I am tilling painting, I think about white color and use white color. But I cannot continue to work, thinking and using white color; colors as also to fundamental marking, following changes of emotion.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Colors have each personality, if not yet wrestled among color one with the other. Change of color from previously by working together (mixing) is the power of life that creates spirit more matured than the origin color. Color, character, striping of its former pattern generates currish note or soft, fade or also nature of sharply, this base similar like human being radiation in marriage or mixing. And, new birth comes from married colors, while its motion of striping is as far as the colors coalesce, beside how much the material of other paint color. Hence size measure of how much paint material also determines to be sharp or soft of its mixing, from value of paint color on the previously base natural.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You see sketch that I make about a picture with all colors shown by it. What is remaining? White color that thought up by me, as well as green color that I think of, there is still at that painting, but does not in origin place is determined for those colors, neither in expected amount previously.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Which play at feeling is composition, or the composition is decided by feeling that is watching canvas face. The determination projects previous matter that sometimes fails at midway, when the firming up color does not want to along with logical reasoning for next procession. And a painter feels pain at the same time enjoy in long, when work of his spiritual be weightier in mixing of character. And invention of glorious solution, gratifies the working of an actor. This is heaviest challenge to all architectures of arrange town situation of logical reasoning, when its image color is attended in reality of life.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Of course, painting can be made from compatible small parts, but its result will not have the dramatic quality.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;In here, can be differentiated. Schedule which already exist, it is not impossible oppositely bridles new finding appearance, because natural base of life is fully dramatic. This is pragmatic and dialectic struggling; also, the naturalist has arrangement of life that formed practically. In these capacities is I do not want to answer carelessly with personal view, because this matter represents ideality of all translator to their own personality.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I wish to develop ability to make painting in such a manner, until no one will be able to see how that painting was made. What is it for? What I am willing for my painting is just it can only awaken emotion.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Make masterpiece is remove first self-emotion. Creator removing his idea also his energy to be poured to trough masterpiece. Try furiously in order to his masterpiece earn to life alone. When his fingers (inventor of the masterpieces) are not exist any more in the gallery of painting. Or does not see in library, to the its writer. By dozens of actor, unsuccessfully transfer his emotional into masterpiece form. When in proceeding has no experience enough, arising out one is fault. Does not in harmony to be well balance with his hoping. Hence, studying about spatial and time, also the colors of psychological emotion that must really arranged previously, before step on reality of working.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Working is compulsion to human being. Horse will not walk to enter tunnel by own willingness. Human being creates alarm clock.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;We earn to witness that the ability is pushed by feeling of requirement. And of course, more and more feels insufficiency, his creative energy will increase. Set of requirement form and working are, when human being be able to think, for the shake of what he labor something (?). Then return to him self is benefits.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;At the first, I draw each time there is some one like to cooperate with me. Before completion of that working, I have impressions that as if work without assistant.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;At the beginning of step, will or not, we must confess or use others stick to trace street. When confidence gain strength, stick does not need any more or have forgotten. And he realize there no stick in grasp. Take the air seeking is really preoccupy, soul is guided to object which is boring, then go out safely. When discharge set of tying from what have been done. This, what is meant sincerely to launch a masterpiece.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If someone starts to paint, he often finds good things. He has to realize it, destroy his picture and makes it again several times. In each mutilation of something good, an actor rather than depressing it, this is the truth; he even remodels it, summary, making of it much more fundamental. Root of the matter represents result from deductions of invention. Otherwise that way the things of, hence someone will become admirer of his self.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;That is a testimony of Pablo Picasso. Bravery discomfit an event which its will be successful before very eyes. That thing is done for the shake of attending others result that do not in control, dramatic and impressing without cause. Revolutionary soul pass guerrilla farms, does not love previous performance. Past footprints does not mean future mirror. By using the street similarly like same, will know how far step desist. And figure of Picasso blur pickings that he got, for the shake of getting which he him self cannot detect except the period. In which his eras, when he is not in the working room.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I do not sell anything to me myself.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;This is heavy to do by all beginner actors. Allowing him self to do not enjoy properties, more than anything else take its continuous honey by creating support to support argument of his masterpiece. Or hope his friends of recite compliment. Sincerity incarnate to be dramatization of a successfulness drama; legowo (= relieve) vanish self dreams to finish at debate sheets. The future period will decide that he really dismembered or miss of sincerity.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;In the reality, someone works by using amount of color that a few. What getting an impression the existence of many colors is that colors have been swept by right places above cloth of canvas.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;In dictionary of Picasso life. There was no extravagance word; because all reach highest value each if really allowing has gone. He had tried various style motions for the shake of discovering its tops from various quality facets that was being face. Because gauche feeling oftentimes discomfit to attend new values. Hence the seriousness is one form of soul successfulness.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Abstraction art only painting. And drama?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;I farther have a notion. Every working cymbal the field of possibility, that’s pure dramatization that leave from souls which ever thirst in dream reality which in facing of.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;There is no abstraction art. Someone always have to start with something. He can remove all manifesting of fact later. And does not take any risk, because of idea about the painting object leaves mark which can not be abolished.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;The embed of impressive Value, will guide memory to procession which is doing. And it is true, the attending abstraction is because of models that already exist. Because abstraction its self comes from burst out psychological, partaken acceleration for the shake of a work reality. Or hurrying is intention that creates squeezing of period. Narrow periods depress it to the top of creativity corner or nonplus. The work that is ascertained leave from tussle of spiritual of past reality, at the surface of creativity process will find it self. The feeling wrestled for long times have discovered its personality as object to feel.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Something,” that’s voluptuous an actor, awakening his ideas, moving his emotion. Idea &amp;amp; emotion in the end will become captive of its masterpiece; anything they do, they cannot run away out of that painting; they have come to the parts of which no locked out of from the masterpiece, even if its attendance shall no longer looked to be in those picture.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;However, Picasso felt too. His soul insincerity that was giving on to his painting reality that bought by collector. And the arrogance attended, which more or less generated streak lame. But, when periods are crumpling, attenuation of character from forgetting also circulation of period will give separate values. So clean to add purification of working that yielded from seriousness of soul. That’s exciting tussle in soul of actor, comprehending reality of life according to the brain thinking of his mind.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Does he like or not, human being is appliance of nature; the natural is determining the nature of, and his appearance. In paintings of Dinard is same as well as in painting of Pourville, I have used view which much the same to.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;It doesn’t mean that Picasso assume mankind is object, while nature as activator or subject. Of course, what he meant as the basically appearances of life are mankind and nature, in creating separ
